KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Bermalam 1


__ADS_3

Farhan's


Aku sudah merasa tidak sabar untuk meluapkan semua rasa yang tertahan didada, dengan segala pertanyaan dan kekhawatiran yang aku simpan dalam hati, aku hanya bisa mengungkapkannya dalam dua kata Aku merindukanmu ! Berdiri dibalik pintu sambil terus mengetok pintu dan memanggil namanya, aku mulai khawatir karena Nia tidak segera membuka pintu, apa ada sesuatu yang terjadi padanya? Dengan harap cemas aku mengetok pintu semakin keras dan terus memanggil namanya.


"Ceklek!" Suara handle pintu, mataku berbinar ketika melihat raut wajah Nia yang kesal, ia terlihat berantakan, atau dia kesal karena baru dari kamar mandi? hehe membuatku makin ingin menggodanya.


"Ngapain kamu kesini ?" Sapanya ketus.


Aku bahkan tidak bisa marah sekarang meskipun sapaan Nia tidak ramah padaku, karena aku merasa terlalu senang. "Tentu saja untuk melihat seberapa menderitanya dirimu tanpaku!"


Aku tersenyum melihat ekspresinya yang kaget. Lalu wajahku berubah ketika Nia mulai berjalan mundur raut wajahnya pucat sepertinya ia percaya dengan ucapanku, Nia meraih sebuah gunting diatas mejanya, tatapan matanya tidak beralih kemanapun mengunci mataku, Ia mengarahkan gunting itu kearahku "Jangan mendekat! ". Aku merasa bingung dan sedikit bersalah apakah dia benar-benar takut padaku?


Astaga !! Dari tadi saking senangnya aku tidak melihat kalau Nia terluka, Siku tangan dan kakinya berdarah sepertinya lukanya parah, bahkan celana jeans yang ia pakai bolong dan darah terus merembes menimbulkan bekas darah yang lebih besar, aku mulai mengamati situasi ini, Nia yang sedang berdiri ketakutan dengan tubuh penuh luka, rambutnya berantakan, pakainnya kotor karena terkena bekas tanah yang masih menempel. Dia benar-benar menyedihkan, dan aku mengatakan bahwa aku ingin melihat seberapa menderitanya dia ? Dia pasti merasa sangat malu sekarang ? Ya Allah apa yang telah aku lakukan aku mulai merasa menyesal sekarang, seharusnya tadi aku datang dan meminta maaf, tidak!, seharusnya aku memaafkannya dari dulu, dan tidak perlu meninggalkan dirinya sendirian. Aku mulai berjalan maju untuk melihat keadaannya.


"Jangan mendekat! Jangan bunuh aku, aku tidak mau mati ditanganmu, aku tidak mau kamu menyesal seumur hidup!" Teriaknya pelan tanpa tenaga, suaranya bergetar tangannya memegangi meja berusaha untuk menompang berat tubuhnya yang hampir tumbang.


Aku tidak mendengarkanya, aku berjalan sedikit berlari dan segera meraih gunting yang ada di tangannya. Ia pun jatuh terduduk, dan tangisannya pecah memenuhi seluruh ruangan, keras dan menyayat hati siapapun yang mendengarnya ia menundukkan kepala tanpa berani menatapku yang tepat berada di hadapannya, "Kumohon, kumohon jangan bunuh aku, setidaknya aku tidak ingin mati ditanganmu" Suaranya lirih memohon pengampunan padaku.


Tubuhku hancur rasanya suaraku tertahan ditenggorokan, aku juga ingin menangis dan menariknya dalam pelukanku, tapi aku merasa tidak pantas melakukan itu, setelah apa yang aku lakukan padanya. "Siapa yang ingin membunuhmu? Kamu terluka jadi biarkan aku melihatnya!"


Dia tidak menjawab, dan masih menangis, tapi sekarang ia merasa pasrah dengan apa yang aku lakukan.


Aku merobek celana jeansnya menggunakan gunting, aku melihat luka goresan yang cukup besar pasti sakit sekali, "Nia darimana kamu mendapatkan luka ini? Apakah kamu terjatuh? Kecelakaan? Atau kamu berkelahi dengan sesorang ?" tanyaku khawatir. "Kamu punya obat ? Kenapa tidak kerumah sakit saja? Kamu terluka parah, sejak kapan kamu terluka ?" sambil memandangi lukanya menunggu jawaban.


Nia masih tidak menjawab, hanyut dalam tangisannya sendiri. Aku menatapnya sedih mengambil hp dan menelfon dokter pribadiku agar datang kesini.


