KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Bimbang


__ADS_3

Nia's


Tidak ada tempat yang lebih menyenangkan dari pada rumah. Rasanya lelah sekali, sepulang kerja aku membaringkan tubuhku sebentar di ranjang, meluruskan punggungku yang rasanya sudah remuk, kakiku , tanganku? Ahh aku lupa akan sesuatu, aku sudah berjanji tidak akan mengeluh lagi.


Jam sudah menujuk pukul 10 malam, aku harus bangun dan mandi, seharian tubuhku rasanya lengket semua. Tapi aku merasa tidak memiliki tenaga, baiklah istirahat sebentar, dan akhirnya aku terlelap tidur.


Aku membuka mataku, karena cahaya lampu terlalu silau aku melihat kearah sekitar, bunga? karpet merah? korden berwarna putih mengelilingi aula, banyak kursi yang berjajar rapi dan para tamu undangan juga duduk manis menyaksikan? ehh menyaksikan apa? semua mata tertuju padaku.


Aku merasa bingung dan menoleh kesamping Farhan? Aku melihat Farhan duduk disampingku sambil tersenyum, ia memakai setelan jas berwarna putih, dengan bunga mawar merah disaku atas jas tersebut. Aku masih terbelalak tidak mengerti, Farhan mengenggam tanganku ia maju untuk mendekatiku, apa yang akan dia lakukan? Apakah dia akan menciumku? Aku memejamkan mata, ternyata Farhan hanya berbisik "Nia istriku kamu sangat cantik hari ini". Akupun membuka mataku dan Farhan tersenyum tepat didepan wajahku kali ini dia benar-benar ingin menciumku, aku kembali memejamkan mata.


"STOP !!" Teriakan tajam mengagetkanku, aku membuka mata dan mencari asal suara tersebut, Ardan Ia datang mendekat kemudian menarik tanganku, aku mengikutinya bingung. Tunggu apa yang ia lakukan? ini kan pernikahanku? Aku menarik paksa tanganku "Hentikan!!" ucapku marah.


Ardan berbalik dan menatapku air matanya keluar, ia terlihat kecewa tanpa mengucapkan apapun ia menamparku .


Aku terkejut, aku melotot kearahnya dan membalas tamparannya kamipun berkelahi, dan seperti biasa aku lah pemenangnya hoho, Para tamu undangan yang sedari tadi duduk manis sekarang berdiri menyemangati pertarungan kami, aku mencari dimana Farhan, ia hanya berdiri mematung memberikan ekspresi yang tidak suka.


Aku tersenyum dan mendekati Farhan, aku mencoba mengengam tangannya , tapi Farhan segera melepaskan tangannya dan berlalu pergi .


"TIDAK !!" Aku berteriak dan bangun dari mimpiku, ahh syukurlah hanya mimpi.


Aku meraih ponselku, sudah jam 4 pagi, aku melihat ada beberapa pesan masuk.


Farhan's


"Kamu sudah pulang?"


"Besok kamu ada waktu? mama mengajak untuk makan siang bersama!"


"Kamu sudah tidur ya?"


"Good night sweet heart, have a sweet dreams, see u tomorrow 🥰"


Ardan's


"Kamu udah pulang , jangan lupa traktirannya, besok aku jemput ya? aku tunggu jam 10 pagi di depan kosanmu!"


Aku bingung bagaimana ini aku harus pergi dengan siapa? Tunggu? apakah aku sudah menjadi playgirl sekarang ? Ya Allah bagaimana ini?


Aku memejamkan mataku berfikir apakah ini ada hubungannya dengan mimpi tadi? Siapa sebenarnya orang yang aku sukai?


Farhan cowok yang pendiam dan dewasa meskipun kalau kita ketemu masih terasa canggung.

__ADS_1


Atau ?


Ardan cowok yang menyenangkan, yang selalu banyak bicara tanpa canggung, aku selalu tertawa disampingnya dan tentu saja membuatku merasa nyaman.


