
Nia's
Kebahagiaan terindah adalah melihat orang yang kamu cintai tersenyum. Apalagi mengetahui bahwa kamu adalah alasan di balik senyuman itu .
Kembali duduk dikursi taman kampus yang nyaman, sambil menikmati makan siangku, aku menatap suasana disekitar sepi, tidak banyak yang berubah cuaca sangat cerah angin bertiup lembut, pohon yang rindang menghalagi sinar mentari yang ingin membakar kulitku. Aku menunggu teman baruku Mariam aku merasa senang sekali karena satu persatu keinginanku terkabulkan.
Aku teringan kertas pertanyaan dari Farhan akupun mengambilnya di tas dan meletakkannya dimeja penasaran apa yang ingin ia ketahui dariku. Aku membelalakan mataku tak percaya mengedipkannya beberapa kali, pertanyaan apaan ini ?
Kapan pesta pernikahan kita, dilaksanakan ?
Ingin bulan madu kemana ?
Ingin punya anak berapa ?
Sudah hanya ini ? Dia gila ya aku kan masih kuliah, anak ? Apakah aku sudah siap untuk memiliki anak ? Tapi mungkin Farhan memang menginginkannya dia kan sudah cukup umur. Menyebalkan kenapa pertanyaannya seperti ini berbeda dengan pertanyaanku kemarin.
Kapan ulang tahunmu ?
Makanan favorit ?
Musik favorit ?
Warna favorit ?
Hal yang dibenci ?
Hal yang disukai ?
Aku pikir dia akan bertanya seperti itu juga, yahh aku kan tidak bisa memaksa pikiran manusia, mungkin aku juga salah memberi instruksi kemarin .
"Hay kak !" Suara Mariam mengagetkanku ia duduk dikursi sebelahku akupun tersenyum.
"Kamu sudah makan siang ?" tanyaku.
__ADS_1
"Sudah kak, tadi aku pergi ke atap untuk makan siang !" jawabnya, ahh rasanya aku jatuh cinta dengan suaranya.
"Kenapa harus makan di atap ? Kamu sendirian ?" tanyaku penasaran.
"Haha iya aku nggak punya teman, aku makan disana karena susah kalau memakai cadar jadi aku melepaskannya".
"Boleh aku tanya sesuatu ?" ucapku karena penasaran.
"Kenapa kamu memakai pakaian seperti ini, aku tahu ini adalah cara wanita muslimah berpakaian tapikan itu cuma di Arab sana, disini mungkin akan banyak orang yang menatapmu aneh" Aku menatap Mariam ia hanya menundukkan kepala seperti sedang berfikir, "Maaf aku tidak bermaksud, aku suka kamu kok, aku ingin kita berteman, aku hanya penasaran saja" lanjutku berusaha agar dia tidak salah paham dengan ucapanku.
Dia menatapku, aku melihat matanya sedikit menyipit sepertinya ia sedang tersenyum, kini aku mulai mengerti ekspresi wajahnya hanya melalui tatapan matanya, tunggu ? warna matanya cantik sekali seperti perpaduan warna coklat dan abu-abu, bola matanya juga besar, bulu matanya lentik, alisnya juga bagus, hidungnya jelas sekali terlihat mancung, aku terpesona melihatnya, aku penasaran seberapa cantik dia , tapi kenapa ia menutupi wajahnya ? "Karena aku malu !" jawabnya singkat.
"Maaf aku tidak mengerti, malu? kenapa ? sepertinya kamu cantik sekali" ucapku jujur.
"Haha, cantik apa? Kakak lebih cantik!" Ia tersenyum lalu tatapannya berubah menjadi serius "Aku malu sama Allah ! Bukankah Allah meminta kita untuk menutup aurat, dan sesungguhnya apapun yang Allah larang ataupun apapun yang Allah suruh pasti akan ada kebaikan di baliknya. Apakah kakak tahu, pakaian ini bisa menjaga kita dari tatapan laki-laki yang bukan mukhrim, mungkin memang benar orang lain menatapku aneh, tapi itu semua karena mereka tidak tahu, mereka tidak mengerti". Ia menatapku mungkin ingin mendengar pendapatku aku mengerti atau tidak.
"Aku salut sama kamu, aku juga pernah mendengar dari guru ngajiku dulu, tapi aku masih takut untuk melakukannya, aku takut dengan tatapan aneh orang-orang disekitarku" Aku menatapnya dan tersenyum "Doakan aku mudah-mudahan suatu saat nanti aku diberi keberanian untuk melakukannya!"
Mariam meraih tanganku dan mengengamnya "Akan aku doakan semoga kita menjadi sahabat dunia dan akhirat" Aku tersenyum mendengarnya.
Aku ikut mengerti apa yang dirasakan oleh Mariam, kamipun sudah menjadi sahabat dekat sekarang. Yey mulai hari ini aku nggak akan makan siang sendirian aku akan mengikutinya ke atap.