Setelah itu aku segera berdiri menuju dapur yang terlihat dari pandanganku, mengambil lap bersih dan air didalam baskom. Dengan hati-hati aku mengelap lukanya, aku merasa ngilu melihat lukanya, aku melihat wajah Nia tanpa respon ia masih menangis. "Apakah ini sakit sekali?" Ia hanya mengangguk. Aku kembali membersihkannya dengan hati-hati mengelap semua darah yang mulai kering dikaki, kemudian mengganti air yang sudah keruh karena bercampur dengan darah, sekarang ganti kebagian lengan, setelah itu aku membersihkan bajunya yang masih kotor dengan debu, lalu membatu mengikat rambutnya yang berantakan.


Nia terus menatapku, sambil sesengukkan ia berusaha untuk berhenti menangis. Aku kembali menganti airnya dan mencuci lap kain dengan bersih, kembali kehadapannya yang masih terduduk dilantai. Aku mengarahkan lap itu kewajahnya karena wajahnya juga kotor karena debu dan air mata yang bercampur.


Nia memegang tanganku, agar aku berhenti melakukan pekerjaanku. "Aku bisa melakukannya sendiri" ucapnya berusaha mengambil alih lap yang ada di tanganku. Menatapnya sedekat ini pikiranku sudah melayang kemana-mana perasaan takut, berdebar, dan ....? Aku mencium keningnya karena lupa terbuai suasana, sepertinya Nia terkejut ia menatapku tidak suka , wajahnya cemberut meminta penjelasan.


"Ahaha ..." Aku tertawa salah tingkah mencari alasan yang tepat. "Tanganmu kan terluka jadi biarkan aku yang melakukannya" mencoba mengalihkan pembicaraan , aku meletakkan tangan Nia kembali kepangkuannya dan fokus untuk membersihkan wajahnya lagi.


"Kenapa ... kenapa kamu menciumku?" Ucapnya penasaran.


Aku kebinggungan menjawabnya kenapa? seharusnya itu adalah pertanyaan yang mudah kan? "Karena aku tidak tahu cara lain untuk menghentikamu " jawabku sekenanya.


"Apa maksudnya?" dia bingung dengan jawabanku .


"Entah lah aku tidak tahu" jawabku pasrah.


"Aku kan sudah bilang kamu nggak boleh menciumku" ucapnya lagi.


"Lalu apa maumu? aku sudah terlanjur melakukannya kan" jawabku sambil terus membersihkan wajahnya, dan sekarang berganti pada leher. Aku menelan ludah, ada apa denganku mataku seperti terkunci disana ingin menciumnya, merasakan seperti apa rasanya leher jenjang yang terbalut dengan kulit putih itu. "Mas jawab!" ucapnya lagi membuyarkan lamunanku.


"Entahlah pikirkan saja sendiri" Aku berhenti mengelap leher itu karena pekerjaanku sudah selesai, aku ingin beranjak kedapur menaruh baskom dan lap ini.

__ADS_1


Nia menarik lengan bajuku akupun berhenti dan kembali menatapnya bertanya apa yang ia inginkan hanya dengan sebuah tatapan.


"Apakah kamu masih menyukaiku?" Aku tidak menjawabnya, "Apakah kamu datang kesini karena merindukanku?" aku masih belum menjawab ingin mendengar kelanjutan pertanyaannya. "Apakah kamu menghawatirkanku? Apakah itu artinya kamu sudah memaafkanku?" tanyanya lagi sekarang ia menundukkan kepalanya, aku tidak tahan lagi.


"Bolehkah aku memelukmu?" jawabku.


Nia kaget dan menatapku, tanpa menunggu jawabanya akupun segera mendekat dan memeluknya. Nia hanya diam saja, itu artinya aku boleh melakukannya kan .


Aku dapat mencium aroma tubuhnya, masih wangi meskipun kondisinya seperti itu tadi. Aku mempererat pelukakku, berusaha menjawab semua pertanyaannya melalui tindakanku. Membelai rambutnya pelan dan mencium ujung kepalanya, menaruh pipiku diatas kepalanya, sambil tanganku terus membelai rambutnya. Melakukan seperti halnya mama menenangkanku ketika aku sedang menangis dan sedih bedanya kalau mama melakukan hal ini sambil menepuk-nepuk punggungku.


