KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Sweet Hubby


__ADS_3

My Husband is one of gratest blessings from Allah. His love is a gift that I opened everyday.


Segala puji bagi Allah yang menciptakan makhluknya dengan segala bentuk keajaiban. Farhan tidak bisa mengontrol air matanya yang terus menetes. Ia melihat janin yang bergerak pelan dalam perut istrinya, ia masih tidak percaya bahwa didalam perut yang rata itu ada kehidupan baru yang akan mulai tumbuh.


Dokter melakukan pemeriksaan USG pada Nia, dokter menjelaskan bahwa kondisi janin baik-baik saja, tentu saja untuk calon orang tua baru hal ini sangatlah luar biasa dan membuat jantung siapapun berdebar.


Setelah melakukan pemeriksaan dokter menjelaskan tentang gejala-gejala saat kehamilan, dan bagaimana peran orang tua untuk bisa melewatinya dengan baik, ada beberapa makanan yang direkomendasikan terutama harus memakan banyak buah dan sayur. Dokter juga memberikan vitamin dan beberapa obat untuk mengurangi mual.


Nia tidak bisa berhenti tertawa saat ia memasuki mobil, ia masih teringat ekspresi suaminya saat melihat janin mereka, mengemaskan sekali siapa sangka laki-laki seperti Farhan akan menangis hanya karena melihat USG seperti itu.


"Kenapa kamu tertawa seperti itu, senang sekali ya ?" Ucap Farhan geram, karena ia tahu alasan istrinya terus tertawa. Farhan segera menyalakan mobil dan pergi dari parkiran itu.


"Haha, bagaimana nanti kalau aku melahirkan, pasti akan ada banyak darah apa kau akan baik-baik saja ?" ucap Nia mengejek suaminya yang cengeng.


"Aku tidak tahu" ucap Farhan dingin ia tidak mau memikirkannya sekarang, karena itu terlalu menakutkan untuk dipikirkan sekarang.


Nia berhenti tertawa karena melihat wajah suaminya yang terlihat pucat.


Apakah dia benar-benar ketakutan ?


Nia mendekatkan tubuhnya dan memeluk lengan suaminya. "Jangan khawatir semua akan baik-baik saja, kau lihat anak kita tadi ? Suara detak jantungnya keras sekali, dokter juga bilang kalau ia sehat kan !" Nia berusaha menghibur suaminya, kini usia kandungannya baru 7 minggu, ia merasa sangat bersemangat ingin segera melihat buah hatinya segera hadir didunia.


"Mulai sekarang katakan padaku semuanya, apa yang kamu inginkan , apa yang kamu rasakan, pokoknya semuanya jangan membuatku takut, kalau sakit kamu harus bilang kalau kamu sakit, mengerti !" Farhan masih sangat khawatir dengan istrinya.


"Siap bos !" ucap Nia bersemangat.


Farhan menatap istrinya sebentar ingin memastikan kalau istrinya bahagia saat ini.


Nia tersenyum sambil menunjukkan giginya.


"Ah dasar !" Farhanpun tertawa karena keimutan istrinya, ia tidak bisa membayangkan seandainya harus hidup tanpa istrinya.


"Aku lapar !" Ucap Nia dengan gaya sok imutnya.


"Baik, mau makan apa ?" ucap Farhan sambil melihat-lihat toko dipinggir jalan.


°°°°°


Malam kembali datang, keheningan kembali menyelimuti kamar Zain dan Mariam, Mariam tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Jam sudah menunjuk pukul 10 malam, tapi rasa kantuk masih belum juga hadir.


Zain masih sibuk dengan laptopnya, masih ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan, meskipun sekarang ia sedang cuti, tapi sebagai seorang polisi yang baik ia masih harus menyelesaikan kasus-kasus kejahatan yang ada di negri ini.


Mariam menatap punggung suaminya yang bidang itu, beberapa kali Zain memegang kepalanya untuk berfikir, mengalihkan layar laptop dan mengencek dari berkas satu dengan berkas lainnya. Sepertinya kopi yang Mariam buatkan sudah habis dari tadi.


