KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Honey or Hubby ?


__ADS_3

Oh God ! what can i do ? I can't stand with whole sweet thing ^^


Memasak makan malam spesial untuk suami tercinta. Zain dan Mariam sudah mengambil baju mereka dan menyimpannya dilemari. Setelah sholat berjamaah berdua dikamar mereka, hati Mariam merasa lebih dingin, ia berfikir apakah ada kebahagiaan yang lebih indah dari ini ?


Mariam ingin membuat ayam goreng, dan capcay, ia sudah memasak nasi, dan kini waktunya memotong ayam dan membumbuinya seperti yang ibunya ajarkan. Lalu sayurnya dengan hati-hati ia memotongnya agar nanti terlihat cantik waktu disajikan dipiring saji. Ah Mariam membayangkan bagaimna wajah suaminya nanti ?


30 Menit berlalu, hah ternyata memasak tidak mudah. Mariam memanaskan minyak untuk menggoreng ayam goreng, ia tidak tahu kapan harus memasukkan ayamnya, kemudian ia ingat kata-kata ibunya 'tunggu minyaknya hingga benar-benar panas agar nanti ayam gorengnya bisa krispi dan tidak terlalu berminyak. Mariam meninggalkan wajan penggorengannya , memotong bawang untuk bumbu capcay dan beberapa sayur yang belum selesai ia potong ,sambil menunggu minyaknya panas.


Ketika Mariam yakin bahwa minyaknya sudah panas iapun memasukkan ayamnya.


Wussssh !


Asap memenuhi dapur, Mariam terbatuk beberapa kali. Ia melihat ayamnya yang sudah gosong padahal baru saja dimasukkan kedalam penggorengan, 'Kenapa apakah minyaknya terlalu panas ? Mariam bingung apa yang harus dilakukan.


Zain segera lari kedapur karena bau asap sampai kedalam kamarnya yang dekat dengan dapur. Ia melihat dapur yang dipenuhi asap ia pun segera mendekat ke arah istrinya, dan mematikan kompor. Zain menarik tangan istrinya untuk menjauh. Kemudian ia memberi intuksi untuk membuka seluruh jendela dan juga pintu agar asapnya segera keluar.


Tubuh Mariam bergetar karena takut, takut kalau suaminya akan marah.


Zain menatap istrinya lalu mendekat.


Mariam menundukkan kepalannya sambil meremas baju yang ia gunakan, memainkan kain itu menggunakan jemarinya untuk mengurangi rasa gugup. "Maaf, maaf kan aku, aku tidak tahu ketika aku memasukkan ayamnya tiba-tiba asapnya muncul !" ucap Mariam menjelaskan, ia benar-benar menyesali kesalahannya seandainya saja ia belanjar dengan sungguh-sungguh ketika ibunya memasak dulu.


"Kamu baik-baik saja ?" ucap Zain khawatir kalau istrinya terluka.


Mariam mengangguk "Maaf aku membuat semuanya berantakan !" ucap Mariam lagi masih merasa bersalah.


"Syukurlah !" Zain tidak peduli apa yang diucapkan istrinya, yang ingin ia dengar adalah bahwa istrinya baik-baik saja sekarang.


Zain meminta istrinya duduk di ruang tamu menunggu hingga asapnya menghilang. Ia mengambil air kemudian ia berikan pada istrinya. "Minum dulu !" ucapnya kemudian.


Mariam menerima gelas itu dan menghabiskan airnya. Mariam masih tidak berani memandang wajah suaminya, perasaan takut dan bersalah terus saja muncul, jika tadi terjadi kebakaran bagaimana ? Suaminya pasti akan marah besar padahal ini adalah rumah barunya.


Zain mengengam tangan istrinya. Tapi secara reflek Mariam menarik tangannya.


"Eh maaf, aku hanya masih belum terbiasa !" ucap Mariam. Ia sendiri juga terkejut kenapa ia menarik tangannya ketika suaminya menyentuhnya.


"Gpp aku bisa mengerti" Meskipun Zain sedikit kecewa, tapi ia bersikap seolah baik-baik saja. Zain melihat sekeliling rumah ternyata asapnya sudah tidak ada. Ia pun menutup pintu dan jendela depan.


