
Ardan's
Pulang kerumah, setelah mengantar Nia sampai ke tempat kerjanya, aku mengendarai motorku menuju ke rumah orang tuaku tentunya.
Angin sore sangat menyegarkan, jalan raya mulai ramai dipenuhi kendaraan, yah memang waktunya untuk sebagian besar orang pulang kerumah. Sedikit macet disana-sini tapi aku merasa bukan seperti diriku aku tidak bisa berhenti tersenyum membayangkan tadi bisa berjalan berdua dengan Nia, rasanya berbeda dengan pengalamanku kencan bersama wanita lain, haha ya aku tahu aku memang playboy.
Di rumah aku melihat mobil papa sudah berada di garasi, ruang tamu juga terlihat kosong ahh pasti mereka sedang berada dikamar, seorang pembantu menyapaku aku hanya mengangukkan kepala sambil tersenyum dan masuk kedalam kamarku.
Mandi, ganti baju, dan membuka laptopku kebiasaanku sehari-hari hehe, aku baru membuka hpku karena tadi terlalu senang bisa jalan-jalan berdua bersama Nia aku sampai lupa dengan pacarku sendiri. Sial dia pasti marah-marah, benar saja 22 misscall, dan 14 sms hehe tapi aku nggak akan membahasnya karena tidak terlalu penting.
Banyak yang bilang kalau aku ini cowok yang terbilang tampan tinggiku 175 cm, aku suka berolah raga, aku juga pandai berbahasa inggris, dan pastinya aku mudah bergaul. Aku juga terlahir dari keluarga cukup terpandang jadi ya mudah saja bagiku berganti-ganti pasangan.
Makan malam keluarga kami dimulai sekarang ada ayah , ibu, dan adik perempuanku Andini, sedangkan kakakku Anastasya dia selalu sibuk dengan pekerjaannya pasti lembur lagi.
"Gimana kuliah kamu ? lancar ?" tanya papa padaku.
"Yah lumayan, tumben papa pulang sore? biasanyakan selalu sibuk kerja" jawabku.
"Kenapa? kamu nggak suka papa pulang lebih awal?" tersenyum sinis.
"Kirain udah lupa sama keluarga" ucapku tidak kalah sinis.
__ADS_1
"Dasar anak nakal" Papa memukul bahuku pelan. "Aku sibuk kerja juga untuk kamu tahu? padahal papa pulang karena kangen mau main game sama kamu".
Aku sedikit terkejut "Benarkah ? kali ini aku nggak akan kalah dengan papa , aku sudah banyak latihan" Jawabku percaya diri.
"Ohh jadi karena terlalu banyak main game jadi, nilai ujianmu turun , sepertinya papa harus mengambil game playermu" Jawab papa sambil memasukkan makanannya kemulut.
Aku hanya cemberut.
"Mas Ardan kebanyakan pacaran juga tuh, dia suka mengejekku kalau aku jelek makannya masih jomblo, padahal aku kan cuma mau fokus belajar" Jawab Dini sambil tersenyum dengan penuh makna.
Akupun mencubit pipinya "Dasar anak kecil kamu cemburu kan liat nih pipi udah kayak bakpau lebih baik kamu mulai diet biar bisa punya cowok".
"Ardan, berhenti menggoda adikmu!" mama ikut memarahiku.
"Kamu boleh saja pacaran tapi harus mengerti batas, jangan sampai lupa dengan belajar masa depanmu juga penting kan, kamu harus mendapat pekerjaan yang bagus biar bisa membahagiakan keluargamu nantinya" Ucap papa panjang lebar .
Aku hanya menganguk sebal tanpa menjawab sambil terus mengunyah makananku.
Papa terlihat geleng-geleng kemudian menjewer telingaku.
"Ahhh sakit pah, lepaskan iya-iya aku akan belajar dengan giat aku pasti bisa menyelesaikan kuliahku" Akhirnya papa melepaskan telingaku, aku terus menggosoknya karena memang sakit.
__ADS_1
"Berhenti menggoda adikmu juga, biarkan dia belajar memangnya pacaran untuk apa buang-buang waktukan, pacaranlah jika kalian udah siap untuk menikah kalau belum jangan pernah main-main. Kakak dan adikmu juga perempuan kamu suka kalau seandainya mereka dipermainkan sama cowok?" Jawab papa lagi.
"Baiklah aku mengerti" Aku tidak terlalu menanggapinya dan terus makan.
Obrolan kamipun terus berlangsung membicarakan ulang tahun kakak, sekolah adek juga, ahh papa sepertinya bangga pada mereka apakah cuma aku anaknya yang paling nakal, terserah lah inilah diriku dan aku tidak ingin menjadi orang lain.
Meskipun papa tadi terdengar seperti memarahiku, tapi kini kami main game bersama , aku tau papa juga mencintaiku hehe.
Lagi? ahh sial aku kalah lagi kenapa aku nggak pernah bisa menang main balap mobil dengan papa.
Papa hanya tertawa, "Kamu tidak akan bisa menang dari papa lebih baik menyerah dan belajar dengan giat, papa bakalan senang kalau kamu bisa lebih sukses dari papa".
Aku hanya tersenyum kecut , itu tidak mungkin kan ? Papa adalah sosok yang hebat bagiku, beliau bisa membuat usaha dari toko bangunan kecil menjadi perusahaan besar skala Internasional, aku bahkan tidak punya kepercayaan diri untuk bisa menjadi pewaris perusahaan ini.
Kembali ke kampus, aku merasa jadi lebih dekat dengan Nia, Nia yang tertutup mulai membuka diri untuk menerima teman baru, meskipun aku tidak tahu apa-apa tentanya, tapi aku senang bisa membantu. Melihatnya tersenyum seperti sekarang membuatku senang.
Setelah melewati beberapa minggu, kami kembali mendapatkan tugas kelompok, presentasi menggunakan bahasa inggris. Kelompok kami terdiri dari 4 orang, termasuk aku dengan Nia hehe.
Kami jadi sering bersama, sebelum pulang aku kembali memberanikan diri untuk mengajak Nia makan malam bersama menagih hutangnya karena dulu aku pernah mentraktirnya .
Dia menyetujuinya, dan hari minggu ini kita akan pergi kencan lagi . Hehe meskipun dari versiku sih mungkin bagi Nia ia hanya sedang pergi jalan-jalan bersama teman.
__ADS_1
Aku tidak peduli, yang penting aku merasa senang, aku pulang kerumah dengan perasaan bahagia, bahkan aku menolak ajakan kencan pacarku , aku bilang sibuk karena ada urusan keluarga. Aku ingin memutuskannya tapi masih belum punya alasan yang tepat. Terserahlah aku membaringkan diri dikasur, menunggu hari esok tiba, sambil memikirkan apa yang harus aku lakukan bersama Nia besok.
Ardan kamu harus tobat !!! hehe .