KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Pain


__ADS_3

Farhan's


Kamu berfikir bahwa dirimu kuat ketika kamu ingin menangis tapi kamu tidak melakukannya. Ini adalah penyiksaan bagiku ketika tidak mampu berbuat apapun untuk menolongmu !


Pagi mulai datang, aku membuka mataku dan melihat Nia masih tertidur didekapanku. Aku menatapnya seperti ada sesuatu yang hilang ia benar-benar tidak menangis semalam. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, jika memang Pak Fajar adalah ayahnya bukankah seharusnya dia senang. Kemarin ia sangat antusias ketika berfikir bahwa seandainya dia adalah anaknya. Tapi ucapannya terdengar sangat marah tatapannya kemarin untuk pertama kalinya aku melihat Nia yang seperti itu. Apakah ada sebuah rahasia yang belum aku ketahui ?


Aku membelai rambut Nia, mengecupnya beberapa kali dengan lembut. Ia pun membuka matanya dan menatapku, akupun tersenyum melihatnya.


"Sudah pagi ayo bangun !" ucapku .


Ia memelukku semakin erat, "Ah rasanya malas sekali aku masih ingin tidur"


"Kita harus mandi, lalu sholat nanti kamu boleh tidur lagi" ucapku sambil membelai rambutnya. Tidak ada jawaban dari Nia, apakah ia sudah tertidur lagi ? Akupun tersenyum dan berbisik ditelinganya "Mau aku mandikan ?" ia masih tidak menjawab, akupun menggigit telinganya tentu saja pipinya langsung memerah haha.


"Ih geli tau jangan gigit-gigit dong" ucapnya sambil mendorong wajahku untuk menjauh. Aku mengenggam tanganya agar berhenti, mengecup matanya agar ia bangun. "Haha hentikan kamu jadi kayak kucing tahu nggak !"


"Nggak mau, kamu aja yang menghentikanku!" ucapku dengan senyum penuh makna.


"Ah dasar !" Nia segera bangun dan berlari menuju kamar mandi, akupun mengikutinya haha tawa kami kembali memenuhi ruangan seakan lupa dengan apa yang telah terjadi kemarin.


Tiga hari berlalu setelah kejadian itu, Nia tidak pernah cerita apapun, meskipun aku penasaran aku tidak berani untuk bertanya padanya, menunggu waktu yang tepat itu lah yang aku pikirkan.


Sepertinya akhir-akhir ini Nia jadi sibuk belajar apakah karena ia ingin menghindar dari pembicaraan tentang ayahnya.


Hari ini aku sengaja pulang lebih awal, Nia terkejut karena melihatku sudah ada di dalam kamar.


"Kamu sudah pulang ? kenapa nggak kasih tau ?" tanya Nia sambil meletakkan tasnya.


"Sini !" ucapku sambil menepuk tempat kosong di sofa yang aku duduki. Niapun tersenyum dan duduk disampingku. Akupun menciumnya "Tentu saja karena aku merindukanmu ".


"Haha sepertinya Tuan Farhan tidak ada banyak kerjaan ya ?" ucapnya menggodaku.


"Haha apakah kamu ingin aku memikirkan pekerjaan saat bersamamu!" Aku membuka cadarnya dan minciuminya sekarang. Nia tidak banyak melawan ia hanya melayaniku sakarang hehe.


Setelah makan malam, Nia duduk di meja kerjaku dan belajar, dia selalu saja begitu padahal ada banyak hal yang ingin aku tanyakan. Haha tiba-tiba saja aku ingin mengganggunya. Aku duduk di kursiku sendiri, meletakkan wajahku ditanganku yang sudah bertumpu pada meja dengan serius memperhatikannya yang sedang belajar, sial sudah 10 menit dia tidak peduli dan fokus belajar.


"Sayang !" panggilku dengan mesra


"Hem !" ucapnya masuh tidak mau menatapku.


