
Nia's
Sebaik-baik teman adalah yang selalu mengingatkanmu pada Allah .
Rasanya masih aneh, ketika aku berpamitan pada Farhan untuk pergi ke kampus. Menggunakan pakaian seperti ini, pasti orang-orang akan menatapku. Debar-debar cemas, tapi aku mengatakan pada diriku sendiri apa yang aku lakukan adalah benar, lagi pula selama ini aku juga selalu sendiri, sudah lama aku tidak pernah memperhatikan orang lain. Hanya seperti ini saja harusnya mudah untuk ku lalui. yup Just don't care !
Ketika Farhan keluar dari ruang gantinya, ia tersenyum melihatku menggunakan pakaian seperti ini. Mendekat mengecup keningku dengan penuh sayang, aaaah seperti ini lah rasanya kalau ada surga di depan mata hehe lebay banget sih .
"Sayang kamu yakin mau berpakaian seperti ini ?" Tanya Farhan tidak berhenti memelukku .
"Hehe iya gimana cocok gak ?" Aku menatap wajahnya .
Farhan mendekat dan meletakkan dahinya ke dahiku menatapku tajam "Kamu selalu cantik dimataku " . Cup ! Satu kecupan dibibir meskipun terhalang oleh cadar.
Aah pasti pipiku sudah memerah sekarang. Melihat ekspresi Farhan yang begitu bahagia, hanya inilah yang kuinginkan didunia. "Ayo kita turun" ucapku sambil melepaskan diri. Aku pergi keluar dan Farhan hanya mengikutiku.
Mama sudah menunggu dibawah dengan sarapan dihadapannya, Ia tersenyum menatap kami. Kamipun duduk di tempat kami masing-masing.
"Nia kamu serius mau pakai baju seperti ini, diluar panas banget lo " tanya mama khawatir, tapi wajahnya terlihat senang.
"Iya ma, dari dulu aku ingin berpakaian seperti ini tapi masih malu. Sekarang aku juga punya teman yang berpakaian seperti ini, ia mengajariku banyak hal" ucapku senang.
"Benarkah, baguslah kalau begitu, tapi bukanya ini terlalu ekstrim, coba buka cadarnya, hanya pakai pakaian pajang kan sudah cukup" ucap mama masih terlihat khawatir.
Aku menatap Farhan, Farhan hanya tersenyum padaku. "Gakpapa kok ma, aku ingin melindungi diriku sendiri agar tidak diganggu orang lain".
Farhan membelai kepalaku lalu tersenyum "Sebenarnya istriku ini sangat mencintaiku ma, dia bahkan rela melakukannya hanya karena aku mengatakan aku nggak suka kalau orang lain menatapnya hehe " suara tawa bahagianya semakin keras, Farhan terlihat benar-benar bahagia.
"Kamu mau pamer kan sama mama ?" jawab mama sambil ikut tertawa .
"Makanya ma, aku sudah bahagia jangan khawatirkan aku lagi. Mama juga harus menikah dan hidup bahagia" ucap Farhan meyakinkan ibunya.
"Nggak sayang, mama sudah bahagia hidup seperti ini, mama ingin hidup sambil mengenang papa mu saja hehe " ucap mama tulus.
"Tapi kan ..." ucap Farhan yang langsung dipotong oleh mama.
"Gak ada tapi-tapian kalau kamu ingin mama lebih bahagia lebih baik segeralah berikan cucu untuk mama " ucap mama dengan bahagia.
Farhan tersenyum lalu menatapku "Nanti kalau Nia sudah siap untuk memiliki anak, dia kan masih terlalu muda, lagipula ia juga masih kuliah biarkan ia melakukan apa yang ia inginkan dulu "
Kenapa ucapan Farhan membuatku sedih raut wajahnya terlihat sedikit kecewa. Tapi aku tidak bisa menjawab apapun, kami sudah membicarakannya sebelumnya dan Farhan tidak keberatan untuk menungguku.
"Baiklah mama tidak akan memaksa kalian, kalian kan masih muda, hanya saja mama sudah tidak muda lagi, mama berharap masih bisa main dengan cucu sebelum mama meninggal" ucap mama membuatku terkejut, ia benar-benar kecewa.
"Ma jangan bilang seperti itu, yakinlah mama akan hidup sangat lama, mama akan bermain dengan cucu mama sepuasnya dan melihat mereka tumbuh besar" jawab Farhan.
__ADS_1
"Maaf ma, nanti kami akan bicarakan lagi, aku hanya sedikit takut itu saja" ucapku merasa bersalah. Mama menggengam tanganku.
"Itu bukan salahmu sayang, maafkan mama karena telah membebanimu, lakukan apa yang kalian anggap baik, ok" ucap mama berusaha menenangkanku.
Akupun mengangguk mengiyakan. Tapi setelah percakapan ini, kami merasa sedikit canggung Farhan juga diam saja didalam mobil.
"Mas "
"Heemm ?" ucapnya, aku menunggu hingga ia menatapku. Akhirnya ia menatapku karena aku tidak melanjutkan ucapanku, ia tersenyum "Ada apa ?" tanyanya kemudian.
"Aku juga ingin punya anak" ucapku .
"Iya, nanti kamu pasti akan punya anak" jawabnya datar.
