KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Why not me ?


__ADS_3

Relationship are like a glass, sometimes it's better to leave them broken, than try to hurt yourself, putting it back together.


Dag, dig, dug ! Hari mulai menjadi gelap, jam masih menunjuk puku 7.30, setelah sholat isyak berjama'ah Zain dan Mariam kembali duduk diruang tamu menonton acara televisi. Sudah lama mereka tidak pernah duduk bersama, apalagi setelah banyak hal yang terjadi hari ini, mereka tidak bisa lari dari kenyataan dan pura-pura bekerja atau sekedar mainan handphone. Suara tv terdengar cukup keras tapi tidak ada satu adegan pun yang menarik pikiran mereka, keduanya merasa canggung karena baru saja saling menyatakan perasaan. Saking gugupnya mereka pikir suara detak jantung mereka bisa terdengar oleh orang disisi mereka.


Beberapa kali Mariam menelan ludah getir, ia berfikir apa yang telah ia lakukan hari ini, berani sekali ia melakukan banyak hal bodoh pada suaminya, ahhh rasanya ia hampir gila, bagaimana kalau suaminya sekarang sadar dan marah dengan apa yang telah ia lakukan tadi. Sekarang suasana disini tegang sekali Zain tidak tampak imut sama sekali.


Ternyata bukan hanya Mariam yang merasa gugup, Zain pun demikian untuk pertama kalinya ia tidak bisa mengontrol keinginannya, ia juga merasa malu dengan apa yang telah ia lakukan, tapi nasi telah menjadi bubur, yang terpenting sekarang ia tahu bahwa istrinya ternyata juga memiliki rasa padanya.


"Aku haus, apakah kamu mau dibuatkan kopi juga ?" tanya Mariam.


"Iya boleh" ucap Zain.


Benar lebih baik ngomong saja langsung dia kan istriku, huh berhenti menjadi anak kecil seperti ini akukan sudah berumur 24 tahun, hati kamu harus mengikuti kemauan tuanmu, berhenti berdetak seperti ini.


Zain memikirkan bagaimana cara untuk mendekati istrinya, ini juga pertama kalinya ia dekat dengan wanita karena dulu ia sibuk sekolah dan kerja. Ia juga tidak menyangka bahwa ia begitu ingin memeluk istrinya sekarang.


Mariam datang dengan dua cangkir kopi, ia menyerahkan satu cangkir kopi ke hadapan suaminya. Kemudian ia kembali duduk.


"Tanganmu ? apakah sudah baikkan ?" Tanya Zain ingin menghilangkan keheningan.


"Ya, sudah tidak sakit !" ucap Mariam.


"Syukurlah, untuk yang tadi aku benar-benar minta maaf !" ucap Zain lagi.


"Gpp, itu juga salahku kok !" ucap Mariam lagi.


"Lain kali aku akan berusaha untuk tidak cemburu !" ucap Zain lagi sambil meminum kopinya.


Mariam hanya mengangguk. Mereka kembali menonton tv dengan diam, jam menunjuk pukul 8 malam. Sinetron yang mereka tonton sudah bersambung, kopi pun telah habis. Mariam mengambil cangkir kopi untuk dicuci, Iapun segera berjalan kedapur.


Belum selesai ia mencuci cangkirnya, Zain sudah berada dibelakang Mariam, ia memeluk istrinya dengan erat, ia mencium pundak istrinya dengan penuh sayang.


"Apa yang kamu lakukan ?" Mariam kaget, untung saja cangkir yang ada di tangannya tidak jatuh dan pecah, ia berusaha tenang dan melanjutkan membilas cangkir itu.


Zain tidak menjawab ia tetap menempel pada istrinya itu.


Setelah selesai mencuci cangkir, Mariam memutar tubuhnya, sekarang ia bisa melihat jelas wajah suaminya yang sudah memerah. "Kenapa, apa kamu sakit ?" ucap Mariam sambil tanganya menyentuh dahi suaminya.


Zain menggengam tangan istrinya dan menciumnya. "Sayang, bolehkah aku menciumu?" ucap Zain, pandangannya menatap lekat pada wajah istrinya.


Jantung Mariam rasanya akan pecah, tidak pernah berfikir bahwa ia akan bisa melihat ekspresi suaminya yang seperti ini, ia hanya mengangguk pasrah.


Zainpun mencium istrinya, ciuman kedua mereka, tentu saja saat ini Zain melakukanya dengan lembut tidak seperti sore tadi ketika Zain sedang marah. Tangannya juga mulai beraksi dari rambut turun kepunggung, lalu ...

