KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 29. Terpaku pada mu


__ADS_3

Mobil mewah baru saja tiba di garasi mobil milik Hendrawan, mobil itu parkir di antara deretan mobil mewah lainnya, terlihat laki laki paruh baya turun dari kendaraan berwarna hitam mengkilap nya.


Wajah arogan yang selalu terpampang semakin terlihat jelas hari ini, ia berjalan gontai menuju pintu masuk rumah nya.


Terlihat di sana wanita cantik menyambut kedatangan nya dengan raut wajah yang sedikit cemas.


"Sudah pulang pah?" sambut Leta kepada suaminya.


"Iya, Reiner kemana?" tanya Hendrawan tatapannya mengarah ke kamar putranya.


"Mungkin dikamar nya, mamah juga belum melihatnya, gimana pemuda kurang ajar itu, apa sudah di kasih pelajaran, mamah geram sekali mendengar nya, mamah kasian dengan Raya, untungnya Reiner bisa mencegah penyebaran foto itu, mamah gak tahu apa yang akan terjadi sama Raya jika foto itu sampai tersebar ke teman temannya pah" cerocos Leta tiba tiba.


"Sudah di urus, kamu tenang saja, baru saja sampai sudah nyerocos begitu, papah temui Reiner dulu" Hendrawan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar putranya, Leta hanya menghembuskan nafas melihat sikap dingin suaminya.


"Click" Hendrawan membuka pintu kamar putranya setengah terkejut melihat kamar yang sudah porak poranda namun tidak ada penghuninya di sana.


"Ini apa apaan anak itu, kenapa di hancurkan semua barang barang nya" gumamnya.


"Mah!! cepat kesini!!!" teriak Hendrawan memanggil istrinya, ia sudah mulai emosi lagi dengan ulah putranya, padahal tadinya ia ingin meminta maaf kepada putranya karena sudah menamparnya di hadapan para guru.


"Iya pah, ada apa, kenapa kamu suka sekali teriak?" Leta baru saja tiba di kamar anak tiri tercintanya, ia juga melenguh melihat ruangan itu.


"Pah, Reiner kemana, kenapa barang barang nya rusak semua?" tanya Leta sekali lagi.


"Aku baru saja mau bertanya padamu, kenapa kamu malah bertanya pada ku?" sahut Hendrawan dengan nada dinginnya.


Mata Hendrawan menyisir seluruh tempat itu dilihatnya bingkai foto mantan istrinya sudah hancur berkeping keping, ia lalu mengambilnya, dalam batinnya bertanya tanya tapi beberapa saat kemudian Hendrawan sudah mulai bisa meraba sesuatu.


"Apa Yana sudah menemuinya" ceplos Hendrawan tanpa sadar.


"Apa, Yana, papah tahu dia di Indonesia, atau papah sudah bertemu dengan nya?" tanya Leta posesif, karena sebenarnya Leta sudah pernah mendengar dari teman arisannya mengenai mantan istri suaminya.


"Kenapa, mamah juga sudah tahu?" tanya balik Hendrawan menatap wajah istrinya.


"Tentu saja mamah tahu, semua orang mengenal nya, mamah bisa cepat mendapat berita dari teman teman mamah" ketus Leta memalingkan muka.


"Kenapa jadi papah yang di marah?" acuh Hendrawan yang tak jelas, ia berjalan keluar dari kamar putranya.


"Kenapa aku masih saja cemburu?" gumam Leta menatap punggung suaminya.

__ADS_1


...****************...


Sementara Reiner sudah berada di halaman rumah kekasihnya, masih dengan wajah dingin karena memang begitulah original nya.


Ia berjalan menuju pintu masuk lalu menekan bel masih konsisten dengan ekspresi datar nya.


"Ting tong !!!" ia berdiri menoleh ke kiri dan kanan selagi menunggu tuan rumah membukakan pintu, tangannya menepuk-nepuk paha reflek.


"Click !!!" pintu terbuka di lihatnya gadis cantik berlari menabrakkan diri ke tubuhnya.


"Dhug!!!" Sontak Reiner membulatkan matanya, mulutnya menganga setelah merasakan benda empuk yang tiba-tiba mendarat ke perutnya, ia masih melenguh tak berkutik ia membeku dengan posisinya, hingga tidak mendengar seruan kekasihnya memanggil manggil nama nya.


"Rei, Reiner!!!" Raya mendongakkan wajahnya menatap ke atas di lihatnya jakun yang tampak menelan saliva namun masih tidak menyahutinya, akhirnya Raya melepaskan pelukannya dengan arogan.


"Rei!!!" Raya memukul dada bidang kekasihnya hingga membuat Reiner mundur satu langkah.


"Emmh i iyyaa!!" sahut Reiner setelah tersadar dari keterpakuanya.


"Kamu kenapa diam saja, kamu masih marah?" tanya Raya dengan nada manjanya.


