KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Membuat keputusan


__ADS_3

Nia's


Kembali masuk kedalam kosanku yang sepi dan nyaman, sepertinya nyawaku belum terkumpul semua. Aku masih berdiri di depan pintu mengingat semua kejadian hari ini.


Rasanya wajahku panas, dan jantung ini, ahh berisik sekali nggak bisa diam apa? Aku tersenyum melihat tanganku, kembali mengingat Farhan yang mengengamnya tadi, memejamkan mata ingin merasakan perasaan hangat yang tersisa.


"Bolehkah aku menciummu?" wajah merah Farhan kembali muncul di hadapanku. Aku memeganggi pipiku yang mulai terasa panas, aku tersenyum, melompat-lompat senang, kemudian melemparkan diriku sendiri keatas kasur. Meraih gulingku dan memeluknya, menenggelamkan wajahku disana.


Masuk kedalam hayalanku sendiri,


Kamu ingin menciumku seperti ini? muah . satu kecupan di guling haha


Atau kamu ingin memelukku seperti ini?. Aku mempererat pelukanku masih tercium aroma tubuhnya.


Aku membuka mataku setelah tersadar aku mendorong gulingku. Nia kamu sudah gila, dia kan bukan suamimu , ahhh apakah tadi harusnya aku jawab saja lamarannya . Bodoh banget sih ? tapi kalau ia menganggapku cewek matre gimana ? Sial sial ! Aku menendang gulingku sampai jatuh kelantai . Kemudian mengambilnya lagi. Menatapnya seolah itu adalah Farhan.


Apakah kamu benar menyukaiku ?


Kamu terlalu sempurna untukku ?


Aku bukanlah siapa-siapa, aku juga tidak secantik itu !


Nanti kalau kamu bosen apakah kamu akan meninggalkanku ?


Ahhhh, aku tidak mengerti apapun tentangmu ?

__ADS_1


Aku juga tidak bisa percaya begitu saja kan?


Mana ada yang namanya cinta buta ?


Bahkan aku belum pernah merasakannya ?


Seperti apa rasanya dicintai ?


Seandainya nanti kamu meninggalkanku juga bagaimana?


Aku takut, bukakankah sesuatu yang terlalu indah maka akan menghilang dengan mudah ?


Farhan aku juga mencintaimu !


Aku juga ingin menciummu !


Aku kembali memeluk gulingku, dan meraih hpku , tidak ada sms dari Farhan apakah ia pulang dengan selamat?


Ini malah sms dari Ardan, sepertinya ia kecewa karena aku membatalkan janji kita. Apakah aku harus mencoba ngomong jujur padanya? Kalau aku sudah memiliki kekasih, agar dia bisa sedikit menjauh , aku juga tidak ingin memberi harapan palsu. Tapi kita kan teman, nanti kalau dia marah lalu tidak mau berteman denganku lagi bagaimana? Entahlah apapun yang terjadi aku harus bicara padanya.


Hari terus berganti, sesuatu yang aku khawatirkan ternyata tidak terjadi. Kami tetap berteman meskipun kadang sedikit cangung. Aku bercerita tentang Farhan dan ia juga bercerita tentang pacarnya Sinta, nama Sinta mengingatkanku pada teman masa kecilku (lihat episode 2). Sebenarnya aku sedikit penasaran tapi aku tidak menanyakannya lebih lanjut lagi pula seandainya itu memang sinta wajahnya pasti berubah mungkin kami tidak akan bisa saling mengenali seandainya bertemu . Mungkin saja ia juga sudah berubah dan memaafkanku.


Selesai makan-makan bersama anggota kelompok, Ardan menemaniku bersantai sampai waktu kerja paruh waktuku dimulai.


Ia melihatku yang sedang mencoba melukis pemandangan, menatapku yang sedang fokus, sepertinya ia tersenyum.Aku tidak memperdulikannya.

