
He will distrub me by doing something and make me smile. He is my lovable idiot ^^
'Jantungku berdetak sangat cepat, apa yang aku katakan kemarin, ingin bertemu ayah , hhh aku pasti sudah gila'. Nia terus menggerutu dalam menyesali ucapannya kemarin, ia terus memikirkan apa yang harus dilakukan nanti ia tidak bisa berfikir jernih, waktu juga berjalan begitu cepat, sekarang dia sedang berada di mobil bersama suaminya menunju rumah orang tua kandungnya .
Farhan tersenyum karena mengerti keresahan istrinya, iapun berusaha menghibur istrinya dengan membelai kepala istrinya menggunakan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih sibuk untuk menyetir.
Nia menoleh pada suaminya, ia ingin cerita tapi merasa tidak enak hati.
"Semua akan baik-baik saja , ayah pasti senang sekali bertemu denganmu" ucap Farhan , melirik kearah istrinya sebentar untuk memberi semangat kemudian kembali fokus pada jalan yang ramai.
"Hhhhh tapi aku gugup, bagaimana ini ? Bagaimana kalau aku membuat kesalahan ?" ucap Nia masih khawatir.
Farhan tertawa karena mendengar ucapan istrinya yang ia anggap lucu "Sekarang kamu sangat peduli apa yang dipikirkan oleh ayahmu ?"
Nia terkejut mendengar pertanyaan suaminya dan ia segera tersadar, untuk apa juga ia ingin terlihat baik kalau bisa ia ingin membuat masala saja agar ayahnya dan keluarganya jadi sebal padanya. "Apa ? enggak tuh" ucap Nia berpaling dari suaminya, berusaha menatap jalan sekarang.
Farhan tertawa lebih keras "Hanya pastikan jangan menangis nanti" ucapnya menggoda istrinya.
"Kamu pikir aku akan melakukannya gak akan" ucap Nia mantap.
"Benar jangan menangis didepan orang yang belum bisa kamu percayai, menagis saja di hadapanku, sesukamu, ok !" ucap Farhan serius.
"Cih, sepertinya kamu punya hobi melihatku menangis" ucap Nia mengejek.
"Tentu saja karena hobimu menangis jadi apa yang bisa aku lakukan selain melihatmu"
Nia tersenyum, Farhan menatapnya dengan sedih.
"Hhhh aku memang suami tidak berguna" Ucap Farhan setelah menarik nafas panjang.
Nia terkejut mendengar ucapan suaminya, lagi-lagi Farhan salah paham mengartikan situasi. Nia menangis bukan karena Farhan tidak berguna tapi karena masalalunya yang tidak bisa ia lupakan begitu saja.
"Jangan bilang seperti itu !" Nia menatap suaminya, menyandarkan kepalanya di lengan suaminya. "Kamu tahu seberapa berharganya dirimu, kamu menyelamatkanku disaat aku ketakutan, kamu menemaniku disaat aku sendirian, dan kamu sudah mau menikahiku meskipun aku yang seperti ini, jauh dari kata sempurna" Ucap Nia sedih.
Farhan mengentikan mobilnya ditrotoar yang terlihat sepi, ia mencium istrinya untuk mencari kepastian. Nia hanya diam memejamkan mata mengikuti kemauan suaminya.
Beberapa menit mereka berciuman, Farhan masih tidak mau melepaskan istrinya, satu kecupan dibibir lalu Farhan meletakkan dahinya didahi istrinya. "Kamu sangat sempurna sayang, aku tidak pernah merasa lebih bahagia daripada bersamamumu" ucap Farhan jujur untuk kesekian kalinya ia menyatakan perasaannya "Nia I Love You".
Nia juga merasa sesenang itu ia mencintai suaminya , sangat, sangat "Farhan untuk kesekian kalinya kamu membuatku jatuh cinta lagi padamu!" Nia tersenyum kemudian mencium suaminya. Mereka saling mengutarakan perasaan masing-masing dipinggir jalan raya yang masih banyak mobil berlalu lalang untung saja kaca mobilnya tidak tembus pandang.