Entah berapa lama berlalu aku seperti terhanyut dalam lamunan, kami hanya diam tanpa mengucapkan apapun dan membiarkan perasaan ini meluap perlahan.


Sesaat kemudian Dokter Handoko datang, ia adalah teman ibuku sekaligus dokter pribadi keluarga kami. Aku membantu Nia agar duduk di sofa panjang yang ada di kamar ini. Memintanya duduk manis dan aku pergi untuk membukakan pintu.


Dokter Handoko melihat luka Nia kemudian memeriksa keadaannya suhu tubuh dan detak jantung, semuanya normal, kemudian memberikan obat dan membalut luka itu dengan perban. Menyuntikkan sesuatu dilengannya, suntikan ini untuk mencegah terjadinya infeksi dan mengurangi rasa sakit. Dokter han bilang semuanya baik-baik saja, hanya perlu istirahat dan minum obat dengan teratur setelah itu dokter han pamit pergi.


Aku duduk di samping Nia dan kembali memeriksa lukanya "Apakah kamu sudah merasa lebih baik atau masih sakit?" masih dalam keadaan cemas.


Nia tersenyum "Aku merasa jauh lebih baik sekarang, terima kasih banyak"


Aku ikut tersenyum "Istirahatlah, sudah malam aku harus pulang sekarang" ucapku ingin pamit karena jam sudah menunjuk pukul 9 malam.


"Aku lapar" ucap Nia.


Kasihan sekali sepertinya dia belum makan dari tadi, "Baiklah aku masakkan sesuatu untukmu" ucapku sambil berdiri.


"Ya ?" Aku menoleh kearahnya.


"Kamu bisa masak ?" tanyanya kemudian.


Bodoh aku lupa nggak tau gimana cara masak, "Enggak, tapi kalau mi instan sepertinya bisa" ucapku malu karena bahkan mi instanpun aku belum pernah membuatnya sendiri.


Nia mengaguk dan tersenyum "aku suka mi instan, di lemari bawah pojok kanan disana tempat bahan makanannya" ucapnya sambil menunjuk memberi tahu tempatnya.


"Baiklah" Aku tersenyum lalu pergi untuk memasak.


Disini lah aku mengambil satu bungkus mi instan, membaca bagaimana cara membuatnya. Baiklah aku mengerti dan siap memasak. Aku mengambil sebuah panci kecil dan mengisinya air, lalu memindahkannya pada kompor, memutar tombol untuk menyalakannya, tapi apinya tidak mau menyalah. Akupun memanggil Nia, "Sayang kompornya tidak mau menyala?" Aku tersenyum karena untuk pertama kalinya memanggil dia dengan sebutan sayang, aku terlalu senang menghayati peranku sebagai suami yang ingin memasakkan makanan untuk istri tercintanya.


Nia tersenyum dan mendekat, akupun segera lari ke arahnya, "Hey kamu masih terluka jangan berjalan duduk saja disana" ucapku sambil menopang tubuhnya agar berhenti berjalan.


Nia tersenyum dan menepuk-nepuk tanganku membuatku bingung. "Apakah kamu sedang berekting menjadi suami idaman sekarang" ucapnya yang membuatku terkejut.


"Hah gimana kamu bisa tahu" jawabku.


Nia sepertinya terkejut dengan jawabanku, lalu tertawa, "Haha benarkah?" tawanya semakin kencang membuatku malu sendiri. Akhirnya ia berhenti ia menatapku sekarang "Tuan suami, istrimu ini tidak akan mati hanya karena berjalan, aku kan hanya terluka ringan aku bahkan pernah mengalami yang lebih parah dari ini, jadi jangan khawatir oke!" Ia tersenyum manis sekali, membuatku mabuk karenannya.


Aku menggendongnya dan meletakkan ia di kursi plastik yang ada di samping dapur, Nia hanya tertawa tapi tidak melawan. "Istriku yang cantik, kamu masih terluka jadi duduk manis saja , biarkan suamimu yang menyiapkan makan malam" Wajahku berubah merah aku malu sendiri dengan kata yang terlontar dari mulutku sendiri.

__ADS_1


Nia tertawa kecil menghilangkan kecangunggan diantara kami. Aku menatapnya sayang masih berjongkok dihadapannya dan mengenggam tangannya meremasnya perlahan tanpa aku sadari "Nia !" Kata itu tiba-tiba keluar dari mulutku, sering sekali aku melakukannya hanya ingin membuat kepastian bahwa orang di hadapanku ini adalah Nia gadis satu-satunya yang aku cintai, aku berhasil meraihnya dalam genggamanku lagi.


