
Nia's
Tumben, ruang kesehatan terlihat sepi hari ini, tidak ada satu orang penjaga pun. Pintu tidak terkunci kami segera masuk kedalam, terlihat meja tertata dengan rapi, obat juga berjaar rapi didalam lemari kaca, dan perlatan kedokteran masih tegeletah diatas meja dipojok ruangan.
Glek! aku kembali menelan ludahku, apa yang harus aku lakukan apakah ini hari terakhirku berada didunia. Aku bahkan melupakan rasa sakit dikepalaku karena benturan ditembok tadi. Aku terus bertanya dalam diriku sendiri, siapa kah orang dibelakangku, benarkah ia sekejam itu , huhu Ya Allah tolong aku .
Aku mulai pasrah aku menuju meja pojok dan mengambil gunting yang paling besar disana , mencoba menantangnya sampai berapa besar keberaniannya. "Nih, gunakan ini untuk membunuhku". Aku mengarahkan gunting itu tepat di leherku "Lakukan seperti ini, tusuk tepat diurat nadiku" ucapku memberi penjelasan.
Farhan terlihat tersenyum mengejek "Terlalu merepotkan, lakukan saja sendiri!".
Gila dia hanya ingin menggodakukan, "Aku tidak bisa melakukannya, aku tidak memiliki keberanian sebesar itu, lagi pula aku tidak mau masuk neraka sendirian, jika kamu yang membunuhku maka aku bisa memiliki alasan untuk bangkit dari dalam kubur dan menghantuimu" ucapku panjang lebar.
Hah lihat dia hanya tertawa dan tawanya makin kencang, aku ingin sekali menendang kakinya lagi. Ia menatapku "Kamu membual apa lagi, sudah kuduga semua ucapanmu hanya omong kosong kan" Ia mengunakan telunjuknya untuk memukul kecil dahiku. Aku hanya geram tidak bisa menjawab. "Duduk!" Ia mendorongku untuk duduk di kursi plastik. Kemudian ia merjalan menuju meja untuk P3K, mengambil satu box dan berjalan kemari.
Apa yang ingin ia lakukan, aku masih belum mengerti, ia mendekat meletakkan kotak itu dimeja dekat tempat dudukku.Kemudian tersenyum padaku dan berjalan kebelakang. Ahh apa yang akan ia lakukan membuatku takut saja. "Rambutmu berantakan sekali" Ia mengambil tali rambutku yang mulai merosot, kemudian merapikan rambutku dengan tangannya, kenapa bulu kuduku jadi merinding? Sesaat kemudian ia selesai dengan pekerjaannya menggikat rambutku, kemudian ia kembali kehadapanku mengambil satu kursi lagi, sekarang kami duduk saling berhadapan.
"Darahmu tidak mau berhenti" ucapnya kemudian.
Aku tidak mengerti reflek aku melihat pundakku, benar saja ada beberapa tetes darah disana.
Farhan mulai mengelap darahku yang mulai mengering, menggunakan kapas dan alkohol, kemudian tepat lukanya juga, tentu saja aku meringis kesakitan, walau tanpa suara.
__ADS_1
Terlihat ia juga mengerutkan dahinya "Sakit?" tanyanya.
Aku tidak menjawabnya, sambil tetap mengalihkan pandanganku kearah lain. Terlalu dekat aku bahkan tidak bisa bernafas. Beberapa saat kemudian ia selesai, aku mencoba meraba dahiku yang sudah ia tempeli plaster disana. Aku menatapnya dan mengucapkan terimakasih. Ia hanya tersenyum kemudian berdiri.
Aku menarik tangannya untuk menghentikannya. "Kamu juga terluka sini aku obati!" ucapku berharap ia akan duduk kembali.
Farhan hanya tersenyum kemudian melepas tangannya, "Aku baik-baik saja, aku pergi dulu ya , kamu bisa pulang sendirikan!" ucapnya sambil berjalan pergi.
Sial beraninya dia setelah membuatku terluka, kemudian menggobatiku sekarang ia mau pergi dengan sok keren begitu. Aku berdiri dan berlari mengejarnya, setelah jarak kita cukup dekat aku melompat dan merangkul pundaknya, mengunci lehernya dalam dekapan kedua tanganku.
Reflek dia jadi menunduk, terlihat marah. "Apa yang kamu lakukan lepaskan"
"Berhenti bersikap sok keren, kamu terluka setidaknya biar kan aku mengobatimu dulu"
"Dasar anak nakal !" Aku marah dan memukuli kepalanya gemas , aku yakin itu tidak sakit, tapi sepertinya berhasil membuatnya tertawa.
