KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Baby long legs


__ADS_3

A Baby is blessing. A gift from heaven above.


A precious litte angel to cherish and to love.


Time has changes, sudah 5 bulan usia kandungan Nia, kini Farhan mengantar istrinya untuk periksa ke dokter untuk mengetahui kesehatan calon bayi mereka sekaligus melihat jenis kelamin bayi.


Farhan sedikit sedih karena dokter bilang jenis kelamin bayinya laki-laki, padahal ia ingin punya anak perempuan yang mirip dengan istrinya.


Nia menyadari kenapa wajah suaminya berubah menjadi mendung, dan tidak bersemangat, mulai dari kepulangan dari rumah sakit hingga sekarang Farhan tidak banyak bicara.


Nia bosan berada di dalam kamar, sedangkan suaminya sibuk dengan laptopnya mungkin ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Pelan-pelan Nia meninggalkan kamar mumpung suaminya sedang sibuk, ia ingin memasak sesuatu tapi jika ketahuan suaminya pasti akan dilarang. Ia menggunakan guling yang ditutupi oleh selimut untuk menggantikan keberadaanya dikamar ini.


Sesampai didapur akhirnya Nia bisa bernafas lega, Nia melihat kesekeliling dapur tapi tidak menemukan Bi Mina mungkin saja jam segini Bi Mina pergi ke pasar atau sedang membersihkan toilet.


Nia tersenyum senang karena tidak akan ada yang melarangnya menggunakan dapur. Nia mulai membuka pintu kulkas mencari bahan makanan yang ia inginkan, tapi kenapa semuanya terlihat tidak enak, Nia jadi kehilangan selera makan. Nia berfikir sejenak lalu membuka pintu lemari yang isinya adalah bahan makanan kering. Yup ketemu mi instan, Nia sangat merindukan makanan ini sudah lama ia tidak makan ini karena Farhan melarangnya memakan makanan yang tidak sehat.


Apakah ini bagian dari ngidam, semakin Farhan melarangnya maka semakin ingin Nia melakukannya. Dengan hati yang gembira Nia mulai memasak Mi instan itu ditambah dengan jamur, sawi dan juga telur, bukankan ini sudah menjadi healty mie instan, hehe.


Mi Sudah siap, Nia meletakkannya di meja makan dan kembali ke dapur untuk mengambil secangkir jus jeruk.


Bi Mina datang dan terkejut melihat Nonanya ingin memakan mi instan. Bi Mina buru-buru berlari untuk melarang nonanya itu.


Nia tersenyum melihat Bi Mina yang mendekat dengan terburu-buru.


"Nona tolong jangan makan mi instan, saya masakan yang lain ya ?" ucap Bi Mina khawatir.


"Gpp bi, saya mau makan ini, ini keinginan bayinya loh" ucap Nia memberi alasan, ia selalu memakai alasan ngidam agar mendapatkan apapun keinginannya.


"Tapi nona, mi instan itu tidak sehat, dan nyonya pernah melarang nona agar tidak memakannya kan kalau sampai nyonya sama tuan muda tahu pasti mereka akan marah."ucap Bi Mina berusaha menghentikan keinginan nonanya itu.


"Tolong bi sekali saja jangan bilang ya !" ucap Nia memohon, karena hanya mencium baunya saja ia ingin segera melahap mi dihadapannya itu.


Farhan turun karena mendengar keributan di dapur, dan ia marah karena Nia keluar dari kamar tanpa izin dan berani memakai guling untuk menipu penglihatannya.


"Ada apa bi ?" ucap Farhan sambil bergegas turun dari tangga.


"Ini Tuan, Nona ingin makan mi instan !" ucap Bi Mina.


Farhan berdiri disamping Nia dan menjauhkan mangkok mie dihadapan istrinya. "Bi sudah kubilang jangan berikan pada istriku makanan yang tidak sehat seperti ini !" ucap Farhan marah.

__ADS_1


Bi Mina sangat ketakutan dan meminta maaf, karena jarang sekali melihat majikannya marah seperti ini.


"Itu bukan salah Bi Mina, aku yang memasaknya sendiri, karena aku ingin memakannya" ucap Nia agar Farhan berhenti memarahi pembantunya yang tidak salah apa-apa itu.


Farhan diam dan menatap istrinya tajam. "Seharusnya kamu bisa menjaga kesehatanmu, jangan berprilaku seperti anak kecil !" ucap Farhan masih marah.


"Hanya sekali saja ok, bayimu ingin makan ini lagipula udah aku masukin sayur juga jadi pasti sudah jadi healty mi instan." ucap Nia sambil meraih mangkok Mi yang jauh dari mejanya.


"Tidak boleh !" ucap Farhan, menahan mangkok yang ingin diambil istrinya.


Nia menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia tahu dengan cara ini pasti hati suaminya akan luluh.


"Tidak boleh, tidak bagus untuk kesehatan anak kita ! kalau kamu lapar biar Bi Mina masakkan yang lain !" ucap Farhan tegas.


Huh Nia menarik nafas panjang dan melepaskan mangkok itu. Ia dengan marah meninggalkan meja makan dan berjalan untuk kembali kekamarnya.


"Kamu mau kemana makan dulu !" ucap Farhan bingung melihat kelakuan istrinya yang semakin hari semakin tidak bisa ditebak dan semakin menyebalkan.


"Aku sudah tidak lapar makan saja sendiri !" ucap Nia sambil menaiki tangga tanpa menoleh kebelakang.


Farhan mengalah, "Bi maaf tadi sudah marah-marah. Tolong buatkan makanan lain ya !" ucap Farhan meminta maaf atas kesalahannya.


"Baik bi terimakasih" Ucap Farhan lalu berlalu pergi mengejar istrinya.


