
Good frieds are like a stars.
You don't always see them.
But you know they are always there.
Matahari mulai tengelam akhirnya Ria selesai membereskan kamarnya.
Huh rasanya capek sekali !
Ria berbaring di atas ranjang kecil yang nyaman, ia memejamkan matanya dan tertidur. Kamar ini sangat nyaman walaupun hanya ada satu ruangan, didalamnya ada satu tempat tidur kecil, satu lemari dengan dua pintu, dapur minimalis dengan dilengkapi kulkas kecil, satu sofa panjang dan meja.
Ria menyukai kamar barunya bersih, nyaman, dan mudah untuk dibersihkan, apalagi sekarang ia tinggal sendiri jadi semuanya harus ia lakukan sendiri. Mungkin ini adalah waktunya untuk Ria tumbuh menjadi dewasa dan mandiri. Tidak ada orang tua ataupun sahabat yang menemani.
°°°°°
Nia sibuk memasak dibantu oleh Bi Mina. Ia ingin membuat makanan untuk sahabat tercintanya, karena Nia tahu sahabatnya itu tidak tahu cara memasak. Nia merasa kasihan pada Ria seandainya ia bisa menemaninya.
Farhan duduk di meja makan bersama laptopnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menjaga istrinya yang sedang memasak, ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Farhan sudah melarang istrinya untuk memasak, Ia meminta Bi Mina saja yang memasak, tapi mau bagaimana lagi tidak akan ada yang bisa menang dari istrinya yang keras kepala itu. Nia bersih keras mau memasak untuk temannya, dan tidak hanya satu resep tapi banyak. Nia bilang biar bisa disimpan di kulkas, dan bisa diambil sedikit demi sedikit setiap harinya.
Nia memasak selama dua jam, dan selama itu pula Farhan merasa cemas. Huh ternyata punya istri terlalu baik itu juga tidak enak. Nia selesai dan menyimpannya kedalam taperwear, agar bisa langsung disimpan kedalam kulkas kalau sudah dingin.
Ia meningalkan Bi Mina yang sibuk membersihkan dapur dan mencuci piring. Nia tanpa merasa lelah segera pergi mandi, ia sangat bersemangat ingin segera menemui temannya.
Farhan hanya bisa mengikuti istrinya.
Sehabis sholat magrib, Nia, Farhan, dan Farida makan malam bersama, sekalian Nia meminta izin untuk mengunjungi temannya tentu saja ditemani oleh Farhan.
Di dalam mobil Nia tidak berhenti bercerita tentang betapa kangennya dia kepada Ria sahabatnya dari kecil itu. Membuat Farhan sedikit cemburu. Nia meminta suaminya agar berhenti di supermarket.
Nia membeli banyak barang, Beras, gula, minyak, buah, sayur, daging, beberapa makanan ringan, bahkan hingga pembalut.
Farhan sampai tidak mengerti untuk apa istrinya membeli barang sebanyak itu.
Farhan masih mendorong troli besar mengikuti istrinya. Nia berhenti di tempat kosmetik.
"Apakah kita harus membelikan Ria kosmetik juga ?" tanya Nia berfikir.
"Hey apakah ini tidak berlebihan, kamu membeli semua ini untuk Ria ?" tanya Farhan heran.
"Hehe kamu tahu kan walaupun Ria kelihatannya sudah dewasa tapi dia itu masih kecil, dia tidak akan mengerti apa yang ia butuhkan dan apa yang harus dia beli. Jadi sebagai temannya kita harus membantunyakan !" ucap Nia bersemangat, sambil melihat toner yang bagus untuk kulit Ria.
"Dibanding seorang teman kamu malah terlihat seperti ibunya !" ucap Farhan berkomentar.
"Haha benarkah ? Aku suka jadi ibunya Ria, aku tahu betapa susah kehidupannya, jadi sebagai teman yang sudah hidup berkecukupan, hal ini harus dilakukan." Ucap Nia tidak mau mendengar ucapan suaminya.
Nia mengambil toner, bedak, lipstik, sabun mandi, sabun cuci piring, sabun cuci baju, alat pembersih toilet, sapu, pell, kain lap, dan masih banyak lagi.
Farhan hanya mengelengkan kepala, tidak mengerti apa yang istrinya pikirkan, orang lain pasti mengira bahwa itu untuk keperluan rumah baru mereka, bukannya hadiah untuk teman. Tapi Farhan membiarkan istrinya melakukan apapun yang ia mau.
Mungkinkah ini bagian dari ngidam juga ?
__ADS_1
Farhan membayangkan akan menjadi sebaik apakah anaknya, jika dalam kandungan saja meminta ibunya membeli barang sebanyak ini untuk hadiah. Asalkan jangan jadi anak yang boros saja.
°°°°°
Dirumah Ria bermain dengan hpnya menunggu sahabatnya itu datang. Ia sengaja tidak makan malam karena Nia bilang akan membawakan makanan untuknya.
Ria sudah kelaparan tapi kulkasnya kosong, ia belum sempat untuk belanja.
Tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dengan gembira Ria membukakan pintu. Ia tersenyum senang karena melihat sahabatnya lagi merekapun berpelukan.
"Ria kamu apa kabar, pasti capek sekali kan !" ucap Nia sambil menatap sahabatnya itu.
"Baik kok, iya lumayan capek, ayo masuk !" ucap Ria.
Nia dan Farhanpun masuk, Farhan meletakan makanan di meja dapur Ria.
"Apakah ini semua makanan ?" ucap Ria bingung karena Nia membawa banyak sekali makanan.
