KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Family 3


__ADS_3

I can't promise to fix all of your problems, but i can promise you won't face all of them alone !


Aneh, seperti hujan yang terkadang datang tanpa mendung, seperti suara guntur yang datang tanpa kilat, tentu saja kita tidak akan bisa memprediksi apa yang akan terjadi dimasa depan. Berapa kali aku mengatakannya ? hhmm, mungkin ini memang catatan yang penting agar kita tidak menjadi sombong.


Nia menggerutu karena melihat suaminya yang berbaring dengan penuh keringat, Farhan berusaha menutupi kenyataan bahwa dirinya sedang sakit.


"Aneh aku yang hujan-hujanan tapi kenapa kamu yang kena demam dan flu ?" Ucap Nia mengejek.


"Hey tidak semua orang sekuat dirimu !" jawab Farhan geram dengan ucapan istrinya.


"Hhhh baik lah kamu juga manusia aku pikir kamu gak pernah sakit!" ucap Nia sambil meraih ponselnya yang ada di sofa bawah tempat tidur.


"Apa yang kamu lakukan ?" ucap Farhan seperti tau apa yang akan Nia lakukan tapi ia memilih untuk bertanya dan memastikan.


"Kamukan sakit aku panggil dokter ya !" ucap Nia sibuk dengan ponselnya mencari nama dokter Handoko.


Farhan bangun dan meraih ponsel istrinya. Membuat Nia bingung sendiri.


"Kenapa ? kamu gak mau aku panggil dokter ?" ucap Nia sambil cemberut sebenarnya ia juga khawatir dengan kondisi suaminya.


"Aku hanya demam sedikit jangan panggil dokter, nanti mama jadi cemas, diam saja besok juga akan membaik" ucap Farhan sambil kembali berbaring ke tempat tidurnya.


"Serius, kamu panas sekali, beneran karena mama bukan karena kamu takut dokter ?" ucap Nia masih ingin menggoda suaminya.


Farhan tidak menjawab ia hanya memejamkan mata, kepalanya sakit, meskipun tubuhnya panas tapi ia merasa kedinginan.


Nia mendekat, membelai rambut suaminya, ia menatap wajah suaminya yang tidak berdaya. "Apakah sakit sekali ?"


"Hemm" Farhan hanya bergumam setengah sadar.


Nia pergi kedapur, jam sudah menunjuk pukul 10 malam lampu sudah mati semua kecuali lampu kecil di dapur. Yah jam segini Bi Mina sudah selesai dan kembali kekamarnya, dan Mama pasti sudah ada dikamar. Nia mencari tempat obat untuk penurun panas akhirnya ia menemukannya. Ia pun segera mengambilnya, dan mengambil lap bersih dan baskom untuk mengompres suaminya.


Nia sudah biasa dengan hal seperti ini karena dari dulu ia hanya tinggal bersama Ria jika salah satu sakit mereka akan saling merawat, mereka tidak punya uang untuk pergi ke dokter, yah meskipun ada sih tapi hematlah ya anak kos.


Nia berusaha membangunkan suaminya untuk minum obat, tapi Farhan tidak mau bangun. 'Tidak ada cara lain' Nia berkata dalam hati meyakinkan dirinya, ia meletakkan gelas berisi air di meja sebelah tempat tidur, kemudian ia memasukkan obat penurun demam ke mulutnya sendiri dan mengunyahnya. 'Ah pahit sekali !' gerutunya dalam hati.


Nia berusaha membuka mulut Farhan dengan tangannya, lalu memasukan obat yang ada dimulutnya, kemulut suaminya seperti sedang ciuman.


Farhan yang setengah sadar hanya menyambut ciuman istrinya, lalu ia merasakan pahit dimulutnya, ia pun membuka mata dan berusaha berontak.


Nia tidak mau kalah, ia menekan dada suaminya agar berhenti bergerak, lalu menatap suaminya memberi isyarat agar diam, Nia pun menyelesaikan misinya hingga Farhan menelan semua obatnya.


Hah, huf, mereka berdua kehilangan nafas, Nia meminum air yang ada disampingnya dan menelannya, "Hah, pahit sekali" ucap Nia sambil mengatur nafasnya.


