KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 26. Takut khilaf


__ADS_3

Tiba di tempat tujuan Reiner masih menggendong Raya keluar dari mobil ia menghentakkan pintu dengan kakinya, Yuda keluar dari mobil tapi tidak ikut masuk ia hanya menyerukan suara.


"Gue langsung pulang aja, motor lo bisa lo ambil kapan pun" ucap Yuda masih berdiri di ambang pintu mobil.


Reiner hanya mengangguk secuil masih dengan wajah dingin karena belum bisa memaafkan Yuda, begitu juga dengan Yuda ia tidak ingin berlama lama melihat Raya bersama Reiner jadi lebih baik ia cepat cepat pulang saja.


Pak Salim yang tengah duduk di bangku taman segera berlari menghampiri, membukakan pintu untuk mereka wajah panik pak Salim menjadi bukti kesetiaannya pada Hans.


"Silahkan mas Reiner, kenapa lagi non Raya nya?" tanya pak Salim mengikuti langkah Reiner.


"Gak apa-apa Raya hanya tertidur saja" Reiner membawa Raya ke kamar dan membaringkan di tempat tidur dengan sangat hati-hati karena Raya masih terpejam.


"Kalo pulang bareng mas Yuda pasti ujung-ujungnya begini" sesal pak Salim.


Reiner mulai melepaskan sepatu Raya satu persatu, ia juga berniat membuka kaos kaki panjang yang menutupi lutut tapi tiba-tiba saja perasaan aneh muncul saat melihat tubuh rapuh kekasihnya terbaring di atas ranjang.


"Aku tidak bermaksud kurang ajar, aku hanya ingin membantunya saja" batin Reiner bergejolak.


Karena takut khilaf Reiner mengalihkan pandangan ke arah lain pelan pelan sekali ia menarik kaos kaki Raya sesekali jemarinya tidak sengaja menyentuh kulit mulus kekasihnya menerbangkan pikiran nakal kemana mana.


"Inget Rei belum halal" dalam batinnya berdecak.


Setelah selesai, cepat cepat Reiner menyelimuti Raya dan berjalan keluar menemui pak Salim yang masih berdiri di depan pintu kamar.


"Tante Mira kemana pak?" tanya Reiner sambil melirik ke arah Raya.


"Nyonya pergi arisan baru saja berangkat mas" terang pak Salim menatap wajah bingung Reiner.


"Oh gitu" Reiner terdiam sejenak tampak memikirkan sesuatu "Emmh kalo gitu bapak temani saya di dalam ya, sampai orang rumah ada yang pulang" usul Reiner.


"Baik mas Reiner" pak Salim setuju karena mulai tahu yang di pikirkan Reiner.


Lagi lagi Reiner takut khilaf, mereka berdua menjaga Raya sambil menunggu Hans atau Mira pulang setidaknya saat Raya terbangun ia tidak kesepian.


Sudah satu jam setengah mereka menunggu tapi belum juga ada yang pulang sampai akhirnya Raya mulai terbangun dari tidurnya ia melihat pak Salim tertidur di sofa kamar lalu melihat ke arah Reiner tengah duduk di bangku menyanggah dahi dengan ibu jarinya tampak memejamkan mata.


Untuk sesaat Raya memilih menatap wajah kekasihnya "Apa aku hanya merepotkan kamu saja Rei?" batin Raya.

__ADS_1


Tak lama kemudian Reiner membuka mata spontan melirik ke arah Raya yang tengah menatap dengan dalam hingga akhirnya senyuman pun menghiasi wajah tampan sang jagoan.


"Sudah bangun Raya?" tanyanya singkat.


"em em" sahutnya mengedipkan kedua mata.


Reiner mendekati kekasihnya menatapnya dengan dalam sebenarnya ia masih sangat marah tapi masih bisa ia tahan, akan ada waktu memarahinya nanti, saat Raya sudah tidak lemah lagi.


"Jangan pernah membuatku cemburu lagi, atau aku akan menghabisi semua pria yang dekat dengan mu" ancam Reiner tangannya membelai puncak kepala kekasihnya.


Untuk beberapa saat sepasang kekasih itu saling melemparkan tatapan, ada pertanyaan yang enggan di lontarkan hening sangat hening tapi batin mereka bergemuruh "Kenapa? Kenapa? Kenapa?" berlayar memutar dalam pikiran mereka.


Tak lama kemudian terdengar suara hentakan pintu mobil di halaman depan yang di susul suara berisik dari dentukan heels Mira berlari ke kamar putri semata wayangnya seketika membuyarkan tatapan mereka.


