
I'd rather have bad time with you, than good time with someone else.
I'd rather be beside you in the strom, than save and warm by my self.
I'd rather have hard time together, than to have it easy apart.
I'd rather have the one who holds my heart.
Hari minggu kembali datang, sehabis sarapan Ibu Mariam berpamitan untuk pulang. Setelah menghabiskan waktu selama sehari semalam bersama putri dan menantunya membuat Ibu Mariam merasa bahagia, kini ia bisa tenang karena sepertinya putri dan menantunya sudah menjalin hubungan dengan baik. Tentu saja karena kemesraan Mariam dan Zain terlihat dengan jelas seperti sudah tidak ada kecanggungan diantara mereka.
Karena hari ini Zain juga libur mereka memutuskan untuk pergi berbelanja lalu berkunjung kerumah sahabatnya. Mariam merasa sangat rindu pada Nia karena sudah lebih dari 3 bulan mereka tidak bertemu.
Setelah membeli kebutuhan dapur, mereka langsung menuju rumah Nia.
Diperjalan menuju rumah Nia, Mariam tidak berhenti berbicara, ia sangat senang karena bisa tinggal bersama ibunya kemarin, ya meskipun hanya sehari.
Setelah menempuh perjalan selama 15 menit merekapun sampai didepan rumah Nia. Pak satpam membukakan pintu gerbang setelah menanyai identitas mereka.
Nia berada didapur membuat kue, sekaligus memasak untuk makan siang dengan dibantu oleh Bi Mina, sedangkan Farhan seperti biasa duduk dimeja makan bersama laptopnya, sambil mengawasi kegiatan istrinya.
Kandungan Nia sudah hampir mencapai 9 bulan, tidak seperti wanita hamil lainnya yang biasanya menjadi malas karena sering kecapekan, Nia malah tidak mau duduk manis dan bersantai, sebaliknya ia suka memasak dan berkebun ditaman belakang samping dapur. Tentu saja hal ini membuat Farhan menjadi kesal, karena harus berjaga dengan ektra hati-hati.
Ting tong, bel berbunyi pertanda ada tamu yang datang.
"Sayang, mungkin itu Mariam kamu bukakan pintunya ya, aku sama Bi Mina masih sibuk nih !" Teriak Nia dari dapur.
"Iya !" ucap Farhan segera mematikan laptopnya dan beranja dari duduknya untuk membukakan pintu untuk tamu mereka.
"Assalamualaikum !" Ucap Mariam, dan Zain bergantian setelah melihat pemilik rumah muncul dari balik pintu.
"Waalaiku salam, ayo masuk !" Ucap Farhan mempersilahkan tamunya untuk masuk.
"Terimakasih !" Mariam dan Zain mengikuti langkah Farhan dan duduk di sofa ruang tamu setelah Farhan mempersilakan mereka untuk duduk.
Ini bukan pertama kalinya Mariam berkunjung kesini, terkadang Mariam juga berkunjung sepulang kuliah jika ada mata kuliah kosong. Karena jarak kampus dengan rumah Nia tidak terlalu jauh.
Mereka mengobrol sekedar untuk basa-basi menanyakan kabar, kuliah, pekerjaan, dll ! Sesaat kemudian Nia datang sambil membawa sepiring kue bronis yang baru ia buat. Diikuti dengan Bi Mina yang membawakan kopi untuk Farhan dan Zain, dan teh hangat untuk Nia dan Mariam.
__ADS_1
Nia duduk disamping suaminya."Hay apa kabar, sudah lama kamu tidak main kesini !" ucap Nia pada Mariam.
"Iya baik, jadwal kuliah padet banget sebentar lagi mau ujian lagi !" ucap Mariam mengeluh.
"Benar juga, aku sudah kelamaan libur jadi lupa akan waktu, terkadang aku juga lupa hari ini hari apa ? haha !" gurauan Nia yang disambut hangat oleh temannya.
"Bagus istirahat dulu, mungkin nanti kakak masuk kuliah bisa seangkatan denganku hehe !" ucap Mariam membalas candaan Nia.
"Haha benar juga nanti kita bisa lulus ditahun yang sama ! Oh ya cobain kuenya aku bikin sendiri loh !" ucap Nia.
"Kamu bikin sendiri wah keren, aku aja baru belajar memasak !" ucap Mariam sedih, sambil mengambil satu potong kue.
Zain hanya tersenyum mendengar ucapan mariam. "Apakah kamu tidak kesusahan memasaknya, aku dengar kalau wanita hamil akan sering merasa lelah !" tanya Zain penasaran.
"Tidak semua wanita hamil seperti itu, istriku ini sangat gesit tidak pernah mau diam. Tapi yang pasti wanita hamil itu kemauannya aneh-aneh, bersiaplah kalian kalau mau punya anak juga !" ucap Farhan dengan nada menakut-nakuti.
Nia menepuk paha suaminya agar dian "Haha tidak seperti itu juga sih, terkadang memang capek tergantung dengan mood, kadang aku suka diam kadang suka jalan-jalan !" ucap Nia menjelaskan.