Farhan tersenyum melihat kelakuan istrinya "Aku juga mau air !" ucapnya kemudian.


Nia memberikan sisa air digelas bekas ia minum.


Farhan menggeleng dan menarik Nia agar mendekat ia mencium istrinya lagi. Tiba-tiba ia tersadar sesuatu dan melepaskan istrinya mendorong istrinya agar menjauh.

__ADS_1


"Kenapa ?" ucap Nia bingung.


"Aku sakit, jangan dekat-dekat nanti kamu tertular" Farhan menundukkan kepala "Maaf tadi aku gak sengaja".


Nia tersenyum melihat sikap imut suaminya, ah sejak kapan Farhan jadi seimut ini ? Nia memeluk suaminya, mencium kepala Farhan dengan lembut.


"Eh apa yang kamu lakukan jangan mendekat !" ucap Farhan sambil berusaha menghindar.


"Haha tenang saja aku tidak akan tertular hanya karena ini, bukankah kamu sakit biarkan aku menjadi obat untukmu hem!" Nia menatap suaminya sambil tersenyum.


Wajah Farhan memerah karena mendengar penjelasan dari istrinya, Farhanpun ikut memeluk istrinya. "Terimakasih" Lalu Farhan melepaskan pelukannya lalu bangun dari tempat tidur, dan berpindah tidur disofa.


Nia bingung dibuatnya "Hey bayi besar apa yang kamu lakukan ?" ucap Nia sambil mencolek-colek pipi suaminya agar bangun.


Farhan membuka matanya, menatap istrinya dengan tatapan sayu "Aku tahu kamu kuat, tapi tolong jangan keras kepala aku tidak ingin kamu ikut sakit !" ucap Farhan berharap istrinya akan mengerti.


"Kamu kan pasien sekarang kalau gitu kamu yang tidur diranjang, nanti aku akan tidur disofa !" ucap Nia khawatir dengan keadaan suaminya.


Farhan menggeleng "Aku kan laki-laki biar aku yang tidur disini !" Farhan tidak mau pergi dari tempatnya tidur.


Nia mulai geram dengan sikap suaminya yang keras kepala " Kalau kamu gak mau pindah keranjang aku akan tidur dilantai" ucap Nia.


Farhan sepertinya tidak mendengarkan.


"Aku hitung sampai tiga, satu, dua, ..."


Farhan segera bangun lalu pindah kembali ketempat tidur "Dasar siapa yang bisa menang darimu ?" Fajar bergumam karena kesal ia tidur dengan cemberut.


"Dingin !" ucapnya masih memejamkan mata.


'Apakah dia merasa sangat kesakitan, wajahnya pucat sekali' Nia ikut sakit melihat suaminya yang biasanya selalu cerah tapi hari ini terlihat pucat pasi. Nia menyadari kalau baju suaminya sudah basah karena keringat, iapun melepaskannya, dan mengelap keringat yang ada ditubuh suaminya juga.


Farhan mengerutkan keningnya "Berhenti, dingin sekali !" ucapnya masih setengah sadar.


Nia membelai rambut suaminya dan berbisik "Tahan ya cuma sebentar, kamu tidurlah !" Nia mencium kening suaminya.


"Hem" Farhan hanya bergumam.


Sekitar satu jam Nia terus mengompres tubuh suaminya, akhirnya panasnya sudah turun, mungkin obatnya juga sudah bekerja . Iapun tersenyum lalu menarik selimut suaminya hingga keleher "Sekarang sudah gak dingi lagi kan ?" Nia berbisik sambil membelai rambut suaminya dengan sayang.


Keesokan harinya Farhan bangun, ia melihat istrinya masih tidur dipelukannya, ia kesiangan lupa tidak sholat subuh 'Apakah Nia tadi sudah bangun? ah pasti dia juga kecapek an' Farhan mencium kening istrinya lalu kembali tidur ia tidak ingin pergi kerja hari ini, dan biarkan Nia juga tidur lebih lama.


°°°°°


Destri datang kekampus putranya untuk mencari Nia, ia ingin mengajak anak itu mengobrol sambil minum kopi, tapi ketika ia mencari tahu, ternyata Nia tidak masuk kuliah hari ini.