Nia sudah berbaring dibawah selimutnya, mengibarkan bendera perang untuk mogok makan karena suaminya tidak mau mendengarkan permintaannya.


Farhan duduk disamping istrinya, membelai rambut istrinya perlahan. "Maaf, seharusnya aku tidak marah padamu. Kamu kan seorang ibu demi anak kita tolong jaga kesehatan ya ?" ucap Farhan lembut.


Nia tidak menjawab.


Farhan menarik nafas panjang untuk mengontrol emosinya agar tidak marah. Ia berbaring disamping istrinya dan memeluk istrinya dari belakang. "Jangan marah lagi, kamu ingin makan apa biar aku belikan !" ucap Farhan lagi berusaha menghibur istrinya.


"Akhh !" desah Nia tanpa sadar.


Farhan bangun dan pergi kesisi lain ranjang agar bisa melihat wajah istrinya. "Kenapa ? mana yang sakit ?" ucap Farhan cemas.


Melihat wajah khawatir suaminya akhirnya hati Nia lah yang luluh, ia berusaha bangun dari tidurnya di bantu oleh suaminya. Sekarang posisi Nia sedang duduk dan bersandar di bantalan ranjang.


Farhan duduk disamping istrinya lalu memeriksa kening istrinya. "Apa kau baik-baik saja, mana yang sakit ?" ucap Farhan khawatir.

__ADS_1


"Anak kita mulai aktif ia bisa menendang dengan keras." ucap Nia sambil meringis.


"Apakah itu sakit ?" ucap Farhan sambil memegang perut istrinya.


Nia tersenyum "Kamu lihat tadi kan, kaki anak kita panjang sekali, dan tubuhnya juga sudah terbentuk sempurna, aku tidak sabar ingin segera melihat litte Farhan pasti dia akan sangat tampan sepertimu" ucap Nia mengalihkan topik pembicaraan.


Farhan hanya menatap istrinya kasihan dan juga senang karena istrinya sangat bersemangat.


"Kamu dengar detak jantungnya tadi ? sangat mengagumkan. Little Farhan pasti akan tumbuh dengan sehat dan kuat sepertimu, lihat dia mulai menendang lagi" ucap Nia sambil mengarahkan tangan suaminya ke tempat dimana bayi mereka menendang.


Farhan bisa merasakannya, itu bukan lagi getaran kecil saat bayi mereka berusia 3 atau 4 bulan kini ia bisa merasakannya dengan jelas. Farhan mencium perut istrinya "Jangan nakal didalam sana, kasihan bunda kesakitan" ucap Farhan lalu menempelkan pipinya diperut istrinya . Dengan ini ia bisa merasa lebih dekat dengan anaknya.


Nia tersenyum lalu membelai rambut suaminya. "Aku tahu kamu kecewa karena kita akan memiliki anak laki-laki, hhhh aku harus bagaimana jika kamu tidak mau membantu merawatnya ?" ucap Nia akhirnya berani membuka mulut.


"Bukan seperti itu, sekarang aku tidak peduli asalkan itu anak kita, pasti mereka akan sangat mengagumkan." ucap Farhan sadar akan kesalahannya.


"Tidak, kamu tidak sayang sama anak kita tadi saja ketika anak kita lapar kamu tidak mau memberinya makan, makanya ia marah dan menendangku seperti itu, ahh rasanya sakit sekali, haruskah aku memangginya anakku bukan anak kita ?" ucap Nia mulai berkomentar.


Farhan bangun hhhh istrinya mulai lagi. "Sebentar lagi Bi Mina akan membawakan makanan untukmu !"


Nia cemberut dan kembali masuk kedalam selimutnya. "Aku tidak mau makan kalau itu bukan mi instan yang seperti tadi !" ucap Nia lalu menenggelamkan seluruh tubuhnya kedalam selimut.


"Nia, kamu ingin aku marah kan sudah ku bilang tidak boleh, sepertinya aku terlalu memanjakanmu ya !" ucap Farhan tidak mau mengabulkan keinginan istrinya.


"Kapan kamu memanjakanku, ini tidak boleh itu tidak boleh, aku tidak bisa pergi kemanapun yang aku mau, aku tidak bisa memakan apapun yang aku mau, aku tidak bisa melakukan apapun yang aku mau. Kamu sudah tidak sayang lagi kan padaku, mungkin nanti aku harus mencari uang yang banyak untuk menghidupi anakku!" ucap Nia terus berkomentar.


Ini lah yang terjadi jika kami para suami harus berhadapan dengan kalian para istri yang sedang ngidam, ia akan terus seperti itu hingga keinginannya dikabulkan.


20 menit kemudian, Nia berhasil menghabiskan Mi instan dan jus jeruk yang baru dimasakkan oleh Bi Mina. Ia tersenyum senang karena sudah kenyang.


Farhan geleng-geleng kepala karena selalu kalah beradu mulut dengan istrinya.


"Sekali ini saja lain kali tidak boleh makan mi instan sampai anak kita lahir didunia mengerti " ucap Farhan mengingatkan istrinya lagi karena tadi Nia sudah mengiyakan kesepakatan mereka bahwa ini adalah mi instan terakhir dalam masa kehamilan


Nia malah mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum mengejek. "Aku capek mau tidur !" ucapnya tanpa peduli ekspresi suaminya.


Farhan mendesah "Ya Allah aku harus sabar seperti apa lagi ?" Ia mencium kening istrinya, dan menyadari kalau istrinya sedang tersenyum senang. "Ahh dasar !" ia pun ikut tersenyum dan berusaha untuk tidak mengeluh lagi.


Yeyey, kalian kangen sama mereka kan ? author gregetan banget kalau nulis cerita seperti ini, padahal juga belum ada pengalaman haha just imagination !! Hehe^^

__ADS_1


__ADS_2