
I don't want to be just a chapter
I want to be the whole story
Untuk apa kamu menyembunyikan perasaanmu jika kamu bisa hanya melepaskannya dan bernafas lega.
Destri meminta Nia dan Farhan untuk menginap dirumah mereka, yah sebagai tanda kalau mereka di terima dengan baik dikeluarga ini. Akhirnya Nia pun tidak bisa menolak dan meminta suaminya untuk tinggal juga.
Jam menunjuk pukul 9 malam, akhirnya Nia dan Farhan pergi ke kamar barunya untuk istirahat. Nia pergi mandi sedangkan Farhan menunggu sambil rebahan di kasur, mengecek pekerjaannya yang belum selesai.
Nia keluar dari kamar mandi dan tersenyum melihat suaminya yang sedang sibuk, ia pun tidak menghiraukannya, ia segera mengeringkan rambutnya dan memakai lotion untuk wajah dan tubuhnya. Nia membuka lemari untuk mencari baju tidur, Nia bingung karena semua baju tidurnya dengan model terbuka dan transparan, bahkan baju tidur dirumahnya saja tidak semenggoda ini.
Ia melirik suaminya yang masih sibuk dengan ponselnya.
Seperti apa reaksi Farhan ya ?
Nia tersenyum nakal, tapi kemudian ia tersadar kalau ini bukanlah rumahnya jadi tidak akan terjadi apa-apa.
"Mas kamu mandi dulu sana !" Ucap Nia mengusir suaminya karena ia ingin ganti baju agar tidak terlihat suaminya.
Farhan hanya tersenyum lalu pergi kekamar mandi.
Huh, akhirnya Nia bisa bernafas lega karena tidak perlu ketahuan kalau ia memakai baju yang sexy . Setelah ganti baju Nia segera masuk kedalam selimut dan tidur. Rasanya lelah sekali tapi ia merasa sangat senang beban di hatinya sudah berkurang, dan sekarang ia berbaring dikamarnya sendiri bukan kamar suaminya. Ia jadi berfikir untuk apa ia marah padahal Allah sudah sangat baik padanya, memberikan sesuatu yang sangat indah tanpa ia duga, benar mulai sekarang harus selalu berprasangka baik pada Allah, karena rencana Allah adalah yang terbaik.
Nia tersadar dari lamunannya ketika suaminya keluar dari kamar mandi. Farhan hanya memakai handuk yang melingkar dibawah pusarnya untuk menutupi sebagian tubuhnya, dan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Tidak biasanya Farhan seperti ini, membuat jantung Nia berdebar saja. (Eh jantung author juga^^)
"Hey pakai bajumu, nanti masuk angin loh" ucap Nia berusaha terlihat tenang.
"Aku gak bawa baju ganti" ucap Farhan tanpa dosa.
"Ada di lemari Mama sudah menyiapkan semuanya !" ucap Nia sambil menunjukkan lemari yang ada di sampingnya.
Farhan mengambil salah satu baju tidur, dan berganti pakaian. Nia berpaling tidak ingin melihat suaminya karena malu. Farhan malah tersenyum melihat sikap istrinya yang terkadang seperti anak kecil.
"Bantu aku mengeringkan rambut" ucap Farhan manja.
"Aku capek keringkan sendiri saja !" ucap Nia pura-pura tidur, padahal karena ia tidak ingin menunjukkan baju tidurnya.
"Masih jam setengah sepuluh, besok libur juga" ucap Farhan penuh makna.
__ADS_1
Memangnya kenapa kalau besok libur, toh kita gak akan melakukan apa-apa hari ini, begitulah pikir Nia. Nia tidak menjawab dan pura-pura sudah tertidur.
Farhan menarik nafas panjang mengalah pada istrinya , ia pun menyalakan hairdryer dan mengeringkan rambutnya sendiri. Ia juga merasa capek karena ini akhir pekan sudah seharusnya ia hanya bersantai bersama istrinya. Setelah selesai dengan rambutnya, Farhan menyalakan AC, kemudian mematikan lampunya, ia masuk kedalam selimut untuk tidur.