"Ya?" ucapnya sambil menatapku, sekali lagi tatapan kami terkunci.


"Aku mencintaimu" ucapku mencari kepastian.


"Aku juga mencintaimu Farhan" jawabnya, yang membuat bunga dihatiku mekar, ahh kata-kata apa itu, memangnya sejak kapan aku memiliki bunga disana , dan kata-kata yang aku pilih benar-berar menggelikan, terserahlah yang penting aku menikmatinya sekarang .


"Aku sangat mencintaimu Nia"


"Aku juga sangat mencintaimu Farhan, jangan pergi lagi ya!" ucapnya kemudian.


Aku mengangguk "Menikahlah denganku!" ucapku memberanikan diri lagi.


"Baik ayo kita menikah" jawabnya yang membuatku sulit untuk berfikir jernih, seakan nafasku terhenti, aku merasa sesak karena kebahagiaan yang meluap, tanpa sadar aku mencium bibirnya melihatnya yang terkejut akupun berhenti, merasa menyesal aku menundukkan wajahku.


"Maaf!" ucapku, Nia diam saja, aku kembali memberanikan diri untuk menatap Nia "Maaf karena aku tidak bisa mengontrol diriku, aku benar-benar tidak tahu diri"


Nia melepaskan tangannya dari gengamanku, aku kembali tertunduk, apakah dia marah? bagaimana ini ? dasar farhan bodoh? aku memaki diriku sendiri karena tidak bisa menahan diri.Aku terkejut ketika kedua tangan Nia memegang kedua pipiku, otomatis wajahku terangkat untuk melihat ekspresinya. Wajahnya juga memerah, "Aku nggak marah kok, maaf karena kamu harus menunggu jawabanku terlalu lama, karena aku sendiri takut, aku tidak percaya diri untuk bisa bersanding denganmu kamu terlalu sempurna untukku Farhan" ucapnya.


"Jadi maksudmu aku boleh mencimmu?" jawabku polos. "Ahhh" Aku mengerang kesakitan Nia menampar pipiku meskipun nggak terlalu keras sih.


"Bukan itu maksudku" ucapnya marah.


"Lalu apa ?" tanyaku nggak mengerti.


Dia cemberut tidak mau memberi penjelasan "Sudah pergi sana, suami yang tidak mengerti apa yang dimaksud istri, aku tidak menginginkamu lagi "


Aku tersenyum melihatnya marah, dia manis sekali, aku setengah berdiri memakai lututku untuk menopang diriku, meraih tangannya menariknya dalam pelukakku, tapi nia menolak akupun menariknya paksa dan aku salah perhitungan, kursi plastik itu ikut tertarik kekanan, Nia akan jatuh kelantai secara reflek aku memeluk Nia melindungi kepalanya agar tidak terbentur kelantai menggunakan lenganku, akhirnya kami jatuh bersama.


Aku melupakan rasa sakit dilenganku yang terbentur kelantai bersama kepala dan tubuh nia yang berada dalam pelukanku. "Kamu baik-baik saja" ucap Nia sambil berusaha menatapku khawatir


Aku tersenyum "Apakah sekarang aku boleh menciummu?" ucapku menggodanya lagi.


Nia cemberut dan berusaha duduk dilantai akupun juga berusaha untuk duduk "Sakit?" tanyanya lagi.


Aku mengangukkan kepala "Ia sakit sekali, padahal sepertinya tubuhmu kecil" jawabku.


"Maaf" ucapnya sambil menggosok punggung dan lenganku yang terbentur di lantai.


Aku tersenyum dan memeluknya lagi, "Sini cium aku, biar rasa sakitnya hilang" jawabku menggoda sambil mendekatkan bibirku padanya.


Ia menggeliat berusaha menahan bibirku dengan tangannya "Kamu mau mati ya?" acamnya yang membuatku tertawa.


"Haha, sini bunuh aku sayang!" ucapku sambil terus memeluknya, Aku malah merasa senang dengan sikapnya , dia hanya menahan mulutku tapi tidak berusaha lari dalam pelukanku.


"Dasar, akan kubunuh kau nanti" ia pun ikut tertawa, aku mencium kepalanya dengan penuh cinta , dan tawa kami masih berlanjut, menari memenuhi ruangan yang sepi dan dingin, merubahnya menjadi tempat yang hangat dan penuh cinta .

__ADS_1


Kyaakk, peluk aku Farhan ! Hehe.


__ADS_2