
Other things maybe changes us, but we start and end with the family !
Pernah dengar pribahasa, dalamnya laut masih dapat diukur dalamnya hati siapa yang tahu? yang artinya sulit menduga pikiran dan hati seseorang.
Seperti halnya Nia, siapa yang tahu apa yang sedang dipikirkannya. Terlihat baik-baik saja diluar tapi didalam? Farhan masih cemas memikirkan istrinya dan juga keluarga istrinya mereka masih belum mau berbaikan, tapi sekarang Pak Fajar mengirimkan data bahwa 50% saham di FK Grup akan diberikan pada Nia putrinya yang sudah lama hilang ... atau ? yah begitulah . Mungkin karena Pak Fajar merasa bersalah dan ingin menebus kesalahannya. Tapi 50% bukan kah itu terlalu berlebihan perusahaan sebesar itu, lagipula Pak Fajar masih memiliki 3 orang anak lagi. Farhan tidak habis pikir dia bingung harus mengatakan apa pada istrinya apakah dia akan senang atau malah sebaliknya ?
Entahlah Farhan fokus kerja saja !
Ucapnya dalam hati, berusaha menghilangkan rasa cemas yang berlebihan karena takut melihat istrinya sedih.
°°°°°
Hujan ? Matahari bersinar sangat cerah hingga menimbulkan panas yang berlebihan disiang hari, tapi sekarang kenapa tiba-tiba hujan ? Seperti itu lah takdir Allah siapa yang akan mengetahui apa yang akan terjadi dimasa depan.
Mata kuliah Nia selesai pukul 3 siang hari ini, sekarang harusnya ia bisa pulang tapi karena nggak bawa payung jadi terpaksa ia harus menunggu dikantin. Ia tidak ingin menghubungi suaminya karena takut menggangu pekerjaannya.
Sambil menunggu hujan berhenti Nia memesan kopi dan beberapa bungkus keripik kentang kesukaannya. Ia mulai membuka laptopnya dan mengerjakan tugas, ia tidak ingin kehilangan beasiswanya dan juga ingin bisa lulus lebih cepat. Selain itu ia juga ingin menyibukkan diri tidak ingin memikirkan tentang keluarganya, apalagi tentang ayahnya yang tiba-tiba datang mencarinya.
Entah seberapa sibuk ia berusaha untuk tidak memikirkannya tapi kenangan tentang masalalu terus saja mengusiknya, berlari menghantan pertahanya.
Nia berfikir apa yang akan terjadi jika ia tidak mau memaafkan ayahnya, apakah ikatan darah ini akan lepas begitu saja ? Jika sesuatu terjadi pada ayahnya apakah ia akan merasa baik-baik saja ? Jika ia mau memaafkan ayahnya apakah semua perasaan benci yang tertanam selama bertahun-tahun akan bisa terlupakan. Seandainya ada seseorang yang bisa ia ajak bicara.
Nia meraih ponselnya ia mulai bosan memikirkan hal ini, ia penasaran apa yang dilakukan oleh suaminya.
"Hubby !" hanya mengetik satu kata, akankah suaminya itu membalas smsnya atau tidak? tapi sampai 5 menit gak ada respon hhhh mungkin dia sibuk.
Ardan yang selesai dengan kelasnya juga pergi kekantin karena masih ada kelas lainnya nanti, ia melihat Nia duduk sendirian sambil mengerutu memandangi ponsel, Ardanpun tersenyum ia berjalan mendekati kakak tirinya itu.
"Hay kakak ku yang cantik apa yang kamu lakukan ?" ucap Ardan sambil duduk didepan meja tempat duduk Nia.
Niapun reflek menoleh "Kakak ? sejak kapan kamu memanggilku kakak ?" mengaktifkan mode ice cool .
"Haha ayolah sudah berapa lama kita tidak mengobrol, kamu takut kakak ipar cemburu ya ?" ucap Ardan menggoda kakaknya.
"Berhenti main keluarga-keluargaan" ucap Nia masih dengan nada dingin.
"Jangan seperti ini, kamu tahu kan papa sangat sedih karena kamu tidak mau memaafkannya, sepertinya akhir-akhir ini papa jarang ada dirumah, ia sangat sibuk kerja dan aku rasa berat badannya juga turun" ucap Ardan menjelaskan kondisi ayah mereka berharap agar Nia sedikit tertarik.
"Apa peduliku ?" bahkan tidak mau menoleh menatap Ardan.
"Kamu tahu, penyesalan selalu datang belakangan, kalau kamu gak mau memaafkannya it's okey, aku juga tidak mau punya kakak kayak kamu" ucap Ardan mulai marah.
Nia menatap Ardan tajam, "Untuk apa aku menyesal untuk seseorang yang tidak pernah peduli padaku !" ucapnya ikut terpancing emosi.
