
Words are, of course, the most powerful drug used by Mankind .
Waktu sangat cepat berlalu, seminggu setelah Mariam berbicara dengan ibunya tentang perjodohannya dengan Zainal. Mariam terus memikirkannya bagaimana kehidupannya setelah pernikahan ? Ia ingin cerita pada sahabatnya Nia tapi tidak berani, karena perjodohan ini belum tentu berhasil, jadi ia lebih memilih menyembunyikan masalahnya sendiri.
Malam ini akan diadakan pertemuan dengan Zain dan keluarganya. Mariam membantu ibunya untuk memasak, ia terus kepikiran jantungnya berdebar membayangkan apa yang harus ia katakan nanti. Bismillah, hanya itu lah yang membuatnya berani untuk menerima perjodohan ini.
Pukul 6, akhirnya keluarga Zain tiba, ia diantar oleh ayah, ibu, kakak laki-laki yang sudah menikah bersama istri dan anak perempuannya yang masih kecil.
Mariam melirik sekilas, ia merasa gugup ia berusaha untuk tetap tenang. Ditatap sekilas wajah Zain, Laki-laki dengan kulit yang sedikit gelap, hidung mancung, mata hitam dengan alis yang tebal, dan bibirnya .....? Terlihat tampan di mata Mariam, meskipun tidak seperti Ardan yang mirip dengan orang korea, tapi Zain terlihat lebih dewasa, dan Mariam tidak ada niatan untuk menolaknya.
Mariam tenggelam dalam penilaiaannya tentang calon suaminya itu hingga ia tidak mendengar apa saja yang diucapkan oleh orang-orang disekitarnya. Hingga ibunya menyenggol lengan Mariam agar tersadar. Mariam pun menoleh pada ibunya dan semua orang tertawa melihat sikap mariam.
Mariam menatap ibunya tanpa merasa bersalah, ia bertanya dengan tatapannya mencari penjelasan kenapa ibunya memanggilnya.
"Bagaimana, kamu mau menikah dengan Zain ?" tanya ibu sambil tersenyum.
Mariam mengangguk dengan malu-malu.
Semuanya pun tersenyum senang dan sekarang giliran Mariam yang harus membuka cadarnya, karena bagaimanapun juga ia harus memperlihatkan wajahnya pada calon suaminya dan calon keluarga barunya itu.
Zain menatapnya sekilas, tapi tidak ada yang berubah dari raut wajahnya sepertinya Mariam terlihat biasa di matanya. Padahal semua anggota keluarga Zain memuji kecantikan Mariam. Tapi Zain juga bersedia menerima perjodohan ini.
Setelah makan malam bersama, Zain dan Mariam diberi waktu untuk sendirian agar mereka bisa berbicara untuk sekedar saling mengenal.
"Kamu tahu siapa aku, apakah kita pernah bertemu sebelumnya ?" tanya Zain tanpa basa basi terlebih dahulu.
"Iya sepuluh tahun yang lalu kita bertemu di saudi, waktu itu aku masih kecil, dan pasti kamu juga lupa dengan wajahku" jawab Mariam.
"Maksudku di sekitar sini, apakah kita pernah bertemu sebelumnya, apakah kamu gadis yang dijadikan sandra oleh perampok bank ?" Zain hanya penasaran karena sepertinya pernah bertemu dengan gadis ini.
"Di pasar ya, bagaimana kamu bisa tahu ?" tanya Mariam penasaran.
"Karena aku lah yang menembak perampok itu" ucap Zain yang membuat Mariam bingung.
Mariam berusaha mengingat polisi itu lagi, sepertinya tidak mirip dengan Zain.
Zain pun tersenyum "Sepertinya kamu tidak ingat mungkin kamu sangat ketakutan saat itu, aku hanya ingin mengatakan kalau pekerjaanku memang sangat berbahaya, aku berada dalam tim khusus yang menyelidiki kasus-kasus besar, dan aku diizinkan untuk menembak para penjahat. Jadi aku harap kamu tidak keberatan dengan hal itu" ucap Zain menjelaskan tentang pekerjaannya.
__ADS_1
Mariam hanya terdiam memikirkannya, ia masih bingung dengan ucapan calon suaminya itu.
Zain mengerti kalau mungkin saja Mariam masih merasa gugup dan tidak nyaman bersamanya.
"Maaf karena aku membuatmu ketakutan saat itu, aku tidak punya pilihan lain selain menembaknya, karena mereka sangat pandai meloloskan diri" Ucap Zain ingin menyelesaikan kesalah pahaman.
"Gak papa kok, aku bisa mengerti" ucap Mariam.
"Aku berharap, kamu tidak terbebani karena harus menikah denganku, dengan umurmu yang semuda ini pasti akan sulit lagi pula kamu masih kuliahkan. Sebenarnya aku juga masih belum mau menikah aku masih ingin fokus dengan pekerjaanku, tapi Ayah terus memintaku untuk menikah, ia bilang akan memberikan kita rumah. Maaf karena harus membebanimu, setidaknya aku bisa bebas, dan aku juga akan memberikan kebebasan untukmu kamu bisa mengajak temanmu kerumah atau kamu juga boleh main keluar asalkan tidak bersama dengan laki-laki. Aku juga akan membiayai sekolahmu dan kehidupanmu, jadi maukah kamu jadi istriku ?"Zain mengatakannya secara langsung meminta Mariam untuk menjadi istrinya meskipun ia sendiri tidak memiliki perasaan apapun pada Mariam setidaknya ia ingin mencoba hidup baru, bebas dari orang tuanya.
