
Woman will never be as successful as men, because they have no wifes to advise them.
Setelah proses melahirkan selesai, Nia meminta dokter untuk memberikannya obat tidur. Rasanya tubuh Nia sudah mati rasa karena capek dan sakit yang luar biasa. Ia sudah melihat putranya yang lahir dengan sehat kini ia bisa istirahat dengan tenang.
Dalam tidurnya Nia bermimpi, Farhan sedang menggendong anak mereka. Berlari dan tertawa mengelilingi taman, sedangkan Nia menunggu dibawah pohon yang rindang menikmati angin yang sepoi-sepoi sambil memakan sepotong buah semangka.
Sesaat kemudian Yusuf yang sudah bisa berjalan, berlari kearahnya, sedangkan Farhan berjalan mengikutinya dari belakang. "Bunda aku lapar !" ucapnya dengan suara khas yang lucu.
"Duduk sini ! anak bunda cuci tangan dulu ya !" ucap Nia sambil mengambil sebotol air.
"Bunda, ayah juga mau cuci tangan !" ucap Farhan sambil mengulurkan tangannya.
Nia tertawa senang, setelah mencuci tangan Nia membuka bekal yang telah ia bawa dari rumah. Piknik time, mereka makan dan mengobrol dengan gembira.
Sekitar dua jam Nia tertidur, akhirnya kini ia bangun. Nia melihat Farhan berada disampingnya sedang menatapnya.
"Sayang kamu sudah bangun ? Kamu lapar ?" ucap Farhan lembut.
Nia tersenyum sambil berusa mengumpulkan seluruh nyawanya. "Dimana yusuf ?" tanya Nia seketika ia mengingat anaknya.
"Dia sedang tidur sekarang, apakah kamu baik-baik saja ? Kamu tahu seberapa khawatirnya aku ?" Ucap Farhan sedikit marah.
"Maaf, aku baik-baik saja sekarang !"
Farhan mencium kening istrinya. "Ini salahku yang terlalu cengeng, jangan lakukan itu lagi, aku tidak mau kamu kesakitan sendirian, kamu membuatku menjadi suami yang tidak berguna !"
Nia merasa bersalah, ia meraih tangan suaminya lalu ia letakkan dipipinya. "Maaf aku tidak akan melakukannya lagi, lihat sekarang aku baik-baik saja !" ucap Nia sambil menunjukkan senyum tercantiknya.
Farida masuk kedalam ruangan. "Nia kamu sudah bangun, bagaimana keadaanmu ?"ucap Farida setelah berada disamping menantunya.
"Iya ma, aku baik-baik saja !" ucap Nia.
Farida tersenyum, "Nia kamu pasti laparkan, kamu ingin makan apa? Biar Farhan yang belikan !"
"Aku mau makan bubur kacang merah !" ucap Nia.
"Hey kamu harus makan nasi !" ucap Farhan berkomentar.
"Aku nggak mau !" jawab Nia singkat.
"Sudah lah gak papa, Farhan udah belikan sana yang penting istrimu makan biar bisa memiliki tenaga lagi !" ucap Farida membela menantunya.
Farhan menarik nafas panjang, ia tidak pernah bisa menang melawan dua wanita ini. (Kebodohanmu lalu kenapa tetap melawan haha^^)
Nia tersenyum senang, lalu ia menjulurkan lidahnya, saat Farhan menatapnya. Farhan tidak merkomentar apapun dan pergi keluar ruangan.
Farida tersenyum melihat kelakuan anak dan menantunya, senangnya masa muda. Farida mulai menceritakan kejadian tadi waktu Nia sedang tidur.
__ADS_1
2 jam yang lalu.
Farida kembali keruangan dengan menggendong cucunya yang sudah dimandikan. Ia melihat Farhan sedang menangis dilantai. Farida mendekat dan menanyakan kenapa Farhan menangis.
"Ma kenapa istriku tidak mau membuka matanya !" ucap Farhan tidak mau bangun.
Farida bingung padahal tadi Nia masih bangun saat ia pergi bersama perawat yang lain untuk memandikan cucunya. "Sebentar mama panggil dokter, kamu cepat bangun malu tahu !"
"Aku nggak mau, kalau terjadi apa-apa dengan istriku gimana ? Kalau istriku tidak bangun apa yang harus aku lakukan ?" ucap Farhan menangis lebih keras.
Yusuf pun ikut menangis karena mendengar tangisan ayahnya. "Aduh anak ini, lihat nih cucuku jadi ikut menangis !" ucap Farida kesal.
Farhan tidak peduli ia tetap menangis menyesali perbuatannya kenapa tadi ia mau disuruh Nia untuk membeli makanan, seharusnya ia tetap tinggal, agar bisa menemani istrinya dalam proses melahirkan. Mungkin semuanya tidak akan seperti ini, setidaknya ia bisa melihat saat-saat terakhir istrinya.
Farida mendesah kesal, lalu keluar untuk memanggil dokter.
Farhan mulai bisa merasa tenang setelah dokter menjelaskan keadaan istrinya yang normal, Nia hanya sedang tidur karena kelelahan.
Farhan menghapus air matanya, lalu menatap seorang bayi yang menangis digendongan ibunya.
Farida memberikan bayi itu pada Farhan. "Kamu harus mengAzaninya dulu meskipun sedikit telat !"