"Terkadang apanya, semenjak perutmu menjadi semakin besar kamu tidak pernah mau istirahat sekalipun, membuatku kesal saja !" ucap Farhan protes. "Dengar kata dokter meskipun kandunganmu sudah kuat kamu juga harus banyak istirahat !" ucap Farhan meminta istrinya agar mendengarkan nasihatnya.
"Aku tidak bilang bermalas-malasan aku bilang harus lebih banyak beristirahat!" ucap Farhan marah.
Nia tidak terima dan bla bla bla. Nia dan Farhan terus berdebat dihadapan tamunya. Sedangkan Marian dan Zain saling menatap dalam diam seribu kata, lalu tertawa bersamaan.
Nia dan Farhan kembali tersadar bahwa masih ada tamu disini. Nia dan Farhan terdiam malu sekaligus kesal.
Apa yang mereka tertawakan ?
Itulah yang ada dipikiran Farhan dan Nia.
Zain pura-pura terbatuk agar bisa menghentikan tawanya. "Maaf aku tidak bermaksud menertawakan kalian, itu karena kalian lucu sekali !" ucap Zain menjelaskan.
"Lucu apanya, ini itu namanya romantis, apakah kamu tidak pernah melakukannya ?" tanya Farhan heran.
"Kenapa kami harus melakukannya, itu kekanakan sekali !" Ucap Zain mengejek.
Farhan merangkul pundak istrinya. "Kamu tidak pernah merasakan kebahagiaan setelah bertengkar ya ? Dengar ya setiap pasangan akan semakin mesra setelah bertengkar, kami selalu bertengkar walau hanya hal kecil, tapi itu adalah tanda bahwa kami peduli satu sama lain. Yah pemula seperti kalian memang masih harus banyak belajar !" Ucap Farhan percaya diri.
__ADS_1
Zain tidak terima, ia juga merangkul pundak istrinya lalu menatap istrinya dengan lekat. "Apakah yang dikatakannya benar, kenapa kita tidak pernah bertengkar apakah karena aku terlalu sibuk bekerja sehingga kurang memperhatikanmu ?" ucap Zain meminta penjelasan.
"Bukan, itu karena abang terlalu baik, abang selalu melakukan apapun yang adek minta, abang selalu pengertian dan mengalah itulah sebabnya kita tidak pernah bertengkar !" ucap Mariam memberi penjelasan.
Zain menganguk lalu menatap Farhan "Kamu dengar itu kami bisa tetap mesrah walaupun tanpa harus bertengkar !" ucap Zain dengan percaya diri.
Farhan mati gaya sedangkan Nia tertawa karena suaminya kalah debat dengan suami temannya.
Farhan cemberut ia tidak bisa menjawab ucapan Zain, apalagi Nia menertawakannya sangat memalukuan.
"Aduh !" ucap Nia meringis sambil memegangi perutnya.
"Kamu kenapa ?" Tanya Farhan khawatir, apakah karena terlalu banyak tertawa hingga perut istrinya sakit.
Nia menatap suaminya dengan ragu lalu ia berkata. "Sepertinya aku akan melahirkan !"
"Apa, dokter bilang masih dua minggu lagi !" ucap Farhan bingung.
"Tapi aku merasa air ketubanya sudah pecah !" ucap Nia.
Farhan panik sehingga bingung apa yang harus dilakukan, karena semua tidak sesuai dengan rencana. Untung ada Mariam yang bisa menenangkannya.
"Tenang, kita bawa kak Nia ke rumah sakit ya!" Mariam meminta suaminya untuk mengambil mobil. Lalu meminta Farhan untuk menghubungi ibunya dan menelfon rumah sakit untuk melakukan registrasi sambil menunggu Zain mengambil mobil diparkiran.
Farhan menuntun istrinya untuk berjalan keluar. Mereka masuk kedalam mobil Zain, Farhan duduk dibelakang menemani istrinya. Mariam duduk disamping Zain sambil memberi tahu alamat rumah sakit yang dituju.
"Kau baik-baik saja ?" tanya Farhan khawatir. Karena wajah Nia mulai terlihat pucat dan tidak banyak bergerak. Berbeda dengan istri Anton yang terus menjerit kesakitan.
"Aku baik-baik saja !" Ucap Nia tenang.
Farhan membelai perut istrinya sambil berdoa semoga persalinan istrinya lancar dan semua bisa selamat. "Kalau sakit jangan ditahan, kamu boleh berteriak, kamu boleh memukulku atau apapun yang kamu mau !" ucap Farhan.
Nia malah tertawa "Kamu terlalu banyak menonton drama ya ? Aku bilang aku baik-baik saja !"
Farhan bisa bernafas kembali setidaknya istrinya masih bisa bercanda di situasi seperti ini.
Para pembaca tercinta mohon dukungannya ya, dengan memberi semangat pada author. Like, coment, subscribe, dan votenya ya! Thank you !! Hehe^^
__ADS_1