Apakah ia sakit ? Hhhh sia-sia aku kesini !


Destripun kembali pulang dengan tangan kosong. Ia melihat putranya sedang berbicara dengan seorang gadis yang memakai cadar, Apakah itu Nia ? Destri bertanya-tanya karena pakaian gadis itu mirip dengan yang Nia gunakan. Tapi tadi saat ia bertanya ke kantor, mereka bilang Nia sedang absen. Lalu siapakah dia ? Apakah pacar anaknya ? Tapi sepertinya selera Ardan bukan yang seperti itu ! Ahh entahlah terlalu banyak pikiran maka akan sulit untuk bahagia. Siapapun pilihan anaknya ia akan menerima dengan senang hati asalkan orangnya baik.

__ADS_1


Destri tertawa sendiri


Bukankah biasanya orang kaya akan memilih menantu yang ideal untuk anaknya, tapi seperti apakah bentuk ideal itu ? Cantik, putih, rambut panjang lurus, kaya, dan pintar ? Haha itukan hanya tipe menantu nyonya-nyonya jahat yang ada dinovel. Aku tidak seperti itu kok, aku cukup baik hati dan tidak sombong kan ? hehe ^^


Destri hanya kembali kerumahnya tanpa menyapa putranya terlebih dahulu.


°°°°°


Matahari sudah meninggi, jam sudah menunjuk pukul 11, Nia baru terbangun dari tidurnya, ia lari kekamar mandi tanpa melihat jam terlebih dahulu ia panik karena telat bangun.


Farhan ikut terbangun dan tertawa melihat kelakuan istrinya.


Nia berhenti karena mendengar tawa Farhan yang terdengar sangat keras. "Kenapa kamu ketawa , aku telat nih, aduh gak dengar bunyi alarm" Nia mengerutu sambil mengacak rambutnya sendiri.


"Lihat jam berapa sekarang !" Farhan menahan tawanya.


Niapun melirik jam dan melotot "Hah sudah jam 11 mati aku !" ucapnya tanpa sadar.


"Haha aku sudah izinkan tadi tenang saja"


Akhirnya Nia bisa bernafas lega "Tapi besok pasti tugasku akan lebih banyak lagi hiks " Nia pura-pura menangis.


"Haha bukankah kamu suka sekali belajar !" Farhan yang sudah kembali sehat punya tenaga ekstra untuk membully istrinya.


Nia cemberut lalu bedjalan menuju kamar mandi sambil bergumam tidak jelas.


Farhan tertawa lalu kembali berbaring.


"HACCUH !"


Farhan terkejut dan bangun mendengar istrinya bersin, sepertinya istrinya tertular dengan penyakitnya kemarin.


Farhan berlari kekamar mandi mengecek suhu badan Nia , tapi sepertinya normal "Kamu gak sakit kan ? pusing atau kedinginan, tenggorokanmu gak sakit kan ?" Farhan sangat khawatir karena menyebarkan virus pada istrinya.


Nia tertawa melihat kelakuan suaminya yang semakin hari semakin imut "Bukankah bagus kalau aku sakit, gantian kamu yang harus merawatku, haha" ucap Nia dengan santai.


"Dasar kamu pikir sakit itu enak ?" Farhan mengacak rambut istrinya dan Nia hanya menjerit kecil sambil tertawa.


**Day Dreams, Setiap cerita cinta pasti indah iya kan ? Hehe ^^


Minal aizin wal faizin


Mohon maaf lahir dan batin


Author meminta maaf yang sebesar-besarnya kalau ada salah kata atau adegan yang mungkin saja membuat beberapa orang tersinggung atau mungkin baper hehe.


Yang pasti tidak ada gading yang tak retak, jangan lupa like dan komennya, dan terimakasih buat temen-temen semua yang terus setia mengikuti KEEP THE FAITH, Semoga bisa menginspirasi, tapi gak tau dari mananya hehe . Sekali lagi Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi siapapun yang merayakannya .


Salam manis dari author

__ADS_1


Little Star**^^


__ADS_2