
A Perfect Marriage is Just Two Imperfect People Who Refuse To Give Up On Each Other.
Pernikahan, bukankah kata yang indah untuk menggambarkan, kebahagiaan dua orang yang saling ingin membangun sebuah hubungan atas nama Allah.
Harusnya setiap orang akan merasa bahagia dengan pernikahannya, menjadi putri walau hanya sehari, memiliki teman hidup untuk menjalani setiap waktu bersama senang maupun sedih, sehat maupun sakit.
Mariam tidak tahu apa yang ia rasakan sekarang haruskah ia merasa sedih karena harus menikahi seseorang yang tidak ia cintai ? Tapi melihat wajah Zain yang kini sudah resmi menjadi suaminya, membuat hatinya sedikit tenang, setidaknya pernikahannya berjalan lancar, meskipun Zain tidak mencintainya, setidaknya Zain juga tidak membencinya. Itu sudah cukup untuk membuat Mariam lega, setidaknya masih ada kesempatan untuk mereka menjalin hubungan.
Fall in Love after married thats sound good !
Mariam tersenyum menghibur diri, untung saja ia memakai cadar sehingga tidak ada orang yang mengetahui perasaannya saat ini.
Nia juga datang bersama Farhan, karena Mariam adalah sahabatnya sedangkan Farhan adalah bos dari kakak Mariam.
Mariam senang dengan kehadiran Nia merekapun berbincang sambil menikmati kue yang disuguhkan. Sedangkan Farhan juga sibuk berbincang dengan Kakak Mariam dan rekan bisnis yang lain.
Zain duduk disamping Mariam, tentu saja akan terasa aneh kalau Zain meninggalkan istrinya sendirian. Mariam memperkenalkan suaminya pada sahabatnya itu, merekapun berjabat tangan dan tersenyum sopan.
Nia berbisik pada Mariam yang ada disampingnya "Suamimu ganteng" ucapnya lirih. Nia senang bisa melihat wajah merah Mariam karena tersipu malu.
Nia menatap Zain ia ingin mengobrol sedikit dengannya karena tidak pantas juga kalau ia tidak mengajaknya mengobrol sama sekali.
"Mariam cerita banyak tentang kamu, kalian teman dari kecil ya ?" Tanya Nia hanya untuk basa-basi.
"Iya, kita bertemu beberapa waktu" Jawab Zain singkat dan jelas.
"Apakah dari dulu kamu menyukai Mariam ?" Nia mulai kepo.
"Aku tidak tahu, aku tidak ingat" Jawabnya terasa dingin ditelingan Nia dan Mariam.
"Emmz begitu ya, padahal dengan wajah secantik ini, dan hati sebaik bidadari pasti semua orang akan sulit melupakannya" Ucap Nia ingin menggoda.
Mariam mencubit paha Nia karena merasa gemas dan malu dengan ucapan sahabatnya yang terlalu berlebihan itu.
"Begitukah ?" Zain melirik Mariam "Mungkin setelah ini aku tidak akan mudah melupakannya!" Ucap Zain lalu tersenyum, terlihat lesung pipinya yang terlihat sangat manis.
Mariam menunduk karena malu, tapi dalam hatinya yang terdalam ia senang dengan ucapan suaminya, bukankah itu sebuah pujian.
Nia ikut tersenyum senang melihat pasangan baru ini "Ehem, tentu saja kamu tidak boleh melupakannya karena Mariam sangat berharga !" Ucap Nia mantap ia ingin memberitahu Zain kalau Mariam adalah wanita yang spesial yang harus dijaga dengan sebaik mungkin.
Zain tertawa lalu menatap Mariam "Sepertinya temanmu sangat baik" ucap Zain pada Mariam.
__ADS_1
Nia segera menyahut tidak mau kalah "Kamu salah, Mariam seribu kali lebih baik dari pada aku, jadi awas saja kalau kamu membuatnya menangis !" Acaman Nia mampu membuat Zain tertawa.
"Haha ternyata menyeramkan juga" Ucap Zain mengikuti gurauan teman istrinya itu.
Nia juga ikut tertawa karena sepertinya Zain adalah orang yang menyenangkan ia berharap Zain adalah jodoh yang tepat untuk Mariam.
Mariam melihat kedekatan suami dan sahabatnya itu, perasaannya aneh, kenapa, apakah ia cemburu ? Ia merasa tidak nyaman.
Seandainya aku bisa seperti Kak Nia, mungkin suamiku akan mencintaiku. Aku yang pendiam ini tidak seru sama sekali membosankan, sekarang aku tahu kenapa Kak Ardan dulu juga menyukai Kak Nia.
Perasaan iri mulai tumbuh dihati Mariam, entah kenapa ia merasa sedikit benci pada sahabatnya itu, Nia bisa memiliki segalanya cantik, pintar, suami yang sempurna, bahkan ia bisa dengan mudah berkomunikasi dengan orang lain. Apakah ini kesalahan Nia ? Mungkin saja Nia hanyalah gadis yang beruntung.
"Mariam, ayo makan dari tadi kamu gak makan apa-apa!" Ucap Nia sambil menyondorkan piring yang berisi berbagai jenis kue.
Mariam menatap Nia tanpa ekspresi.
Nia tersenyum "Kuenya enak sekali, nafsu makanku jadi bertambah hehe" Nia kembali mengambil kue untuk ia makan, entah berapa banyak yang telah ia makan, karena perasaanya sangat senang hari ini ia hanya mengikuti keinginannya untuk makan.
