KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
About me


__ADS_3

Prolog


*Pernahkah kita berfikir untuk apa kita hidup didunia ? Menjalani hari demi hari berusaha keras untuk bisa bertahan hidup. Berharap bisa menatap mentari esok, berjalan maju tanpa menoleh kebelakang, meninggalkan semua kenangan yang terus menghantui seperti halnya mimpi buruk.


Melupakan orang-orang yang kita kasihi agar bisa menjadi lebih kuat dan mampu bertahan didunia yang kejam ini. Nia Rahma berusaha untuk mencari tahu apa arti hidup yang sesungguhnya. Mencari tahu kebenaran melalui cerita ini, bagaimana Nia Rahma menemukan jati dirinya sebagai wanita muslimah sejati, bukan sebagai anak yatim piatu yang ditinggalkan oleh ayah dan ibunya, atau sebagai gadis malang yang kekurangan kasih sayang dari saudara dan teman-temannya. Mencari tahu jati dirinya yang sesungguhnya, apa yang membuatnya bahagia dan bagaimana cara untuk menghargai orang lain disekitarnya.


Dengan berusaha menjadi istri yang baik, ia mulai mengenal apa itu kebahagiaan apakah itu iman dan islam yang bisa membuat manusia menjadi kuat dan teguh dengan pendiriannya. Dalam perjalanan hidup yang sulit Nia Rahma berhasil melaluinya.


Selamat membaca !!


Author : Little Star* ^^


Nia's


Hari minggu yang cerah, sinar matahari mulai menerobos melewati celah - celah jedelaku yang tertutup korden . Ahh inilah kebiasaanku, tidur lagi setelah sholat subuh dan malas-malasan sepanjang hari. Biasa lah anak kos hehe.


Aku tidak tau sekarang jam berapa, aku malas untuk membuka mata, "kruyuuuukk" ah perutku, aku lapar.


Akhirnya aku berusaha membuka mata dan aku melihat satu piring ayam goreng diatas meja, ahhh ayam mataku berbinar aku pun segera mengambil dan mengigitnya .


"Aaaaaahhhh" jeritan tajam dan keras menyadarkanku, aku membuka mata. Dan sebuah bantal melayang tepat dimukaku ."Kenapa lo gigit gue" Ria melotot dan mengelap kakinya yang basah terkena gigiku .


Haha aku tanpa sadar malah tertawa "Sorry ,sorry gue lapar banget nih".


"Masak mie instan sana" Ria mendorongku dengan kakinya, dan dengan cepat menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


Ahh dasar keluhku dalam hati, beginilah nasip anak kuliahan yang miskin. Nggak ada suara ribut orang tua yang meminta anak perempuannya untuk membantu pekerjaan rumah, memasak atau mungkin sekedar menyapu lantai atau cuci piring. Ahh berhenti menghayal jalani dan syukuri apa yang telah kita miliki, ucapku dalam hati menghibur diriku sendiri yang merindukan kehangatan keluarga.


Sesaat kemudian aku sudah siap dengan dua mangkuk mie diatas meja. Tanpa aku harus memanggilnya terlebih dahulu, Ria secara otomatis terbangun dan tersenyum kemudian menciumku lalu segera berlalu dan duduk di hadapanku.


"Lo so sweet banget sih , tau apa yang gue mau." Sambil nyengir Ria mulai memakan mie yang aku buatkan.


"Dasar berapa tahun gue tinggal sama lo , lo gk pernah mau masak" gerutuku sambil makan mi ku sendiri


"Itu lah gunanya teman iya kan ?" dia malah mengeluarkan senyum manisnya tanpa guna itu.


"Ahh aku sudah merasa menjadi ibu asuhmu sekarang" jawabku cuek


Ria tertawa cekikik an "mama" ucapnya sambil berbisik .


Haha Ria tertawa lagi "Dari pada hubungan ibu dan anak kita udah seperti sepasang kekasih tau"


"Hoeekkk najis" sindirku sambil tertawa ini bukan pertama kalinya Ria mengatakan hal itu.


"Haha lo siih makanya cepat cari pacar sana biar kita gk dikirain lesbi" sindirnya


"Nah, lo kan udah punya pacar" ucapku santai sambil terus makan mi


"Kalau gue gk punya pacar mau gk lo pacaran sama gue" dia masih belum puas menggodaku .


"Gak akan gue masih normal tahu , lo tahu sendirikan motto gue, gk ada hubungan sebelum menikah ...."