Farhan menatap sekeliling kamar yang terlihat samar-samar, bagus kamarnya meskipun tidak sebagus kamarnya yang ada dirumah orang tuanya. Tapi lumayan lah ini kan hanya kamar tamu mungkin kamar utama sangat mewah. Farhan memandang punggung istrinya.
Apakah dia sudah merasa bahagia sekarang ? Mungkin ini yang ia rasakan ayahnya tinggal dirumah senyaman ini sedangkan ia harus tinggal di tempat kos yang kecil dan hidup dengan perjuangan yang keras !.
Farhan memeluk istrinya dari belakang entah kenapa perasaannya jadi sakit ketika membayangkan kehidupan istrinya yang dulu, seandanya ia bisa datang lebih cepat dan membantu mungkin ia tidak akan semenderita ini. Farhan mempererat pelukannya dan mencium rambut istinya yang wangi karena baru mandi.
Farhan menyadari sesatu sepertinya ada yang beda dari baju tidur istrinya. Tangannyapun mulai beraksi karena penasaran.
Nia yang sudah tidak tahan dengan kelakuan suaminya akhirnya memukul tangan suaminya dengan keras, ia tahu kalau itu tidak akan menyakiti Farhan.
"Kamu belum tidur ?" Bisik Farhan ditelinga istrinya, tentu saja membuat Nia merinding.
"Aku mau tidur, jadi hentikan itu" ucap Nia tidak mau berbalik memandang suaminya karena malu.
"Apakah ini yang namanya lingeri, aku ingin melihatnya" ucap Farhan jujur.
Aduh, inilah yang Nia takutkan "Jangan aku malu !" Ucap Nia yang merasa wajahnya sudah panas.
Nia yang panik akhirnya ikut bangun dan menarik tangan suaminya agar tidak pergi meninggalkan tempat tidur. "Jangan dinyalakan lampunya" ucap Nia sambil menunduk.
Farhan tersenyum karena bisa melihat tubuh istrinya meskipun samar-samar ia masih bisa melihat dengan jelas kain tipis yang menghiasi tubuh mungil itu. Farhan mendekat dan berbisik pada istrinya "Kamu cantik sekali, apakah kita juga harus beli untuk dipakai dirumah" ucap Farhan yang membuat Nia terkejut.
Nia memukul suaminya dengan bantal, "Tidak mau, tidak mau beli !" dengan panik Nia kembali masuk kedalam selimut.
Farhan tertawa lalu mengikuti istrinya untuk kembali berbaring. "Jadi kamu lebih memilih tidak memakai apapun ?" Farhan masih tidak mau mengalah.
"Sudah kubilang hentikan !" Nia mulai marah.
"Haha" Farhan tidak bisa berhenti tertawa, dan melakukan tugasnya sebagai suami, sedangkan Nia tentu saja tidak bisa menolak keinginan suaminya.
°°°°°
Hari minggu yang cerah, Mariam ikut ibunya pergi berbelanja di pasar tradisional. Mariam sangat senang ketika bisa keluar rumah, karena keluarganya yang sedikit kaku tidak mengizinkannya dalam pergaulan bebas dalam artian tidak boleh pergi sendirian tanpa ditemani ibu atau kakaknya, contohnya ia tidak bisa pulang bermain sepulang sekolah, atau belajar kelompok dirumah teman, hhh seperti ada sebuah tembok untuk membatasi kehidupannya. Tapi ia selalu menuruti ucapan ibu dan kakanya karena ia tahu mereka hanya ingin melindungi Mariam dari dunia luar.
Mariam dan ibunya sedang sibuk memilih sayur segar, yah mereka hanya pergi ke pasar seminggu sekali menyimpan bahan makanan dikulkas agar tidak perlu bolak balik kepasar.
