
Raya hanya bisa memejamkan matanya merasakan hembusan nafas suaminya yang sudah sedikit menggebu di telinga nya.
Perlahan Reiner membalikkan tubuh istrinya menghadap ke arahnya, wajah lugu istrinya mulai menyentuh kalbunya.
HAP Reiner menaikan tubuh istrinya dengan melingkarkan kaki Raya ke pinggangnya sedang tangannya menopang pinggang ramping istrinya dengan senang hati Raya mengalungkan tangan ke tengkuknya.
"Kamu cantik, aku mencintaimu"
Seper sekian menit Reiner melu..mat bibir mungil istrinya aroma damai dari leher jenjang istrinya mulai mengusiknya tak lama kemudian ia beralih ke sana lalu menghirupnya.
Bulu kuduk di sekujur tubuh Raya terangkat jantung nya berdebar-debar sedikit panas. Reiner yang menyadari nya lalu membawanya ke tempat tidur mendudukkan istrinya di tepian kasur.
Tangannya meraih jam deteksi jantung milik istrinya yang tergeletak di atas nakasnya lalu memakaikannya ke tangan kecil istrinya "Selama kita melakukan nya kamu pakai ini.." tuturnya.
Raya masih diam tak bersuara hanya mengikuti aturan main suaminya saja namun di matanya ada sedikit ketakutan dan sepertinya laki-laki tampan di hadapannya tahu.
"Kamu takut aku menyakitimu?" tanyanya dengan suara beratnya.
"Aku ... " balas nya ragu.
"Kalo kamu takut, kita tidak perlu melakukannya" bisik nya yang lalu di jawab dengan sedikit gelengan istrinya.
Melihat hal itu Reiner kembali melu.. mat bibir mungil wanitanya Reiner memperdalam kecapan bibirnya dengan menekan tengkuk istrinya benda kenyal tak bertulang berjalan bebas sesukanya.
Tangannya mulai menjatuhkan helaian kain yang menempel di tubuhnya juga istrinya namun bibirnya masih terus beraktivitas.
Perlahan Reiner mendorong tubuh polos istrinya Brugh... dengan gagahnya Reiner mengutak-atik kepala gesper nya lalu menanggalkan sisa kain yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Meski Raya yang kekeh menggodanya dia malah memalingkan wajahnya merasa malu jika harus menatapnya, ini kali pertamanya melihat aset suaminya.
Reiner hanya tersenyum Brugh ia menjatuhkan lututnya ke tempat tidur tatapan matanya terus mengarah ke bagian depan tubuh istrinya.
Seperti tersihir oleh keindahannya Reiner langsung meraihnya bermain dengan benda empuk milik Raya dan sepertinya perjalanan dari rumah Rafa ke apartemennya membuatnya haus, ia meneguk ujung berwarna pink millik istrinya. Deru nafas istrinya mulai membuatnya tidak terkendali.
"Rei... " rintihan istrinya tidak mengurungkan niatnya, malam ini juga ia harus berhasil mendapatkan haknya. Kini wajah tampannya mulai timbul tenggelam di antara paha mulus istrinya membuat Raya menggelinjang hebat.
Setelah sekian menit melakukan pemanasan Reiner mulai membenamkan miliknya ke tubuh rapuh istrinya perlahan ia memacunya dengan gerakan yang sangat hati-hati sekali, telinga nya terus bersiaga kalau-kalau jam deteksi jantung istrinya berbunyi dia akan dengan suka rela menghentikan aksinya.
Raya hanya bisa meremas ujung bantal yang menyangga kepalanya bulir bening terus mengalir dari matanya SAKIT, itu yang di rasakan Raya saat ini, peluh yang berjatuhan dari atas nya bercampur dengan keringatnya "Hiks hiks hiks... " Isak nya.
__ADS_1
Namun desah serak istrinya yang menggema dalam ruangan kedap suara itu mulai menghanyutkan hentakan tubuh Reiner meraih puncak surga dunia hingga tanpa sadar Reiner membuat hentakannya semakin cepat "Aku mencintai mu sayang" ucapnya dengan suara beratnya.
"Kamu baik-baik saja kan sayang?" tanya laki-laki tampan itu setelah menstransfer benih kedalam rahim istrinya.
Wajah pucat istrinya mulai membuatnya panik "Sayang... " panggil nya menepuk-nepuk pipi istrinya yang kini memejamkan mata.
"Rei.. " sautan istrinya sedikit menenangkan pikiran nya.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak melakukannya" lirihnya menyesal.
