
A real man never stops trying to show a woman how much she means to him, even after he's got her ^^.
Hari Rabu yang cerah, seperti biasa penghuni bumi sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Zainal datang ke kantor kepolisian disapa oleh beberapa rekan kerjanya, ia tersenyum cerah bahkan melebihi cerahnya sinar mentari pagi. Hingga rekan kerjanya kebingungan dengan sikap Zain yang mereka anggap aneh. Karena biasanya Zain terlihat sangat kaku, mengangguk, sedikit tersenyum dan berlalu pergi itulah yang Zain lakukan ketika rekan kerjanya menyapa, ia tidak terlalu peduli pada sekitar ia hanya melakukan pekerjaannya dengan baik. Tapi apa yang terjadi sekarang ? Atasan yang se kaku es ? Apakah es itu mulai mencair ? Mereka mulai berbisik tentang pernikahan Zain yang dilakukan secara sederhana mungkinkah atasan mereka itu sedang jatuh cinta ? Haha cinta memang bisa membuat orang terlihat bodoh.
Zainal mendengar bahwa rekan kerjanya bergosip tentangnya tapi ia tidak peduli, ia tidak ingin kebahagiaan hari ini hancur hanya karena malu mendengar perkataan orang-orang disekitarnya.
Zain membuka lembar kasus yang harus ia selidiki, tapi pikirannya tetap tertuju pada istrinya ia tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Mengingat kejadian kemarin Zain kembali tersenyum, pipinya menjadi merah, ia menggelengkan kepala beberapa kali agar bisa fokus bekerja.
Ah aku pasti sudah gila, aku merindukannya dan ingin segera pulang. Ngomong-ngomong apakah Mariam juga memikirkanku sekarang ?
Zain tersenyum lagi tanpa memperdulikan orang lain yang tertawa menatapnya.
Imut ? haha aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan senang mendapat pagilan seperti itu. Hah semoga dia tidak nangis lagi !
Zain terus memikirkan tentang istrinya, ia kembali merasa marah ketika mengingat laki-laki yang mengaku menjadi pacar Mariam.
Sial, mereka tidak sedang berduaankan sekarang ? Apakah aku meminta Mariam pindah kuliah saja ? Ahh tapi kalau nanti dia marah padaku bagaimana ?
Tanpa sadar Zain meremas dokumen dihadapannya.
Rekan kerjanya saling bertatap pandang. Apa yang terjadi pada atasan mereka, tadi terlihat sangat bahagia sekarang terlihat sangat marah. Mereka jadi penasaran dengan istri Ketua Kepolisian, wanita sehebat apakah yang bisa membuat laki-laki tanpa ekspresi seperti Zainal bisa menunjukkan perasaannya. Mereka merasa sedikit terhibur setidaknya kantor tidak akan terasa sangat menegangkan, ternyata bos baru mereka juga manusia biasa.
°°°°°
Jam makan siang tiba, Mariam pergi kekantin untuk makan. Ia berusaha mencari teman agar tidak sendirian. Mariam duduk sendirian sambil makan, dilihatnya sms dari suaminya.
*Jangan pulang sendirian, mulai sekarang akan aku jemput.
Apa-apa an ini, bukankah dia polisi yang super sibuk ? Kenapa sekarang ia malah mau menjemputku setiap hari ?
Bagaimanapun juga Mariam merasa senang, karena ia merasa selangkah lebih dekat pada suaminya, sepertinya Zain mendengarkan ucapannya agar tidak bekerja terlalu keras. Hhhh mungkin nanti mereka harus membicarakan tentang masa depan, Mariam tidak ingin punya anak dulu karena ia sibuk kuliah, nanti tidak ada yang mengurus anak mereka. Apalagi setelah Nia bercerita bahwa hamil di usia muda itu sangat menyeramkan, sama sekali tidak bisa bebas melakukan apapun apalagi kalau suaminya over protektif seperti Farhan.
Ngomong-ngomong apakah Zain juga tipe suami yang posesif ? Sepertinya sih iya mengingat kejadian kemarin, kecemburuan yang tak berasalan. Apakah Kak Ardan baik-baik saja ? Sepertinya ia harus meminta maaf jika bisa bertemu.