"Papa peduli padamu, kamu tahu kenapa papa selalu suka memberi orang-orang yang tidak mampu ? dulu aku kira karena papa orang yang baik, tapi aku sekarang tahu ia melakukanya karena merasa bersalah padamu, ia menolong orang lain dan berharap orang lain juga bisa menolongmu, karena ia tidak bisa menolongmu, papa takut bertemu denganmu seperti saat ini papa tidak ingin melihat kenyataan bahwa ia telah menelantarkan anaknya, karena papa takut kamu gak akan mau memaafkannya" ucap Ardan menceritakan apa yang ia ketahui.
__ADS_1
"Baguslah kalau dia berfikir seperti itu, bukankah dari dulu dia pergi dan tidak ingin mencariku ? lalu kenapa sekarang ia datang ? apakah karena aku sudah menikah jadi ia tidak perlu merawatku lagi ?" ucap Nia tidak mau kalah.
"Itu karena Ayah melihatmu, perasaan bersalah itu muncul lagi, jika dia tidak melihatmu mungkin saja ia tidak akan menderita seperti ini ?" ucap Ardan lagi.
Nia tekejut mendengar ucapan Ardan yang seolah-olah menyalahkannya "Jadi semua ini salahku ? Kamu tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan lalu kenapa sekarang kamu mengatakan semua hal ini, tahu apa kamu, karena ayah menyangimu itu sebabnya kamu menyayanginya dan kamu tidak akan pernah mengerti apa yang aku pikirkan, kamu pikir hanya ayahmu yang menderita ?" Nia sudah tidak tahan lagi ia ingin menangis, ia segera mengemasi barangnya untuk pergi.
"Maaf bukan seperti itu, aku hanya ingin kalian berdamai, kamu pasti juga sangat menderita aku tidak akan memaksamu lagi, hanya tolong coba pikirkan lagi bagaimana bahagianya papa kalau kamu memaafkannya, kita akan jadi keluarga dan ..." Ardan belum sesai bicara Nia sudah berdiri dan memotong ucapannya.
"Maaf aku harus pergi sekarang !" ucap Nia tanpa menunggu jawaban dari Ardan ia pun segera pergi berlari di tengah hujan.
Ardan menarik nafas panjang menatap pungung Nia yang berlari meninggalkannya "Hhhh tidak seharusnya aku ikut campur !" Ardan menyesal dengan semua ucapannya.
Sampai dirumah Nia langsung pergi ke kamarnya tanpa menjawab sapaan bi mina.
Bi Mina merasa khawatir karena melihat Nia pulang dengan basah kuyup. Ia pun menelfon Farhan untuk memberitahu keadaan nonanya.
°°°°°
Dikantor Farhan sedang mengadakan meeting bersama beberapa staf dan juga infestor. Setelah menjelaskan presentasi yang ia buat, sekertarisnya mendekat dan membisikkan sesuatu.
Wajah Farhan berubah menjadi pias, ia minta maaf karena tidak bisa melanjutkan meeting dan meminta sekertarisnya untuk melanjutkan penjelasan dan menjawab pertanyaan yang mungkin saja akan diberikan.
Tanpa menunggu jawaban, Farhan segera berlari keluar ruangan, berjalan dengan tergesa-gesa menuju lobi bawah tempat mobilnya di parkir. Pikirannya sudah campur aduk karena pesan dari Bi Mina kalau istrinya pulang lebih awal mungkin saja ada masalah karena ia pulang dengan kondisi basah kuyup dan menangis. Apa yang terjadi ? Apa yang membuatnya terluka ? tadi Nia sms juga belum aku baca mungkin saja ada masalah serius disini.
Farhan melajukan mobilnya dengan kencang, menembus derasnya hujan dan tidak peduli dengan bunyi klakson mobil tanda supirnya marah karena Farhan menyetir dengan ugal-ugalan.
°°°°°
Sudah 10 menit Nia dikamar mandi, Bi Mina yang khawatir naik keatas dan mengecek kondisi majikannya itu. Ia mengetuk pintu kamar mandi karena tidak terdengar suara apapun dari luar pintu.
"Nona baik-baik saja, apa perlu sesuatu" ucapnya dengan suara sedikit keras.
"Tidak bi, makasih !" ucap Nia dari kamar mandi, masih terdengar isak tangis yang ditahan.
"Nona sudah makan belum ? saya buatkan makanan ya ?" Bi mina masih khawatir.
"Tadi saya sudah makan dikantin !" Jawab Nia
"Baiklah kalau nona butuh apa-apa tolong panggil saya !" ucap bi mina lagi, meskipun ia masih khawatir setidaknya ia merasa sedikit tenang karena Nia tidak pingsan atau semacamnya. Ia hanya berharap Tuannya segera pulang.
Nia hanya mengiyakan ucapan Bi Mina dan, Bi Mina pun keluar dari kamar.
Nia hanya terduduk di lantai sambil bersandar kediding kamar mandi, ia tenggelam dalam kesedihannya, menangis tanpa suara. Ia hanya ingin mencairkan suasana hatinya, seandainya ia bisa menjadi orang yang lebih baik, yang bisa merelakan dan memaafkan apa yang telah terjadi di masa lalu. Fokus dengan kesalahan apa yang telah ia lakukan, mungkinkah banyak orang yang terluka disini, bukan hanya dirinya tapi juga ayahnya, dan Farhan mungkin saja ia akan khawatir kalau melihat dirinya seperti ini. Tapi ia tidak bisa membantu menenangkan dirinya sendiri ia masih belum bisa melupakan apa yang terjadi, kesedihan itu masih sangat terasa kenangan itu masih terlihat sangat nyata.