Mariam berfikir apa seharusnya ia buatkan lagi ? Ternyata didunia ini tidak ada pekerjaan yang mudah. Ini sudah sangat larut tadi siang juga ia harus membersihkan rumah baru, sekarang tubuhnya kelelahan tidak biasanya ia berusaha keras seperti tadi. Biarkan saja lah lebih baik segera tidur, besok masih ada hari yang panjang yang sedang menanti untuk segera dijalani.


Jam menujuk pukul 11.30 malam. Zain merenggangkan tubuhnya yang mulai kaku karena kelamaan duduk. Ia menoleh kearah istrinya yang sedang tertidur.


Memang sudah larut malam ya ?

__ADS_1


Zain mematikan laptopnya, dan lampu kamar, iapun segera berbaring disamping istrinya.


Melihat wajah istrinya dibawah sinar rembulan yang tertutup korden, samar-samar terlihat sosok cantik itu yang telah terlelap dalam mimpi.


Zain tersenyum ia tidak percaya bahwa gadis kecil yang dulu sangat cengeng dan suka bersembunyi itu sekarang memperlihatkan wajahnya tanpa malu-malu. Rambutnya yang panjang terurai menutupi sebagian wajahnya. Zain dengan perlahan menyelipkan rambut itu kebelakang telinga.


Zain tidak bisa menahan dirinya untuk mencium istrinya itu. Satu kecupan dikening.


Mariam membuka matanya setengah sadar.


"Sssst tidurlah lagi !" ucap Zain sambil menutup mata istrinya dengan telapak tangannya.


Tidak lama Mariam sudah menutup matanya kembali.


Zain bisa menghirup nafas lega, ia memunggung wajah istrinya. Tersenyum bahagia 'Aku pasti sudah gila !' ucapnya dalam hati.


°°°°°


Sudah lewat tengah malam, bumi terasa sangat sepi waktunya untuk sebagian makluk hidup untuk beristirahat.


Nia terbangun dari tidurnya, jam menunjuk pukul satu, perutnya kembali terasa lapar padahal ia makan banyak tadi siang dan malam juga, hhh mungkin karena bayi didalam kandungannya.


Nia menatap wajah suaminya yang sedang tertidur. Ia tidak tega membangunkannya ia turun kebawah untuk mencari sesatu yang bisa dimakan.


Nia membuka kulkas dan mengambil satu buah apel, mencucinya dengan bersih dan mengigitnya. Lalu Nia membuka lemari untuk membuat susu, susu telah jadi tapi entah kenapa ia tidak ingin meminumnya, padahal siang tadi saat suaminya yang membuatnya terasa enak, kenapa sekarang melihatnya saja ia ingin muntah.


"Kenapa, kamu lapar ya ?" tanya Farhan sambil menyalakan lampu dapur. Farhan menarik tangan istrinya agar duduk di kursi meja makan. "Kenapa kamu tidak membangunkanku ?" ucap Farhan lembut ia tidak ingin marah sekarang karena takut membuat istrinya sedih.


"Bukan aku yang lapar, tapi anakmu yang lapar, hhh padahal aku ngantuk sekali tapi aku tidak bisa tidur" ucap Nia karena malu tengah malam bangun karena merasa lapar.


Farhan tersenyum dan membelai rambut istrinya "Seharusnya kamu memanggilku kalau kamu masih mengantuk, aku akan mengambilkan makanan untukmu" ucap Farhan lagi merasa kasihan terhadap istrinya.


"Tapi kamu kan juga mengantuk !" jawab Nia tidak mau kalah.


"Kita kan sudah berjanji akan melakukannya bersama !" ucap Farhan sambil mengengam tangan istrinya. Ia tersenyum lalu menggigit apel yang ada di gengaman istrinya. "Enak, pasti anak kita suka" Ucap Farhan lagi sambil tersenyum.