"Rei,,, Aku minta maaf, aku sudah berprasangka buruk padamu, aku juga minta maaf datang ketempat Yuda tanpa izin dari mu siang tadi" imbuhnya, namun Raya masih melihat tatapan kunci kekasihnya.


Reiner yang masih mematung ia segera menyadarkan dirinya sendiri dengan menggelengkan kepalanya singkat, sejujurnya Reiner masih merasakan getaran di jantung nya, ia mengelus bagian tubuh yang masih menyisakan kehangatan.


"Apa itu tadi, jangan lemah Rei, jaga harga dirimu baik-baik, kamu laki laki tampan, tidak boleh terlihat murahan" gumamnya menatap punggung kekasihnya.


Beberapa saat kemudian Reiner masuk ke dalam rumah, ia menuju ruang makan karena Raya juga ke sana, ia melihat Raya tengah duduk dengan raut wajah merengut menghadapi meja makan yang sudah terisi dumpling.


"Aku minta maaf, aku tadi melamun, aku tidak bermaksud mengacuhkan mu" ucap Reiner saat melihat ekspresi wajah kekasihnya.


"Iya, duduk lah, aku membuatkan kamu makan" jawab Raya mengembalikan senyumnya.


"Oya, dengan tangan mungil ini?" Reiner meraih jemari gadisnya selagi ia duduk.


"Iya dong, ayok coba Rei" sahut Raya antusias.


Mata Reiner melihat dua tempat yang terpisah seketika ia menahan tawa ketika melihat salah satu tempat makan itu.


"Kamu ngetawain kerja keras aku Rei?" ucap Raya saat melihat ekspresi wajah kekasihnya.

__ADS_1


"Emmh enggak, lucu aja bentuk nya, aku yakin mbak Tami gak bisa bikin yang seperti ini" sahut Reiner masih menahan tawanya.


"Aku memang gak seperti mantan kamu, aku payah kan" Raya merubah raut wajahnya.


Melihat itu Reiner menatap wajah kekasihnya, ia meraih jemari tangan Raya sekali lagi lalu menggenggam nya lembut.


"Aku mencintai mu, seperti sekarang ini, yang ada pada mu saat ini, aku tidak akan membandingkan dengan orang lain, karena yang aku suka dari mu itu, tidak di miliki oleh siapapun" Ucap nya yang di susul dengan kecupan singkat di genggaman tangannya.


"Sekarang cepat kamu makan" Raya melepas genggaman kekasihnya, ia mulai menyumpitkan satu dumpling dan menawarkan suapan kepada kekasihnya.


"Aaaaakk" seru Raya, Reiner pun menyantap nya, ia mengunyah sambil memutar mata nya menikmati makanannya "Enak, ini serius kamu yang bikin?" tanyanya.


"Aku cuma bantu bikinnya, adonan nya mbak Tami yang buat, aku masih belum bisa di samakan dengan Shela yang serba bisa itu aku..." cemberut Raya.


"Sssuuuuutttt berisik, aku mau makan" sahut Reiner memotong perkataan Raya, ia tidak ingin membahas gadis lain dengan kekasihnya.


Reiner melanjutkan makan malam bersama kekasihnya tak ada yang membuka obrolan sebelum Reiner selesai makan, Raya hanya menatap kekasihnya yang tak pernah melepaskan pandangan dari nya.


Di tempat lain Yuda melihat Indra dan Yana mengobrol serius, lamat lamat Yuda mendengar pembicaraan mereka, Yuda langsung menemui sepasang kekasih itu.


"Oh,, jadi tujuan papah memindahkan sekolah Yuda karena Reiner?" tukas Yuda yang membuat mereka serempak menoleh ke arah nya.


"Yuda, maaf kan papah sayang, tujuan papah baik, papah kira kamu bisa akrab dengan calon adik mu" jawab Indra dengan entengnya.


"Kalian orang orang paling egois yang pernah aku kenal" dengan arogan Yuda meninggalkan mereka.


"Yuda, dengerin papah dulu" teriak Indra, Yana hanya bisa memejamkan matanya menahan kesedihan, mungkin ini karma atau memang belum di beri kesempatan saja, Yana masih terus meneteskan air mata.


Tiba di kamar nya Yuda terlihat sedang menahan amarah ia sangat kecewa dengan perbuatan ayahnya, semenjak Yana hadir hubungan mereka merenggang, Yuda berpikir Indra turut bersalah atas perasaannya pada Raya.


"Jika saja aku tidak pindah dan bertemu dengan Raya, aku tidak perlu merasakan sakit ini" batinnya.


"Aaaaaaaaaaghh" teriak Yuda menghancurkan isi meja belajarnya.


.


.


Terimakasih untuk yang menekan memfavoritkan novel ku πŸ™β˜ΊοΈ MINAL AIDZIN WALFAIDZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN πŸ™πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2