°°°°°
__ADS_1
Dirumah Fajar Kusuma para pembantu sibuk menyiapkan makan malam, karena akan ada tamu spesial untuk datang makan malam.
Fajar merasa sangat senang karena putrinya akan datang kerumah, ia juga memberitahu semua anggota keluarga untuk pulang makan malam bersama ia ingin mengatakan pada Nia bahwa semua yang ada disini sangat menantikan kedatangannya mereka ingin menerima Nia sebagai anggota keluarga dengan tangan yang terbuka lebar.
Fajar dari sore sudah duduk diruang tamu sambil menatap taman yang ada diluar, dua pintu yang besar dan kokoh sudah terbuka lebar senjak tadi sore menunggu calon putri untuk masuk melewatinya.
Destri lebih memilih berdiam dikamar, karena tidak ingin mengangu suaminya, entah apa yang ia rasakan, sedih, senang, takut, atau ... ah entahlah yang pasti momen ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu. Suaminya akan bebas dari perasaan bersalah.
Jam menujuk pukul 7 malam, akhirnya Nia dan Farhan datang disambut oleh Pak Fajar dan keluarganya. Pak Fajar meminta untuk makan dulu karena sudah waktunya untuk makan malam. Mereka berbicara ramah tentang pekerjaan, tentang kuliah dan sebagainya, seperti layaknya sudah kenal dekat, Nia hanya tersenyum sesekali dan menjawab pertanyaan yang diutarakan padanya. Ia merasa canggung tapi tidak membenci hal ini , ia merasa lega karena ayahnya terlihat baik-baik saja meskipun terlihat sedikit kurus.
Setelah makan malam mereka duduk di ruang tamu,dan kembali mengobrol.
Destriana meminta izin untuk membawa Nia melihat kamarnya. Niapun setuju dan mereka pergi naik tangga, Farhan hanya menatap punggung istrinya karena khawatir.
Disalah satu kamar yang berada di lantai 3, terpampang kamar yang luas, dan cantik tembok berwarna putih bersih, ranjang yang besar dan disampinya ada lemari 4 pintu yang didalamnya sudah dihiasi beberapa pakaian untuk bisa dipakainya, dan disisi lain ada meja rias juga, kamar ini terlihat seperti kamar seorang putri perpaduan warna coklat, putih, dan pink, dan lihat kaca besar ini, wah dia bisa melihat taman depan rumah yang indah dan jalan raya didepannya sangat indah.
Destri senang melihat reaksi Nia "Mulai sekarang ini adalah kamar mu aku sendiri yang mendisainya loh, semoga sesuai dengan seleramu!" ucap Destri sambil tersenyum.
"Iya cantik sekali, tapi seharusnya tidak perlu sampai seperti ini, aku juga tidak akan tinggal disini" ucap Nia menolak dengan sopan.
Destri mendekat pada anak tirinya itu , ia menepuk bahu Nia "Terimakasih sudah datang, mulai sekarang ini juga rumahmu, kamu bisa datang kesini kapanpun" Destri tersenyum lalu berbisik pada Nia "Kalau kamu sedang bertengkar dengan suamimu kamu bisa tinggal disini sama mama, hehe aku akan memberi pelajaran padanya" ucap Destri berusaha untuk menjadi dekat dengan Nia.
"Haha maaf, maaf aku salah bicara, kapanpun kamu boleh kesini tidak perlu menunggu ada masalah" Destri tertawa ia senang karena Nia sudah mau membuka diri. "Aku keluar dulu mau memanggil papamu, pasti ada yang harus diselesaikan antara kalian berdua iya kan !" Destri tersenyum dan berjalan keluar.
Nia tersenyum, ia bersyukur karena datang kesini adalah pilihan yang tepat. "Tunggu !" Ucap nia menghentikan langkah Destri.
Destripun berhenti dan menoleh kearah putrinya.
"Mama terimakasih !" ucap Nia senang.
Destripun ikut tersenyum dan mengganguk lalu turun kebawah untuk memanggil suaminya.
Beberapa saat kemudian.