"Kamu mau melihat aku masak ?" tanya Zain pada istrinya.


"Kamu bisa masak ?" tanya Mariam tidak percaya.


"Yah sedikit sih, dulu aku tinggal sendirian di Amerika jadi mau tidak mau aku harus belajar masak, tidak mungkin kan aku beli setiap hari." ucap Zain bangga.


Mariam tersenyum "Iya, ajarin saya chef !" ucap Mariam senang, ia tidak percaya bahwa suaminya sangat sempurna.


"Haha aku bukan chef, kamu membuatku gugup saja !" ucap Zain lalu berjalan kedapur.


"Anda tidak perlu gugup chef, saya tidak akan menggangu jadi anda bisa melakukanya dengan baik !" ucap Mariam terlalu senang, ia lupa kemana rasa malu dan bersalahnya pergi.


Zain tidak bisa menahan tawanya. Ia melihat penggorengan yang sudah tidak bisa tertolong, ayam yang hitam juga wajannya yang gosong, minyak ada dimana-mana untung saja istrinya tidak terluka.

__ADS_1


Mariam juga melihat penggorengan itu, apa yang telah ia lakukan memalukan.


"Sepertinya kita harus membesihkan dapurnya terlebih dahulu !" ucap Zain sambil menatap istrinya.


Mariam tersenyum aneh "Hehe baik chef" ucapnya lalu mengambil sebuah kain dan membasahinya dengan air untuk mengelap meja dapur yang berminyak.


Sedangkan Zain membuang minyak yang ada di wajan penggorengan itu, lalu mencucinya bersih.


Tidak lama akhirnya dapur terlihat bersih lagi.


"Kamu mau masak apa ?" tanya Zain, ketika melihat sayur yang sudah dipotong oleh istrinya.


"Capcay dan ayam goreng, tapi ayamnya sudah tidak tertolong" ucap Mariam sedih.


" Emmz, kalau gitu kita masak capcay dan omlet telur saja" ucap Zain memberi solusi.


"Ide bagus chef" ucap Mariam senang.


Zain kembali menyentil dahi istrinya "Kamu ingin menggodaku ya berhenti memanggilku chef" ucap Zain tidak terima.


Mariam mengelus dahinya yang sudah memerah "Kenapa chef jahat sekali, meskipun anda polisi tapi anda tidak boleh melakukan kekerasan pada seorang istri ini namanya KDRT nanti aku laporkan ke pak RT loh" ucap Mariam ingin memberontak ia tidak mau diperlakukan seenaknya oleh sang suami.


Zain tidak merasa bersalah malah tertawa. "Sini aku pukul lagi, sudah kubilang berhenti memanggilku chef" ucap Zain sambil menjentikkan telunjuknya agar istrinya mendekat.


Mariam mendekat dengan menutupi dahinya dengan telapak tangannya. "Kenapa anda tidak mau dipanggil chef, sebutan itu kan keren sekali" ucap Mariam berekting sedih, entah sejak kapan ia merasa tidak takut dengan suaminya ia malah mengikuti adegan di drama tv yang selalu ia tonton bersikap imut agar dicintai oleh suami.


"Hey Mariam berhenti menggodaku, atau kamu akan mendapatkan hukuman yang berat" ucap Zain sambil tersenyum mengancam.


"Saya tidak pernah menggoda anda, anda benar-benar keren. Chef semangat !" ucap Mariam masih tidak mau berhenti.


Zain mengambil wajan penggorengan dan menyalakan api, memberikan sedikit minyak untuk membuat omlet.


"Ambilkan 3 butir telur !" ucap Zain.


"Baik chef !" Mariam segera berlari mengambil telur didalam kulkas.


Zain menerima telur itu dan memecahkannya kedalam mangkuk memberikan sedikit garam dan mengocoknya, lalu memasukkannya pada wajan penggorengan.


"Ambilkan 2 piring" ucap Zain.


"Baik chef !" Mariam segera mengambil piring, ia menikmati perannya sebagai asisten koki.


Zain memotong telur itu menjadi dua bagian dan meletakkannya dikedua piring.