Masih pukul 3 aku sudah pulang kerumah, Aku hanya tiduran dikamar sambil mainan hp nggak ada yang seru, akhirnya aku menonton TV lihat film korea hehe. Jam menujuk pukul 5, Film nya sudah habis sekarang acara berita entah karena iseng atau nggak ada kerjaan akupun menonton berita. Aku merasa tertarik karena di dalam acara itu membicarakan tentang Fajar Kusuma seorang pengusaha sukses di Indonesia, yang karirnya sudah mencapai tahap Internasional, ia ingin membangun sekolah khusus untuk orang-orang tidak mampu, dan memberikan beasiswa penuh untuk anak-anak yatim piatu yang ingin sekolah. Aku sering melihat beritanya di TV entah kenapa aku menyukainya mungkin karena namanya sama dengan nama Ayahku yang bahkan aku sendiri tidak pernah tahu seperti apa wajahnya. Terkadang aku berhayal seandainya Ia adalah ayahku, bukan seandainya aku memiliki ayah seperti dia, kaya dan dermawan, suka berbagi dengan orang lain, dengan orang lain saja ia peduli apalagi dengan keluarganya? ia pasti sangat peduli dan sangat menyayangi keluarganya dengan tulus, seperti halnya Mama Farida dan Farhan, atau Mariam dan keluarganya. "Nia berhenti merasa iri sekarang kamu sudah memiliki segalanya, suami yang baik, mertua yang menggapmu seperti anaknya sendiri, dan teman baik seperti mariam, ahh apa kabar Ria aku sudah lama tidak mengabarinya!" Aku berbicara sendiri menyemangati diriku sendiri.
Aku meraih hpku dan video call Ria, tidak berapa lama wajah Ria sudah terpampang di layar hp.
"Hay sis apa kabar ?" Sapanya, ia terlihat baru selesai mandi dan mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Baik, kamu apa kabar aku kangen, kamu makin gemuk ya " ucapku menggodanya.
"Haha sialan lo, ehh lo ada dimana ?" Ria terlihat bingung dengan tempat keberadaanku.
Tiba-tiba Farhan datang dan menghapiriku "Siapa?" tanyanya lalu melihat ke arah hpku. "Oh hay Ria, kamu ngapain ?" sapanya.
__ADS_1
Terlihat wajah kaget Ria "Eh kalian ada dimana sih? kok bisa barengan, jangan-jangan kalian udah nikah ya?" tanyanya ingin menggoda.
"Haha iya kita udah menikah" Jawab Farhan tanpa dosa.
"Apa ?" Ria makin terkejut dengan jawaban Farhan, "Lo bercanda ya, kapan kalian menikah kok gk ngabarin gue" tanyanya marah.
Aku meraih hpku "Panjang ceritanya!" Aku menatap ke arah Farhan "Mandi dulu sana !" usirku karena tidak rela kalau Farhan melihat Ria apalagi Ria baru selesai mandi gitu.
Farhan menciumku lalu melihat kearah hp seperti mau pamer kemesraan dihadapan Ria, "Istri gue cemburu nih, haha gue mandi dulu ya dahh !" ucap farhan, Ria hanya tertawa cekikikan.
"Dasar so sweet banget sih loh, gue kan jadi iri" Jawab Ria menggoda Farhan, lalu Farhan tersenyum dan pergi ke kamar mandi. Ria kembali menatapku "Ehem, jadi gimana ? kapan kalian menikah?"
"Baru 2 hari yang lalu kita masih belum mengadakan pesta karena suatu kecelakaan ya jadilah seperti ini" jawabku santai
"Kecelakaan ? lo hamil duluan ya" tanya Ria yang membuatku kaget.
"Sialan lo gila ya , enggak mungkin lah , bla bla bla ......." Aku menceritakan kejadian waktu Farhan marah dan tentang stalker itu juga.
"Wah Farhan keren juga ya , nggak nyangka kalian akan nikah secepat ini, selamat ya sis ! ahh gue juga mau nikah, tapi masih jomblo " ucapnya sedih.
"Haha sana minta sama mama lo biar lo bisa dijodohin, dan menikah deh" jawabku tertawa.
"Sialan loh, gue maunya nikah sama cowok pilihan gue sendiri" Ria tertawa. Akupun ikut tertawa kami terus melanjutkan obrolan-obrolan tidak penting ala teman hehe.
Selesai makan malam aku dan Farhan kembali kekamar, tapi Farhan sibuk dengan pekerjaannya karena belum selesai, aku ingin menggangunya tapi takut. Aku ingin tidur tapi nggak ngantuk akhirnya aku memutuskan untuk belajar di sampingnya hehe , meja kerja ini cukup besar untuk dua orang, Farhan juga sudah menyiapkan satu kursi untukku. Aku menatap bukuku sesekali meliriknya yang sedang fokus dengan pekerjaannya. Jadi seperti ini wajah Farhan yang lagi bekerja haha manis juga.
"Kenapa ?" Tanyanya tanpa menoleh dari laptopnya.
"Sedang mengagumi makhluk ciptaan Allah yang sempurna" Aku tersenyum sambil terus memandanginya.
Farhan menatapku sekarang "Kamu sedang menggodaku ya?".
Aku cepat-cepat beralih pada buku pelajaranku "Enggak kok, aku juga lagi sibuk tahu!". Aku meliriknya sedikit Farhan tersenyum dan kembali menuju laptopnya.
__ADS_1
Aku masih tersenyum sendiri, tidak bisa konsentrasi belajar. Jadi seperti ini rasanya belajar bersama orang yang kita cintai, jantungku berdebar, aku tidak bisa mendengar apapun hanya suara jari tangannya yang mengetik sesuatu , atau gesekan kertas karena ia ingin mengecek sesuatu di kertas laporan tersebut. Sepertinya Farhan juga bekerja keras, bahkan ia tidak peduli dengan aku yang ada disampingnya. Meskipun aku jadi sedikit kesal tapi aku masih bisa menerimannya, dia bekerja juga untuk menghidupi keluarga kami. Tunggu Keluarga Kami ? Aku tersenyum mengingat kata yang aku pilih. Aku dan Farhan telah menjadi kata kita seandainya kita memiliki anak maka akan menjadi kami. Ahhh keluarga kami, keluarga kami, kata-kata itu terus berputar diotakku, aku jadi tidak bisa fokus belajar, tapi aku tetap senang membayangkan masa depan yang telah menunggu kita.
Aiiiish Nia kamu makin hari makin imut deh !! Hehe ^^