KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Rencana 3


__ADS_3

Nia's


A Friend can understand everything in your heart, even without explaining !


"Apa ? Kamu beneran bilang suka ke Ardan ?" Aku tidak sadar dan berteriak, untung saja ini diatap gedung jadi hanya ada aku dan Mariam disini. Ya tempat nongkrong kami pindah kesini, sepi dan tenang, anginya juga sejuk jadi bukan tempat yang buruk juga.


Mariam hanya mengangguk malu-malu.


Haha aku tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Mariam yang terkurung di dalam bersama Ardan kok bisa sih, jodoh ini pasti jodoh haha aku sangat antusias berharap mereka saling mencintai dan aku tidak perlu canggung jika bertemu dengan Ardan "Lalu apa jawabanya ? Apakah dia menerimamu ?" Tanyaku lagi penasaran.


"Dia tidak menjawab apa-apa tapi aku lihat dia tersenyum, tapi aku tidak mengerti artinya, setelah itu kami diam hingga sore hari sampai teman kak Ardan datang menolong kami" ucapnya tertunduk lemas.


"Haha kamu kan cantik dia juga sudah melihat wajahmu kan, mungkin dia hanya malu karena kamu yang mengatakannya duluan" jawabku menenangkan. Lalu aku tersadar kalau Ardan juga sudah punya pacar, tapi aku tidak mau bilang ke Mariam takut membuatnya kecewa bagaimana ini sudah terlajur biarkan saja lah. Tapi aku tetap merasa nggak enak apalagi pacar Ardan adalah Sinta meskipun aku tidak tahu itu Sinta yang aku kenal atau bukan, mungkin saja saat ini Ardan jadi bimbang karena tahu kalau Mariam menyukainya. Mariam kan cantik sekali, aku bahkan sampai iri padanya.


"Kak Nia !" Panggil Mariam, mengagetkanku.


"Eh ya ada apa ?" tanyaku kembali menatapnya.


"Jangan bilang kesiapapun ya apalagi ke kakakku, kalau dia tahu mungkin aku akan dihukum, kemarin aku benar-benar tidak sadar terbawa suasana, lagipula seandainya Kak Ardan menerimaku, aku juga tidak bisa pacaran dengannya. Aku malah bersyukur kemarin Kak Ardan tidak menjawab apa-apa seandainya Ia menolakku itu juga akan terasa sakit, tapi kalau seperti ini biarkan aku mencintainya dalam diam, mengadukan perasaanku pada Allah dalam setiap doaku".


Aku mengangguk mengerti. "Apakah kamu tidak boleh pacaran? keluargamu melarangnya ya ?" tanyaku sedikit penasaran.

__ADS_1


"Bukan keluargaku yang melarang, tapi Allah dalam ajaran Islam kita tidak diizinkan berpacaran. Jadi aku juga ingin mengengam hatiku sendiri, tidak ada hubungan sebelum pernikahan. Hal itu yang terus aku ucapkan jika aku mulai lupa dengan siapa diriku?"


Aku tersenyum karena pemikiran kita sama, "Wah mungkin kita ditakdirkan jadi sahabat dulu mottoku juga sama nggak ada hubungan sebelum menikah" Aku melihat Mariam yang menatapku dengan semangat menunggu kelanjutan ucapanku, akupun tertawa lalu menunduk "Tapi aku gagal aku ketemu Farhan dan lupa dengan mottoku sendiri, hiks" Aku pura-pura sedih.


Mariam menggosok punggungku pelan mungkin berusaha menenangkanku, "Yang penting sekarang kalian sudah menikah, kadang aku juga berfikir seandainya Kak Ardan juga mau menikahiku, aku akan menerimanya tidak peduli dengan seberapa susah kehidupanku kelak, aku akan membantunya berusaha mencari nafkah bersama, karena menikah adalah ibadah" ucapnya tanpa malu.


Haha aku tertawa lagi mendengarkan ia menceramahiku. Beruntungnya kamu Ardan dicintai olrh gadis sebaik ini pikirku. "Menikah adalah ibadah kok bisa ? tolong jelaskan, sepertinya kamu benar-benar sudah jatuh cinta pada Ardan" ucapku bersemangat.


Pipinya memerah tapi ia juga tidak kalah semangat menceritakan apa yang ia ketahui "Kakak tahu seandainya kita masih pacaran, semua yang kita lakukan adalah dosa, hanya memikirkannya saja dosa, apalagi menyentuhnya, menciumnya, belum yang lain lagi, kita akan mudah dikalahkan oleh nafsu. Seandainya kita sudah menikah apapun yang kita lakukan akan menjadi pahala, memandang wajah suami membuatnya betah disamping kita pahalanya sama dengan sholat, apalagi memasak untuknya, mengurusi kebutuhannya, memberikan anak untuknya, merawatnya, mengajarinya semuanya pahala, aah aku jadi ingin menikah" Mariam memegang pipinya dengan kedua tangannya hehe manis sekali. Aku baru menyadari hal ini dan kini aku semakin merasa beruntung. Kami terus saja mengobrol hingga bel masuk berbunyi.


Selesai makan malam kami mengobrol sebentar bersama mama, membicarakan tentang pesta pernikahan aku hanya nurut saja apapun itu asal bersama Farhan aku pasti akan menyukainya. Pukul 9 kami naik ke atas untuk istirahat. Farhan membaringkan tubuhnya dikasur sepertinya akhir-akhir ini pekerjaannya tidak banyak, dia juga jadi manja seperti anak kecil, dia suka menciumku tiba-tiba, dan kalau ia lagi ingin memelukku pasti aku nggak akan bisa lari meskipun sebenarnya aku suka sih tapi tetap saja kadang aku jadi nggak bisa ngerjain tugasku.


