KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Khilaf


__ADS_3

This better to have love and lost, than never to be loved at all.


Monday is coming again, hari ini sekolah libur karena tanggal merah, dan sekarang waktunya kencan untuk Ardan dan Mariam. Loh kok bisa ? Namanya anak semakin dikengkang akan menjadi semakin nakal.


Mariam sudah berani berbohong pada Ibu dan kakaknya kalau hari ini ada kegiatan tambahan di sekolah, yah tidak seratus persen bohong sih, emang ada kegiatan tapi hanya sebentar tapi Mariam bilang ia akan pulang sore.


Mulai tadi malam jantung mariam terus berdebar karena mendapati sms dari Ardan kalau besok sepulang kuliah ia akan menjemputnya. Kesempatan bagus untuk bisa keluar kalau tidak begini mungkin saja selamanya ia akan jadi jomblo mariam juga ingin menjadi remaja seperti umumnya, main, jalan-jalan bersama teman, dan berbohong hehe.


Ketika Mariam keluar dari kelas ternyata Ardan sudah menunggu di depan koridor.


"Assalamualaikum" sapa Mariam


"Waalaikim salam" jawab Ardan. "Sudah selesai kelasnya ?" tanyanya lagi.


"Alhamdulillah" ucap Mariam malu-malu. Mereka tersenyum bersamaan.


Ardan membonceng Mariam dengan motornya, ia membawa Mariam ke sebuah taman yang ada danaunya yang sedikit jauh dari kampus mereka, karena ia tidak ingin bertemu dengan seseorang yang mengenali mereka.


Sekitar 20 menit perjalanan akhirnya mereka sudah sampai, mereka harus menyusuri taman agar bisa sampai kedanau tersebut mereka berjalan berdampingan sambil ngobrol ringan tentang pelajaran, tentang kuluarga, dan tentang kesukaan masing-masing.


Ardan merasa sangat senang jantungnya terus berdebar bahkan hanya dengan berjalan disisi Mariam, melirik mariam dari samping ia ingin menggengam tangan mariam tapi takut, ia tidak berani bahkan hanya sekedar menyentuhnya.


Akhirnya mereka sampai didepan danau Ardan membeli minuman untuk mereka berdua sedangkan Mariam menunggu disebuah kursi panjang menghadap danau yang indah itu.


Matahari mulai meninggi, sinarnya melewati celah-celah dedaunan, Mariam menatap kesekitarnya.


Apakah ini sebuah mimpi? Mariam tidak percaya dengan apa yang ia lakukan, untuk pertama kalinya ia berbohong pada orang tuannya.


Ardan datang dan menyodorkan minuman kepada Mariam. Kemuadian ia duduk disamping gadis cantik ini.


"Terimakasih kak sudah mengajakku kesini, pemandangannya indah udaranya juga segar" ucap Mariam karena senang.


Ardan tersenyum "Aku akan mengajakmu kesini kapanpun kamu mau" ucap Ardan karena ia senang pergi kemanapun asalkan bersama dengan Mariam.

__ADS_1


Mariam hanya menganguk.


Ardan memantapkan hatinya untuk berani menyatakan cinta pada mariam, karena ia tidak ingin hanya berhubungan tanpa status yang jelas.


"Mar, aku ingin bilang sesuatu " ucap Ardan ragu-ragu.


Deg , Apakah ia akan menyatakan cinta ? Lalu aku harus bagaimana? disini hanya ada kita berdua, kalau aku menerimanya lalu apa ? Apakah dia akan menciumku seperti di film-film atau novel ? Ahhh aku masih belum siap.


Mariam terjatuh dalam lamunannya hingga Ardan memanggilnya sekali lagi untuk menyadarkan gadis ini.


"Begini kak, maaf karena dulu aku pernah bilang suka pada kakak, tapi aku hanya sebatas suka tidak bisa menjalani hubungan yang lebih, aku belum siap ...." Mariam bingung bagaimana menjelaskannya agar seseorang yang disukainya itu tidak patah hati.


Ardanpun tertawa untuk mencairkan suasana "Apa yang kamu pikirkan hah, aku hanya tanya apakah kamu lapar , karena sekarang sudah jam 11" ucap Ardan berbohong untuk menutupi perasaan malunya karena ditolak.


Mariampun ikut tertawa aneh tapi juga merasa lega, "Haha sepertinya aku sedikit lapar" ucapnya kemudian.


"Baiklah ayo makan dulu !" Ucap Ardan sambil berdiri mengajak Mariam pergi ke restoran dekat sini.


Setelah makan mereka memutuskan untuk pulang, karena bingung harus pergi kemana lagi ? Karena semua rencana Ardan gagal dan ia tidak berminat untuk jalan lagi.


