
Di halaman belakang rumah Hans Raya terlihat melamun sambil mengayunkan kakinya ringan ia memikirkan perlakuan Reiner yang akhir akhir ini terlihat berbeda, tak lama kemudian suara langkah kaki Mira memudarkan lamunannya.
"Raya, kamu melamun di sini ternyata, mandi sana sebentar lagi Reiner dan keluarga nya datang ke sini "
" Iya bentar lagi mandi nya" ucap Raya menoleh lemah.
"Raya kamu pakai cincin ..." tanya Mira saat melihat jari putrinya sudah memakai cincin Reiner kembali.
"Iya, Raya gagal balikin cincin ini ke Reiner, sekarang mami puas kan" ketus Raya yang memotong ucapan Mira dia segera pergi ke kamar mandi karena sudah semakin sore.
Mira hanya geleng-geleng dengan sikap putrinya yang berubah ubah kadang terlihat sangat menyukai Reiner tapi kadang terlihat membenci Reiner di mata Mira hanya Reiner saja yang paling konsisten menyukai Raya.
Melihat hal itu Mira segera mengirim pesan teks kepada besannya.
π€"Jeng, rupanya Raya sudah memakai cincinnya lagi, mungkin Reiner sudah berhasil meyakinkannya kembali"
π₯"Yang benar kamu mir, syukur lah kalo begitu, aku kasih tau ke Hendrawan pasti dia senang mendengarnya"
Begitu kira-kira pesan rempong dari kedua calon besan mengenai anak anak rupawan mereka, mereka masih sangat semangat menyatukan putra putri mereka.
Malam harinya kedua keluarga bersahabat baru saja selesai makan malam, mereka berkumpul di halaman belakang rumah Hans menikmati waktu luang bersama, tapi Raya dan Reiner tidak terlihat di sana kemana mereka?
Di toilet lantai bawah Raya baru saja keluar dari sana saat Raya menutup pintu tiba-tiba saja Reiner menariknya paksa.
"Apaan sih Rei?" decak Raya spontan.
Reiner menggandeng tangannya berjalan menuju halaman parkir, Raya masih kebingungan dengan maksud Reiner yang tiba-tiba.
Reiner mengambil kotak hitam besar dari dalam bagasi mobilnya.
"Lo mau apa sih Rei?" tanya Raya.
Reiner membawa kotak besar ke bangku yang terletak di halaman depan rumahnya karena di halaman belakang sudah ada para orang tua mereka.
"Duduk, aku mau kasih liat kamu sesuatu" ucapnya masih konsisten dengan nada dinginnya.
__ADS_1
Raya menurut ia duduk di tempat yang sudah Reiner tunjukkan, sedang Reiner mulai membuka kotak hitam miliknya, Raya melihat Reiner mengeluarkan teropong bintang jenis teleskop catadioptric.
"Ini apa?" tanya Raya menatap gerak tubuh kekasihnya yang tengah berkutat dengan benda mahal itu.
Setelah selesai, Reiner mulai menuntunnya untuk mencoba melihat kedua lubang yang bisa memperlihatkan seluruh isi langit pada malam itu.
"Kamu coba liat"
Karena penasaran Raya mulai menempatkan kedua matanya di lensa okuler dan benar saja beberapa saat kemudian ia tersenyum lebar melihat pemandangan yang menyambutnya di dalam sana.
"Wah indah sekali Rei, apa ini yang namanya benda benda langit?" tanya Raya tanpa melepaskan pandangan dari teleskop nya.
"Iya, kamu suka?" Reiner tersenyum melihat Raya sudah mulai luluh.
"Suka, suka" senyum Raya.
Reiner menatap kuat kekasihnya batinnya sudah sedikit merasa puas, ini kali pertama Reiner menorehkan senyuman di wajah cantik tunangannya, sebab biasanya Raya hanya tersenyum saat bersama Bagas saja, bertahun tahun Reiner mengamati pertemanan mereka, yang tanpa sadar sering membuatnya cemburu.
