
Hari ini di halaman parkir SMA tempat Raya sekolah sudah di penuhi Bus besar pariwisata, terlihat para siswa sudah berkumpul di sekitarnya sedang Raya baru saja turun dari mobil nya bersama Andi sopir yang merangkap sebagai bodyguard nya.
"Non saya pulang ya" pamit pak Salim karena Andi berniat ikut ke pulau S untuk menjaga nona muda nya.
"Iya, bapak hati hati ya, Raya pamit" sahut nya.
Raya pun berjalan menuju mobil bertuliskan nama kelasnya, ia juga melihat Yuda, Mei dan Ria tersenyum menyambut nya.
"Hai, eh kenalin ini bang Andi dia di tugasin sama papi buat jagain gue" Raya memperkenalkan bodyguard tampan nya.
"Ganteng" celetuk Ria setengah melamun, Andi tersipu malu mendengar nya.
Andi pun mengasongkan tangannya pada ketiga teman nona muda nya "Andi" ucap nya.
"Yuda". "Mei". "Ria". jawab mereka.
"Raya cantik banget, uuuhh baju llo, lagi lagi merek Gussi" ucap Mei sambil menarik narik lengan baju sahabatnya.
"Apa sih llo, llo mau, nanti kalo udah pulang dari sini buat llo deh" sambung Raya karena memang begitulah kebiasaan Mei.
"Asyik, eh gue mau ngomong Ya" Mei menariknya menjauh dari Ria dan Yuda.
"Apa?" sahut nya.
"llo serius jadian sama Reiner, hubungan llo sama dia beneran udah gak palsu lagi? " bisik Mei di telinga sahabatnya.
"Iya, kenapa emangnya, llo masih cemburu gue di rebut sama tunangan gue?" senyum Raya.
"Bukan itu Raya, masalah nya tadi gue liat Reiner sama Shela di sana" terang Mei matanya memberikan kode arah kepada sahabatnya.
"Gue ke sana dulu" Raya segera berjalan ke arah yang Mei tunjukkan untuk memastikan, dari kemarin Raya memang sudah sedikit curiga dengan sikap Reiner yang masih menunjukkan keperdulian kepada mantan kekasihnya.
Tak lama dari itu Raya sudah bisa melihat tubuh kekasihnya nya meski hanya dari punggungnya saja, ia pun mulai berjalan sedikit cepat namun sangat berhati-hati mendekati nya, lagi lagi Reiner bersama mantan kekasihnya mereka berdiri di balik bus menghindari keramaian teman temannya.
"Maksud llo apa ngasih gue perhatian kayak gini Rei, llo masih suka sama gue?" tanya Shela menatap tajam.
"Please jangan tanya itu, terima ini, llo bisa kelaparan di sana" sahut Reiner menyodorkan lumayan banyak lembaran uang berwarna merah kepada mantan kekasihnya.
"Gue gak bakal kelaparan gue masih punya duit tenang aja" sambung Shela yang lalu bergegas namun di urungkan saat Reiner menarik kembali lengan nya.
"Shel, sebenarnya gue mau cerita sesuatu ke llo" ucap nya.
"Apa cerita aja" sahut Shela.
"Mamah, gue ketemu mamah" lirih Reiner.
"Mamah llo? terus gimana, llo tinggal sama dia? gue ikut seneng dengernya Rei, akhirnya penantian llo gak sia sia" Shela merubah ekspresi wajahnya ia terlihat sangat senang.
__ADS_1
"Masalah nya gue belum bisa terima dia, gue masih marah sama dia, mamah mungkin udah nikah lagi" lirih Reiner kemudian.
"Rei, seharusnya llo jangan begitu, dia itu nyokap llo, yang ngelahirin llo, apa alasan llo gak bisa terima dia coba? papah llo juga udah nikah lagi kan?" ujar Shela yang memiliki kedewasaan tingkat dewa.
Tak sengaja mata Shela melirik ke arah Raya yang berdiri di balik mobil bus.
"Terus llo udah tanya pendapat ke Raya belum tentang masalah ini?" imbuh Shela yang sengaja menanyakan hal itu untuk membuat Raya lebih tersakiti ia sangat yakin jawaban Reiner akan memuaskan nya, Shela lebih tahu banyak tentang Reiner di bandingkan Raya.
"Gue gak akan tega cerita ini ke dia, gue takut nambahin pikirannya, dia pasti sakit lagi" ngaku Reiner.
Kali ini Raya tak menangkap basah kekasihnya, ia hanya langsung pergi dari sana secepatnya, Raya sudah cukup tahu bagaimana Reiner menganggap nya.
Selama ini Raya hanya di jadikan pajangan saja oleh kekasihnya, Reiner tak pernah membagi cerita kepada nya, bahkan Reiner lebih memilih menceritakan semua itu kepada mantan kekasihnya.