Ia teringat kenangan bersama mariam.
__ADS_1
2 hari yang lalu, ketika Mariam menceritakan tentang kisah ayahnya dan keluarganya, meskipun ia juga kekurangan kasih sayang karena istri ayahnya 3 dan memilik 7 orang anak, ia masih sangat menyayangi ayahnya meskipun terkadang ibu tirinya bahkan saudara tirinya selalu menghinanya karena ibunya hanyalah seorang pembantu yang menggoda majikannya agar mau dinikahi. Padahal kenyataannya adalah, ayahnya yang tergila-gila pada ibunya, ada saat dimana ia merasa sangat kesal, tapi itu hanya sementara pada akhirnya Ia tidak peduli apa yang dikatakan orang lain, yang ia tahu ia menyayangi ayahnya, seadainya waktu dapat diputar lagi dan ayahnya masih hidup ia sangat ingin sekali membahagiakannya, tidak menjadi anak nakal yang selalu merasa kurang dan ia ingin lebih banyak berbakti lagi.
Nia berfikir bukankah ucapanya mirip dengan ucapan Ardan ? Penyesalan selalu datang terlambat.
Huwaaaaa ! Nia tidak tahu lagi, pikiran dan hatinya tidak mau bekerja sama.
Farhan sampai dirumah, ia berlari ke kamar dan mencari istrinya, ia semakin khawatir karena istrinya tidak ada, apa mungkin masih dikamar mandi inikan sudah 40 menit, Farhan menarik nafas panjang dan membuka pintu kamar mandi.
Ia melihat istrinya yang terduduk dilantai sambil menangis, Farhan menatap istrinya dan tanganya menyusuri tubuh istrinya yang tertutup pakaian basah yang sudah hampir kering.
"Kamu terluka ? apa yang terjadi kamu baik-baik saja kan ?" ucap Farhan khawatir.
"Huwaaa !" Tangisan Nia semakin kencang ia memeluk suaminya berusaha mencari perlindungan.
Farhan merasa sedih meskipun ia belum tahu apa yang terjadi ia memeluk istrinya "Sudah gak papa !" Farhan membelai kepala Nia yang masih tertutup kerudung.
Beberapa menit kemudian sepertinya Nia sudah mulai bisa mengontrol emosinya, Farhan pun menatap istrinya, menarik dagu istrinya agar bisa menatap matanya.
"Kenapa ? ada masalah apa ?" ucap Farhan dengan nada selembut mungkin.
"Tadi Ardan ..." Nia tidak bisa meneruskan ucapannya dan menangis lagi.
Farhan mencium istrinya agar diam, kemudian tangannya berusaha membuka baju istrinya.
Nia pun tergelak ia bingung apa yang akan di lakukan suaminya. "Apa yang kamu lakukan ? Aku sedang sedih kenapa kamu mau melepas bajuku ?" ucap Nia dengan cemberut dibuat semanis mungkin untuk mengalihkan suasana tegang tadi.
Farhan menatap istrinya dan menyentil dahi Nia. "Hey apa yang kamu pikirkan disaat seperti ini ? berapa lama kamu duduk disini, sudah besar main hujan-hujanan, bajumu basah semua kenapa gak mandi, hanya karena bertengkar dengan temanmu lalu besok kamu gak mau kuliah karena alasan sakit begitu ? dasar anak nakal" Ucap Farhan kesal karena khawatir.
Nia menggeleng merasa bersalah, wajahnya terlihat seperti kucing yang tidak berdaya.
"Hhhhh ayo mandi !" ucap Farhan lagi.
Nia menyentuh dahinya, karena baru merasa sakit karena sentilan dari suaminya. "Huwaah, kamu marah sekali ya padaku, kenapa kamu memukulku !" Nia kembali menangis.
Farhan terkejut dan memeriksa dahi istrinya yang sudah memerah "Ah maaf apa aku melakukannya terlalu keras ?" Farhanpun mengusap-usap dahi istrinya untuk mengurangi rasa sakitnya. Sedangkan Nia hanya terus menangis.
Sialan Ardan apa yang ia ucapkan pada istriku sampai membuatnya seperti ini ?
Farhan geram sediri ia ingin memberi pelajaran pada siapapun yang berani melukai istrinya.
Extra :
Ardan sedang fokus mendengarkan pelajaran dari dosennya, tiba-tiba saja ia tersedak dan batuk-batuk beberapa kali. Semua mata tertuju padanya. Dengan senyum aneh karena merasa malu Ardan menganguk dan meminta maaf. Merekapun tertawa karena tingkah konyol Ardan.
*Aduh apaan sih , masak ada orang yang sedang membicarakan aku ?
__ADS_1
Rasain kamu Ardan pembalasan dendam dari author ! Hehe* ^^