
Andi baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah Hendrawan terlihat sudah banyak mobil mobil lainnya yang memadati halaman parkir itu.
Dengan penuh senyum semangat Mira menggandeng paksa tangan putrinya yang masih sepi dari senyuman.
"Raya, kamu senyum sedikit dong, gak enak sama tamu yang lain" bisik Mira di telinga putrinya. Sedang putrinya masih cemberut saja.
Dari halaman parkir pun Raya sudah mendapat perhatian dari para tamu yang masih berada di luar.
Hans menggiring anak istri rupawan nya masuk ke dalam rumah sahabatnya.
Di sela langkanya sesekali mereka berhenti sekedar untuk menyapa tamu tamu lainnya. Dengan terpaksa Raya menyunggingkan senyumnya.
"Raya, cantik sekali kamu" ucap salah satu dari teman Hans.
"Oo siapa dulu yang usaha?" sombong Hans menyertakan tawa nya termasuk beberapa tamu di sana juga ikut tertawa.
"Ok, kita ke dalam ya, kalian nikmati lah hidangan nya" pamit Hans.
"Baik baik, silahkan silahkan" jawab nya.
Mereka berjalan menuju ruang utama pesta nya. terlihat di sana sudah ada Hendrawan dan istrinya menorehkan senyuman bahagia.
...****************...
Dari lantai atas Gabriel dan Rafa mengamati para tamu yang datang matanya menyisir seluruh ruangan itu dengan mulut yang terus menggerutu.
"Kenapa dari tadi tidak ada yang cantik? semuanya bapak-bapak, apa teman papah brother tidak ada yang punya anak gadis?" gerutu Gabriel.
"Eh liat Briel, liat itu" Rafa mengarah kan kepala Gabriel melihat wanita cantik di lantai bawah yang baru saja tiba.
"Itu, bukan nya kaka ipar?" ujar Gabriel melongo "Cantik sekali dia, pantas saja brother tidak bisa move on" ucap nya masih melongo.
Dari belakang Reiner mengikuti arah pandangan mereka.
Plak! plak!
Dua kibasan mendarat sempurna di kepala mereka.
"Kalian jangan macam macam, cuma aku yang boleh menatapnya!" pekik Reiner dengan nada posesif nya.
"Iya iya" "sial kamu" gerutu mereka.
...****************...
Di bawah Hans dan kedua wanita cantik di samping nya sudah berkumpul dengan Hendrawan dan istrinya, memberikan ucapan selamat.
__ADS_1
"Aku ikut senang Wan, kamu sudah sempat merelakan Reiner pergi ternyata dia masih bisa pulang juga" ucap Hans di selingi dengan tawanya.
"Iya seperti nya ada yang membawanya ke sini lagi" tawa Leta melirik gadis cantik di samping nya yang membuat ketiga orang tua lainya menatap kode.
"Mana Reiner? aku juga ingin melihat nya" ucap Hans celingukan.
"Ada, nah itu dia" sahut Hendrawan menatap putranya yang tengah menuruni anak tangga "Sini sebentar Rei" panggil nya.
Semua mata tertuju pada pemuda tampan itu, namun Raya sibuk menatap ke arah lain.
"Om, apa kabar" sapa Reiner tersenyum kepada calon mertua yang batal itu.
"Baik, makin ganteng saja kamu" ucap Hans merangkul nya.
"Hendrawan,," seru suara dari belakang Reiner membuat mereka menoleh serempak "Selamat yaa,, akhirnya pulang juga anak mu!" ucapnya.
Terlihat bapak-bapak menggandeng putri cantiknya menghampiri mereka.
"Iya, terimakasih sudah datang" sahut Hendrawan menyambutnya, pandangan nya lalu beralih ke anak gadis temannya "Loh ini Laura kan?" tanya nya.
"Iya sudah gede kan putriku? baru saja tiba dari Harvard, tahun ini lulus" pamer ayah Laura yang tidak di tanya itu.
"Oh begitu, tadinya Reiner juga mau saya kirim ke sana, tapi ternyata ibunya lebih gerak cepat bawa ke London" sahut Hendrawan tertawa kecil sedang yang lain hanya melempar senyum.
"Kalo Raya kuliah di mana kemarin?" tanya ayah Laura mengalihkan pandangannya ke Hans.