__ADS_1


Mariam menghentikan tangan suaminya, dan berbisik "Jangan disini, kunci pintu, matikan tv dan lampunya, aku tunggu dikamar !"


Zain tersenyum lalu satu kecupan dibibir setelah itu ia melepaskan istrinya dan mengunci pintu rumah mereka.


°°°°°


Dikediaman Farhan dan Nia, mereka juga masih belum tidur. Nia duduk sambil bersandar dibantalan ranjang ia sedang menikmati buah anggurnya.


Sedangkan Farhan berbaring disampingnya, mengelus perut istrinya yang mulai terlihat berisi itu. "Makan yang banyak ya nak, agar kamu cepat tumbuh besar" ucap Farhan seakan sedang berbicara pada anaknya yang berada dalam kandungan.


Nia tersenyum lalu menyuapi suaminya dengan anggur yang ada dihadapanya. "Ayah juga harus makan !" ucap Nia senang.


Farhan tersenyum dan memakan anggur yang istrinya berikan.


"Sepertinya nanti aku akan punya dua bayi ?" ucap Nia sambil tertawa.


"Apa maksudmu, anak kita kembar ?" ucap Farhan tidak mengerti.


"Haha bukan, maksudku satu bayi kecil, dan satu bayi besar" ucap Nia sambil membelai rambut suaminya.


Farhan mengerti apa yang istrinya maksud "Jadi, apakah aku harus memanggilmu bunda juga ?" ucap Farhan sambil tersenyum.


"Kedengarannya bagus haha!" Nia tertawa karena senang.


Nia menyuapi suaminya lagi "Sini, ayah bantu bunda habiskan!" ucap Nia lagi, ia senang memanggil suaminya dengan sebutan ayah. Bagaimanapun juga dulu ia ingin sekali memanggil ayahnya ketika hidupnya mulai terasa berat. Dan sekarang ia memiliki suaminya, suami terhebat yang bisa melindunginya dan memberikan apapun yang ia mau layaknya ayah, layaknya kakak yang selalu mau mendengar keluh kesahnya, layaknya seorang anak yang selalu bertingkah manja menginginkan perhatian dari ibunya. Betapa bersyukurnya Nia telah dipertemukan dengan Farhan, seseorang yang merubah hidupnya, bahkan karena suaminya juga ia jadi bisa bertemu dengan ayahnya, terkadang ia berfikir jika ia bukan istrinya Farhan apakah ayahnya akan mengenalinya, apakah selamanya ayahnya tidak akan datang mencarinya ?


Tok tok, terdengar suara ketukan pintu dan di sambung oleh suara Bi Mina yang memberi tahu bahwa ada tamu yang mencari nonanya.


Farhan segera turun kebawah untuk menemui Ardan, sedangkan Nia harus ganti baju dulu. Farhan tidak mengizinkan istrinya memakai baju terbuka walaupun itu adalah keluarganya sendiri.


Ardan sudah menunggu diruang tamu, ia berdiri ketika melihat kakak iparnya, merekapun berjabat tangan.


"Apa kabar ?" ucap Farhan memulai pembicaraan.


"Yah, lumayan, kakak apa kabar ? Mana kak Nia ?" Tanya Ardan mencari tahu keberadaan kakak tirinya.


"Ya kami baik-baik saja, Nia masih ganti baju !" ucap Farhan menjelaskan.


"Oh, selamat ya sebentar lagi Kak Farhan akan jadi ayah !" ucap Ardan sekedar basa basi.


"Iya terimakasih !" ucap Farhan "Ngomong-ngomong ada urusan apa kemari ?" tanya Farhan ia tahu bahwa adik iparnya tidak mungkin kesini hanya untuk mengucapkan selamat pada kakaknya.


"Aku ada urusan dengan Kak Nia !" Ucap Ardan jujur.

__ADS_1


"Urusan apa ? tidak bisa kah aku mendengarnya ?" Farhan mulai cemburu, ia juga masih belum bisa melupakan kejadian di Lab Seni.


Ardan tidak menjawab karena ia melihat kakak tirinya berjalan mendekat kearahnya.


"Hay Ardan apa kabar ? sudah lama tidak bertemu " Ucap Nia senang karena keluarganya datang berkunjung. Nia ingin menjabat tangan Ardan tapi suaminya menghentikannya.


Ardan tersenyum melihat kecemburuan Farhan, ia pun mencoba tidak peduli. "Iya baik-baik saja, selamat atas kehamilanmu, tadi aku bawakan mangga dan jeruk aku dengar kalau wanita hamil suka makanan yang masam" ucap Ardan sambil tersenyum.


"Wah terimakasih banyak ya, aku suka semua buah" ucap Nia, tentu saja membuat Farhan cemburu.