Farhan tersenyum kearahku menepuk-nepuk tempat yang kosong disebelahnya, memintaku untuk berbaring disana, ahh kenapa tiba-tiba aku teringat kata-kata Mariam tadi siang, aku menjadi semakin senang karena ternyata apa yang selama ini aku lakukan bisa dihitung sebagai pahala juga hehe.


"Sayang aku tidak sabar melihatmu memakai gaun putih" Ucapnya masih memejamkan mata menikmati sentuhanku.


"Aku juga tidak sabar, apakah aku akan terlihat cantik ? Apakah orang lain akan bilang kalau pengantinya serasi?" Aku melihat Farhan yang mulai menatapku sekarang "Ah kamu ganteng sekali gimana kalau orang-orang bilang pengantin wanitanya terlalu jelek" Aku menutup wajahku karena malu.


Farhan bangun dan memegang tanganku agar aku mau memperlihatkan wajahku, terlalu dekat ah padahal aku sudah sering seperti ini tapi tetap saja jantungku tidak kuat, meskipun melihat wajahnya setiap hari tapi rasanya seperti baru pertama kali melihatnya inikah rasanya jatuh cinta setiap hari dengan orang yang sama ? Pasti pipiku memerah sekarang, Farhan meletakkan tangannya dipipiku membuatku memejamkan mata.


"Nia, apa yang kamu pikirkan? Kamu itu cantik sekali, tidak ada orang lain secantik dirimu" dia menciumku membuatku membuka mata, mata kamipun terkunci kami saling menatap wajah Farhan terlihat sedikit cemas "Aku tidak tahu apakah aku rela melihat tatapan laki-laki lain ketika menatapmu" Farhan meletakan kepalanya dibahuku, aku tersenyum mendengar ucapannya, Farhan selalu berhasil membuatku merasa bahwa aku adalah wanita yang paling berharga. Akupun membelai rambutnya. "Jangan tersenyum pada orang lain, jangan menyapa mereka , hanya diam berdiri disampingku" ucapnya memberi perintah tapi kepalanya masih tenggelam dibahuku.

__ADS_1


Akupun tertawa "Baik aku akan terus berdiri disampingmu, dan tidak akan melihat laki-laki lain" Farhan mendongkakan wajahnya akupun tersenyum dan mengecup bibirnya lembut "Apakah kamu tahu aku tidak bisa melihat laki-laki lain, karena hanya kamulah satu-satunya yang kuanggap sebagai laki-laki didunia ini" Aku tersenyum malu dengan ucapanku sediri, tapi itu bukan gombalan loh aku jujur.


"Bohong, kamu kan pernah bermesraan dengan cowok lain" Farhan melepaskan pelukannya dan berbaring kembali diranjang memunggungiku. Haha apa yang ia inginkan, apakah dia cemburu apakah ia ingat kejadian saat aku bersama Ardan? Atau dia hanya ingin dimanja ? Ia ingin aku membujuknya agar tidak marahkan? Aku tersenyum aku suka dengan sisi Farhan yang semperti ini, aku jadi merasa bisa melindungi seseorang dengan kekuatanku.


Aku berbaring disamping Farhan lalu membenarkan selimut kami. Aku memeluk punggungnya memberikan kecupan beberapa kali. "Aku tidak pernah mengagap Ardan sebagai pria (bohong), dia hanya teman bagiku karena dia bersikap baik itu saja, itu sebabnya aku tidak merasa canggung dihadapannya karena hatiku tidak berdebar, seperti sekarang" .


Farhanpun berbalik ke arahku yes berhasil pikirku. "Apakah saat ini kamu masih berdebar saat disampingku ?" Aku hanya menganguk tidak berani menatapnya. "Maaf karena membuatmu tidak nyaman".


Akupun menatapnya, bukan itu maksudku bodoh membuatku makin gemas saja, akupun bangun dan menciumnya, Aku berhenti dan menatapnya "Apakah kamu tidak berdebar sekarang ?"


"Aku berdebar" jawabnya.


"Apakah kamu merasa tidak nyaman ?" tanyaku lagi, ia tidak menjawab malah balik menciumku.


"Mana mungkin, rasanya nyaman sekali aku mencintaimu" Ia menatapku wajahnya juga memerah "Aku bahkan tidak perlu bermimpi lagi karena aku sudah memilikimu".


"Iiiih dasar gombal !" Jawabku malu sekaligus senang, kenapa ia terlihat keren saat mengucapkanya. Aku memukul dadanya lalu kembali ketempat tidurku, aku malu aku tidur memunggunginya. Deg! Ia memelukku dari belakang mencium leherku.


"Aku nggak gombal aku jujur". Suaranya pelan dan dalam.


Aaaaaaa! Aku tidak tahu lagi apapun yang Farhan katakan terdengar sangat manis ditelingaku. Aku tidak peduli lagi aku membiarkan jiwaku melayang, dengan angan-angan tanpa batas, lalu jatuh tenggelam kedalam lubang tanpa dasar, cinta Farhan.

__ADS_1


Akhirnya pagi datang hari baru harus dimulai, banyak yang harus dilakukan untuk persiapan pernikahan, dan nilaiku tentu saja hancur, aku tidak pernah belajar karena ada penggangu dirumah. Tapi untung saja Farhan mengerti dan tidak memarahiku, tapi aku tidak ingin kehilangan beasiswaku sebelum semester ini berakhir aku harus fokus untuk belajar.


The beautifull moment is whenever, wherever, you spent your time with your lovers ! Hehe ^^


__ADS_2