__ADS_1


Setengah jam berlalu akhirnya aku selesai dengan lukisanku. Ardan melihatnya dan tertawa. Benar tidak sesuai dengan harapan lukisanku hancur benar-benar seperti lukisan anak tk , ini semua karena Ria waktu SMA dia melihatku sedang mengerjakan PR melukis. Ia menatapku kagum , dan ia bilang kalau mungkin saja aku memiliki bakat melukis, sambil memberikan bumbu kalau lukisan itu harganya mahal jadi seandainya aku jadi pelukis maka aku akan bisa jadi sukses.


Mungkin karena aku dulu terlalu polos aku hanya mengikuti kata-kata Ria. Tapi melihat kenyataannya sekarang? Aku membuang-buang uangku untuk masuk jurusan seni dan hasilnya nihil, bahkan lukisanku tidak bisa teridentifikasi, itu pemandangan yang cantik tapi jika aku yang melukisnya semuanya terlihat abstrak benar-benar mengecewakan.


Sekarang aku mempertanyakan lagi ucapan Ria waktu itu pasti ia hanya menggodaku, dan ia bisa tertawa senang karena aku benar-benar melakukan apa yang ia ucapkan. Jika aku bertemu dengannya lagi aku ingin sekali menjambak rambutnya dan berkelahi meminta pertanggung jawaban.


"Haha kamu serius, kamu sedang mengambar pemandangan ini ?" Ardan tertawa sambil menjuk sebuah gambar di kertas yang memang aku berusaha untuk mengambar itu.


Aku malu mungkin pipiku sudah memerah sekarang. "Aku tahu aku memang tidak memiliki bakat sama sekali, seharusnya aku tidak membuang waktu dan uangku untuk masuk jurusan seni " Aku cemberut.


Ardan tetap tertawa sambil menempelkan cat berwarna pink ke hidungku menggunakan jari telunjuknya "Haha jadi kamu mau berhenti ? Kamu mau masuk jurusan Bahasa Inggris denganku tahun depan? hehe aku akan membantumu" ucapnya kemudian tidak berhenti tertawa.


"Nggak mau, aku masuk Jurusan Bahasa Indonesia saja mungkin aku bisa menjadi guru atau mungkin setidaknya aku bisa menjadi seorang penulis" Ucapku percaya diri.


Masih tertawa Ardan kembali menempelkan berbagai macam warna cat di wajahku "Sepertinya kamu lucu aku rasa kamu lebih cocok jadi badut haha" tawanya semakin keras karena puas menggodaku.


"Sialan kamu aja yang jadi badut nih!" Aku mengambil banyak pewarna di tanganku bersiap untuk menyerangnya, aku ingin berdiri dan berlari mengejarnya, belum sempat menggerakkan kakiku aku tersandung dan jatuh ke atas tubuh Ardan.


Suasana menjadi sunyi sejenak aku mencoba mengangkat kepalaku yang tadi sempat membentur dadanya. Aku melihat ardan ia menatapku ! Sesaat aku lupa karena mengagumi ketampanannya. Tapi tidak lama kemudian aku mulai menyerang menggambari wajahnya tanpa memindahkan tubuhku terlebih dulu . Kami tertawa bersama, kemudian kami sama-sama berdiri.


Ardan menatapku aku merasa malu berusaha mengalihkan pandanganku, aku menatap keluar jendela, seorang laki-laki yang aku kenal berdiri disana dengan tatapan tidak suka. Matanya memancarkan aura membunuh, aku takut tidak pernah sekalipun aku melihat Farhan marah. Ia hanya berdiri mematung setelah mata kami saling beradu tatap ia hanya pergi meninggalkanku.


Rasa sesal memenuhi dadaku, rasanya sesak sekali aku sulit bernafas bagaimana ini ? Sejak kapan dia ada disana? Dia pasti salah paham. Aku mengalihkan pandanganku pada Ardan yang sepertinya juga sudah mengetahui siapa dia.


"Cepat kejar dia !" Ucapnya membangunkan lamunanku .

__ADS_1


Aku tersadar tanpa menjawab aku lari keluar untuk mengejarnya. Ya Allah jangan biarkan Ia salah paham, semoga saja ia mau mendengar penjelasanku.


Nia you will die now !! Hehe


__ADS_2