__ADS_1
"Hay boleh aku duduk disini ?" Sapaan ardan mengagetkan Mariam.
"Ah tentu !" ucap Mariam gugup.
Kebetual apa ini ? baru saja Mariam memikirkan Ardan dan sekarang orang ini malah datang kehadapannya. (Kebetulan author ingin menyelesaikan kesalah pahaman kalian hihi^^)
Ardan tersenyum dan duduk di hadapan Mariam.
"Yang kemarin aku minta maaf apakah kamu baik-baik saja ?" Ucap Mariam khawatir sekaligus merasa bersalah.
"Yah lumayan, yang kemarin itu apakah dia suamimu ?" tanya Ardan penasaran.
Mariam mengangguk "Iya, maaf aku tidak memberi tahumu dulu" ia merasa sangat bersalah.
"Apakah kamu mencintainya ? Kenapa kalian tiba-tiba menikah ? Kelihatannya dia kasar sekali dia tidak memukulmu juga kan ? Apakah kamu bahagia ? Kalau tidak ...." Ardan mulai panik tanpa sadar pertanyaan itu mucul begitu saja.
"Tenang Kak Ardan, aku baik-baik saja, tanpa sepengetahuanku ayah menjodohkan kami ketika kami masih kecil, Ayahku sudah meninggal, tapi perjodohan ini tidak bisa dihentikan begitu saja ini adalah keinginan Ayahku. Abang Zain baru lulus kuliah, sekarang ia bekerja disini, dan Ayahnya meminta kami untuk segera menikah jadi aku tidak punya pilihan lain selain menikah dengannya." Mariam berusaha menjelaskan masalahnya.
Ardan ikut bingung, tapi ia bisa mengerti bahwa Mariam tidak meninggalkannya dengan sengaja. "Apakah kamu mencintainya ?" tanya Ardan berharap bahwa Mariam akan mengatakan hal sebaliknya.
"Lalu bagaimana denganku ? Aku mencintaimu Mariam, bukankah kita saling mencintai ? Jika kamu mau aku bisa menikahimu sekarang juga, ceraikan pria itu dan menikahlah denganku !" ucap Ardan merasa frustasi ia tidak punya pilihan lain ia tidak ingin kehilangan seseorang yang ia cintai.
"Maaf kak, aku tidak bisa, aku sudah menikah dan aku tidak ingin bercerai aku ingin membuat orang tuaku bahagia, aku harap kakak juga bisa menikah dengan orang yang baik nanti !" ucap Mariam merasa bersalah.
"Apakah kebahagiaanku tidak penting untukmu, bahkan semalaman aku tidak bisa tidur, tidak bisakah kita menjadi egois walau hanya sekali ?" ucap Ardan merasa sangat marah dan sedih.
Mariam mulai meneteskan air mata bagaimanapun juga ia pernah mencintai laki-laki ini, semua ucapan ibunya benar bahwa tidak boleh bermain dengan perasaan sebelum menikah. Inilah yang terjadi jika tidak berjodoh maka salah satu dari mereka akan tersakiti. "Maaf, maafkan aku !" Mariam tidak berani memberi penjelasan lebih panjang, semua kesalahannya karena telah memberi harapan.
"Hey jangan menangis, ini bukan salahmu. Seharusnya aku sadar dan berhenti semua terlalu mendadak untukku, jadi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan" Ardan mulai tenang.
"Kak Ardan adalah laki-laki yang baik, nanti ketika saatnya tiba pasti kak Ardan juga bertemu dengan jodoh yang baik, semua sudah takdir Allah kita harus menerimanya dengan lapang dada" ucap Mariam disela tangisannya.
"Tidak bisakah aku menunggumu, sekarang lakukan apapun yang kamu mau, jika suamimu berani memukulmu atau kalian tidak bisa hidup bersama, lari lah padaku, aku ingin menjadi rumahmu Mariam !" ucap Ardan mengalah.
"Tidak jangan menungguku, rumahku adalah abang Zain sekarang, aku tidak akan berlari pada kak Ardan jika memang sesuatu yang buruk itu terjadi aku akan menerimanya, mungkin itu adalah hukuman dari Allah atas dosaku karena telah menyakiti kakak !" ucap Mariam yakin.