Mariam tidak perlu berfikir lagi, ia mengiyakan permintaan Zain. Entah kenapa ia merasa sedikit kecewa karena ucapan Zain sepertinya ia juga terpaksa menikahinya.
Tidak perlu waktu lama akhirnya mereka memutuskan tanggal pernikahan, mereka memutuskan untuk menikah dengan sederhana hanya pesta kecil, yang akan dihadiri oleh keluarga dan teman terdekat saja.
°°°°°
Angin bertiup lembut, Mariam dan Nia sedang berada di atap gedung kampus Pratiwi, baru saja menyelesaikan makan siangnya.
Mariam cerita pada Nia kalau ia akan segera menikah karena dijodohkan oleh orang tuanya.
Nia terkejut mendengarnya "Apakah keluargamu memaksamu untuk menikah ?Bagaimana dengan Ardan bukankah kamu menyukainya ?" ucap Nia khawatir dengan hubungan Sahabat dan Adik tirinya itu.
"Masalah? apa yang kalian lakukan ?" Nia sangat penasaran.
"Aku ketahuan karena berbohong, Kakak melihatku pergi bersama Kak Ardan, lalu kakak dan ibu mendiamkanku, seminggu kemudian mereka bilang ingin menjodohkanku" ucap Mariam sedih.
Nia memeluk sahabatnya itu menepuk punggungnya perlahan, berusaha meringankan beban sahabatnya itu memang salah sih kalau mereka berbohong tapi dijodohkan apakah ini tidak keterlaluan?
Mariam melepaskan pelukan sahabatnya itu, Ia menggengam tangan Nia "Aku baik-baik saja, Calon suamiku tidak buruk juga kok".
Nia kaget mendengar ucapan Mariam "Jadi kamu sudah melupakan Ardan dan menerimanya ?" tanyanya lagi masih penasaran kenapa Mariam bisa cepat sekali berubah pikiran.
Mariam menggeleng "Aku tidak tahu apa yang aku lakukan, setiap ucapan umi selalu berhasil meyakinkanku, aku tidak bisa menolak permintaannya" ucap Mariam sedih.
"Tapi ini masalah besar, kamu harus memilih suami dengan sungguh-sungguh" Ucap Nia meyakinkan Mariam sekali lagi agar Mariam tidak menyesal dengan pilihanya.
Mariam tersenyum, "Aku tahu, sepertinya Abang Zain juga orang baik kok, aku berharap pilihan ini adalah yang terbaik, aku tidak ingin mengecewakan keluargaku. Sekarang aku hanya takut bagaimana cara mengatakannya pada Kak Ardan, apakah aku sudah menghianatanya ?"
__ADS_1
Nia bisa mengerti perasaan Mariam memang sulit jika harus memilih keluarga dan pacar "Ardan pasti bisa mengerti kok, nanti ketika ada waktu yang tepat aku akan bicara padanya."
Mariam mengangguk dan berterimakasih karena Nia mau mendengar dan mengerti dengan situasinya.
°°°°°
Malam kembali datang, Nia sudah tidak terlalu sibuk karena ujian semesternya telah berakhir. Tapi sekarang malah suaminya yang sibuk.
Nia terus kepikiran dengan masalah yang terjadi di keluarga Mariam, hhh hidup memang rumit setiap orang pasti memiliki masalah.
Nia duduk disamping suaminya ia meletakkan wajahnya diatas meja sambil menatap suaminya yang sibuk dengan laptop dan beberapa lembar berkas di atas meja.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu ?" Tanya Farhan tanpa menoleh pada istrinya, ia berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
"Kamu tampan saat fokus bekerja seperti itu" Ucap Nia sambil tersenyum entah kenapa ia sangat senang sekali menatap wajah suaminya.
"Hentikan nanti kamu jadi bosan melihatnya" ucap Farhan ingin menggoda istrinya.
"Aku merindukanmu !" Nia tersenyum karena mengingat kata-kata manis yang selalu ia baca dari novel favoritnya.
Farhan hanya tersenyum.
Nia ikut tersenyum "Suamiku tampan sekali, aku sangat merindukanmu bahkan saat inipun, ketika aku sedang menatap wajahmu." Akhirnya Nia mengatakannya juga, ia merasa malu setelah mengatakannya.
"Haha, apakah kamu sedang menggodaku sekarang ? Kalau kamu terus seperti itu bisa-bisa pekerjaanku tidak akan selesai" ucap Farhan senang sekaligus sebal.
"Maaf tuan silahkan selesaikan pekerjaan anda !" Ucap Nia sambil mencium pipi suaminya lalu berlari keranjang.
Farhan tersenyum dan menatap istrinya yang buru-buru masuk kedalam selimut dan menutupi tubuhnya. Seandainya pekerjaan ini tidak terlalu penting maka Farhan akan meninggalkannya. Tapi ia tidak bisa lari dari tanggung jawab begitu saja, ia merasa bersemangat untuk segera menyelesaikan pekerjaannya, dan lari kedalam pelukan istrinya.
Ekstra :
Ardan di kamar sedang memandangi hpnya, sepi sekali ia ingin sms Mariam tapi takut karena Mariam bilang kalau hpnya disita oleh kakaknya. Huh ! Ardan mendesah kesal.
Kenapa author jahat sekali sih padaku, tolong bilang pada kakak Mariam agar mengijinkanku pacaran dengannya dong !
Ardan membanting ponselnya setelah membaca skrip dari author GJ.
__ADS_1
Author gemes banget jahilin kamu Ardan, makanya jangan terlalu imut ! Hehe^^