"Hehe iya, ayo cepat makan, aku sengaja masak banyak agar bisa kamu simpan !" ucap Nia sambil membuka bungkusan itu.
"Aku harus kembali kemobil !" ucap Farhan, sambil berlalu pergi.
"Eh kenapa buru-buru !" ucap Ria menghentikan Farhan yang ingin pergi.
"Hanya sebentar kok, masih ada barang yang harus aku ambil !" ucap Farhan sambil berlalu pergi.
Ria segera makan, makanan yang sudah disiapkan oleh Nia. "Nia makasih banyak ya !" ucapnya lalu mulai melahap makananya. "Wah enak sekali, aku rindu masakanmu juga, kamu tidak mau makan ?" ucap Ria meminta sahabatnya itu untuk makan bersama.
"Ah tidak aku sudah makan tadi, melihatmu makan dengan lahap membuatku merasa kenyang hehe." Nia terus menambah lauk ketika Ria mulai menghabiskan makananya.
"Eh sudah cukup, aku gak akan bisa makan sebanyak ini !" ucap Ria menghentikan Nia.
"Haha kamu kelihatan kurus sekali, makan yang banyak. Bilang padaku kalau kamu ingin makan sesuatu !" ucap Nia senang.
"Kamu yang masak semua ini ?" tanya Ria heran.
"Hehe iya, enak kan !"
Ria mengangguk "Ngomong-ngomong kenapa kamu berpenampilan seperti ini ?" Ria baru menyadari kalau pakaian Nia sedikit aneh.
"Haha kenapa bagus kan ? Farhan tidak suka kalau orang lain menatapku jadi ya aku ganti penampilan lah !" ucap Nia sambil berbisik.
Ria hanya menganguk sambil terus menikmati makanannya.
Farhan kembali dengan banyak barang. Kemudian keluar lagi karena masih ada barang yang tersisa.
"Apa itu ?" ucap Ria bingung.
"Hadiah, kamu kan baru pindah jadi sekalian aku belanja untukmu !" ucap Nia sambil tersenyum.
__ADS_1
Ria terkejut melihat banyak sekali kantong plastik. "Semuanya untukku ?"
Nia menganguk senang "Masih ada lagi, itu Farhan sedang mengambilnya !"
"Nia itu terlalu banyak, aku malu sekali, aku pasti sangat merepotkanmu, apa yang akan di fikirkan oleh Farhan ?" ucap Ria tidak enak hati.
"Tenang saja Farhan tidak berkomentar apa-apa kok, kita kan teman, sudah seharusnya teman saling membantu kan. Maaf aku tidak bisa menemanimu lagi, kamu beranikan tinggal sendirian ?" ucap Nia sedih.
Ria tersenyum "Terimakasih banyak ya tapi lain kali jangan lakukan ini. Aku punya uang kok aku juga sudah dewasa, aku bisa merawat diriku sendiri" ucap Ria menenangkan sahabatnya itu.
Nia mencubit pipi sahabatnya "Tapi dimataku kamu masih seperti anak kecil yang nakal dan pemalas bagaiman dong ! Aku ingin mengajakmu tinggal bersamaku tapi aku malu sama ibu mertua." ucap Nia sedih.
"Haha jangan, aku berani tinggal sendiri, aku juga sudah berubah kok. Aku sangat beruntung memiliki teman seperti kamu, terimakasih banyak ya !" ucap Ria sambil mengengam tangan sahabatnya.
"Kamu sudah seperti keluarga untukku, kalau butuh bantuan jangan sungkan untuk mengatakannya padaku !" ucap Nia sambil menepuk punggung tangan Ria.
Ria tersenyum dan mengangguk. "Ini sudah lebih dari cukup. Aku merasa sangat malu aku jadi beban untuk kalian kan ?" ucap Ria sedih.
"Tidak, tidak sama sekali aku senang bisa membantu jadi jangan sungkan ya !"
"Nia kamu tidak pernah berubah ya, huhu seandainya kamu benar ibuku, bolehkah aku panggil mama seperti dulu !" ucap Ria sambil berekting seperti anak kecil.
"Haha nanti Farhan akan menertawakanmu !"
"Biarin ! Pokoknya aku akan memangilmu Mama !" ucap Ria sambil mencium tangan Nia.
"Hey apa yang kalian lakukan !" ucap Farhan dibalik pintu.
"Apaan sih ini rahasia antara perempuan tahu !" ucap Ria.
"Oh karena aku laki-laki jadi tidak boleh tahu !" ucap Farhan sambil memindahkan semua barang kedalam rumah.
Ria melihat semua barang yang dibawa oleh Farhan. "Papa kamu baik sekali !" ucap Ria tanpa sadar.
"What papa ?" ucap Farhan tekejut.
Nia dan Ria tertawa bersamaan.
"Iya ini Mama dan kamu jadi Papanya !" ucap Ria senang.
"Ah lupakan, aku tidak mau punya anak seperti kamu !" ucap Farhan meladeni godaan dari teman istrinya.
"Memangnya kenapa aku cantikkan, lihat aku tidak kalah cantik dari mama !" ucap Ria cemberut.
"Itu istriku bukan mamamu, dan tidak ada wanita yang lebih cantik dari istriku !" ucap Farhan bangga.
Nia tersenyum malu.
"Hah, Kak Farhan kamu memang berubah jadi tidak tahu malu ya, aku juga tidak mau punya papa sepertimu !" ucap Ria sebal.
Haha, Farhan hanya tertawa mendengar ucapan Ria. Ia juga tidak tahu mulai kapan dirinya berubah jadi seperti ini.
__ADS_1
Time has changes, same like you Farhan, Love make you become idiot ! Hehe^^