
Masih di malam yang sama, Raya juga tidak kalah bahagia nya, kekasih yang dulu acuh telah mengambil first kiss miliknya.
Di balik selimut tebal Raya terus-menerus menyentuh bibir mungilnya, ia masih bisa merasakan sentuhan lembut yang melandainya beberapa saat lalu.
"Rei,, kamu jahat sekali, tanpa izin ku, kamu..." gumam Raya tersenyum.
Esok harinya seperti biasa, Raya berangkat ke sekolah dengan pak Salim, karena Reiner belum berani menjemputnya, Raya pasti belum mau menaiki motor yang selama ini Shela duduki.
Tiba di sekolah Raya berjalan gontai menuju ruang kelas langkahnya terhenti saat seseorang menyerukan suara dari belakang.
"Sayang" bisik seseorang di telinganya, sontak membuatnya menoleh tiba tiba, dilihatnya pemuda tampan tersenyum manis pada nya.
"Rei, jangan panggil begitu, aku malu" ucap nya manja, meski sebenarnya Raya sangat menyukainya.
Reiner menggandeng tangannya lalu melanjutkan langkah menuju ruang kelas, Raya hanya bisa mengikutinya saja, di sela langkahnya Raya melihat ke sekitar dilihatnya siswa lain menatap intens mereka.
"Rei, lepas" seru Raya melepaskan gandengan tangan kekasihnya, ia belum terbiasa dengan perlakuan Reiner yang tiba-tiba romantis di hadapan teman-temannya.
Tentu saja hal itu membuat Reiner menoleh tiba tiba, ia menatap wajah kekasihnya sedikit kecewa.
"Kamu malu, jalan sama pria terpopuler di sekolah ini, kamu maunya jalan sama Bagas yang biasa aja itu?" ketusnya.
"Bukan begitu Rei" Raya mulai menampakkan senjata manjanya.
"Sebenarnya kamu ini menyukai ku atau tidak, bahkan setelah ciuman pertama mu semalam, kamu masih terlihat biasa saja" sindir Reiner menatap heran.
Mendengar sindiran Reiner, Raya menaikan ujung bibirnya "Lalu apa bedanya buat ku, itu juga bukan yang pertama buat kamu" sahut Raya melanjutkan langkahnya.
Reiner menghembuskan nafas pendek ternyata Raya masih saja membahas masa lalunya "Lalu kenapa, apa mempengaruhi rasanya?" tanya Reiner yang kini mengikuti langkah kekasihnya.
"Tentu saja, mulut kamu sudah terkontaminasi" sindir Raya masih memperlihatkan kecemburuan nya.
__ADS_1
"Anak manja ini, jago sekali menyindir" batin Reiner masih mengikuti langkah kekasihnya.
Hari ini Reiner tidak memberi kesempatan kepada teman teman Raya ia terus saja memepet kekasihnya, dari makan siang bersama di kantin dan juga kegiatan lain yang biasa mereka lakukan di sekolah, tentunya ria dan Mei semakin kesal saja dengan sikap Reiner yang terkesan egois.
Tak terasa bel terakhir menghamburkan siswa, Reiner mulai membereskan buku-buku di tas nya ia lalu mendekati tunangan yang sudah di anggap oleh nya.
"Sayang, kita pulang bareng, kita jalan jalan pakai motor Rafa mau kan?" usul Reiner tersenyum.
"Rei aku bilang jangan panggil begitu" protes Raya sambil menoleh ke kanan dan kiri memastikan teman temannya tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Iya iya, mau tidak" sahut Reiner.
"Tes, untuk para pemain basket dari kelas 10 sampai kelas 12 di harapkan Jangan pulang dulu, silahkan berkumpul di lapangan, kami tunggu setelah ini Terimakasih" seru suara dari audio pengumuman sekolah mereka berbunyi.
Mendengar pengumuman itu, Reiner menghela nafas panjang lalu menghembusnya singkat seketika Raya tersenyum melihat kekecewaan di wajah kekasihnya.
"Udah, aku pulang saja, kamu kumpul sana"
Raya pun pulang bersama pak Salim seperti biasanya, pak Salim mengemudi dengan sangat hati-hati mengingat kondisi fisik anak majikannya.