__ADS_1


"Semua laki - laki itu buaya, gue udah denger berapa kali lo ngucapin kata - kata itu ke gue sampai bosen dengernya . Lo belum pernah ngerasain jatuh cinta sih, lo mesti coba deket sama laki-laki dulu baru tau rasanya nanti lo bakal ketagihan" ucapnya panjang lebar setelah memotong ucapanku.


"Itulah yang gue takutkan Ria, gue takut dekat dengan laki-laki kalau gue sampai lupa diri, semua pertahan yang gue bangun selama ini, semuanya akan hancur." Ucapku jujur


"Halah lo aja terlalu penakut, santai aja sis, lo mau gue kenalin sama cowok, banyak cowok dijurusan sastra mau minta dikenalin sama lo mau ya ?" Ucanya semangat.


"Gak!" Jawabku tegas "Kalau lo berani kasih nomer gue ke cowok, gue gak bakal mau temenan sama lo lagi !" ucapku marah lalu mengambil mangkok kosong untuk mencucinya.


Akhirnya Ria merasa bersalah "Oke oke gue gak bakal sebarin nomer lo kok".


"Thank you" ucapku cuek, aku nggak marah sama Ria aku cuma mendiamkannya saja, seharian aku gak ada mood buat tidur lagi aku membersihkan rumah, cuci selimut, mengelap semua perabot, nyapu, ngepel, inilah yang aku lakukan jika pikiranku menumpuk, karena aku gak bisa marah seperti orang lain yang bisa mengolok - olok sampai mengucapkan sumpah serapah atau menghancurkan barang untuk meredam emosi, aku lebih memilih menyibukkan diriku dengan bersih-bersih .


Hingga hari ini aku masih terus membangun tembok yang kokoh, untuk melindungi diriku dari makhluk yang bernama laki-laki. Aku sudah muak melihat seperti apa tingkah cowok-cowok buaya darat yang pernah kutemui. Selalu datang ke hotel, setiap saat dengan cewek yang berbeda-beda. Hanya dengan memberikan beberapa lembar uang untuk bisa bermain semalaman. Dunia sudah tua bagaimana mungkin hal ini terus terjadi berulang-ulang setiap harinya ?


Berapa banyak wanita yang menangis karena ditinggalkan seseorang yang mereka cintai, atau sudah berapa banyak bayi yang tidak berdosa harus mati karena kesalahan orang tuanya.


Aku menelan ludah getir membayangkan berapa banyak anak yang seperti aku, ibukku harus mati hanya karena jatuh cinta pada laki-laki yang bahkan tidak bisa mempertanggung jawabkan cintanya. Atau seperti Ria yang harus menjalani kehidupan ini sendiri karena orang tuanya bercerai, mereka tidak mau merawatnya, karena alasan masing-masing. Apa yang mereka lakukan, kenapa mereka tidak bisa mempertanggung jawabkan apa yang telah mereka mulai. Kata Aku mencintaimu dari awal sebuah hubungan hingga berakhir dengan kata Aku membencimu. Semua karena keegoisan manusia, aku juga tidak bisa menyalahkan siapapun, karena aku sendiri tidak tahu apakah aku mampu menjalani hidup didunia yang sangat kejam ini.


Mengatakan bahwa uang adalah segalanya, menunduk memohon pengampunan pada orang lain padahal kesalahan itu bukanlah kesalahan kita, dan tanpa malu mengucapkan terimakasih karena bisa mendapatkan uang walau dengan cara yang kotor. Kini uang sudah menjadi tirani yang paling tinggi, setidaknya itulah yang aku tahu.


Didunia ini tidak ada orang lain selain aku dan Ria kami tidak memiliki siapapun, hanya saling bergantung dan melindungi satu sama lain. Terkadang ada saat dimana kami ingin menyerah, tapi kami malu pada Allah yang telah memberikan kami nafas untuk hidup. Meskipun terkadang kami berfikir bahwa hidup ini tidaklah adil, tapi kami percaya Allah selalu bersama kami, dan Allah tahu kalau kami kuat dan mampu melewati ujian ini.


Aku tenggelam dalam lamunanku hingga semua pekerjaanku selesai . Aku tersenyum melihat kamar kosan yang wangi, bersih dan mengkilat, "Ya usaha tidak akan pernah mengecewakan hasil" ucapku senang bangga dengan apa yang sudah aku lakukan.


Kerja bagus Nia, takdir baru akan segera dimulai !! Hehe ^^

__ADS_1


__ADS_2