Fajar datang sediri kekamar putrinya, ia tersenyum melihat Nia sedang duduk di ranjang. Ia pun berjalan menghampirinya.
Nia yang melihat ayahnya telah datang pun berdiri dan membungkuk seperti pelayan dan majikan.
"Duduklah" ucap Fajar meminta putrinya untuk mengikutinya duduk diranjang
Nia tersenyum dan menurut.
__ADS_1
Fajar menatap wajah putrinya yang ia rindukan itu, Nia benar-benar sangat mirip dengan Alia, membangunkan kenangan lama. "Terimakasih sudah mau datang kesini" ucap Fajar memulai pembicaraan.
Nia tersenyum dan mengganguk "Terimakasih sudah menerima saya di keluarga ini" ucap Nia bingung harus mengatakan apa.
Fajar tidak bisa mengontrol air matanya karena bahagia, tentu saja membuat Nia bingung sendiri.
"Kenapa Bapak menangis, anda baik-baik saja ?" ucap Nia panik.
"Haha aku hanya terlalu bahagia hingga tidak bisa mengontrol air mataku, kamu sangat mirip dengan ibumu, cantik sekali" ucap Fajar.
"Apakah anda sangat mencintai ibu ?" ucap Nia takut tapi ia juga penasaran apakah ayahnya masih mencintai ibunya atau tidak.
Fajar tersenyum mendengarkan pertanyaan dari putrinya "Ibu mu sangat cantik, aku tidak pernah menemui wanita secantik dia, aku tidak pernah menceritakannya pada Destri karena takut istriku itu cemburu" ucap Fajar merasa senang sekaligus tidak enak.
"Jadi ayah tidak mencintai Bu Destri ?" tanya Nia lagi masih penasaran.
"Aku mencintainya tapi aku lebih mencintai ibumu, seandainya maut tidak memisahkan kita mungkin kita akan hidup bahagia, maafkan papa yang pengecut ini, papa takut untuk mencarimu karena masih belum bisa menguatkan hati karena setiap hari harus menatapmu, dirimu yang persis seperti ibumu" Ucap Fajar air matanya turun sangat deras, perasaan bersalah itu kembali muncul. "Apakah kamu masih membenci papa ?" ucap Fajar lagi karena Nia tidak menjawab apapun.
"Pakah anda membenciku ?" ucap Nia ikut merasa sakit.
"Tidak sayang, aku sangat mencintaimu itu sebabnya aku takut, takut mendengarkan ucapanmu kalau kamu membenciku " ucap Fajar sambil menduduk untuk pertama kalinya ia membuang harga dirinya untuk sekedar permintaan maaf.
Nia mengerti, tidak ada yang salah disini, semuanya hanyalah jalan takdir tidak seharusnya ia marah, bukankah ia juga sudah berhasil melewati kepahitan hidup, bukankah ia akan menjadi sombong kalau terus-terusan marah, ia ingin melepaskan bebanya menerima apapun takdir yang sudah tertulis untuknya.
"Papa bolehkah aku memelukmu" ucap Nia yang membuat Fajar terkejut.
Fajar tersenyum dan membuka kedua tangannya memberikan tempat agar putri tercintanya bisa memeluknya.
Niapun segera mendekat dan memeluk ayahnya dengan erat , ia pun menangis didada ayahnya.
Fajar merasa sangat bahagia, ia menepuk-nepuk punggung Nia agar Nia bisa mengutarakan seluruh perasaannya.
"Maafkan papa sayang, maaf !" ucap Fajar sambil mencium kepala putrinya yang sudah sangat ia rindukan.
"Papa jahat sekali, huwaaa" Nia masih menangis sambil memukuli dada ayahnya sekarang.
Fajar malah senang mendapat pukulan dari putrinya.
Pukulah aku semaumu asalkan nanti kamu bisa menjadi tenang. Ya Allah terimakasih karena telah mengembalikan keluargaku.
Malam itu menjadi malam yang mengharukan bagi keluarga ini, membuang ego masing-masing dan saling memaafkan.
__ADS_1