"Kenapa kamu selalu sibuk belajar sih, padahal aku sedang disini loh " ucapku berharap dia akan lebih memilihku dari pada belajar.


"Sebentar lagi ujian, nilaiku terus turun kalau ujian kali ini nilaiku jelek mungkin beasiswaku akan di cabut!" jawabnya masih tanpa memandangku.

__ADS_1


"Biarkan saja nanti aku yang akan membayarnya, kamu kan istriku sekarang ya!"


"Tidak mau, aku akan kuliah dengan usahaku sendiri, aku tidak ingin bergantung padamu!" Apa maksudnya membuatku marah saja.


"Apa maksudmu tidak ingin bergantung padaku ? Aku adalah suamimu, kamu selalu saja seperti ini tidak mau menerima pertolongan orang lain sok kuat, tapi aku bukanlah orang lain kamu boleh meminta apapun padaku!" aku berteriak padanya, akhirnya ia menatapku.


"Maaf bukan itu maksudku, aku hanya ..."


"Terserahlah lakukan apapun yang kamu mau !" Aku marah dan pergi meninggalkannya lalu berbaring ditempat tidur.


Nia menghampiriku berusaha untuk membujukku agar tidak marah. "Sayang maaf, bukan itu maksudku, aku hanya ingin melakukan apapun yang aku bisa, aku tidak ingin tampak menyedihkan, gadis miskin yang hanya bisa bergantung padamu" Aku tetap diam tidak menjawab. Nia berusaha untuk menatap wajahku, aku tetap tidak mau menatapnya.


"Sayang jangan marah, kalau kamu marah aku harus bagaimana? jika kamu mengusirku aku tidak punya tempat lain untuk pergi ?" Nia pun menangis.


Akupun mengalah dan duduk "Hey dengar, siapa yang ingin mengusirmu, meskipun aku marah aku tidak akan membiarkanmu pergi " Akupun memeluknya.


"Kamu tidak mengusirku, tapi kalau kamu mendiamkanku apa yang harus kulakukan selain pergi, aku tidak punya tempat lain selain disini " ia menangis semakin keras. Aku kira dia hanya akting agar aku tidak marah tapi kenapa tangisannya terasa menyayat seperti ini.


"Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi. Aku hanya ingin merayumu agar memilihku dari pada belajar" ucapku sambil membelai rambutnya.


"Tentu saja aku memilihmu, mana mungkin ada orang yang suka belajar, aku juga tidak suka. huhu aku hanya ingin menjadi istri yang pantas untukmu bukan hanya menyenangkanmu di ranjang, tapi aku ingin orang lain juga melihatku berdiri sendiri, bukan berdiri dibalik bayanganmu " ucapnya masih menangis.


"Maaf, aku tidak tahu, apa yang ingin kamu lakukan sekarang ?" tanyaku dengan suara selembut mungkin.


"Biarkan aku kuliah dengan usahaku sendiri, aku ingin jadi sarjanah, bekerja di perusahaan besar, aku ingin orang lain melihatku bahwa aku juga keren, kalau kamu menikahiku karena aku adalah orang yang luar biasa bukan karena perasaan kasian hiks, hiks" ucapnya masih dalam isak tangisnya.


"Bohong !" ucapnya.


Akupun tersenyum "Kamu sangat keren, kamu bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain, sedangkan aku hanya hidup dalam naungan mama, aku juga tidak bisa memilih jalanku sendiri aku dilahirkan untuk meneruskan perusahaan papa, kamu juga bisa berkelahi, kamu juga bisa membuatku takut" ucapku.


"Takut ? kenapa kamu harus takut padaku ?" tanyanya lagi.


"Takut kalau kamu meninggalkanku hehe" (bohong padahal takut ditendang burungnya haha)


Tiba-tiba Nia mendorongku dan berlari duduk di sisi lain tempat tidur ia mengambil tisu dan mengelap air mata dan ingusnya haha lucu sekali. "Kamu bohong, bahkan sekarang aku pasti terlihat memalukan" jawabnya serius.