Sampai di depan kampus pratiwi, Mariam turun karena ia tidak mau Ardan mengantarnya sampai kerumah bisa-bisa kakaknya akan sangat marah padanya.


Ardan juga ikut turun, dari belakang ada dua orang anak kecil yang berlari-lari, ia menabrak mariam sehingga tanpa sadar mariam maju kedepan, dan ardan menangkapnya, jadi mereka tanpa sengaja jadi berpelukan. Mereka saling menatap hingga lupa kalau waktu terus berjalan.


Mariam terkejut karena ada seseorang yang menarik tangannya dari belakang ia pun menoleh dan membelalakkan matanya karena kakanya sudah berada disampingnya sambil menatapnya marah.


"Apa yang kamu lakukan ?" tanya yahya marah.


"Tadi tidak sengaja !" ucap Mariam


"Tidak sengaja tapi tidak mau lepas, kamu sudah berani berbohong sekarang ?" Yahya mulai meninggikan suaranya ia sangat kecewa pada adiknya yang ia kira selama ini adalah gadis baik yang penurut ternyata malah berbohong dan pergi bersama laki-laki tanpa izin.


Mariam hanya menunduk karena ia tahu itu memang kesalahannya.

__ADS_1


Pandangan Yahya beralih pada laki-laki muda yang ada dihadapannya. "Kamu, jangan berani membawa adikku pergi, jika tidak berani menikahinya maka jangan pernah main-main !" ucap Yahya tegas.


"Sa saya mau menikahinya !" ucap Ardan


Yahya tersenyum "Kapan kamu mau menikahinya ? memangnya kamu punya kerjaan ?" ucap Yahya menantang karena ia yakin bahwa laki-laki dihadapannya masih kuliah juga wajahnya masih terlihat sangat muda.


"Nanti setelah saya lulus kuliah dan dapat pekerjaan" Ucap Ardan mantap.


Mariam menatap Ardan tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Kalau begitu bawa dia nanti ketika kamu sudah menikahinya, sekarang tolong jauh i adikku !" ucap Yahya lalu menarik tangan adinya untuk pergi.


Ardan merasa sedih dan juga malu, ia menyesal karena membawa mariam pergi hari ini. Seharusnya ia tahu kalau Mariam adalah wanita yang istimewa berbeda dengan semua mantan pacarnya.


Yahya mendiamkan Mariam sepanjang jalan, bahkan sampai rumahpun Yahya tetap diam. Ibu Mariam juga diam saja, inilah hukuman yang paling menyedihkan untuk mariam ketika semua anggota keluarganya tidak mau berbicara padanya. Mereka kecewa pada Mariam karena selama ini mereka pikir sudah bisa mendidik Mariam dengan baik ternyata ..? Tidak ada yang bisa menahan seseorang kecuali kemauaan orang itu sendiri. Mulai sekarang Mariam janji tidak akan menghubungi Ardan hingga Ardan datang kerumah untuk melamarnya.


°°°°°


Setelah satu persatu masalah terselesaikan, membuat Nia menjadi malas, ia sudah merasa sangat bahagia dengan hidupnya ia lebih memilih untuk membaca buku didalam kamar dari pada ikut suaminya melihat sekolah baru yang hampir selesai. Padahal dulu Nia sangat bersemangat untuk kegiatan bakti sosial.


°°°°°


Farhan pergi bersama dengan Anton mengecek pembangunan sekolah yang di sponsori oleh FK Grup. Mereka merasa puas dengan pembangunanya yang berjalan lancar.


Anton mendapat kabar dari ibu mertuanya kalau istrinya akan melahirkan sekarang, ia meminta izin pada Farhan untuk pulang dulu kerumah.


Farhanpun menawarkan tumpangan mobil, karena ia juga penasaran dengan proses melahirkan.


Anton sampai didepan rumahnya dan segera masuk, sedangkan Farhan mengambil alih kemudi untuk mengantar mereka pergi kerumah sakit.


Anton duduk dibelakang bersama istrinya yang kesakitan sedangan ibu mertua Anton duduk disamping Farhan. Suasana sangat tegang, Farhan berusaha menyetir secepat mungkin.


Sudah 2 jam Anton dan Istrinya di ruang persalinan tapi mereka belum keluar juga. Sedangkan Farhan berdiri didepan kaca melihat mereka dari samping. Jantungnya mulai berdebar ia merasa sangat ketakutan membayangkan kalau istrinya berada diposisi itu, apakah ia akan kuat melihat semuanya.

__ADS_1


Belive in your self you strong enaugh to do everything !! Hehe ^^


__ADS_2