KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
First day working


__ADS_3

Do what you have to do, until you can do what you want to do !


Malam semakin larut, setelah ngobrol panjang lebar Nia dan Farhan pamit untuk pulang.


Sekarang tinggal lah Ria sendirian. Ria mulai membuka laptopnya karena Farhan bilang sudah mengirimkan email terkait dengan pekerjaan. Besok Ria akan mulai bekerja, ia mulai berdebar cemas sekaligus senang, ia berfikir apakah ia akan bertemu dengan cowok yang ada di bandara tadi ? Ria hanya berharap bahwa jabatanya tidak lebih tinggi darinya, kalau sampai itu terjadi bisa gawat. Seandainya dia balas dendam dan memberinya banyak pekerjaan gimana ? Ah sadar lah kamu kan kenal dekat sama bosnya.


Ria mulai konsentrasi, membaca persyaratan apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan, hingga pekerjaan yang berhubungan dengan posisinya. Farhan menempatkan Ria dibagian desain ruangan, sementara ia harus menjadi trainer selama 3 bulan. Karena itu adalah syarat dasar bekerja diperusahanya.


°°°°°


Sehabis sholat isyak, Nia langsung tidur, ia baru merasa lelah sekarang.


Farhan tersenyum melihat istrinya, ia mendekat dan mencium kening istrinya. Lalu kembali pada laptopnya, masih ada banyak pekerjaan yang menunggu.


°°°°°


Pagi kembali datang, matahari mulai bersinar dengan cerah. Ria sudah siap untuk berangkat kerja. Semua berkat Nia, ia tidak perlu repot-repot memasak dan membeli keperluan rumah, lumayan juga bisa hemat.


Ria berjalan menuju kantor, tidak terlalu jauh dari mess yang di sediakan oleh perusahaan. Ria memasuki gedung Trianto Kontruksi, ia segera memasuki ruang resepsionis, untuk meminta petunjuk ruang kerjanya.


Disini lah tempatnya bekerja, digedung lantai dua, ada sekitar 6 orang dalam tim Desain, semuanya memiliki meja sendiri-sendiri yang hanya dibatas i oleh kayu pembatas, yang di lengapi dengan rak buku untuk menyimpan dokumen-dokumen penting.


Ria diantar oleh salah satu staf yang bernama Meri, kelihatanya ia ramah juga profesional. Meri memperkenalkan Ria ke seluruh anggota tim Desain, dengan hormat Ria memberi salam dan memperkenalkan dirinya.


Hal yang paling Ria takutkan terjadi. Begitu banyak staf yang bekerja disini kenapa cowok yang ada di bandara itu berada di dalam tim Desain, dan lagi dia adalah ketua tim desain.


Untungnya cowok itu berpura-pura tidak kenal padanya. Apakah mungkin dia lupa ? Tapi sepertinya tidak mungkin karena baru kemarin ia bertemu. Ria hanya berharap semoga harinya berjalan lancar tanpa ganguan.


Ria sangat sibuk dihari pertamanya kerja, membantu foto kopi, membantu menyalin data, berjalan kesana kemari untuk mengambilkan dokumen yang seniornya minta. Benar, tidak ada kerjaan yang mudah didunia ini.


Akhirnya jam makan siang datang. Entah kenapa sepertinya para staf wanita terlihat cuek padanya, apakah karena ia terlalu cantik ? Itulah yang dipikirkan oleh Ria.


Ria pergi ke kantin sendirian, ia mengambil jatah makananya lalu mencari tempat duduk yang kosong. Ia menatap sekeliling, sepertinya orang-orang menatapnya dengan tatapan tidak suka. Akhirnya Ria memilih duduk di bangku yang kosong sendirian.


Tidak lama kemudian, Seorang cowok dari tim Desain duduk di hadapanya. "Hay, bangku ini kosong kan, boleh aku duduk disini ?" ucapnya lalu duduk tanpa menunggu jawaban.


