KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 50. Pulang plus Visual.


__ADS_3

...Spesial bab 50 Visual Hendrawan....



Siang harinya Hendrawan terburu-buru pulang dari kantor padahal seharusnya Hendrawan masih ada temu janji dengan klien nya.


Namun suara Isak tangis istrinya di seberang telepon membatalkan semua rencananya hari ini. Kurang dari 20 menit Hendrawan tiba di halaman parkir rumah mewah nya.


Terlihat Istrinya sudah menyambut di depan teras rumah minimalis nya masih aktif menghapus air mata di pipinya.


Memasang wajah paniknya Hendrawan menemui istri tercintanya.


"Pah,,, hiks hiks hiks" Isak Leta.


"Kamu kenapa? siapa yang buat kamu menangis seperti ini hah..?" posesif Hendrawan.


"Mamah terlalu senang pah, hiks hiks, papah juga pasti senang melihat kejutan dari mamah" ucap Leta masih terisak.


"Kejutan apa? mamah hamil?" tanya suami nya.


"Hiks hiks, bukan itu, papah masuk saja ke dalam" sahut istri nya.


Hendrawan melangkah cepat karena penasaran, di lihat nya putra semata wayangnya sudah berdiri di ruang tamu.


Plak!


"Dari mana saja kamu! kelayapan enam tahun, cuma gara-gara papah memutuskan hubungan mu dengan Raya kamu kabur dari rumah hah?!" teriak Hendrawan setelah mendaratkan tangan nya.


"Pah, Reiner baru pulang kenapa kamu tampar begitu" cerocos Leta memeluk putra tiri nya.


"Sadis sekali papah brother, pantas saja anak nya begitu, ternyata papah nya lebih menyeramkan" gerutu Gabriel memelankan suaranya.


"Aku tidak bermaksud kabur, Aku juga ingin menghubungi papah tapi almarhum kakek melarang nya" jelas Reiner.


"Almarhum?, apa kakek mu sudah meninggal?" tanya ayahnya, anak nya hanya mengangguk saja.


"Kamu kurus sekali, di kasih makan apa kamu sama ibu mu?" tanyanya kemudian ketiga orang di dalam sana hanya saling melempar tatapan karena Reiner tidak sekurus pandangan nya itu hanya posesif nya seorang ayah saja.


"Sekarang buat kan makanan mah, aku mau makan siang dengan putraku" ketus Hendrawan menyuruh istrinya.


Hendrawan tidak mau berlama-lama memarahi putra nya. Dia sudah sangat merindukan nya.


"Iya, semua nya sudah siap, kita langsung makan saja" ajak Leta.


"Kamu siapa?" tanya Hendrawan matanya menatap Gabriel yang masih syok dengan sosok ayah arogan.


"Gabriel om, aku ajudan brother Dilan" sahut Gabriel yang membuat bos nya menginjak kakinya.


"Aaawww" seru Gabriel.


"Kamu jangan panggil Dilan di sini, panggil aku Reiner" bisik bos nya.


"Ya sudah kita makan saja" untung saja Hendrawan tidak terlalu mendengar kan kata Dilan jadi Reiner selamat dari cecaran sang ayah.


Tadinya Gabriel mau langsung pulang tapi Leta menyuruh nya tetap tinggal, namun ternyata Gabriel sedikit terhibur melihat bos galak nya di tampar ayahnya.


Mereka pun saling bertukar cerita di meja makan panjang nya.

__ADS_1


...Visual Gabriel sang ajudan tampan....



...****************...


Hari sudah sore Reiner berniat menjemput Raya dari kantor, Reiner masih belum menyerah ia tetap ingin mengajak Raya balikan.


Sementara di ruangannya Raya sudah mulai membereskan meja kerjanya, tak lama dari itu Raya berjalan gontai memasuki lift yang memang sudah terbuka Raya menekan tombol bertuliskan LG (lower ground).


Setibanya di lantai itu Raya melangkah sedikit pelan menuju lobby kantor karena harus mengeluarkan ponsel dari tas bahu milik nya.


Raya mengirim pesan teks kepada sahabat yang akan menjemput nya Raya berjalan menunduk hingga tidak melihat ada Reiner di sudut ruangan itu.


16:45πŸ“€"Kamu sudah di mana gas?"


16:46πŸ“₯"Sebentar lagi sampai tunggu saja dulu di depan"


Langkah Raya menuju pintu kaca otomatis yang belum juga terbuka sedang tubuh nya sudah memasuki garis sensor.


Raya terus berjalan menunduk memainkan ponsel nya ia masih tidak menyadari pintu otomatis yang akan di lewati nya rusak.


Reiner yang melihat itu, segera menghadang tubuh Raya tepat di pintu kaca yang masih tertutup.


~*Dug!*~


Dada bidang Reiner membuat tubuh mungil Raya terpental ke belakang. Dengan sigap nya Reiner menarik kedua lengan Raya.