"Hubungan kita tidak saling menguntungkan Rei, kamu jagain aku, sedangkan aku cuma bisa ngerepotin kamu aja, kamu bahkan gak bisa ceritain beban pikiran mu padaku" batinnya.
Memang selama ini Reiner selalu menceritakan apa pun kepada Shela, hingga saat nya dia bertemu dengan ibu kandungnya maka Shela juga berhak mengetahui nya begitu menurut Reiner.
...****************...
Di dalam bus Raya sudah duduk dekat dengan jendela besar mobil panjang itu, suara ricuh di dalam sana tidak membuat nya berisik karena lamunannya terlalu dalam.
"Raya, hei, Raya" Bagas menjentikkan jari nya ke wajah sahabatnya.
"Emmh iya, Bagas, llo ngapain di sini?" tanya nya.
"Iya makasih gas" ucap Raya memaksakan senyumnya.
"Ya udah gue turun lagi, llo gak lupa sama obat obatan llo kan?" tanya Bagas yang di jawab dengan anggukan kepala Raya.
"Bye!" Bagas berlalu dari sana.
Tak lama dari itu Reiner masuk ke dalam bus ia langsung menuju ke jok di mana kekasihnya duduk.
...
Visual Raya dengan topi dari Bagas...
"Topi nya cantik, cocok sama orang nya, dari mana dapet ini?" tanya Reiner.
"Dari Bagas" ucap nya.
"Kalo gitu lepas aja" Reiner melepaskan paksa topi pemberian Bagas.
"Terserah kamu" sahut perlahan Raya memalingkan wajahnya Raya sudah tidak mood berdamai atau pun bertengkar dengan tunangan posesif nya.
__ADS_1
Reiner yang melihat itu seketika merubah ekspresi wajahnya, tidak biasanya Raya se pasrah itu, seharusnya Raya mengeluarkan keluhan manjanya dahulu sebelum akhirnya mengalah dengan nya.
"Ada apa dengan nya?" batinnya.
"Kamu gak lagi sakit kan sayang?" tanya nya.
"Gak, aku cuma ngantuk aja" Raya memejamkan matanya bersandar ke jendela kaca ia tidak ingin bersentuhan dengan tunangannya.
Anak anak di dalam bus tampak menikmati perjalanan mereka suara nyanyian merdu Rafa yang di iringi kocokan gitar dari Yuda menyertai nya.
Sementara Andi duduk dengan pak Dimas dan buk Siska di jok paling belakang mengawasi murid-murid nya.
Sedang Raya terus melihat ke arah jendela lebar nya, ia belum berkata apapun dengan pemuda tampan di samping nya.
"Sayang" bisik Reiner di telinga kekasihnya.
"Hemmm?" sahut nya memejamkan mata.
"Kenapa dari tadi diem aja, kamu mual? gak terbiasa pake bus?" tanya nya.
"Gue bilang gue ngantuk, mau gue kasih tau berapa kali?" lirih Raya kemudian.
"Kamu masih marah, kemarin aku sama Shela?" ucap Reiner entengnya.
"Gue gak mau bahas itu, llo bebas ketemuan sama siapa aja"
"Sayang, ibu Shela lagi sakit, aku cuma gak tega aja sama dia, percaya deh aku sama Shela cuma temen biasa aja gak akan lebih dari itu, kamu ngerti kan?" jelas Reiner menggenggam tangan kekasihnya.
"Lo boleh lakuin apa aja, terserah llo, gue gak kan ikut campur urusan llo" lirih Raya melepaskan genggaman tangan nya.
"Kamu kenapa gak sopan begitu, aku calon suami kamu, panggil aku sayang" ketus nya Reiner tidak ingin mendengar kata llo gue lagi di antara mereka.
Reiner menghembuskan nafasnya setelah beberapa saat tidak juga mendapat jawaban dari kekasihnya.
"Aku tau kamu marah, kamu mungkin sulit mengerti karena terbiasa hidup enak" batinnya.
Perjalanan sudah lumayan jauh sedikit lagi mereka menaiki kapal besar untuk menyeberang kan bus mereka ke pulau ๐๏ธ yang mereka tuju.
Sesekali Reiner memindahkan kepala kekasihnya ke bahunya karena Raya sudah tertidur pulas tatapan nya selalu mengarah ke bibir mungil yang enggan tersenyum.
"Senyuman mu cantik, tapi cemburu mu lebih menarik" batinnya seraya mendekatkan bibir mereka.
"Awww" seseorang memukul kan gulungan majalah ke kepala nya sontak ia mengelus nya.
"Lo jangan macam-macam di sini, buk Siska ngawasin kita, nanti aja di sana cari tempat yang aman" bisik Rafa dari belakang jok nya.
"Sialan llo" gugup Reiner " kenapa gue gak bisa nahan nya, hampir aja" batinnya kemudian tangannya mengelus puncak kepala kekasihnya yang masih terlelap.
__ADS_1