"Kamu terlalu lembek, aku tega tega yang penting anak ku berkembang, tidak di situ situ saja" timpal nya kemudian.
Raya mulai mencium aroma sindiran dari laki-laki berjambang itu lagi pula selama ini begitu lah hidup nya hanya mendapat sindiran jika berbicara tentang pendidikan.
"Pi, Raya mau ambil minum" pamit nya.
"Iya pergilah" ucap ayahnya.
Pupil Reiner berkumpul di sudut netra nya mengikuti gerak tubuh Raya yang berjalan di belakang nya.
"Kebiasaan melarikan diri mu masih belum ilang juga" batinnya.
...****************...
Ditempat nya Raya menatap sinis mantan kekasih yang masih asyik berbincang dengan Laura.
"Kelihatannya nyambung sekali mereka, aku memang tidak pernah bisa di sejajarkan dengan anak-anak teman papi, hampir semua nya lulusan luar negeri, sedang aku keluar negeri saja hanya sesekali karena lemah jantung ku ini, aku masih payah" gerutunya.
Masih dari tempat nya Raya melihat Reiner menangkap tubuh Laura saat hampir terjatuh karena heels cantiknya.
"Dasar laki-laki mata keranjang, tidak bisa lihat wanita cantik sedikit, semua wanita di modusin" tanpa sadar Raya mengeluarkan umpat serapah nya.
__ADS_1
"Kaka ipar" sentak Gabriel memekik tubuh mungil nya.
"Kamu, jangan panggil aku begitu, aku tidak pernah menikahi Kaka mu"
Pemandangan buruk baru saja membuat suasana hati Raya semakin tidak karuan.
"Sudah pergi sana, menyebalkan mu mirip sekali dengan bos mu" gerutu Raya yang lalu pergi.
Sudah terlalu lama memantau mantan kekasihnya Raya mulai bosan.
"Aku kembali ke mobil saja, bang Andi pasti kesepian, aku bawa minuman saja untuk nya, emmmmm makanan juga deh" ucap nya sambil mengangkut beberapa makanan juga minuman.
"Kamu mau merampok rumah ku?" suara Reiner menyentak tubuh mungilnya
"Perasaan tadi Reiner masih berbincang dengan Laura kenapa tiba-tiba muncul" begitu pikirnya.
"Aku tidak merampoknya, ini rumah om Hendrawan, bukan rumah mu, dia juga ayah ku" cerocos nya tanpa menoleh.
"Hemmm kamu memperjelas dia ayahmu, berarti aku suamimu"
Raya berjalan menuju parkiran mobil membawa beberapa makanan yang di angkut dari meja prasmanan sedang di belakangnya masih ada Reiner mengikuti langkah nya.
"Kamu ngapain ngikutin aku" pekik Raya membalikkan badannya.
"Aku mau mengantar mu"
"Terserah saja" lirihnya.
"Lagian di larang pun kamu tidak akan menuruti nya, kamu kan bebal"
Raya membalikkan badannya kembali lalu melanjutkan langkahnya tak sadar tubuhnya sudah memasuki sela-sela mobil yang terparkir.
DUG tubuh Reiner menghadang jalan nya membuat Raya menatap kesal.
"Aku sudah kehabisan kesabaran tolong jangan begini, aku......."
Cup seper sekian menit Raya membeku setelah menerima kecupan tiba-tiba dari mantan kekasih nya, bibirnya basah karena baru saja seseorang mengecap nya.
"Akhirnya malam ini bisa tidur nyenyak juga, terimakasih" ucap Reiner tersenyum.
"Sayang, kamu cantik sekali malam ini" bisik Reiner di telinga nya sebelum kemudian pergi begitu saja.
Sedang Raya masih mematung di tempatnya membiarkan Reiner pergi tanpa memarahinya.
"Ya ampun, ada apa dengan ku, kenapa aku diam saja? dasar cabul, bahkan bukan Kekasihnya saja masih berani di cium" batinnya menggerutu.
"Aaaaaaaaaaaqqqqqq kenapa aku lemah sekali di buatnya, dia merampok bibir ku dan aku membiarkan nya" Raya menghentakkan kakinya kesal.
__ADS_1