
Nia's
When I look into your eyes
I don't see just you
I see my today, my tomorrow, and
My future for the rest of my life
Setelah melakukan banyak persiapan yang melelahkan, akhirnya aku disini diruang tunggu pengantin menutup mata sambil membiarkan seorang perias merias wajahku. Jantungku terus berdebar untuk pertama kalinya dalam hidupku bisa didandani seperti ini. Aaaah lama sekali mungkin sudah lebih dari satu jam, aku harus duduk menunggu riasanku selesai, memangnya apa yang wanita ini lakukan pada wajahku kenapa lama sekali. Beberapa menit kemudian akhirnya selesai, wanita itu membantuku untuk menganti pakaianku dengan baju pengantin. Dress panjang berwarna putih layaknya pengantin.
Aku menatap diriku dicermin, apakah ini aku ? Aku tidak percaya diri bajunya terlihat sangat mewah, tatanan rambutku, make up, dan high hills ini, aaaah aku seperti bukan diriku. Bagaimana kalau orang lain menertawakanku, aaah benar-benar tidak nyaman apakah seorang putri harus melalui semua ini agar terlihat indah . Tapi aku kan bukan putri, kalau aku membuat kesalahan bagaimana? Aku masih terpaku didepan cermin sambil terus membayangkan hal tidak penting.
"Wah Mbak cantik sekali, benar-benar seperti seorang putri, saya merasa sangat senang bisa mendandani mbak Nia". Ucap wanita paruh baya ini oh ya biasanya orang lain memanggilnya Buk Nik.
"Ahh Buk Nik bisa aja, saya jadi malu sendiri, apakah ini tidak berlebihan ?" jawabku malu-malu .
"Tentu saja tidak, hari ini pemeran utamanya adalah Mbak Nia, pasti Mas Farhan akan sangat senang sekali" Jawabnya sambil membenarkan sedikit gaunku.
"Haha aku tidak yakin" jawabku dengan senyum yang dipaksakan.
"Mas Farhan pasti sudah menunggu ayo saya antar" Buk Nik menggandeng tanganku untuk menuju aula pernikahan.
Aku berhenti di depan pintu, mengamati sekilas apa yang ada di ruangan yang besar dan mewah ini. Seperti dalam mimpiku, Korden cantik berwarna putih, Bunga mawar warna putih terpampang dimana-mana, setiap meja dan kursi sudah diset dengan indah, mawar merah diatas vas kecil, berbagai macam makanan juga sudah tersedia dan karpet merah ini, aku mencari keberadaan Farhan ditengah-tengah ramainya tamu yang sudah datang. Ia sedang berbicara dengan teman-temannya. Meskipun ini hanyalah pesta biasa hanya makan malam bersama karena akad nikahnya sudah selesai, aku merasa sangat bahagia. Apalagi melihat senyum Farhan, melihatnya tersenyum setiap hari itulah harapan hidupku sekarang, aku akan berusaha menjadi istri yang baik agar Farhan bisa terus mencintaiku.
Farhan menatapku ia tersenyum dan menghampiriku, ehh sejak kapan ia menatapku? aku terlalu banyak melamun.
Farhan berdiri dihadapanku ia mengucapkan terimakasih pada Buk Nik , lalu kembali menatapku dan mengenggam tanganku. "Kamu cantik sekali Sayang" Ia mencium tanganku layaknya pangeran yang sedang mengajak seorang putri untuk berdansa. Semua mata tertuju pada kami, membuatku sangat malu. Farhan mungkin menyadari kalau aku merasa tidak nyaman lalu ia berbisik "Ingat apa yang aku katakan, jangan melirik laki-laki lain, jangan tersenyum dan berbicara pada mereka, tetap diam disampingku mengerti" ucapnya membuatku ingin tertawa rasa gugup ini sedikit menghilang.
"Kalau aku melakukan apa yang kamu ucapkan mereka akan menganggapku sombong" ucapku menggodanya.
"Memangnya kenapa, kamu benar-benar ingin dekat dengan mereka ya?" ucapnya sepertinya pura-pura cemburu hehe.