Farhan mengangguk mengerti, digendongnya anak pertamannya itu. Ditatapnya wajah anaknya dengan penuh sayang, air matanya kembali menetes, membayangkan seberapa beratnya perjuangan istrinya demi memberikannya seorang anak. "Bismillahirrohman nirrohim, Allahuakbar Allahuakbar ..." Farhan mulai melantunkan suara Azan pertama untuk anaknya. Perasaan bahagia dan bersalah menyelimuti dirinya.
Farida menatap mereka dengan bahagia, hingga ia juga ikut meneteskan air mata.
"Siapa namanya ?" tanya Farida yang masih belum tahu nama cucunya.
Farhan tersenyum lalu menatap putranya."Namanya Muhamad Yusuf Trianto"
Farida tersenyum lalu mendekat kearah anaknya, menepuk pundak Farhan perlahan. "Selamat nah sekarang kamu sudah menjadi ayah, Mama yakin kamu bisa menjadi ayah yang baik, mama doakan agar kamu bisa sabar, rajin dan bekerja lebih keras lagi untuk menghidupi keluargamu !"
Farhan tersenyum "Terimakasih banyak ma !"
Mereka menikmati kebahagiaan baru ini bersama, menatap Yusuf kecil dengan penuh cinta.
Setengah jam kemudian, Farhan mulai mengeluh lagi kenapa istrinya tidak juga bangun. Ia memanggil dokter sebanyak lebih dari 5 kali, hanya untuk mengecek kondisi istrinya yang sedang tidur.
Flash back end.
Nia tersenyum mendengar cerita ibu mertuanya, ia sedikit merasa bersalah karena meminta dokter untuk memberinya obat tidur. Ia mulai merasa rindu dengan suaminya, ingin menatap wajah Farhan, suami terbaik diseluruh dunia, itulah sosok Farhan dimata Nia.
Farhan datang, dan mama berpamitan untuk pulang karena jam sudah hampir menjuk pukul 10 malam. Sebenarnya Farida juga ingin menginap tapi sudah jadi ketetapan rumah sakit bahwa hanya ada satu orang saja yang boleh menginap bersama pasien.
Farhan menyuapi istrinya untuk makan bubur kacang merah. Nia mengikuti kemauan suaminya dengan patuh.
Nia terus menatap suaminya sambil tersenyum cerah.
__ADS_1
Lama-lama Farhan menjadi risih karena ditatap terus oleh istrinya. "Kalau kamu terus menatapku seperti itu nanti wajahku bisa jadi bolong !" ucap Farhan karena malu.
"Mas tadi mama cerita padaku, aku benar-benar minta maaf, nanti anak kedua kita aku pasti akan memintamu berada disisiku !" ucap Nia manja.
Farhan tertawa karena ucapan istrinya yang terdengar lucu. "Kamu masih belum sembuh karena baru melahirkan anak pertama kita, sekarang kamu sudah merencanakan anak kedua ?" ucap Farhan sinis.
"Memangnya kenapa, apakah kamu mau punya anak satu saja ?" ucap Nia.
"Bukan seperti itu, aku hanya tidak mau kamu kesulitan seperti itu !" ucap Farhan pelan.
Nia tersenyum lalu mengerakkan tangannya memberi kode agar Farhan mendekat.
"Apa ?" Farhan mendekatkan wajahnya kearah istrinya mungkin istrinya ingin membisikkan sesuatu.
Nia meletakkan kedua tangannya dipipi suaminya agar tetap diam ditempat. Kemudian ia mencium bibir suaminya, "Aku merindukanmu !" ucap Nia lirih.
Setelah mendapat serangan mendadak, Farhan jadi lupa apa yang harus dilakukan haha.
"Darling do you miss me ?" ucap Nia manja.
Farhan menatap lekat kewajah istrinya, lalu tersenyum, membalas ciuman istrinya. "I do, i miss you so much !" Mereka kembali berciuman dengan mesra.
Suster mengetuk pintu kamar Nia, karena ini waktu untuk Nia memberikan ASI untuk anaknya.
Nia mengerti lalu melakukannya. Farhan tersenyum sambil membelai rambut istrinya. Menatap kedua orang yang paling berharga dalam hidupnya.
Setelah anaknya tertidur, suster itu mengambil Yusuf dari tangan Nia. Nia memberikannya dengan berat hati. Tapi mau bagaimana lagi Yusuf tidak boleh tidur disini.
Ketika suster ingin pergi dari ruangan, Nia menghentikannya. "Maaf sus, saya mau ketoilet bagaimana ya ?" ucap Nia malu.
Suster itu melirik Farhan dengan penuh arti lalu kembali menatap Nia "Baik, nanti saya antar kekamar mandi setelah saya menidurkan anak ini !" ucap suster itu sopan.
"Tidak perlu sus biar saya yang melakukannya !" ucap Farhan mendekat kearah Nia lalu menggendong istrinya.
"Aduh jangan aku malu !" ucap Nia sambil berusaha lepas dari gendongan suaminya.
"Aku bilang diam !" ucap Farhan tidak mau mengalah.
Suster itu tersenyum "Baiklah saya permisi dulu, selamat malam !" suster itu pergi keluar.
Farhan membawa istrinya ketoilet yang ada dikamar itu, karena ini kamar VVIP tentu saja tersedia toilet juga.
Farhan membatu istrinya melepaskan celanya lalu pergi keluar.
Nia geram, ia mengepalkan tangannya erat, karena merasa malu setengah mati, kenapa hal ini harus terjadi padanya ? LOL^^
Hore selamat buat Farhan dan Nia, semoga Yusuf gk nakal ya !! Hehe^^
__ADS_1