Zain kembali memanaskan wajan penggorengan untuk membuat capcaynya. Mariam memperhatikannya dengan seksama. Zain memasukkan Bawang putih yang sudah dihaluskan, wortel, brokoli, koli flowers, kemudian memberikan sedikit garam dan lada hitam terakhir Zain memasukkan sawi putihnya dan beberapa irisan sosis, mencampurkan semua bahan dan menunggu hingga matang.


Mariam melihatnya dengan mata yang berbinar.


Sudah matang Zain meletakkan sebagian ke dalam piring di atas omlet tadi karena ia memasak terlalu banyak.


"Tolong ambilkan saos !" ucap Zain kembali memerintah istrinya.

__ADS_1


"Baik chef !" Mariam masih sangat bersemangat menjalani perannya.


Zain mengambil sambal saos itu dan menggambar garis zig zag diatas capjay. Tentu saja cantik sekali, setiap orang pasti ingin memakannya. "Yup ready !" ucap Zain dengan bangga.


"Wah chef hebat sekali" ucap Mariam dengan pandangan mengagumi.


Merekapun menggambil nasi dan membawa piring masing-masing ke atas meja makan.


Mariam memakannya, satu suapan pertama rasanya seperti meleleh dimulut. Benarkah karena masakan suaminya yang enak atau rasa cintanya pada suaminya hingga masakan itu terasa sangat enak ? "Chef rasanya enak sekali, aku pasti sangat bahagia kalau makan masakan chef setiap hari" ucap Mariam senang.


Zain tersenyum karena usahanya tidak sia-sia. "Hey kamu kan istrinya, seharusnya yang masak itu kamu !" ucap Zain tidak mau kalah.


Mariam cemberut, ia tidak yakin bisa masak kelihatannya mudah tapi prakteknya sangat sulit.


"Ada apa ini ? Kamu tidak mau memasak untuk suamimu ?" Ucap Zain ingin menggoda istrinya.


"Iya-iya nanti mungkin aku harus ikut kursus memasak" ucap Mariam malas.


"Bagus, tidak seharusnya kamu menyerah hanya dengan sekali mencoba !" ucap Zain memberi semangat.


Mariam menatap suaminya.


Zain ikut menatap istrinya dan tersenyum "Kamu pasti bisa, aku tidak sabar ingin makan masakanmu" ucap Zain lagi memberikan the best power untuk istrinya.


Mariam mengangguk lalu tersenyum "Aku tidak akan mengecewakanmu chef" ucapnya kembali bersemangat.


Haha mudah sekali membuat gadis ini berubah pikiran. "Berhenti memangilku chef kenapa kamu tidak mencoba memanggilku honey atau hubby ?"


Wajah mariam menjadi merah padam karena malu. Ia tidak menjawab dan memakan makanannya dengan lahap.


Zain tertawa melihat istrinya "Ayolah coba panggil aku honey, dan aku akan memasak setiap hari untukmu" ucap Zain masih ingin menggoda istrinya.


"Tidak mau chef jahat !" ucap Mariam karena Zain terus memaksanya untuk memanggil nama sebutanya.


"Bukan chef, hubby, H.U.B.B.Y ! coba panggil sekali saja !" ucap Zain sambil menganti suaranya dengan sok imut.


Mariam tersedak karena tingkah suaminya yang tidak tahu malu.


Zain segera mengambilkan air minum untuk istrinya "Kamu baik-baik saja ?" ucap Zain karena khawatir.


Mariam segera meminum air di gelas itu.


"Sudah baikan kan ?" Tanya Zain lagi, sambil wajahnya mendekat ke arah istrinya.


Mariam mengangkat kepalanya, terlaku dekat wajah mereka hampir bersentuhan, untuk sesaat mereka terdiam saling memandang satu sama lain. Zain semakin mendekat ingin mencium bibir istrinya.


Mariam segera sadar dan mendorong tubuh suaminya "Pak polisi hentikan ini sangat memalukan !" ucap Mariam lalu menjauh dan menutup wajahnya yang memerah dengan telapak tangan.


"Huh !" Zain juga menutup wajahnya karena malu.


Bukannya dipanggil honey atau hubby, malah jadi Pak Polisi ? hhh malang sekali nasipku.

__ADS_1


Zain mengeluh dalam hati tapi ia masih bisa bersabar menghadapi istrinya yang masih polos itu.


Oh darling, can i call you darling ?? Hehe^^


__ADS_2