KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 70. Senjata api


__ADS_3

"Eeeemmmm...!!!" tiba-tiba saja seseorang membekap kan kain hitam ke wajah nya.


Tubuh lemah nya tidak bisa meronta meski masih tersadar, matanya membulat penuh ketakutan tangannya berusaha melepaskan diri dari seseorang yang tidak bisa dia lihat.


"Aaaaqq" seru Raya saat tubuhnya terpelanting ke kiri karena sepertinya seseorang yang membekapnya mendapat pukulan dari belakang.


GEP kini tubuh Raya sudah berpindah tangan kedalam pelukan pria yang sangat ia kenal, wajah marah lelaki tampan itu masih bisa di rekam oleh otaknya sebelum akhirnya obat bius yang mengenainya bereaksi membuat nya tidak sadarkan diri.


"Raya.." panik Yuda menggoyangkan tubuh wanita dalam dekapan nya.


Sedari tadi Yuda memang melihat gelagat mencurigakan dari orang yang terus menerus mengikuti langkah Raya dan Rafa. Ditambah perasaan tidak enak yang membuatnya mengikuti wanita bersuami itu.


Pria A yang sudah terjatuh kembali berdiri mencoba mendaratkan kepalan tangan ke kepala Yuda namun dari arah kanan Rafa memiting pria A "Bangsat kamu..!! beraninya kamu menyakiti Raya hah?" pekik Rafa.


Grek "Jangan bergerak!!" pria A menodongkan pistol ke kepala Rafa dan kini Rafa mematung di tempatnya.


DUG pistol di tangan pria A melambung ke atas karena baru saja Yuda menendang tangan pria A.


Pistol itu berputar di jari telunjuk Yuda untuk beberapa putaran sebelum kemudian Grek kini Yuda yang menodongkan pistol ke kepala pria A.


Seniman berbakat itu juga menggeluti seni menembak di Sidney tidak heran jika Yuda lincah dengan benda-benda seperti itu.


"Siapa yang menyuruh mu hah?" teriaknya berapi-api. Tangan kirinya masih mendekap tubuh mungil adik iparnya yang sudah tidak sadar kan diri.


DOR satu peluru mengenai ujung pistol di tangan Yuda membuatnya kehilangan pistol itu, untuk sesaat perhatian mereka beralih ke arah kanan di sana ada pria B yang tampak membidikkan tembakan lagi.


Namun sepertinya tidak membuat Rafa dan Yuda gentar "Bajingan, jangan lari kamu!!!" teriak Rafa mengejar pria A yang berlari memasuki mobil Van dan sepertinya mobil itu sudah bersiap untuk menjemput pria A hingga Rafa tidak bisa menggapainya.


"Bangsat..!!" teriaknya terpaksa Rafa membiarkan Van itu pergi karena sudah tidak mungkin di raih.


Rafa kembali ke mobilnya yang ternyata sudah ada Andi di sana "Kita langsung bawa Raya ke rumah sakit..!!" teriak lelaki yang masih menggendong adik iparnya.


Tubuh Raya ringkih maka hanya itu yang terlintas di pikiran Yuda.


Dengan segera Rafa mengikuti instruksi lelaki itu memasuki pintu depan mobil itu, sedang Yuda masih terus menopang tubuh Raya yang lunglai tak berdaya di jok belakang.


"Bajingan nya siapa tadi..? berani beraninya dia menyentuh Raya..!" gerutu Yuda dengan kepanikannya tangannya terus menerus menggenggam tangan Raya.


Rafa melihat ekspresi Yuda yang masih terlihat menyukai Raya ia terus menerus mengamatinya dari kaca spion.


"Jika sampai Reiner melihat nya, pasti mereka yang akan saling membunuh" batinnya.

__ADS_1


Namun Rafa hanya diam saja mengingat kondisi Raya memang membutuhkan seseorang untuk menopangnya.


"Pistolnya ke mana tadi? apa sudah di amankan?" tanya Rafa menoleh ke samping kanan.


"Sudah ada padaku sekarang.." ucap Andi, sesekali matanya melirik ke kaca spion luar karena sebentar lagi mobilnya berputar arah.


"Berapa plat nomor mobil tadi? apa kamu melihat nya FA?" tanya Yuda kepada Rafa.


"Tidak ada nomor nya, aku yakin mereka bukan orang sembarangan, mereka sengaja mau menculik Raya, pasti mereka sudah merencanakan nya matang-matang" saut Rafa kemudian masih dengan wajah sesalnya.


"Tapi kenapa? apa mereka tahu non Raya anak orang kaya? apa mereka mau menjadi kan non Raya sandra untuk di tukar dengan tebusan uang?" timpal Andi.


"Tapi dari pistolnya bukan pistol sembarangan, sepertinya itu pistol yang di buat khusus untuk satu kelompok" tambah Yuda di pikirannya saat ini masih mengingat ingat seseorang yang berpotensi untuk menyakiti Raya.


Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit ketiga pria itu terus menerus bercakap-cakap dan menduga-duga namun belum juga bisa menyimpulkan siapa dalang dari kejadian itu.