"Sudah kubilang kamu keren, sini !" Aku merentangkan tanganku agar dia kembali ke pelukanku.


"Tidak mau, kamu bahkan benci dengan ingus ku hiks-hiks" Ia menangis lagi.


Ternyata dia masih mengingat ucapanku dulu, membuatku merasa tidak enak "Aku tidak membencinya, dulu aku mengatakannya untuk menghiburmu, agar kamu tidak menangis lagi" ucapku jujur.


"Kamu jahat itu tidak menghibur sama sekali, aku sangat malu sekarang, aku pasti terlihat sangat menyedihkan" . Aku terdiam mendengarkan ucapannya, entah kenapa hatiku sakit, air mataku juga keluar kenapa ? aku tidak peduli lagi.

__ADS_1


"Maaf !" ucapku Nia pun menatapku.


"Kenapa, kamu juga ikutan menangis ?" ucapnya heran.


"Aku merasa menjadi suami yang gagal, aku tidak pernah bisa membantumu, kamu terlalu kuat hingga tidak memerlukan sandaran, kamu yang terluka tapi kamu yang berusaha menghiburku, aku bahkan tidak tahu kalau kata-kataku menyakitimu, sekarang siapa yang terlihat menyedihkan ? bukankah aku yang lebih menyedihkan ? Aku tidak pernah merendahkanmu, kamu selalu terlihat hebat dimataku, aku, Aku hanya terlalu lemah untuk bisa membuatmu merasa aman disampingku" ucapku, aku tidak berani menatap matanya.


Nia mendekat dan memelukku erat, aku menangis didekapannya, seperti seorang ibu yang sedang melindungi anaknya. Aku bahkan tidak memiliki kekuatan untuk membalas pelukannya aku hanya diam menenggelamkan wajahku di dadanya.


"Sepertinya semua hanya salah paham, aku sangat menghormatimu, kamu adalah sandaranku, aku juga sangat membutuhkanmu, bagaimana mungkin kamu berfikir sampai sejauh ini ?" Nia menangis dan menenggelamkan wajanya dirambutku.


"Kamu, aku tahu kamu merasa sedih sekarang, kamu juga tidak mau cerita tentang ayahmu, kenapa karena kamu berfikir aku tidak bisa membantumu, karena aku tidak sehebat ayahmu ?" ucapku melepaskan semua beban yang aku pikirkan selama ini.


"Kamu salah kamu tidak bisa dibandingkan denganya, kamu terlalu baik Mas Farhan, aku sangat mencintaimu" ucapnya sambil mengecup kepalaku.


"Lalu apa masalahnya kenapa kamu nggak mau cerita bukankah seharusnya kamu senang karena dia adalah ayahmu ? bukankah kamu juga ingin memiliki ayah seperti dia ?" ucapku lagi.


"Nanti aku ceritakan, sekarang berhenti menangis dulu !" ucapnya sambil mengusap air mata diwajahku.


Akupun tidak bisa menghentikan hasratku, berusaha untuk membuang semua kesedihan ini, aku mendorongnya hingga berbaring di atas kasur menciumnya dengan penuh cinta, mengahapus air matanya dengan kecupanku, kamipun melakukannya sekali lagi.


Sekarang kami berbaring bersama dibawah selimut yang hangat, aku tidak melepaskan pelukanku, Nia juga bersandar didadaku, setelah melepaskan semua beban ini sekarang kami mulai bisa berfikir jernih.


"Sayang kamu mengantuk ?" tanyaku sambil berusaha menatap wajah Nia.


"Tidak, apakah kamu sangat penasaran dengan masa laluku ?" tanyanya dan sekarang ia juga menatapku, akupun mencium keningnya lembut.