Raya mengalihkan pandangan ke arah pintu mata sayup Raya menyambut ibunya yang sebentar lagi masuk " Mami sudah pulang" pikir nya.


Reiner beranjak dari duduk ia menghampiri calon mertuanya bermaksud untuk berpamitan karena sebenarnya dia masih marah.


"Tante, Reiner pulang" singkat nya saat berpapasan dengan Mira di ambang pintu kamar.


Mira yang masih khawatir tak bisa membendung tanya "Reiner kenapa pulang nak? Tante mau tanya sesuatu sama kamu" sambung Mira.


"Baik lah, hati hati Rei" pesan Mira membiarkan Reiner pergi.


Mira meletakkan tas jinjing hitam di atas meja rias Raya menemui putrinya yang masih terbaring lemah di balik selimut tebal.


"Sayang, mami minta maaf ya, lama pulang nya, mami baru tau dari Tante Leta, kenapa kamu gak bilang kalo kamu di bully dan di lecehkan di sekolah?" sesal Mira menatap wajah putrinya.


Raya menautkan alisnya masih tidak mengerti apa yang sedang Mira katakan Raya memang di siram air satu ember oleh sekelompok siswi nakal tapi tidak juga di lecehkan pikir nya.


"Mami ngomong apa, pelecehan apa? Raya gak ngerti " sahut Raya melongo.


"Om Hendrawan sudah mengurus pemuda nakal itu sayang, kamu gak usah khawatir ya" imbuh Mira menenangkan Raya tangannya mengelus puncak kepala putrinya.


"Memangnya Raya di lecehkan siapa mi?" sambung Raya benar benar belum mengerti maksud ibunya.


Mira melenguh ternyata Raya sendiri tidak mengetahuinya "Apa kamu benar benar tidak tahu sayang? Reiner memukuli teman sekolahnya, karena mengambil foto kamu, kamu di bully kan di sekolah? mami mau tuntut mereka" cerocos Mira.

__ADS_1


Karena Raya masih tampak kebingungan Mira menceritakan satu persatu duduk masalah yang ia dengar dari Leta, Raya membulatkan matanya saat mendengar penjelasan ibunya.


"Jadi karena itu Reiner menindas mereka, aku bahkan tidak menanyakan apapun ke Reiner, aku hanya langsung berprasangka buruk saja, Reiner pasti berpikir aku tidak tahu terimakasih" sesal Raya merasa bersalah dengan kelakuannya.


****************


Sekitar satu jam kemudian Reiner turun dari taksi di depan rumah Yuda ia merogoh saku celananya setelah menghentakkan pintu mobil.


Berjalan cepat menuju motor besar yang masih terparkir di halaman rumah Yuda dengan segera ia memakai helm dan melangkah naik ke motor.


Saat sudah ingin melajukan motornya Yana menghalangi jalan berharap Reiner mau mendengarkannya.


"Rei, jangan pergi dulu nak" ucap Yana ia merentangkan kedua tangannya berdiri di ambang pintu gerbang.


Tapi Reiner yang sudah siap melajukan motornya ia menarik kopling dan memutar mutarkan setang di tangan kanannya "Bruuuuummm Bruuuuummm" memberikan tanda minggir pada ibunya suara berisik dari erangan motor Reiner memanggil Yuda keluar dari rumah.


Yana tetap berdiri di sana masih yakin Reiner tidak akan tega menabraknya, meski Reiner arogan seperti Hendrawan yang selalu bisa meremukkan sesuatu dengan tatapannya tapi mereka tidak akan pernah menyakiti seseorang dengan tangannya.


"Reiner, turun lah nak" lirih Yana.


Namun ternyata dengan sorot mata tajam dibalik kaca helm jemari tangan kiri Reiner mulai melepaskan kopling ia tetap memutar setang ditangan kanan melajukan motor ke arah ibunya "Brrruuuuuummm"


"Apa anda sudah gila" teriak Yuda saat menarik tubuh Yana dari sana.


"Ini sudah terlambat" batin Reiner dengan angkuhnya ia tetap meninggalkan tempat itu.


Rasa rindu yang selama ini menyelimuti hatinya seketika tersingkap oleh pertemuan yang tidak diinginkan karena seharusnya tidak dengan cara seperti itu mereka bertemu.


Yuda menatap iba melihat Isak tangis Yana yang menampakkan penyesalan.


"Kita masuk saja ke dalam" ajaknya merangkul Yana.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2