Sementara di tempat lain Reiner tengah merasakan sakit di telinga nya "Ngiiiing" memekik wajahnya.


"Kamu kenapa Rei?" tanya Indra yang kebetulan dekat tempat duduknya karena hanya segelintir orang yang memakai first class di pesawat yang mereka tumpangi saat ini.


"Tidak apa-apa, aku hanya sedang tidak enak badan saja" ucap Reiner yang lalu memejamkan matanya mencoba menenangkan pikirannya karena untuk tahu kabar dari Istrinya Reiner harus menunggu 17 jam kemudian.


Dari semalam Reiner memang sudah merasa tidak enak, namun semalaman juga Raya terus menerus meyakinkan dirinya untuk tetap melanjutkan kepergiannya.


...****************...


Tiba di rumah sakit Rafa membukakan pintu untuk Yuda yang masih menggendong Raya dengan wajah paniknya mereka berlari menuju lobby rumah sakit.


"Raya..!!" suara seseorang nyaring di telinga mereka membuat mereka menoleh serempak.


"Kenapa dengan nya..?" tanya lelaki berjas putih itu dengan wajah yang tidak kalah panik.


"Raya kena pengaruh obat bius, dari tadi belum juga sadar, seseorang hampir saja menculiknya" jawab Yuda yang membuat Bagas mengepalkan tangannya.


"Untuk sementara kita bawa ke ruangan itu cepat..!" instruksi Bagas menunjukkan ruang praktek yang dekat dengan lobby.


Dengan segera Bagas memeriksa keadaan Raya wajah paniknya terus menerus menyertai dokter itu saat menghadapi pasien yang satu itu


"Kamu sedang hamil, bius itu terlalu berbahaya bagi janin mu, kenapa kamu ceroboh sekali, harus nya kamu terus bersama ku" batin Bagas menggerutu. Tentu saja kabar kehamilan Raya terlebih dahulu sampai ke telinganya.


Bagas memberikan suntikan vaksin kepada sahabatnya karena Ibu yang menerima anestesi di usia kehamilan awal dapat melahirkan bayi dengan kecacatan sistem saraf pusat. Itu yang sedang Bagas cegah saat ini.

__ADS_1


Dengan kening yang terus menerus mengerut Bagas berkutat dengan tubuh lemah sahabatnya.


"Kenapa lama sekali pengaruh nya, berapa banyak kadar yang mereka masukan, Sial..!!" Bagas terus menggerutu dalam gumam nya.


Sedang di luar ruangan Yuda masih berjalan mondar mandir memikirkan pria-pria yang hampir menculik Raya pikiran nya juga terbagi dengan pasien yang berada di dalam sana.


Pikirannya di ingatkan ke pistol yang masih di tangan Andi ia pun segera mendekati Andi yang saat ini berdiri beberapa langkah dari tubuhnya.


"Bang, mana pistolnya tadi? aku mau lihat?" tanyanya.


"Aku ambil dulu di mobil" dengan segera Andi berlari menuju parkiran karena dia menyimpan pistol itu di sana.


Sementara menunggu Andi mengambil pistol, Yuda dan Rafa masuk ke dalam ruangan di mana tubuh Raya terbaring.


"Gimana Gas? Raya baik-baik saja kan?' tanya Rafa panik. Berjuta sesal menancap di dadanya sudah berkali-kali Reiner menitipkan istrinya kepadanya namun ia lengah jika sampai terjadi apa-apa dengan Raya Reiner pasti tidak akan pernah memaafkan dirinya.


"Dia baik, hanya saja aku tidak tahu sampai kapan pengaruh bius nya hilang, karena aku tidak tahu berapa kadar yang di masukkan oleh orang itu" ujar dokter berwajah sendu itu.


Langkah cepat menghampiri mereka "Ini pistol nya" ucap lelaki kekar itu menyodorkan benda di tangannya.


"Pistol..?" Bagas mengerutkan keningnya terkejut matanya mengelilingi wajah ke tiga pria di hadapannya.


"Penculik nya bersenjata" ucap Rafa kepadanya.


"Bajingan..!!!" teriaknya menggebrak pintu ruangan itu dan sepertinya orang-orang di luar sana terkejut tidak terkecuali ketiga pria yang saat ini berada di dalam, seorang dokter yang biasanya tersenyum kini terlihat sangat menakutkan.


"Berani sekali mereka, siapa sebenarnya mereka?" Bagas mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Yuda tahu yang tengah di rasakan oleh Bagas karena ia pun merasakannya, Yuda mengelus punggung Bagas mencoba menenangkan sahabat adik iparnya.


"Biar aku selidiki aku punya teman Ahli forensik balistik mereka pasti bisa mengetahui dari mana asal senjata ilegal ini, aku yakin ini ilegal" ucapnya.


Yuda juga pernah hidup di luar negeri sedikit banyak Yuda tahu tentang dunia gelap para mafia.


.


.


Like seikhlas nya deh...😅


.

__ADS_1


.


__ADS_2