Ucapan Reiner membuat Raya mengetahui alasan suaminya menjauhinya selama beberapa hari ini, dengan kondisi yang masih lemah Raya mulai memikirkan hal itu matanya terus menatap suaminya yang kini menyelimuti tubuhnya.
"Aku selalu saja salah menilai mu" batinnya menyesal, beberapa saat lalu Raya sempat membandingkan kesungguhan Bagas dengan suaminya.
"Kamu istirahat lah, atau perlu ke rumah sakit?" tanya suaminya memegangi pipinya.
"Tidak perlu, peluk aku" pintanya lirih.
Reiner menurutinya ia menempatkan tubuh kecil istrinya ke pelukannya lalu mengelus lembut rambut istrinya tak butuh waktu lama ia menidurkan istri tercintanya rasa bersalah terus menyertai nya.
Tidak seperti laki-laki lain yang tertidur setelah bertempur namun Reiner tidak bisa memejamkan matanya walau hanya sekejap.
Hingga saat pagi menjelang badan istrinya mulai panas pikirannya semakin tidak karuan, di pakaikan nya baju hangat istrinya setelah dengan sabar ia membersihkan tubuh istrinya.
"Bantu aku bawa Raya ke rumah sakit" ucapnya nyaring.
Gabriel yang sudah terbiasa dengan kesigapan nya tidak menanyakan apapun lagi, dia hanya langsung menuju kamar mandi untuk menyadarkan dirinya.
Sementara Reiner kembali ke kamar merapikan pakaian istrinya lalu menempatkan ke gendongannya.
Tiba di ruang tamu Gabriel berlari membukakan pintu dan segera keluar dari sana Gabriel tergesa-gesa menekan tombol lift.
"Kenapa Kaka ipar? kenapa pucat sekali, ?" panik Gabriel saat melihat bibir ungu Raya.
"Bertahan lah sayang" ucap Reiner menatap wajah Raya dalam gendongannya.
Ting lift terbuka mereka segera memasuki nya menekan tombol bertuliskan LGM. Wajah panik mereka terus menyertai hingga masuk ke dalam mobilnya.
"Cepat ke rumah sakit JA kamu hapal jalannya kan?" ujar Reiner kemudian.
__ADS_1
"Iya.. " dengan segera Gabriel melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang di ucapkan bos nya.
Reiner masih menopang tubuh kecil istrinya tangannya terus menerus menggenggam tangan Istrinya.
Genggaman tangannya membangunkan tidur istrinya yang sudah setengah pingsan.
"Rei,, aku tidak apa-apa" lirihnya tersenyum nanar.
"Tentu saja kamu tidak akan apa-apa, kamu harus terus menemani ku" sautnya masih terus menampakkan wajah paniknya.
"Bertahan lah, jangan jadi lemah setelah bersama ku, aku tahu aku bisa menjaga mu, tapi jangan jadi semakin lemah begitu" gerutunya panik.
Sedang Gabriel masih fokus dengan jalanan yang tampak sepi karena masih sangat pagi, mobilnya melaju cepat namun tidak menakuti penumpangnya.
...****************...
Tiba di rumah sakit Raya langsung di masukkan ke ruang CICU oleh petugas medisnya "Dokter Hendra belum masuk panggil dokter lain saja kalo begitu" ujar perawat nya.
Sedang di luar ruangan Reiner masih berjalan mondar mandir menampilkan wajah paniknya hingga saatnya dia melihat seseorang yang tidak asing berlari menuju ruangan di mana istrinya terbaring.
"Mau apa kamu hah?" pekiknya menarik jas putih dokter tampan itu.
"Aku mau memeriksa keadaan Raya, lepas" teriak Bagas kepadanya.
"Jangan Sembarangan kamu, aku tidak mengizinkan istriku di sentuh oleh mu!" lanjut Reiner yang juga berteriak tangannya masih terus mencengkeram jas Bagas.
"Apa kamu bisa memeriksa nya sendiri? lalu untuk apa kamu bawa dia kesini..!!" pekik Bagas menghempaskan cengkeraman tangan Reiner.
Tanpa berkata apapun lagi Reiner membiarkan Bagas masuk untuk memeriksa keadaan istrinya.
Di dalam Bagas mulai memasang kabel kabel kecil di tubuh sahabatnya di temani oleh petugas medis lainnya.
"Gimana dok? apa perlu tindakan lebih lanjut?" tanya petugas medis di sampingnya.
.
.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
.
.