Aku harus membuat keputusan jika tidak? mungkin aku tidak akan bisa memiliki bahkan hanya salah satunya, tapi ...? memangnya siapa aku? sok pd banget merasa diperebutkan dua pemuda kaya. Ahhh dasar, Nia kamu sudah gila, aku memukul-mukul ranjangku dengan tangan , kemudian meremas bantal dengan gemas, tidak mungkin kan? aku kembali berteriak dan menengelamkan kepalaku dibawah bantal.


Akhirnya inilah yang aku pilih membantu tante Farida memasak makan siang, dibantu oleh pembantunya juga, Tante Farida bilang ia menyukai masakanku hehe.


Kami makan siang bersama, Aku, Tante Farida, dan Farhan. Tante Farida membicarakan bagaiman kelanjutan hubungan kami , apakah sudah siap menuju pelaminan? Jujur aku menjawab masih belum membicarakannya dengan Farhan, dan lagipula aku juga masih kuliah, aku masih ingin bisa lulus dan menjadi sarjanah , tante Farida menganguk mengerti, tapi sepertinya Farhan sedikit kecewa.


Selesai makan Tante memintaku untuk bersantai dan berbicara dengan anaknya, yah disinilah kami, di kebun belakang samping ruang makan ada sebuah kolam ikan cantik dan ada air terjun kecil yang suara gemerisik airnya bisa menenangkan jiwa. Kami duduk dikursi taman, aku memilih duduk dikursi depan tempan duduk Farhan kami saling berhadapan sekarang hanya sebuah meja kecil yang memisahkan jarak diantara kita ciee haha .


Masih merasa cangung kami hanya sesekali tersenyum sambil menikmati pemandangan yang ada , tidak lama kemudian bi mina memberikan segelas jus mangga untuk kami dan beberapa makanan kecil pelengkap.


Aku tidak sabar lagi dan memulai percakapan, "Rumah mas, nyaman sekali ya, aku bahan tidak pernah bermimpi bisa memiliki rumah seperti ini" ucapku kagum.


Ia hanya tersenyum kemudian menatapku, "Jika kita menikah maka rumah ini akan menjadi rumahmu juga"


Aku merasa tidak enak mendengar jawabanya meskipun aku merasa senang aku hanya membalasnya dengan senyuman.


"Gimana pekerjaanmu apakah kamu menikmatinya?" tanyanya kemudian.


"Sejujurnya aku tidak suka kamu bekerja disana, pasti melelahkan dan juga banyak orang aneh disana, apakah kamu sering bertemu mereka? apakah mereka sering menggodamu?" ucapnya khawatir.


"Jangan khawatir aku bisa bela diri mereka tidak akan berani macam-macam padaku" jawabku menenangkan.


"Tapi tetap saja aku merasa tidak tenang, bagaimanapun juga kamu adalah wanita , cantik lagi, aku tidak rela mereka memandangimu" tegasnya lagi.


Aku tersenyum "Apakah kamu sedang cemburu sekarang?" godaku.


"Iya aku cemburu" Jawabnya tegas sekaligus membuat pipiku merah merona. "Jadi bisakah kamu berhenti? Aku bisa memberimu uang kalau kamu perlu uang, sepulang kuliah istirahatlah , belajar tidak perlu capek-capek kerja lagi".


Sejujurnya aku senang mendengar penjelasanya, tapi harga diriku tidak dapat menerimanya. "Aku baik-baik saja kok lagi pula kita kan juga belum menikah, aku tidak suka menerima uang dari laki-laki, aku masih bisa mencari sendiri aku ingin kuliah dengan usahaku sendiri, jadi terimakasih banyak atas perhatian mas".


"Nia !" Farhan menatapku.


" Ya ...?" Akupun menatapnya.


Ia meraih tanganku mengengamnya, rasanya hangat tapi sepertinya tangannya sedikit gemetar, aku ingin melepasnya tapi tidak tega.