__ADS_1
"Kamu percaya padakukan hanya kamu laki-laki dimataku" jawabku sambil tersenyum.
"Tapi kamu tetap saja akan menjadi wanita cantik dimata mereka, aaaah sebaiknya kita masuk saja biarkan mereka makan sendiri " jawabnya ingin menarik tanganku untuk masuk kedalam hotel , haha sepertinya dia benar-benar marah.
"Sayang, pesta ini kan untuk kita kalau kita nggak ada dalam pesta semuanya sia-sia dong, aku ingin menikmati pesta ini dan menyapa teman-temanku" ucapku memohon.
"Kalau begitu berjanjilah kamu mau melakukan apa yang aku katakan" ucapnya sambil menatapku. Akupun mengangguk.
"Baik aku tidak akan membuatmu cemburu" ucapku sambil tersenyum manis.
"Jangan tersenyum seperti itu orang lain bisa melihatmu sekarang" Akupun langsung cemberut mendengar omelannya, ia pun membelai rambutku lembut "Baiklah karena kamu sudah cantik seperti ini, aku akan membiarkanmu menjadi putri sehari lakukan apapun yang kamu mau" jawabnya mengalah membuatku merasa nggak enak.
Akupun menarik tangannya agar dia mendekat, aku membisikkan sesuatu padanya "Aku adalah ratumu, aku tidak akan membiarkan orang lain memperlakukanku seperti seorang putri". Ucapanku berhasil membuat Farhan kaget dan menatapku, aku hanya tersenyum manis kearahnya, "Ayo kita sapa para tamu" ucapku sambil menariknya agar berjalan mengikutiku.
Farhan tidak mau berjalan, ia menciumku dihadapan para tamu undangan, lalu menatapku dan berbisik "Ratuku, aku tidak sabar menunggu pesta ini selesai" ucapnya.
"Kamu mau mati ya ?" ucapku mengikuti ucapannya kalau sedang marah, tapi aku tertawa karena dia manis sekali. Kamipun sama-sama tertawa. Para undangan memberikan tepuk tangan pada kami.
Kamu menuju meja rekan bisnisnya Farhan satu persatu, duduk sebentar untuk menyapa, Farhan tidak mengizinkanku untuk berjabat tangan dengan mereka.
"Pelit banget sih, tapi kamu nemu istri dimana cantik banget" goda salah satu cowok disana.
"Haha lo pikir barang apa nemu, ini hadiah yang Allah kirimkan buat gue tau" jawab Farhan santai.
"Selamat ya, lo keliatan bahagia banget" ucap salah satu cewek disana.
"Hehe iya makasih" jawab Farhan.
"Cieee ada yang cemburu nih, pasti banyak cewek yang patah hati karena lo udah nikah, lo tahu nggak sebutan lo dikantor itu apa ?" jawab cowok lain lagi.
"Haha emang kalian bikin sebutan apaan ?" Tanya Farhan, aku hanya diam seperti perintah Farhan ia masih menggengam tanganku tidak mau melepaskan.
"Cewek-cewek bilang lo itu Bos milik bersama, jadi nggak ada yang berani deketin lo karena mereka udah mutusin buat jadiin lo milik bersama, kalau ada yang deketin lo pasti mereka bakalan jauhin anak itu haha".
__ADS_1
"Serius, kalian benar-benar gila haha" Farhan hanya santai saja . Tapi perasaanku mulai tidak enak, inikah yang namanya cemburu, tapi Farhan emang ganteng sih mau gimana lagi harusnya aku bersyukur karena tidak ada yang berani deketin dia. "Nia kamu gak papa ?" Tanya Farhan menatapku karena aku sepertinya melamun.
"Ahh tentu saja nggak papa " ucapku tersenyum.
Kamipun makan malam bersama aku mendengar beberapa orang berbisik "Cantik sih tapi tahu nggak ada yang bilang dia itu nggak punya orang tua, orang miskin sih jadi mungkin saja Farhan cuma kasian sama dia, emang orang yang kayak gitu mudah untuk disukaikan, apalagi Farhan baik banget" Aku merasa aneh, aku terus memakan makananku, kini aku sedang duduk bersama Mariam, aku merasa tenang karena masih ada teman mengobrol. Farhan sibuk berbicara dengan tamu yang lain.
