KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 43. Menghabisi preman


__ADS_3

Pagi ini Reiner baru saja turun dari motornya lalu memasuki lobby rumah sakit tempat Raya di rawat ia berlari menuju ruang rawat inap VVIP yang sudah Leta informasi kan.


Terlihat di sana sudah ada Hans Andi juga Hendrawan berdiri di muka ruangan, Reiner masih berjalan cepat menuju pintu kamar di mana Raya di rawat namun langkahnya terhenti saat tubuh tegap Andi dengan sengaja menghadang jalan nya.


"Bang, minggir, gue mau liat Raya" namun Andi masih tidak bergerak ia tengah menjalankan tugasnya.


Melihat hal itu Reiner mengalihkan pandangan nya ke Hans "Om, Rei mau masuk kedalam, kenapa di halangi?" ucap nya berharap namun Hans masih memalingkan wajahnya ia tidak menjawab nya.


Melihat Hans tidak meresponnya Reiner mengalihkan pandangan ke ayahnya "Pah, kalian kenapa diam saja, biar kan Rei masuk, Rei mau ketemu raya!" imbuhnya.


"Rei, papah minta maaf, sekarang biar kan Raya sendiri, ini semua demi kebaikan Raya, dia memutuskan hubungan dengan mu lagi" lirih Hendrawan menatap iba.


"Hekkmm,, apa maksud papah?" sinis Reiner, pandangan nya lalu beralih ke Hans kembali "Om, Raya butuh Reiner, Rei mau jagain dia sekarang biar kan Rei masuk!" teriak nya.


"Om minta maaf, keputusan Raya sudah bulat, om hanya memberikan yang terbaik untuk nya saja" lirih Hans yang juga menatap iba.


"Haapa sebenarnya maksud kalian? kenapa kalian seenaknya begitu, kalian paksa Rei menyukai Raya lalu sekarang... hekkmm kalian pikir aku ini boneka kalian?" teriaknya sejadinya.


"Sayang, ini semua demi kebaikan Raya, mengertilah, papah minta maaf" harap Hendrawan.


"Sekarang papah izinkan aku bertemu dengannya, atau aku..." Reiner berusaha menerobos tubuh tegap Andi.


"Gue harus ketemu Raya minggir llo!!" teriaknya namun Andi masih mempertahankan posisinya.


"Raya izinkan aku masuk, aku mau bicara!" teriaknya menatap pintu kamar pasien tubuhnya masih di halangi oleh Andi.


Merasa gagal perlahan Reiner melangkah mundur kini punggungnya tersandar ke dinding menundukkan wajahnya suara Isak di dadanya kerap terasa meski matanya tak berair.


"Aaaaaaaaggghhhhhh!!!" teriaknya frustrasi.


Setelah berdiam diri sejenak Reiner berjalan serampangan menjauh dari sana, melihat hal itu Hendrawan pun segera mengikutinya.


"Rei,,, kamu masih kecil, cinta kamu masih bisa di rubah, seiring berjalannya waktu kamu juga bisa melupakan nya" Hendrawan takut jika putranya sampai nekad.


Namun Reiner terus berjalan cepat hingga setengah nya berlari ia meninggalkan ayahnya keluar dari rumah sakit.


Sekarang Reiner sudah benar-benar mengerti penolakan Raya tidak main-main lagi, entah mau di bawa kemana langkahnya oleh pikiran frustasi nya namun yang pasti Reiner masih terus melanjutkan langkahnya, perlahan sosok nya berlalu dari sana.


...****************...

__ADS_1


Sementara di dalam kamar pasien Raya masih terus mengalir kan bulir bulir air mata apa lagi saat mendengar teriakkan pemuda tercintanya.


"Maaf kan aku Rei, aku yakin kamu lebih bahagia jika meninggalkan ku, aku tidak mau membelenggu mu lagi, aku sadar aku tidak seharusnya memaksakan perasaan mu dahulu, aku tidak tahu ternyata aku hanya bisa menyusahkan mu saja, ini tidak adil untuk mu Rei" isak Raya memegangi cincin pertunangan mereka.


Sesampainya di rumah sakit kemarin Raya mengumpulkan Hendrawan juga Hans, Raya menyampaikan keputusan nya kepada dua orang ayah yang sangat menyayangi nya.


Tentu saja mereka menyanggupinya asal Raya bahagia mereka bahkan tega mengorbankan satu hati lainnya, Reiner seolah tidak penting bagi mereka.