"Menikahlah denganku, aku tidak ingin melihatmu sendirian lagi, aku benci melihatmu bekerja keras sendirian, mari melakukan semuanya bersama, aku akan merasa senang jika kau menjadikanku sebagai sandaran" Ucapnya tulus.

__ADS_1


Jantungku berdetak kencang, bagaimana ini? aku harus menjawab apa? Apakah aku harus merasa senang? Disisi lain aku tidak ingin diremehkan? Aku adalah gadis yang kuat aku bisa menjaga hidupku sendiri."Maaf, tapi..." aku menghentikan ucapanku karena aku masih bingung.


"Apakah ini terlalu cepat? Aku bisa mengerti, pikirkanlah dulu? dan berikan jawabanmu jika kamu sudah siap, aku akan berusaha menerima apapun jawabanmu"


"Terimakasih sudah mau mengerti" Aku menundukkan kepala lega.


Farhan melepaskan gengamanya, kemudian berdiri sepertinya dia malu "Sekarang kan hari minggu mau jalan-jalan?" ucapnya mengalihkan pembicaraan.


Akupun menerima ajakannya, akhirnya kami pergi ke taman hiburan. Aku sendiri tidak mengerti kenapa ia mengajakku kesini.


"Kenapa kita kesini? kamu suka main-main seperti anak kecil?".


Ia tersenyum "Ria bilang kamu ingin sekali pergi kesini , tapi tidak rela kehilangan uangmu hanya untuk bemain-main, lagi pula kita akan mencoba permainan orang dewasa ,jadi apakah kamu berani ?" jawabnya menjelaskan.


Ahhh aku malu sendiri dan tidak bisa menjawab.


Farhan membeli tiket dan menyerahkan sebuah gelang padaku , ia bilang dengan gelang ini kami bisa main apapun. Aku senang sekali dan merasa bersemangat.


Kami mencoba berbagai macam permainan , dari roller coaster, biang lala, hingga masuk kedalam rumah hantu.


"Hey apakah kamu nggak takut?" Tanya Farhan membuyarkan lamunanku.


Sepertinya ia takut pikirku, berlagak sok keren ahh "Enggak kenapa aku harus takut, pada orang saja aku tidak takut apalagi hanya pada hantu"Aku berjalan duluan meninggalkan Farhan dibelakang tidak lama sebuah tengkorak jatuh tegantung di hadapanku.


"Aaaaaaaa....!!" Reflek aku berteriak dan memutar badanku aku menginjak kaki Farhan tanpa sengaja .


Ia meraung kesakitan sambil memegangi kakinya "Katanya nggak takut? kakimu benar-benar kuat"


"Maaf aku tidak sengaja" Aku benar-benar merasa bersalah. Ketika aku melihat kearah punggung Farhan aku melihat sesosok hantu wanita mendekat, "Uaaahhh" Aku berteriak ketakutan, Farhan meluruskan tubuhnya ingin menenangkanku. Akupun memeluknya erat menengelamkan wajahku kedadanya.


"Nia, hantunya sudah pergi" Ucapnya menyadarkanku, akupun melepaskan pelukanku dengan cangung.


"Maaf" ucapku lagi-lagi karena malu.


Ia tersenyum dan meraih tanganku, pintu keluar masih jauh, terus berada disampingku kalau ada hantu mendekat kamu bisa bersembunyi dibalik lenganku ucapnya kemudian. Akupun mengangguk pelan dan mengikutinya.


Diluar Farhan sibuk menggosok-gosok lengannya, "Ternyata bukan hanya kakimu yang kuat tanganmu juga"


Aku hanya tersenyum malu, karena saking takutnya melihat banyak hantu yang mendekat aku mencengkram tangannya dengan kuat, hehe itu pasti sakit.


Farhan jujurlah kamu juga senangkan? hehe.

__ADS_1


__ADS_2