"Apa kamu senang bersama ku sekarang?" Reiner masih menatapnya dalam.
"Kenapa menatap ku seperti itu, masih kagum dengan ketampanan ku, aku memang tampan dari dulu" sombong Reiner memalingkan wajahnya melihat tatapan tajam Raya.
"Kamu tidak pernah berubah, masih sombong seperti biasanya " batin Raya.
"Apa yang mau kamu tanyakan, tanyakan saja, aku akan menjawabnya" Reiner melihat kepolosan hati kekasihnya.
"Apa kamu mengasihani ku, apa karena aku lemah kamu memperlakukan ku seperti ini, apa kamu takut aku pingsan lagi jika kamu mengacuhkan ku, apa kamu takut disalahkan jika menyakiti hati ku, apa yang sebenarnya kamu rasakan padaku?" tanya Raya memancing.
"Kamu itu orang paling keras kepala yang pernah aku kenal, jadi buat apa aku mengasihani mu, buang buang tenaga saja" Reiner masih bisa tersenyum sinis.
"Lalu?" tanya Raya mengorek lebih dalam lagi.
Reiner menatap wajah Raya yang masih dipenuhi dengan tanda tanya, bola mata Reiner bergerak ke kanan dan kiri menyisir seluruh wajah cantik tunangannya, mereka terdiam dan untuk beberapa saat mereka saling menatap kuat.
"Aku memang menyukai mu, aku menyayangimu, aku ingin selalu bersama mu" lirih Reiner tanpa ragu.
__ADS_1
Raya terpaku mendengar ucapan Reiner, lidah nya kelu tak mampu lagi berkata kata Raya hanya bisa menatap wajah tampan yang mulai mendekati wajah cantiknya, Reiner semakin dekat terus mendekat dan lebih dekat lagi hingga kini kedua hidung runcing mereka menyatu merasa di sambut perlahan Reiner mulai membuka bibirnya.
"Em em..." seru suara pak Salim mengandas kan gerakan mereka, entah dari kapan pak Salim berada di sana.
"Apa lagi ini..." gumam Reiner menggaruk kepala yang tidak gatal.
Raya segera berdiri dengan gerakan yang terbata-bata, untuk mengurangi canggung di antara mereka Raya mulai mengintip kan matanya ke teleskop lagi.
Reiner juga ikut berdiri di samping Raya mereka berbagi lensa agar bisa menikmati pemandangan langit bersama-sama.
"Aku bersyukur sekali, akhirnya perasaan ini terbalas setelah sekian lama kamu menolak ku Rei " batin Raya.
****************
Pagi harinya Raya baru saja sampai di halaman parkir sekolah, saat melangkahkan kakinya menuju koridor Raya baru mengingat kembali tentang ucapan bad girls di toilet kemarin
"Ya ampun kenapa aku bisa lupa, aku tidak bilang ke Reiner tentang Shela dan siswi berandalan itu" gumamnya menepuk dahi.
Dengan langkah yang terburu-buru Raya menuju ke belakang gudang berharap bisa mencegah sekelompok siswi nakal itu.
"Semoga saja anak anak itu tidak jadi menindas Shela" harap Raya selagi berjalan cepat.
Sementara di belakang gudang sudah ada Shela yang di seret oleh ketiga siswi nakal itu.
"Lepasin gak !" teriak Shela karena sebenarnya dia pemberani hanya saja dia tidak mampu melawan tiga orang sekaligus.
"Urusan kita belum selesai Shela, lo harus meminum air ini dulu sebelum kita lepaskan!" ucap siswi C yang punya jiwa psikopat, dia menawarkan satu ember air untuk Shela.
"Lepas, gue bisa laporin kalian ke Reiner" ancam Shela yang kini tidak bisa melakukan apapun karena tangannya sudah di apit oleh siswi A dan siswi B.
Siswi C mulai menaburkan bubuk pewarna ke tubuh Shela dia juga bermaksud menyiramkan satu ember air ke tubuhnya.
.
.
__ADS_1
.