__ADS_1
Sekitar satu jam berlalu akhirnya mereka membawa banyak bahan makanan, ayam, ikan, sayur, buah , dan rempah-rempah lainnya.
Mereka berjalan untuk pulang kerumah, Mariam sangat terkejut karena ada orang yang menariknya dari belakang, menyeretnya keras hingga semua bahan makananya berjatuhan kelantai. Semua orang menatapnya, setengah sadar Mariam berusaha menganalisa apa yang telah terjadi padanya.
Mariam sedang dijadikan sandra oleh perampok yang baru saja merampok bank. Orang yang berada dibalik punggung mariam sedang menyodorkan pisau tepat dileher mariam, tidak ada yang bisa ia lakukan, hanya berdoa pada Allah agar Allah bisa menyelamatkannya.
Dua orang polisi berlari mengejar perampok itu, Polisi itu berhenti mengejar dan berdiri di hadapan Mariam setelah perampok itu mengatakan bahwa ia akan membunuh mariam jika polisi itu mendekat.
'Tuan tolong saya !' Seperti itulah makna dari tatapan Mariam, memiliki sedikit harapan agar bisa selamat.
Sesaat kemudian teman perampok itu datang dengan membawa mobil. Setelah membuka pintu mobil perampok yang menyandra mariam segera mendorong mariam hingga jatuh dan ...
"DOR, DOR !"
Satu tembakan tepat mengenai punggung perampok itu sebelum masuk kedalam mobil, dan satu tembakan untuk menembak sopirnya tapi sepertinya meleset karena sopir itu berhasil kabur dengan mobilnya.
Mariam masih sangat terkejut ia tidak bisa bangun dari duduknya. Polisi muda tampan yang baru saja menembak perampok itu, ia mengambil ponsel dan segera menelfon ambulan. Mariam masih menatapnya tidak percaya jika peluru itu salah sasaran pasti sudah mengenainya karena jaraknya dengan perampok tadi sangat dekat. Tapi dari wajah polisi muda itu tidak tampak rasa penyesalan sedikitpun, tatapan dingin dan kuat. Entah kenapa Mariam tidak mau berpaling menatapnya. Apakah ia harus berterimakasih karena telah menyelamatkannya ? Tapi kenapa ia tidak membiarkan perampok itu pergi dan mengejarnya lagi, tembakan itu benar-benar tidak terduga, jantung Mariam terasa seperti mau copot, perasaan takut, benci, kecewa, memenuhi hatinya untuk pertama kalinya ia membenci seseorang.
Mariam menghiraukan polisi separu baya yang menolongnya untuk bangun, entah kenapa kepalanya pusing lalu ia pingsan.
Ibu mariam baru bisa mendekat setelah sadar dari tangisannya ia menelfon putranya untuk membantu.
Akhirnya mereka berdua, Mariam dan Perampok yang tertembak itu dibawa ke rumah sakit untuk dirawat.
Polisi separu baya memberikan kartu namanya, meminta maaf, dan mengatakan akan menganti rugi biaya rumah sakit hingga Mariam bisa sembuh total.
Sedangkan polisi muda tampan hanya berdiri dipojok ruangan tampak tak peduli.
Ekstra :
Sekitar jam 10 Destri ingin mengambil sesuatu didapur, tapi karena ia penasaran dengan pasangan Nia dan Farhan, ia pun naik keatas menguping apa yang terjadi dibalik pintu kamar tersebut. Destri tertawa karena baju tidur yang ia pilih sepertinya berhasil ^^
Ardan yang kamarnya ada disamping kamar Nia, bisa mendengar tawa dari pasangan pengantin baru ini, tentu saja ia merasa cemburu.
Keesokan harinya ia ingin pindah kamar dilantai dua padahal kamar yang Nia tempati adalah rekomendasi dari Ardan. Haha ^^
Author : Maaf Ardan nasipmu kurang bagus
Ardan : Author sengaja kan pengen balas dendam ?
__ADS_1
Author : Ahem ^^ Hihi