"Iya tentu !" ucap Ria malu-malu. Ria menatap kartu tanda pengenal yang melingkar di leher cowok itu Dafid Febriansyah, itu lah namanya.

__ADS_1


"Aku lihat kamu sendirian dari tadi, kamu belum akrab ya sama staf wanita di kantor ini ?" Tanya Dafid ramah.


"Iya aku belum mengenal siapapun !"


"Ada gosip yang beredar kalau kamu orang khusus yang dikirim Pak Farhan untuk menjadi mata-mata tim Desain betul tidak ?"


Ria terkejut sekaligus tertawa mendengar ucapan seniornya itu. "Apa ? Haha lucu sekali, mana mungkin, aku hanya teman dari istrinya Pak Farhan. Aku cuma gadis lulusan D2 yang gak punya kerjaan jadi ya, disini lah aku. Gak ada sesuatu yang spesial Pak Farhan hanya merasa kasihan padaku yang hanya penganguran ini !" ucap Ria panjang lebar.


Jadi ini alasan mereka mejauhi ku, aku kira karena mereka cemburu akan kecantikanku haha !


"Benarkah ? haha aku juga tidak percaya kalau Pak Farhan sampai mengirim mata-mata untuk melihat kinerja kami !" ucap Dafid sambil ikut tertawa.


Akhirnya mereka bisa ngobrol ringan, dan Ria senang setidaknya ia bisa akrab walau hanya dengan satu orang.


Disisi lain Yahya menatap keakraban Ria dan Dafid, dengan tatapan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. (Rahasia ilahi, hihi^^)


Hari demi hari berlalu, Ria sudah mulai akrab dengan semua staf yang ada di tim Desain. Ia juga sudah terbiasa dengan pekerjaanya. Ia merasa sangat bersyukur karena setiap staf disini berprilaku baik padanya. Begitu juga Bosnya walaupun kelihatanya dingin dan tidak banyak bicara setidaknya ia tidak pernah memberikan Ria pekerjaan yang aneh-aneh. Sepertinya Bosnya itu tidak pernah mempermasalahkan kejadian saat dibandara.


Apakah kalian tahu siapa nama bosnya ?


Sudah lebih dari sebulan Ria bekerja disini, tapi ia tidak pernah melihat Farhan sekalipun. Jadi ucapan Nia yang bilang bahwa Farhan selalu menemaninya dirumah itu ternyata benar. Hah betapa beruntungnya sahabatnya itu. Perlahan, Ria mulai tertarik pada Yahya bos Pendiam dan berwibawa itulah yang Ria rasakan. Ganteng, tinggi, baik, dan sepertinya ia masih jomblo. Kenapa Ria bisa tahu ? Karena setiap hari Bosnya itu selalu pulang terlambat, tidak seperti atasan yang lainya yang semena-mena memberikan tugas yang belum selesai pada anggota timnya, Yahya lebih memilih mengerjakannya sendiri dan meminta anggota timnya untuk pulang tepat waktu.


Ria tidak peduli dengan Dafid yang secara terang-terangan mendekatinya, ataupun para staf laki-laki lain yang sering menggodanya. Bagi Ria hanya ada satu laki-laki tampan dimatanya saat ini, dan bukan Ria namanya kalau tidak bisa menahlukan hati orang yang ia cintai. Bahkan dulu waktu kuliah ia pernah dijuluki sebagai Dewi Asmara, karena saking banyaknya hati pria yang ia patahkan.


Ria tidak ingin tergesa-gesa menyatakan cintanya, ia akan menebar pesona perlahan, lagipula ia masih dalam masa training. Nanti ketika waktu 3 bulan sudah berlalu dan ia sudah memiliki pekerjaan yang tetap ia akan mengatakannya pada Yahya bahwa dirinya sudah jatuh hati padanya.