"Kak Nia kakak nggak papa, kakak kelihatan pucat!" tanya Mariam khawatir.
"Aku baik-baik saja kok" jawabku menenangkan. "Kamu datang sama kakakmu ya ?" tanyaku.
"Iya , itu dia lagi ngobrol sama temanya" Mariam menujuk seorang laki-laki tinggi dan tampan, tentu saja mereka sangat mirip pikirku.
"Pasti senang ya kalau punya saudara" tanyaku iri.
"Ya seneng sih ada yang nganterin kemana-mana, tapi ada nggak enaknya juga dia selalu mengatur ku ini nggak boleh, itu nggak boleh, walaupun dia cowok tapi sangat cerewet, kadang aku berfikir wanita mana yang mau sama dia haha" ucapnya tapi kelihatan kalau Mariam juga sayang pada kakaknya.
"Haha keliatannya dia baik juga tampan" jawabku asal.
"Haha mungkin orang yang belum mengenalnya menggangapnya seperti itu, tapi kalau udah kayak aku kena buli dan omelan setiap hari pasti mengerti" jawabnya lagi.
"Ahh aku iri seandainya aku juga punya saudara, pasti ada yang mau melindungiku seperti itu juga" jawabku membuat mariam merasa tidak enak.
"Kak Nia jangan sedih, Allah itu sangat adil Allah tahu apa yang terbaik untuk hambanya, sekarang Kak Nia punya suami kayak Kak Farhan kelihatanya ia sangat mencintai kakak, tadi aku sempat terkejut melihat kalian berciuman hehe" ucap Mariam malu-malu, aku juga malu sih sebenarnya. "Walaupun aku nggak kenal Kak Farhan orangnya seperti apa, tapi aku bisa tahu kalau Kak Farhan sangat mencintai Kak Nia dari tadi ia melirik kearah sini terus" ucap Mariam lagi membuatku menoleh kearah Farhan, hehe benar saja Farhan tersenyum karena melihatku menoleh ke arahnya. Aku terlalu terbawa oleh lamunanku, aku tidak menyadari kalau Farhan mungkin saja menghawatirkanku, benar kata Mariam aku tidak boleh merasa lemah seperti ini merasa kurang beruntung. Padahal Allah sudah memberiku suami sehebat Farhan.
"Apakah dari tadi ia menoleh ke arah sini ?" tanyaku lagi penasaran.
"Iya, mungkin Kak Farhan takut kalau kak Nia di godain laki-laki lain hehe" Mariam tertawa menggodaku "Ngomong-ngomong kak Nia nggak mengundang Kak Ardan?" tanyanya malu-malu.
"Maaf ya Suamiku tidak mengizinkannya" jawabku merasa bersalah tentu saja Mariam pasti ingin bertemu dengannya.
"Haha aku nggak papa kok aku bisa mengerti" ucapnya membuatku bingung.
Malam semakin larut, akhirnya pukul 11 acara baru selesai, kami tidak pulang kerumah kami menginap dihotel ini. Farhan memintaku untuk mandi duluan, akupun mandi aaaah lelah sekali, padahal aku tidak melakukan apapun tadi . Setelah selesai aku keluar kamar, melihat Farhan berbaring di atas kasur masih dengan setelan jasnya.
__ADS_1
Aku menatapnya sesaat, ia sudah tertidur pasti capek sekali, aku membantunya melepas jas dan kaus kakinya. Lalu berbaring disampinya sambil menarik selimut. Aku menatapnya lama, ia tertidur dengan tenang, aku membelai wajahnya ia tidak bergerak sama sekali, akupun mencium pipinya dan membisikkan ucapan selamat malam padanya , kemudian kembali ketempatku terlelap dalam mimpi yang indah.
Love your self before you give your love to others !! Hehe ^^