Mariam ternyum melihat Nia yang lahap sekali. Ia tersenyum lalu menggeleng.
Aku tidak bisa membencinya, Kak Nia sangat baik, tidak seharusnya aku merasa iri, karena kekuranganku sendiri aku tidak berhak untuk membencinya.
Mariam tersadar dari lamunanya iapun mengambil satu potong kue dan memakannya. Ia menatap Zain yang juga menikmati makanannya.
°°°°°
Pesta selesai rasanya capek sekali, Mariam menginap di rumah mertuanya hari ini, karena masih belum membereskan rumah yang baru.
Rumahnya cukup sederhana tidak terlihat seperti rumah orang kaya, 3 kamar tidur dan 2 kamar mandi satu dikamar orang tua Zain dan satu ada di samping dapur, ruang tamu yang sedikit besar dan dapur, tidak jauh berbeda dengan rumah Mariam.
Zain mengantar mariam untuk masuk kedalan kamarnya, meminta istrinya untuk istirahat dulu sedangkan ia pergi mandi.
Mariam menatap sekeliling kamar, ruangan berukuran 3×3 m, satu ranjang ukuran sedang cukup untuk tidur 2 orang, lemari dua pintu disisi kanan ranjang, dan satu meja belajar disampingnya. Kamarnya sangat sederhana dengan nuansa putih dan abu-abu. Untuk ukuran seorang pria kamar ini terlalu bersih.
Mariam beralih pandang pada figura yang terpasang di dinding kamar. Foto piagam yang Zain dapatkan saat dulu sedang sekolah, dan saat trainingnya sebagai polisi, beberapa foto saat kelulusan dan ada foto bersama teman-temannya saat memakai baju tentara juga. Mariam mengagumi betapa hebatnya suaminya itu.
Bayangan sekilas saat insiden di pasar itu pun muncul lagi ketika Zain menembak perampok itu, Mariam dengan jelas menatap wajah Zain, benar itu dia, suaminya terlihat sangat berbeda ketika memakai seragam dan topi kepolisian.
Zainpun masuk kekamar mengagetkan istrinya. "Maaf aku sudah selesai, kamu mau mandi sekarang ?" tanyanya kemudian .
"Ah iya !" Mariam bergegas ingin kekamar mandi, tapi didepan pintu ia menghentikan langkahnya karena lupa akan sesuatu. Ia pun menoleh kearah suaminya.
__ADS_1
"Ada apa ?" tanya Zain bingung.
"Aku tidak bawa baju ganti dan handuknya ?" ucap Mariam malu.
"Oh, sebentar aku pinjamkan pada umi" Zain keluar kamar dan pergi kekamar orang tuanya sedangkan Mariam menunggu didepan kamar suaminya.
'Aduh memalukan sekali' ucap Mariam dalam hati.
Sesaat kemudian Zain datang dengan membawa piama panjang ia memberikannya pada istrinya. "Handuknya, ada di gantungan depan kamar mandi, yang warna biru milikku kamu bisa menggunakan itu" ucap Zain memberi penjelasan.
"Baik, terimakasih" ucap Mariam dan segera pergi kekamar mandi.
Zain tersenyum dan kembali kekamarnya.
Mariam mandi sambil melamun memandangi handuk biru yang sudah tergantung di tembok kamar mandi, ia berfikir tentang sesuatu.
'Handuknya masih basah, itu artinya sekarang kita berbagi handuk. Lalu .... nanti kita akan berbagi apa lagi ...? ahhh'
Mariam memeluk handuk itu, berusaha menetralkan pikirannya.
'Tidak akan ada yang terjadi, Zain pasti capek, kita juga tidak saling mencintai, jadi seharusnya tidak akan terjadi apapun'
Mariam berusaha untuk tenang, ia masih belum siap untuk berhubungan suami istri, iapun berjalan kekamar perlahan.
Benar saja Zain sudah berbaring dikasur memejamkan matanya.
Mariam bingung apa yang harus ia lakukan, rambut panjangnya masih basah apakah ia harus tidur begitu saja ? Sebenarnya ia sangat malu karena untuk pertama kalinya menunjukkan tubuhnya yang terbuka pada orang lain yah meskipun hanya sedikit sih.
Beberapa menit Mariam diam menggosok-gosok rambutnya dengan handuk agar bisa sedikit kering. Suaminya tidak bergerak sedikitpun, mungkin ia sangat kecapek an. Akhirnya mariam memutuskan untuk berbaring disisinya setelah menaruh handuk dan mematikan lampu.
Mariam menatap langit-langit yang terlihat samar-samar. Ia bisa mendengar suara nafas suaminya yang lembut, Mariam mencoba mengintip sedikit wajah Zain saat tertidur terlihat ....? ya, suaminya sangat tampan. Mariam membalikkan tubuhnya membelakangi tubuh suaminya.
'Kalau gugup begini bagaimana aku bisa tidur?'
Mariam sedih dengan nasipnya ia merindukan ibu dan kakanya.
Satu menit kemudian.
Mariam sudah terlelap dalam mimpinya, karena banyak sekali kegiatan yang ia lakukan hari ini, jadi tanpa sadar tubuhnya memintanya untuk istirahat.
Wow selamat ya buat pengantin baru, semoga jadi keluarga yang berbahagia !! Hehe^^
__ADS_1