"Ooogh." mereka saling bertatapan.


Jantung mereka berdegup kencang, meski wajah mereka terpaku namun bola mata mereka bergerak ke kanan dan kiri penuh dengan perasaan aneh.


"Ka kamu lagi!!" ucap Raya sontak mendorong dada bidang mantan kekasih nya.


"Baru saja aku menyelamat kan mu dari pintu itu, harus nya kamu terima kasih!" ketus Reiner.


Raya memiringkan kepalanya matanya memeriksa pintu yang memang masih tertutup, jika sampai menabrak nya pasti Raya malu sekali apa lagi di sekelilingnya masih banyak karyawan yang masih berseliweran.


"Iya makasih" ucap nya.


"Aku antar kamu pulang ya!" tawar Reiner tersenyum.


"Setelah menghilang enam tahun, kamu bersikap seperti tidak terjadi apa apa!" batin Raya


"Aku sudah di jemput, kamu pulang lah sendiri, lagi pula kita bukan pasangan lagi" acuh Raya berjalan menuju pintu darurat.


"Kamu di jemput Bagas lagi?" ketus Reiner menatap sinis langkahnya mengikuti mantan kekasihnya.


"Iya, itu kamu tahu, kenapa masih tanya?" sahut Raya entengnya.


"Sebenarnya kamu ada hubungan apa dengan Bagas hah? kamu pacaran sama dia?" Reiner menarik kuat lengan Raya.


"Kenapa kalau cuma temen?" tanya balik Raya.


"Aku mau kita balikan!" jawab nya.


"Terus kalau ternyata aku udah pacaran sama Bagas gimana?" tanya Raya sekali lagi.

__ADS_1


"Tentu saja aku rebut kamu dari nya, kamu pikir aku bakal ngalah!" jawab nya mempererat cengkeraman tangannya.


"Lepas gak ini sakit Rei!" pekik Raya menarik kembali tangannya namun sayang nya tidak juga berhasil.


Brugh Bagas menghentakkan pintu mobil nya setengah terkejut melihat pria tampan berdiri di samping sabahat nya.


...Visual Bagas sang dokter tampan....



"Rei,, kamu,, di Indonesia?" celetuk nya.


"Iya,, kenapa? gak suka?" ketus Reiner menatap sinis tangan nya masih menguasai lengan mantan kekasihnya.


"Lepas!!" pinta Raya kesal.


"Lepasin Rei, Raya kesakitan!" timpal Bagas tangan nya mencoba membantu sahabatnya.


Reiner semakin geram sekarang di hatinya mulai panas, Reiner menghempaskan tubuh Raya dengan tiba-tiba membuat Raya terpelanting ke pelukan Bagas.


"Aaaaqqq" seru Raya.


"Kamu gak papa kan hm? tangan kamu merah" peduli Bagas memeriksa keadaan sahabatnya.


"Aku tidak apa-apa, kita pulang saja" ucap Raya yang lalu berjalan menunduk menaiki mobil sahabatnya.


Bagas masih menatap wajah sinis Reiner, ke khawatiran mulai menyerang nya baru saja Bagas punya keberanian mengungkapkan perasaan nya kini sudah ada saingan berat nya.


"Aku pergi dulu, senang bisa melihat mu lagi" ucapnya yang lalu menyusul Raya memasuki mobilnya.


Sedang Reiner masih diam membisu di tempat nya. Sudah satu bulan lamanya Reiner mengawasi mantan kekasihnya pulang pergi bersama laki-laki lain.


"Kamu pikir aku akan menyerah hanya karena ini?" sinis nya kemudian.


Di dalam mobil Raya memejamkan matanya lalu menghembuskan nafasnya perlahan.


"Kenapa dengan ku? aku senang melihat nya, kenapa tidak bisa menyambut nya dengan baik, dulu aku memutuskan nya karena sikap kekanak-kanakan ku, lalu kenapa lagi sekarang? apa aku sudah mulai menyukai Bagas? apa karena itu? bagaimana cara ku memastikan perasaan ku ini?" batin Raya berkecamuk.


"Pakai sabuk pengaman nya Ya" tutur Bagas.


Raya menatap wajah sahabatnya yang kini memakai kan sabuk pengaman nya.


"Gas kamu mau mencium ku?" celetuk Raya yang membuat Bagas spontan tersenyum.


"Aku tidak mau.!" Bagas mulai beranjak dari posisinya perlahan Bagas melajukan mobilnya.


"Jika hanya untuk membuat Reiner cemburu, aku tidak akan membantu mu!"


...Aa Reiner / Dilan....



.


Boleh ****Like Love juga**** Vote yah ..


SILAHKAN JIKA INGIN MENGKRITIK SAYA AKAN JADIKAN ITU PELAJARAN KARENA INI KARYA PERTAMA KU, TERIMAKASIH. πŸ™

__ADS_1


.


__ADS_2