...****************...


Hari sudah malam Reiner melajukan motornya ke jalan raya entah kemana arahnya pikiran frustasi nya masih menyertai nya, di jalan yang sedikit sepi ketiga motor modifikasi ala preman yang dahulu menyeret Raya mengejarnya.


Dengan mengayun-ngayunkan kakinya mereka memberikan tantangan kepada pemuda yang tengah di selimuti emosi.


Melihat hal itu Reiner menepikan motornya ia memang sudah ingin sekali meremukkan tulang seseorang.


"Bangs*t!!!" teriaknya.


Bima dan kawan-kawan pun ikut menepikan motornya, tak mau lama-lama Reiner menjemput musuhnya sendiri.


DUG! Reiner langsung mengayunkan kakinya kepada cungkring yang masih duduk di atas motor nya hingga terjengkang lah cungkring.


"Kurang asem!!" teriak Bima yang lalu membalas nya namun dengan sigap Reiner menampiknya.


"HAP!!!" Bima sedikit terpental.


Dari belakang preman lainnya sudah melayangkan kepalan tangan ke punggungnya namun Reiner menundukkan tubuhnya seraya mengayunkan kaki kanannya ke lutut sang preman DUG!!.


"Sssiaaaallll...!!!" teriak sang preman yang kini sudah jatuh terlentang.


Amarah Reiner seolah menjadi jimat pamungkas baginya, sorot mata tajam nya terus berapi-api seolah ingin menelan semua preman itu.


Masih ada satu preman lagi yang masih belum di sentuh, Reiner melangkahkan kakinya menuju sang preman DUG!!! dengan memutarkan kaki kirinya ia mengayunkan kaki kanannya ke wajah sang preman.


"Aaaak" teriak sang preman jatuh menyamping.


"Bangun kalian semua, cuma segitu saja kemampuan kalian Hah?" teriaknya menantang.


***

__ADS_1


Di tempat lain Yuda tengah menyetir mobil nya bersama dengan Indra dan Yana mereka berniat membesuk Raya di rumah sakit, setelah tahu Raya menghilang dengan tiba-tiba di pulau S Yuda pun segera kembali ke kota J untuk memastikan keadaan teman cantik nya.


Namun kini tatapan Yuda terpatri pada pemuda yang tengah bergulat dengan beberapa pria.


"Pah, itu bukan nya Reiner" ucap nya yang dengan segera menepikan mobilnya.


Dengan mimik muka khawatir yuda menghampiri pemuda yang masih berkutat dengan aksinya.


"Rei, sudah, kamu bisa membunuhnya!!" teriak Yuda menarik tubuh Reiner yang tengah menduduki Bima seraya mendaratkan beberapa pukulan.


"Rei, sayang jangan begitu nak" teriak Yana panik.


Yuda berhasil melepaskan tubuh Reiner dari Bima, baru saja Reiner menghabiskan beberapa preman yang mengeroyoknya.


Perlahan Reiner menjatuhkan tubuhnya ke aspal menatap langit malam lapang, derai air mata mengalir ke telinga nya.


"Aaaaaaaaggghhhhhh" teriaknya di selingi dengan Isak nya, Reiner masih terus merasa kan sakit karena keputusan kekasihnya.


Yana yang melihat itu segera mendekati putranya ditempatkan nya kepala Reiner ke pangkuannya.


Sontak Reiner menyungkurkan wajahnya ke perut ibunya masih dengan Isak tangis nya.


"Bawa aku kemanapun kau mau, Mah" ucap nya di sela tangis nya.


"Iya sayang, kita pergi yang jauh, kasih mamah kesempatan mengobati rasa sakit mu ini" sahut Yana yang juga terisak setelah melihat tangis putra arogan nya.


Yana mungkin belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada putranya, namun Yana seorang ibu ikatan batin mereka masih BERTAUT, Yana bisa merasakan yang tengah putranya rasakan.


"Kita bawa saja Reiner pulang" ajak Indra.


Dengan terpaksa Yuda mengurungkan niatnya membesuk Raya, mereka segera membawa Reiner ke kediaman mereka, meninggalkan beberapa preman yang sudah tak berdaya.


.


.


. TERIMAKASIH UNTUK WAKTU KALIAN MEMBACA NOVEL KU, JIKA SUDI KIRIM VOTE KALIAN YA HEHE..๐Ÿ™โ˜บ๏ธ


.

__ADS_1


.


__ADS_2