Niapun tersenyum dan kembali memejamkan matanya lalu ia mulai bercerita. "Dulu aku memang sangat berharap memiliki ayah, apalagi ketika teman-temanku mengataiku anak haram, aku berharap bahwa ayahku yang seorang polisi datang dan menangkap mereka dan menghukum mereka siapapun yang berani menghinaku" Nia tersenyum dan menatapku "Haha itu dulu saat aku masih anak-anak, bahkan Ria berani mengancam anak-anak nakal itu dengan bilang bahwa ayahnya adalah seorang polisi, sehingga anak-anak itu takut meskipun pada akhirnya mereka tahu kalau kita hanya berbohong"


Nia menarik nafas panjang aku hanya diam menatapnya. "Ketika aku mulai dewasa aku masih berharap bahwa suatu hari ayahku datang dan menjemputku untuk tinggal bersamanya, apalagi ketika kakekku meninggal, aku merasa sangat sedih semua tatapan orang seperti sedang mengasihiku aku benci itu tapi sampai akhir ayahku tidak datang. Ketika aku pindah kesini aku mulai mengenal dunia luar, tidak ada yang namanya pekerjaan mudah, tidak ada orang baik apalagi cowok haha berapa kali aku melihat orang brengsek, untungnya aku bisa bela diri aku benar-benar ingin mengahancurkan burungnya satu per satu" ia tersenyum dan menatapku.


"Kamu benar-benar menakukan ucapku, apakah itu sebabnya kamu tidak bisa mengenali wajah laki-laki ?" tanyaku kemudian.


"Haha benar, aku tidak tahu sejak kapan itu dimulai, aku bahkan masih tidak percaya kalau sekarang aku sudah menikah. Ketika melihat dunia yang menyedihkan ini terkadang aku juga memikirkan ayahku, seberapa beratnya kehidupannya sehingga tidak mampu untuk merawat anaknya sendiri, atau seberapa besar kebencianya hingga tidak mau menjengukku walau sekali saja, aku juga ingin melihat wajahnya, jika memang ia hidup sesulit itu mungkin aku tidak akan semarah ini padanya aku akan memaafkannya. Tapi ketika tahu bahwa Pak Fajar adalah ayahku, aku tidak bisa mengakuinya bagaimana mungkin orang yang begitu baik pada orang lain malah melakukan hal seperti ini pada anaknya sendiri" Nia berusaha menahan tangisnya.


Akupun memeluknya ikut merasakan kesedihannya. "Menangislah jika kamu ingin menangis aku tidak keberatan sama sekali keluarkanlah semuanya !" ucapku menenangkan.


Sesaat kemudian Nia menangis ia mencekram punggungku. "Bagaimana mungkin pria itu hidup bahagia bersama keluarganya, sedangkan aku disini menderita sambil memikirkan seberapa menderitanya dia, untuk apa juga dulu aku sangat mengaguminya, kalau tahu dia sejahat ini mungkin aku sudah mengutukinya dari dulu, aku lebih baik melihat ayahku mati dari pada melihatnya hidup bahagia seperti ini. Dan dengan mudahnya ia meminta maaf seperti itu, ia bisa mengakuiku karena aku sudah menjadi istri orang jadi dia tidak perlu merawatku lagikan hiks hiks " Nia terus menangis.


Hatiku merasa sakit karena tidak mengetahui apapun, semenderita ini kah dia ? ia selalu menyembunyikannya dengan senyuman. Aku juga ikut larut dalam kesedihanya tanpa sadar bahwa punggungku mulai berdarah karena cakaran Nia.


Keesokan harinya saat mandi bersama Nia melihat bekas cakaran dipunggungku ia jadi panik, "Kenapa punggungmu bisa terluka seperti ini ?" tanya Nia khawatir.


"Itu kemarin ada kucing yang mencakarku!" ucapku menahan tawa.

__ADS_1


"Kok bisa lain kali hati-hati ya" ucap Nia masih dalam kondisi khawatir.


Nia tidak tahu bahwa kucing itu adalah dirinya sendiri !! Hehe ^^


__ADS_2