"Aku mau susu !" Ucap Nia


Farhan mengambilkan susu yang sudah jadi kehadapan istrinya.


"Aku gak mau yang itu, kamu harus membuatkan lagi" ucap Nia sambil mendorong susu itu untuk menjauh.


"Kenapa ?" ucap Farhan bingung.


"Itu gak enak, pokoknya aku ingin yang baru !" ucap Nia sambil menggigit apelnya lagi.


Farhanpun dengan sabar membuatkan susu yang baru. Ia mencoba rasa susu buatanya, setelah yakin dengan rasanya iapun memberikannya pada istrinya.


Nia tersenyum senang dan segera meminumnya hingga habis.

__ADS_1


Farhan bingung, lalu ia mencoba susu buatan istrinya padahal rasanya sama kenapa yang ini dia tidak mau ? Farhan geleng-geleng kepala karena bingung.


Ah pasti dedek bayinya lebih suka buatan ayah !


Kata-kata itu tiba-tiba terlintas difikirannya, yang tentu saja membuat Farhan tersenyum senang.


Farhan menunggu istrinya yang sedang makan apel, Nia menghabiskan dua apel yang besar dan segelas susu, akhirnya sekarang ia merasa kenyang dan ingin tidur lagi.


Pagi hari datang.


Seperti kemarin subuh-subuh Nia terbangun lagi dan mengeluarkan isi perutnya.


Saat ini Farhan juga terbangun, ia sudah menjadi suami dalam status siap siaga, ia dengan mudah bisa terbangun dari tidurnya.


Farhan memijat leher istrinya agar bisa mengeluarkan isi perutnya dan kembali merasa baikan.


"Kau baik-baik saja ?" tanya Farhan yang sedih melihat istrinya sedang kesakitan.


"Hah ya !" Nia mengangakat tangannya meminta di gendong kembali keatas ranjang.


Farhan hanya menuruti kemauan istrinya. Setelah meletakkan istrinya diatas ranjang Farhan ingin keluar untuk membuat teh hangat, tapi Nia menahannya.


Nia meminta suaminya untuk kembali tidur dan mengelus perutnya.


Hah, apakah proses kehamilan serumit ini ? Aku bahkan tidak bisa menebak apa yang ibu hamil ingin kan.


Farhan menarik nafas, agar bisa bersabar, ia mencium perut istrinya yang masih terbungkus kain. Lalu berbisik pada anaknya "Dedek jangan nakal ya, kasihan bunda jadi gak bisa tidur !" ucap Farhan lalu kembali mengelus perut istrinya.


Nia tersenyum,


Ternyata benar suamiku juga akan berubah 10 kali lipat lebih perhatian ketika aku sedang hamil.


Keesokan harinya.


Nia menuruni tangga dengan digandeng oleh suaminya, meskipun Nia menolak tapi Farhan tetap memaksa dan tidak mau melepaskannya.


Nia juga tidak boleh masuk kuliah sekarang, Farhan sudah membuatkan cuti kehamilan dan melahirkan selama 3 tahun, apakah ini tidak berlebihan ?


Farhan juga tidak mau berangkat kerja , ia membawa semua pekerjaan kantor untuk di kerjakan dirumah, alhasil karyawanya harus datang kerumah jika memerlukan tanda tangannya, dan menggunakan sistem online untuk melakukan meeting.


Farhan menjadi over protektif, bahkan ia tidak mengizinkan Nia makan sendirian, menyuapi istrinya menjadi hobi baru untuknya sekarang.


Terkadang Destri juga tertawa sendiri melihat kelakuan anaknya. Tentu saja membuat Nia malu setengah mati.


Kalau ini sih bukan hanya perhatian 10 kali lipat tapi 100 kali lipat, aku harus merasa senang atau kesal !


Keluh Nia dalam hati, tapi ia tidak bisa menghentikan keinginan suaminya untuk menjaganya dan juga anak mereka.


Ya Allah kok jadi aku ya yang baper !! Hehe^^

__ADS_1


__ADS_2