KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Memasak dengan hati


__ADS_3

Real cooking is more about following your heart, than following recipes.


Setelah mengantar Nia kerumah sakit, Zain dan Mariam pulang kerumah. Mereka tidak bicara apapun dalam mobil, sama-sama sibuk dengan pikiranya masing-masing.


Setelah mobil dekat dengan jalan masuk ke perumahan tempat mereka tinggal, Zain bertanya apakah Mariam ingin pergi kesuatu tempat ? Mumpung mereka bisa libur dihari yang sama.


Mariam hanya menggeleng, ia ingin pulang kerumah untuk tidur siang. Tidak banyak yang mereka lakukan tapi kenapa Mariam merasa sangat lelah. Beberapa bayangan terlintas diotaknya, apakah melahirkan itu sakit ? Apakah Nia akan bisa melaluinya ? Bukan hanya Nia, tapi Aku, apakah nanti aku juga bisa melaluinya ?


Zain mengerti apa yang diinginkan istrinya lalu mengendarai mobilnya masuk ke area perumahan tempat mereka tinggal.


Sampai dirumah mereka mencuci tangan dan kaki, lalu menyimpan bahan makanan yang tadi mereka beli. Setelah itu mereka melakukan sholat jamaah bersama, sekaligus mendoakan keselamatan sahabatnya dan juga bayinya.


Mereka berdua tidur siang bersama, seperti biasa Zain melingkarkan tangannya diperut istrinya.


Pukul 4 sore mereka baru bangun, setelah melepas lelah dengan tidur siang kini tubuh mereka terasa segar kembali.


Enaknya kalau sudah memiliki pasangan halal hampir semua aktifitas dilakukan bersama seperti saat ini, mereka mandi bersama, sholat bersama, nonton tv bersama, ngopi bersama, masak bersama, makan bersama, haha bikin orang iri saja.


Mungkin memang tidak semua pasangan bisa harmonis, akur-akur saja seperti mereka, seperti Farhan dan Nia contohnya meskipun selalu bertengkar karena hal-hal yang sepele tapi mereka tetap saling mencintai. Jadi bahagia dalam menjalin hubungan bukan dilihat dari seberapa banyak waktu bertengkar, atau seberapa banyaknya waktu bersama, bahagia adalah ketika kita saling menerima, saling mau mendengarkan, dan memperbaiki agar hubungan tetap berjalan dengan baik. Ahh terlalu rumit yang aku tahu setiap hubungan pasti akan indah jika dijalankan karena ingin mendapatkan ridho dari Allah.


Mulai malam ini Mariam ingin masak sendiri, ia tidak mau dibantu oleh suaminya. Ia iri pada betapa hebatnya Nia yang bisa memasak banyak menu makanan bahkan bisa membuat kue juga. Mariam juga ingin menjadi istri yang baik, istri yang dicintai suami karena masakannya yang enak. Mariam pernah melihat artikel yang berjudul Memasaklah dengan Hati, ia juga ingin melakukannya mencurahkan rasa cintanya dengan bentuk makanan yang lezat.


"Sayang kamu nonton tv saja, jangan datang kedapur kalau aku tidak memanggilmu !" ucap Mariam meminta suaminya untuk bersantai.


"Tapi apakah kamu yakin bisa masak sendirian ?" Tanya Zain khawatir.


Mariam tersenyum "Aku hanya akan masak nasi goreng, jadi tidak akan terlalu sulit, lagipula kamu sudah sering melihatku praktekkan !" ucapnya percaya diri.


"Baiklah kalau kamu butuh bantuan panggil aku !" ucap Zain mengalah.


Mariam terenyum senang lalu segera pergi kedapur, memasak nasi goreng penuh cinta untuk sang suami.


Zain terus menatap istrinya yang sibuk memasak didapur ia tidak peduli dengan tv yang menyala dihadapannya, ia tersenyum senang entah apa yang ada dipikirannya sekarang ! (Maaf autor lagi malas mikir haha, tebak sendiri aja deh !^^)

__ADS_1


Setengah jam kemudian makanan sudah siap, Mariam memanggil suaminya agar datang kemeja makan.


Zain mulai mencicipi masakan istrinya, lalu tersenyum. "Tidak buruk, ini masih bisa dimakan !" ucap Zain sambil terus memakan nasi goreng buatan istrinya.


Mariam tersenyum senang ia ikut memakan makananya, ia mengerutkan keningnya. "Seperti ada sesuatu yang kurang, apa yang salah ya Bang ? Padahal aku sudah memasak mengikuti resep !" Ia menatap suaminya menunggu jawaban.


Zain sedikit berfikir apakah ia harus mengomentari masakan istrinya, nanti kalau Mariam sedih bagaimana ? Tapi kalau tidak diberi tahu, Mariam tidak akan tahu kesalahannya ada dimana.


"Bang, bilang dong apa yang kurang ?" Tanya Mariam lagi, karena suaminya tidak menjawab pertanyaannya.


"Emm, kamu nggak akan marah kan ?"


"Nggak !"


"Kamu nggak akan teringgungkan ?"


"Nggak !"


"Nggak !"


"Jadi, emm begini masakanmu sudah cukup enak hanya saja sedikit kurang garam, sedikit kebanyakan lada, sedikit kurang matang, dan sayurnya masih keras, tapi masih bisa dimakan tenang saja, lain kali bisa dicoba lagi !" ucap Zain yang akhirnya menjawab pertanyaan istrinya.