"Aku ingin segera punya anak"
"Jangan memaksakan dirimu, aku baik-baik saja kok, memilikimu saja sudah membuatku sangat bahagia" ucapnya sambil membelai rambut ku pelan, lalu kembali fokus menyetir.
"Melihat Mama dan Mas Farhan baik sekali padaku, aku jadi tidak ingin membuat kalian kecewa, Aku juga masih bisa ke kampus kok meskipun dalam keadaan hamil"
"Tadi itu hanya bercanda, jangan masukkan hati kami nggak kecewa kok sama kamu" Ia tersenyum lagi, tapi hatiku tetap tidak lega.
"Pokoknya aku ingin segera punya anak titik !" ucapku pura-pura marah dan menatap jalan. Farhan menatapku dan tersenyum.
"Hey !"
"Namaku bukan hey !" ucapku masih tidak mau menatapnya.
"Apa ? Kamu memanggilku Farhan ?" ucapku menatapnya tajam.
"Haha kau benar-benar berani ya sekarang"
"Kenapa aku harus takut padamu ?" ucapku dingin.
"Kamu sedang menggodaku sekarang ?" tanyanya sambil tersenyum, aku tahu ia sangat bahagia sekarang.
Aku memeluk lengannya, dan menyandarkan bahuku. "Karena kamu sudah bersikap baik padaku jadi aku ingin memberikan apapun yang aku punya" ucapku manja.
"Benarkah aku beruntung sekali hehe" ucapnya tawanya semakin kencang.
"Apa kamu merasa bahagia sakarang ?" tanyaku sambil menatapnya.
"Tentu saja !" jawabanya membuatku tersenyum "Bagaimana kalau kamu memberiku sepuluh anak " ucapnya dengan tawa yang renyah itu.
"Emangnya aku kucing ? bisa punya anak sebanyak itu " jawabku masih tertawa.
"Aku sangat ingin melihatnya, gadis-gadis kecil yang mirip denganmu, pasti lucu sekali " ucapnya lagi membuatku senang.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita mulai dengan laki-laki dulu, cowok kecil yang mirip denganmu" ucapku masih menggodanya.
"Nggak boleh, semuanya harus mirip denganmu kalau dia mirip denganku ahh aku tidak bisa membayangkannya" jawabnya.
"Kenapa ? aku kan ingin punya Farhan kecil juga" jawabku memohon.
"Jangan pasti kamu akan dibuat pusing olehnya" jawab Farhan terlihat wajahnya masih penuh dengan kebahagiaan.
"Aah jadi kamu sangat nakal ya waktu kecil ?" jawabku.
"Haha benar sekali, gimana kalau 9 gadis cantik sepertimu, dan 1 cowok nakal sepertiku ?" ia tersenyum.
"Aaah nggak mau !" Kamipun tertawa bersama.
Tiba dikampus, benar saja semua orang menatapku, entah apa yang mereka pikirkan, mungkin mereka kira aku adalah murid baru, atau berfikir ada satu lagi murid yang aneh. Tenang Nia, tenang hanya diam dan masuk kelas.
Akhirnya waktunya makan siang tiba, aku bisa bertemu mariam sekarang. Mariam sudah menungguku diatap.
"Assalamualaiku" sapaku.
"Walaiku salam" jawab Mariam lalu berdiri menghampiriku. "Ini kak Nia ? wah cantik sekali" ucapnya.
"Hehe benarkah apakah ini cocok untukku ?" ucapku meminta pendapat.
"Iya cocok sekali, alhamdulillah semoga bisa istiqomah" jawabnya membuatku senang.
"Amiin ! doain terus ya " jawabku sambil tersenyum.
"Insyaallah, ayo makan " jawabnya, kamipun makan siang bersama.
Benar saja setiap kali kita jalan bersama pasti orang lain menatap kita, apakah ini yang selalu dirasakan mariam.
"Apakah mereka selalu menatap kita seperti itu ?" tanyaku pada mariam.
"Tidak, mungkin mereka masih penasaran sekarang, tapi nanti mereka juga tidak akan peduli kok" jawabnya.
"Ah, syukurlah aku masih merasa nggak nyaman sekarang" jawabku lagi masih mengeluh.
Mariam menatapku "Tahan ya, Allah tidak akan meminta hambanya melakukan sesuatu selain ada kebaikan dibalik sesuatu tersebut"
Aku tersenyum dan mengangguk "Terimakasih sudah mau jadi temanku" jawabku kemudian.
"Aku juga berterimakasih karena Allah mempertemukan kita, Aku juga belajar banyak dari Kak Nia" jawabnya lembut.
"Salah aku lah yang belajar banyak dari kamu" jawabku.
"Semoga kita saling mengingatkan ya !" ucap Mariam.
__ADS_1
Akupun mengangguk, kami tersenyum dan bersyukur, karena Allah telah mempertemukan kami. Sekarang kami bahkan mengerti apa yang dirasakan masing-masing meskipun tanpa harus melihat ekspresi wajah. Karena kami adalah sahabat, karena memang seperti ini lah harusnya yang dilakukan sahabat saling mengingatkan, saling menguatkan , dan saling membantu, aah aku jadi rindu sama Ria, aku akan mengajaknya hijrah juga hehe.
Enaknya punya sahabat, ajak aku juga dong!! Hehe ^^