__ADS_1
Ardan tersenyum "Kenapa kamu menjawabnya cepat sekali, sepertinya kamu sudah jatuh cinta padanya ya ?" ucap Ardan menggoda Mariam.
"Bukan, bukan seperti itu, aku hanya tidak ingin memberi harapan pada orang lain, kak Ardan juga berhak untuk bahagia. Lupakanlah aku, mulailah hidup baru yang lebih baik !" ucap Mariam jujur.
Ardan mengelus kepala Mariam untuk yang pertama kalinya. "Kamu baik sekali Mariam, aku harap kalian juga bahagia, aku akan hidup lebih baik lagi, dan menjadi laki-laki yang hebat. Aku akan membuatmu menyesal karena tidak menikah denganku." Ucap Ardan berusaha menenangkan hatinya, dengan sebuah candaan garing.
Mariam mengangguk "Bagus sekali, aku ingin melihat Kak Ardan menjadi laki-laki yang hebat dan menikah dengan wanita yang hebat, aku akan merasa cemburu dengan kebahagiaan kalian " Mariam membalas candaan Ardan dengan senang berharap bahwa laki-laki ini bisa segera mengikhlaskan hubungan mereka.
"Tentu saja aku akan membuatmu cemburu ! Kalau begitu apakah kita masih bisa berteman ?" Tanya Ardan mengubah topik pembicaraan, ia tahu bahwa sekarang ia terlihat sangat menyedihkan tapi ia berusaha bersikap tenang dihadapan gadis yang ia cintai. Agar Mariam tidak merasa bersalah padanya.
Mariam sedikit berfikir ia tidak yakin bisa berteman tanpa memiliki perasaan apapun apalagi jika suaminya mengetahui hal ini, pasti ia akan jadi cemburu. "Maaf kamu tahukan suamiku posesif sekali aku tidak yakin kita bisa berteman !" ucap Mariam merasa tidak enak hati.
Ardan menarik nafas panjang dan berusaha tersenyum. "Hah lihatkan seharusnya kamu memilihku dari pada laki-laki itu ! Tapi melihatmu memikirkan perasaanya membuatku sedikit sedih. " ucap Ardan.
Mariam kebingungan "Maaf aku tidak bermaksud begitu ..."
"Haha aku bisa mengerti Mariam, hiduplah dengan baik dan jangan sampai menangis kalau itu terjadi aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan pada suamimu !"
Mariam bingung memangnya apa yang akan ia lakukan ? "Apa ? kalian tidak boleh bertengkar, kamu pasti kalah dia seorang polisi tahu !" ucap Mariam bangga.
"Kamu tidak pernah tahu seperti apa kekuatan uang, aku ini sangat kaya raya aku pastikan kamu akan menyesal, jadi satu pilihan terakhir tinggalkan suamimu dan menikah denganku !" goda Ardan lagi.
"Aku bilang aku tidak mau !" Mariam menggelengkan kepalanya sekuat tenaga. Siapa juga yang peduli dengan uang, suaminya juga cukup kaya kok.
Ardan tertawa melihat tingkah konyol Mariam, ia tidak sampai hati untuk marah. Ia berusaha meyakinkan hatinya bahwa semua akan baik-baik saja.
Aku kan Ardan Hartadi, aku tampan, pintar, dan kaya setiap wanita pasti akan menyukaiku.
Ardan berusaha menghibur dirinya sendiri. (Padahal udah ditolak dua wanita, masih pd banget nih anak ^^)
Extra :
*Perkataan dan kenyataan berbanding terbalik, Ardan kehilangan nafsu makannya dan selalu menangis sendirian.(Ardan ingin banget memukul author gj.)
*Farhan dan Nia menikmati waktu santai mereka dirumah, tanpa memikirkan apapun kecuali kebahagiaan yang mereka rasakan menunggu buah hati lahir kedunia. (Horang kaya bisa melakukan apapun.)
__ADS_1
Selamat membaca ! Jangan lupa like, comen, dan vote, author akan sangat berterimakasih atas kebaikan hati para pembaca, thank you^^