Wajah Mariam menjadi murung, padahal ia sudah memasak dengan sepenuh hati.


Zain mengetahui apa yang dipikirkan oleh istrinya. Zain meraih tangan Mariam dan menggengamnya. "Kamu sudah berjanji tidak akan sedih, tidak ada orang yang langsung pandai, semua orang butuh belajar dan mencoba, sama halnya dengan memasak nanti aku yakin kamu pasti akan jago memasak juga !" Ucap Zain menenangkan istrinya.


"Hhhh aku tahu, tapi ...." Mariam menatap suaminya lalu merengek "Kenapa susah sekali ! Apakah mungkin seharusnya aku ini dilahirkan sebagai laki-laki makanya tidak bisa memasak, dan kamu sebaliknya, apakah kamu seharusnya dilahirkan menjadi perempuan, Abang Zain aku iri padamu kamu panda melakukan segalanya ! Kita tukar tempat aja ya !"


Zain tertawa melihat ekspresi istrinya yang lucu. "Kan sudah aku bilang, aku tidak keberatan jika harus memasak, kamu jangan memikirkan segala hal terlalu serius lakukan apapun yang kamu sukai, jika kamu tidak suka memasak aku tidak akan memaksamu, aku senang kok bisa memasak untuk istriku setiap hari." Zain menarik tangan istrinya dan menciumnya.


Mariam menarik tangannya karena malu. "Ehem, kamu sendiri yang bilang tidak keberatan jika diberi tugas memasak, jadi kamu bagian memasak aku yang akan cari uang !" Ucap Mariam percaya diri.


"Huahaha !" Zain tertawa mendengar ucapan istrinya. "Baiklah little wild cat, berikan suamimu ini uang yang banyak, dan aku akan membukakan restoran untukmu !"

__ADS_1


"Apa ? Serius kamu ingin membuka restoran, lalu bagaimana dengan jabatanmu menjadi seorang kapten ?" ucap Mariam bingung.


"Huahaha !" Zain kembali tertawa, karena berhasil mengerjai istrinya. "Enggaklah aku bohong, aku menyukai pekerjaanku sebagai polisi, aku hanya akan memasak untukmu dan anak kita, tidak untuk orang lain. Bagaimana kamu senang kan punya suami yang baik hati dan pintar memasak seperti aku ?" Ucap Zain percaya diri.


Mariam tersenyum sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Iya, suamiku yang paling keren."


Zain mengelus rambut istrinya. "Benar, suamimu yang paling keren kamu harus ingat itu, nggak ada laki-laki yang sekeren aku !" Zain tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya.


"Iya akan selalu kuingat !" ucap Mariam mantap. Lalu kembali menatap nasi goreng dihadapannya. "Jangan makan ini, kita masak lagi saja ya ?"


"Nggak papa masih bisa dimakan kok !" ucap Zain sambil memasukkan sesuap nasi goreng kemulutnya.


Mariam berdiri ingin mengambil piring suaminya. "Jangan ini nggak enak, nanti kamu sakit perut !" ucap Mariam khawatir sekaligus malu karena rasa masakannya yang aneh.


Zain memegang erat piringnya. "Makanan ini tidak akan meracuniku, kamukan sudah berusaha keras untuk membuatnya setidaknya aku harus menghargai kerja kerasmu dengan memakan ini !"


"Tapi rasanya aneh sekalikan, aku tidak akan sedih kalau tidak suka jangan dimakan !" ucap Mariam merasa bersalah.


"Tidak peduli seperti apa rasanya asalkan kamu yang buat semua makanan akan terasa enak !" ucap Zain merayu istrinya.


Wajah Mariam menjadi merah padam "Ahh dasar pembohong !" ucapnya kemudian kembali menatap piringnya lalu memakan nasi gorengnya sendiri.


Zain hanya tersenyum, mereka menikmati makan malam yang menyenangkan.


Waktu cepat sekali berlalu, meskipun ada sekian banyak kasus kejahatan yang harus ia tangani, tapi dengan kehadiran seorang istri semua hal rumit itu menjadi mudah karena pikirannya selalu dingin. Zain jadi mulai sering tersenyum dan mulai bisa mengobrol dengan rekan kerjanya.


Mariam masih sibuk kuliah, ia mulai mengambil jurusan ahli bedah. Meskipun merasa ngeri ketika melihat praktek pembedahan mayat, untuk yang pertama kalinya, tapi lama kelamaan ia sudah merasa biasa. Sekarang ia juga tidak takut lagi dengan darah. Ia mengambil jurusan ini karena termakan ucapan Zain yang bilang dokter ahli bedah akan mendapatkan upah yang banyak. Karena cita-cita Mariam saat ini adalah ingin mengumpulkan uang yang banyak untuk diberikan kepada suaminya.


Ngomong-ngomong apa yang akan Zain lakukan dengan uang pemberian istrinya ?


Haha siapa yang tahu apa yang akan terjadi dimasa depan, lakukan apapun yang kamu inginkan hari ini agar esok kamu tidak menyesal karena telah menyia-nyiakan hidupmu.


The power of love, all become easy !! Hehe^^

__ADS_1


__ADS_2