"Hentikan, jika kamu tidak ingin aku menerkammu sekarang juga"
Ucapanya membuatku kaget akupun menghentikan aksiku bagaimanapun juga dia laki-laki dan tubuhnya jauh lebih besar dariku aku tidak punya keberanian untuk bisa menang melawannya. Baiklah aku harus menggunakan jurus kedua. Aku meraih tangannya dan menundukkan kepalaku dalam. "Aku tahu kesalahanku tidak dapat dimaafkan, jika kamu tidak mau memaafkannya aku akan pasrah, meskipun aku tidak bisa mengobati luka dihatimu, setidaknya biarkan aku mengobati luka ditanganmu".
"Jadi kamu mengaku berselingkuh sekarang!"
__ADS_1
"TIDAK !" ucapku sambil berteriak.
Ia pun tertawa "Seingin itu kah kamu menyentuh tanganku sekarang".
Hhh baiklah aku harus mengalah sekarang "Benar, tanganmu sangat berharga jadi tidak akan aku biarkan tanganmu terluka!" Gila! apa yang baru saja aku ucapkan.
Farhan berjalan masuk, kini ganti ia yang menarik tanganku. Ia duduk di tempatku tadi dan memberikan tangan kanannya yang terluka. "Hari ini aku mengizinkanmu untuk menyentuhnya sepuasmu" ucapnya dengan nada seperti om om penggoda.
Ihhh membuatku merinding saja akupun duduk dihadapannya, mengambil tissue dan alkohol membersihkannya seperti tadi ia membersikan lukaku. Aku melihat lukanya cukup parah, aku berfikir lagi seberapa keras ia meninjukan kepalan tangannya, seandainya yang ia pukul tadi kepalaku apa yang akan terjadi. Membayangkan lagi kesalahan terbesarku tadi seandainya aku berada diposisinya aku pasti juga akan marah. Air mataku tanpa sadar menetes, aku menunduk kepalaku dalam agar ia tidak bisa melihat air mataku.
Terlambat, sepertinya ia mengetahuinya, ia menarik tangannya dan memegang kedua pipiku berusaha melihat apa yang sedang aku lakukan. Ia tersenyum "Apakah ini jurus baru lagi, caramu untuk meyakinkanku dengan air mata?" Ucapannya sangat menusuk tapi aku tidak marah lagi sekarang, karena semua memang kesalahanku. Aku menggigit bibirku menahan isak tangis agar tidak keluar. Kembali meraih tangannya dan mengoleskan salep.
"Ahhh!" terdengar ia sedikit mengaduh.
"Maaf , pasti sakit ya" Melihatnya terluka seperti ini membuat hatiku tercabik, aku bahkan merasa tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Merasa bersalah karena ketahuan selingkuh padahal aku sendiri tidak sengaja melakukannya. Farhan aku tidak akan memintamu untuk memaafkanku lagi, memang sepertinya aku tidak cukup baik untuk bisa mendampingimu, aku tidak mau menyakitimu lagi, hiduplah dengan baik kedepannya, bertemulah dengan wanita baik dan menikah ! .Aku terus megumam dalam hati.
Aku tidak mendengar suara Farhan lagi, aku juga tidak berani untuk menoleh, kami hanya diam hanyut dalam lamunan kami masing-masing, hingga aku selesai mengobati luka di tanggannya .Aku masih terdiam sambil memandangi tangannya.
Farhan sepertinya menyadari kalau aku sudah selesai dengan pekerjaanku, ia berdiri dan beranjak pergi, melangkahkan kakinya meninggalkanku sendirian, aku masih terpaku menoleh memandang kepergiaannya.
Didepan pintu Farhan menoleh "Terimakasih sudah mengobati lukaku, dimasa depan hiduplah dengan baik jangan membuat kesalahan lagi" ia tersenyum dan melambaikan tangannya.
__ADS_1
Aku masih terdiam hingga bayangan tubuhnya pergi , aku tertunduk lemas kakiku tidak mampu menahan berat tubuhku lagi, aku terduduk dilantai tangan dan kakiku juga bertumpu pada marmer yang dingin, aku menangis, semakin lama semakin keras aku ingin membuat hatiku sedikit menjadi lega , tapi apa ini rasa bersalah terus muncul, kembali mengingat tatapan kecewa Farhan, membuatku lemah tak berdaya.
Nia kamu pantas mendapatkannya !! Hehe.