2 bulan telah berlalu, Ria sering mendatangi Yahya pura-pura bertanya sesuatu, atau sekedar meminta pekerjaan karena ia tidak memiliki pekerjaan yang harus dikerjakan. Terkadang Ria juga membelikan kopi sebagai ucapan terimakasih, Ria juga selalu pulang terlambat ia menunggu hingga Yahya menyuruhnya untuk pulang. Tapi tidak peduli seberapa kerasnya Ria berusaha tapi Bosnya itu tidak pernah sekalipun menatapnya.


3 bulan berlalu, akhirnya Ria bisa menjadi pegawai tetap. Mereka mengadakan acara makan malam bersama untuk merayakan keberhasilan Ria dalam menyelesaikan masa training.


Makan malam telah selesai mereka pamit untuk pulang, Ria sengaja mengikuti Yahya yang berjalan menuju mobilnya.


"Pak Yahya, tunggu !" ucap Ria menghentikan langkah kaki bosnya itu.


Yahya memutar tubuhnya dan memandang seseorang yang telah memanggilnya itu. "Ya, ada apa ?" ucapnya sopan.


Ria berjalan mendekat dan akhirnya berhenti dihadapan bosnya itu. Ria menoleh kebelakang memastikan kalau rekan kerjanya sudah pulang semua.

__ADS_1


"Begini bolehkah saya menumpang mobil bapak ? Sekarang sudah malam saya takut naik taxi sendirian sedangkan angkutan umum pasti sudah jarang yang lewat dijam segini." ucap Ria hati-hati.


"Baik lah ayo masuk !" ucap Yahya sambil membuka pintu mobilnya.


Ria merasa senang dan segera masuk kedalam mobil.


Ria melirik kearah Yahya beberapa kali, ia ingin memulai percakapan tapi ragu.


"Kenapa kamu menatap saya terus ?" ucap Yahya dingin.


"Apakah bapak sudah punya pacar ?" tanya Ria memberanikan diri.


"Apakah itu penting ?" tanya Yahya cuek.


"Tentu saja, Bapakkan sudah cukup umur untuk menikah apakah tidak ada keinginan untuk menikah ?" Ria sangat penasaran.


"Belum saatnya, nanti pasti saya juga akan menikah !"


"Jadi bapak sudah punya pacar ya ?" tanya Ria terkejut.


"Tidak, saya tidak suka pacaran, dan saya tidak akan pernah pacaran ?" ucapnya dingin.


"Kenapa ?" ucap Ria bingung.


Yahya tidak menjawab, ia lebih memilih fokus untuk menyetir.


Ria teringat kata-kata Nia, tidak mau pacaran maunya langsung nikah apakah jangan-jangan bosnya juga memiliki prinsip seperti itu.


Ria tidak berani berbicara lagi, ia juga tidak berani menyatakan perasaannya. Karena soal urusan menikah itu bukan hal yang bisa dibuat main-main.


Mereka diam sepanjang jalan hingga sampai didepan mess Ria. Ria keluar dan mengucapkan terimakasih.


Yahya menganguk dan memutar mobilnya meninggalkan Ria yang masih berdiri dipinggir jalan menatap mobil yang berlalu pergi.


Ria masuk kedalam rumah, mandi lalu sholat. Ia berbaring di ranjangnya sambil menatap langit-langit kamar. Ia berfikir mengenai pernikahan, karena selama ini ia tidak pernah memikirkannya dengan serius. Calon suami yang seperti apakah yang ia harapkan ? Apakah seperti Yahya, tapi Ria sendiri tidak tahu Yahya itu sebenarnya orang seperti apa, keluarganya bagaiman ? Banyak hal yang harus dipikirkan ulang. Ria merasa capek ia memejamkan matanya dan tidur, membiarkan arwahnya berjalan-jalan menuju alam mimpi.


Sweet, sweet mungkinkah akan ada couple baru disini ? Hehe^^

__ADS_1


__ADS_2