Namun di tengah perjalanan pak Salim menyadari ada Tiga motor modifikasi ala preman mengikuti mobil nya, masalah nya ia tidak mungkin memberi tahu Raya karena takut jantung Raya menyerang, ia hanya mencoba menghindar dari para preman itu namun ternyata.
"Kiiiiiikkkkk" tiba tiba pak Salim mengerem laju mobilnya karena para preman itu berhasil menghadang jalan nya.
"Ada apa pak, mereka mau apa" tanya Raya sambil mengelus kening yang baru saja terpentok sandaran jok di hadapan nya, ia melihat beberapa preman itu memberikan ancaman dengan tangannya.
"Tidak apa apa, non Raya tenang saja" pak Salim mengeluarkan ponsel dari dalam saku nya, menekan kontak bertuliskan Mas Reiner, ia mencoba meminta bantuan karena kebetulan jalan itu sangat sepi rasanya pak Salim sendiri tidak bisa melindungi anak majikannya.
...****************...
Sementara di tempat lain Reiner tengah berhadapan dengan Yuda entah sejak kapan mereka begitu, yang pasti mereka tengah melemparkan sindiran pedas, di saksikan para pemain basket lainnya termasuk Bagas.
__ADS_1
"Brengsek, llo pikir llo siapa bicara begitu ke gue" ketus Reiner mencoba menyerang Yuda namun Rafa menghalanginya "Udah Rei, tahan" ucap Rafa.
"Sekarang gue tau, kenapa llo arogan, itu karena llo lahir dari nyokap yang egois, dia bahkan tega nyuruh bokap gue mindahin sekolah gue cuma gara gara anak sial kayak llo, hekkm menyedihkan" sindir Yuda sengaja memancing kemarahan calon adik tirinya.
"Yuda!!!! jangan bicara sembarangan, llo gak berhak hina nyokap gue" teriak Reiner sejadinya, ia menarik kerah baju Yuda, emosinya sudah tidak bisa di abaikan lagi setidaknya jika sudah meninju Yuda bisa sedikit meredam kemarahannya.
Dreeetttt dreeetttt dreeetttt dering ponsel Reiner sedikit mengalihkan amarah nya, ia tidak terbiasa mendapat panggilan telepon, hanya beberapa orang saja yang tahu nomor ponsel nya.
Ia langsung mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana nya, amarah nya sedikit berubah menjadi panik saat melihat panggilan dari pak Salim, ia sudah bisa menebak pasti pak Salim akan melaporkan kondisi kekasihnya.
"Halo pak" Sahut nya.
"Terus gimana sama Raya" imbuhnya yang membuat Yuda dan Bagas menoleh ke arah nya, mereka penasaran saat Reiner menyebut nama Raya.
"Jangan keluar dari mobil tunggu saya sama Rafa ke sana" Paniknya sejadinya hal itu membuat Yuda dan Bagas ikut panik, mereka ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Raya.
"Ada apa Rei" tanya Rafa, itu menjadi kesempatan bagi Yuda dan Bagas mencari tahu, mereka masih menatapnya khawatir.
"Mobil Raya di hadang beberapa preman kita ke sana sekarang" Reiner menyeret Rafa pergi dari sana, tidak peduli pak Dimas memanggil manggil mereka.
Setelah mendengar ucapan Reiner, tentu saja Yuda dan Bagas juga bergegas mengikuti mereka.
"Gue ikut" sahut Bagas selagi berlari mengikuti Reiner.
"Kita sama sama saja ke sana nya" imbuh Yuda yang juga ikut berlari bersama mereka.
Mereka segera menuju parkiran menaiki motor nya masing-masing, wajah tampan mereka sama-sama terlihat sangat panik, mereka mengenyampingkan permusuhan mereka, yang di pikirkan mereka saat ini hanya bisa segera membantu pak Salim melindungi Raya.
Sementara itu di dalam mobil Raya tampak ketakutan para preman sudah menggedor gedor pintu mobil nya, jam deteksi jantung Raya mulai berbunyi sedang pak Salim masih berkutat dengan ponselnya ia juga menelepon polisi, sebagai sopir pribadi pak Salim sudah sangat berpengalaman dengan situasi seperti itu.
"Pak, Raya takut" lirihnya sambil mengelus dada sebelah kiri karena sudah mulai merasakan sengatan di jantung nya.
__ADS_1
SILAHKAN LIKE SEBELUM BACA BAB BERIKUTNYA TERIMAKASIH!π