"Begini aku ingin tanya sesuatu tentang Mariam" ucap Ardan sekarang wajahnya sudah berubah menjadi serius.


Nia mengerti apa yang ingin dibicarakan adik tirinya itu. "Kamu sudah tahu tentang Mariam ? Ia sudah menikah maaf aku lupa tidak memberi tahumu, padahal Mariam sudah memintaku untuk memberi tahumu, karena ia tidak berani melihat ekspresimu " Ucap Nia jujur.


Wajah Ardan seketika menjadi pucat, jadi benar seseorang yang ia cintai ternyata sudah menjadi istri orang lain. "Benarkah, tadi aku bertemu dengannya dan juga suaminya. Suaminya membentak Mariam tentu saja aku marah lalu dia memukuliku" Ucap Ardan sedih.


Nia baru menyadari bahwa ada bekas biru di wajah Ardan meskipun telah ditutupi oleh make up. "Lalu kamu baik-baik saja kan ?"


Ardan menundukkan kepala sepertinya air matanya akan keluar ia merasa malu sekali. "Aku tidak tahu, kenapa Mariam tiba-tiba menikah padahal kita sudah berjanji bahwa akan menikah saat masing-masing sudah siap" ucap Ardan sedih.


Nia ikut sedih, ia menyenggol tangan suaminya agar mendekat pada Ardan "lakukan sesuatu" bisiknya.


Farhan dengan enggan pindah duduk disebelah Ardan dan menepuk-nepuk bahunya , seperti yang ia lakukan pada Anton ketika sedang sedih. "Sabar bro, mungkin masih belum jodoh".


Nia tersenyum melihat kedekatan Suami dan adik tirinya, mereka so sweet sekali, tunggu sepertinya ia mengingat sesuatu, rasanya ia pernah melihat adegan ini tapi di mana? (Di bar sayang haha ^^)


Bi Mina datang sambil membawa dua cangir kopi dan satu gelas jus jeruk untuk Nia.


Ardan merasa sangat sedih tidak terasa air matanya menetes. "Apa yang harus aku lakukan, sepertinya bukan hanya aku yang menderita, tapi Mariam juga, melihat suaminya yang kejam seperti itu, kehidupan seperti apa yang Mariam lalui ? Aku bahkan tidak bisa membantunya. Apakah aku harus memohon pada ayah untuk memberiku uang dan mengambil Mariam dari gengaman laki-laki itu ?" ucap Ardan tidak berdaya.


Nia sedikit berfikir sepertinya Zainal adalah laki-laki yang baik, sepertinya tidak mungkin kalau Zainal akan melakukan KDRT, masalahnya ia juga cuti kuliah dan tidak tahu keadaan Mariam yang sesungguhnya, kalau memang benar adanya, Mariam menderita dengan pernikahannya, apa yang harus dilakukan ? Ia juga merasa kasihan pada Ardan pasti ia sedih sekali, Nia tidak bisa memberi jawaban malah tenggelam dalam pikirannya.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh bro, tanyakan pada wanita itu apakah ia bahagia dengan pernikahannya, lalu diskusikan dulu apakah ia ingin bebas dari pernikahannya ? Jika memang kekhawatiranmu itu benar dan wanita itu mau menikah denganmu, nanti aku akan membantumu !" ucap Farhan memberikan solusi layaknya seorang kakak.


Ardan malah menangis semakin keras lalu menatap Farhan "Kakak ipar kau baik sekali, bolehkah aku memelukmu !". Tanpa menunggu jawaban Ardan langsung memeluk kakak iparnya itu.


"Hey lepaskan !" ucap Farhan malu karena istrinya tersenyum menatap mereka.


"Nggak mau, kenapa aku harus punya tiga saudara perempuan, kenapa aku tidak punya saudara laki-laki, mulai sekarang kakak ipar harus menjadi kakakku mengerti. Huh semua wanita itu jahat, kenapa Nia tidak mencintaiku, sekarang Mariam juga kenapa ia menikah dengan orang lain padahal dia bilang kalau dia mencintaiku, huhu seandainya aku jadi wanita saja dan menikahi laki-laki yang baik seperti kakak ipar" Ardan berubah menjadi anak kecil.


"Aku kok jadi merinding ya ?" ucap Farhan tapi ia berhenti memberontak dan membiarkan adik iparnya memeluknya.


Sedangkan Nia tertawa bahagia melihat kedekatan suami dan saudaranya.

__ADS_1


Aiyaaa, so cute, novel ini gak akan berubah jadi bromance kan ?? Hehe ^^


__ADS_2