
Nia's
Sudah seminggu sejak pertengkaranku dengan Farhan. Aku pikir ia akan segera kembali mencariku tapi? Seperti halnya saat ia berjalan meninggalkanku tanpa menoleh, sekarang ia benar-benar pergi tanpa ingin kembali.
Aku bahkan tidak berani untuk menghubunginya duluan, karena aku sadar aku telah membuat kesalahan besar, aku tidak berani berharap bahwa ia akan memaafkanku lagi. Satu-satunya caraku untuk menebus kesalahanku adalah berubah, agar suatu saat Farhan mau memaafkanku kembali.
Minggu lalu setelah Farhan pergi, Ardan kembali datang padaku dan meminta maaf. Aku mengatakan padanya bahwa itu bukan kesalahannya dan aku meminta agar kita tidak perlu berteman lagi, karena aku berkata jujur padanya kalau aku tidak akan melakukan apapun yang akan membuat Farhan benci padaku lagi. Seperti yang kuduga Ardan adalah cowok yang baik ia mengerti dan mendoakan kebahagiaan untuk kami. Aku lega karena Ardan tidak marah, tapi tetap saja ketika bertemu, kami masih merasa canggung hanya saling menyapa dan pergi itulah yang kami lakukan. Aku juga menjauh dari teman-teman Ardan karena sesungguhnya aku memang tidak pernah mempunyai teman. Baiklah itu tidak masalah bagiku, ini bukan pertama kalinya orang yang aku sayangi pergi. Hanya kembali kekehidupanku yang semula hanya ada aku dan Allah.
Aku mengatakan pada dosen pembimbing bahwa aku ingin berhenti kelas seni dan aku ingin pindah jurusan Bahasa Indonesia. Dosenku sangat baik ia mengerti bahwa aku tidak memiliki bakat melukis ia bahkan mau membantuku untuk pindah jurusan.
Selanjutnya aku pergi ke hotel tempatku bekerja, memberikan surat pengunduran diri, awalnya bosku menolak tapi dengan berbagai alasan yang aku lontarkan akhirnya ia bisa mengerti dan mengizinkanku untuk berhenti bahkan bosku juga memberiku uang pesangon. Mungkin benar kata kakek Perbaiki niatmu maka Allah akan perbaiki urusanmu.Oke satu persatu masalah terselesainkan.
'Today Is Sunday Yey !' Ucapku dalam hati setengah sadar, seperti biasa aku bisa tidur lagi setelah sholat subuh. Aku meraih Hpku yang ada diatas bantal melihat jam ternyata masih jam 7, 'baiklah tidur lagi saja!'. Aku kembali memejamkan mata dan terlelap dalam kemalasan hehe. Setelah hidup selama 20 tahun sepertinya baru kali ini aku bangun hingga jam 10 pagi.
Awal hidup baruku dimulai, bangun tidur, mandi, sarapan, membereskan tempat tidur, lalu menyiapkan hp, laptop, note book, dan pensil, ehh jangan lupa satu botol air mineral dan keripik kentang kesukaanku. "Yup, semuanya beres, saatnya bertempur" aku tersenyum puas dan segera duduk di meja belajarku.
Tik tok, tik tok suara denting jam yang terdengar keras ketika ruangan sunyi, apalagi ketika kita sedang sendirian. Satu menit, lima menit, sepuluh menit , tiga puluh menit , hingga satu jam berlalu.
DOOOENG!!!
Aku bahkan belum menulis satu kalimatpun, keripik kentangku sudah habis dari tadi, tapi otakku tetap buntu apa yang harus aku tulis, cerita apa yang kira-kira menarik untuk dibicarakan. Selama ini aku hanya sibuk dengan urusanku sendiri hingga lupa dengan dunia luar. Baiklah santai dulu, tenangkan pikiran, aku mengambil hpku dan membukanya ingin ngobrol sama teman sebentar, ahh aku lupa aku nggak punya teman, bahkan aku nggak punya akun media sosial, manusia zaman kapan sih aku ini, kenapa nggak mati saja, gumamku kesal.
"Baiklah tidak ada cara lain!" Aku berdiri dan memberi semangat pada diriku sendiri. Aku segera mengambil ikat rambut mengikat rambutku keatas dan menggulungnya seperti konde, dan mulai membersihkan rumah seperti biasa.
Akhirnya jam 1 aku sudah selesai, aku melemparkan diriku ke ranjang, berbaring untuk merenggangkan otot-ototku yang kaku. "Wah nyamanya, rumah memang harus seperti ini" Aku tersenyum puas dengan hasil kerjaku. Capek aku juga lapar, sholat dulu lalu cari makanan, itu yang aku rencanakan.
Sekarang aku sedang menikmati bakso dipinggir jalan entah kenapa aku merasa bosan dirumah. Setelah itu aku berjalan-jalan kesekitar kampus sekolah, tanpa peduli dengan penampilanku sekarang, hanya menggunakan celana training panjang, kaos sebahu, rambut cemol berantakan, dan tanpa sedikitpun riasan make up.Beberapa remaja melirikku sepertinya mereka mengejekku, haha aku tidak peduli lagi apapun yang mereka pikirkan karena sekarang tujuan hidupku hanyalah kebahagiaan diriku sendiri.
__ADS_1
Triing* . Terdengar sebuah sms masuk, akupun membuka hpku , nomer yang tidak dikenal, pikirku aku hanya membuka dan melihat pesannya.
"Hay Nia, ternyata meskipun hari libur kamu terlihat cantik juga!"
Siapa? mungkinkah ini Ardan aku menoleh kearah sekitar mencari keberadaan siapapun yang mengirim pesan ini padaku.
Triing* . Satu sms lagi.
"Kamu mencariku sayang? apakah kamu tahu siapa aku?"
Karena frustasi mencari tapi tidak menemukan siap kira-kira pelaku sms ini akupun membalasnya. "Siapa tunjukkan dirimu?"
Triing*. "Aku orang yang selalu mencintaimu, tapi kamu tidak pernah peduli padaku"
Deg! Aku mulai ketakutan. "Maaf, aku tidak tahu siapa kamu, tolong jangan membuatku takut"
Triing*. "Haha, aku membuatmu takut sayang, sabar untuk saat ini aku hanya ingin mencintaimu seperti ini memandangimu sesuka hatiku"
Triing* ahh siapa sih menyebalkan sekali aku membuka hpku dan melihat smsnya "Kamu sudah sampai rumah dengan selamat, i love you hehe". Aneh banget sih, dia tidak mungkin Farhankan.
Aku berusaha untuk tidak memperdulikan sms orang aneh itu, berusaha untuk tenang dan menjalani kehidupanku seperti biasa meskipun ia terus mengirimiku sms setiap hari hingga hari ini.
Hari sabtu yang membosankan seperti biasa kuliah belajar, makan siang sendiri, kuliah lagi dan pulang. Aku berjalan malas untuk pulang kerumah karena aku tidak memiliki tempat tujuan lain. Aku melihat sebuah sepeda motor melaju kencang ke arahku, Aku terkejut tanpa bisa berfikir untuk menghindar. Akupun terjatuh ke aspal di jalan kecil sebelah gang masuk kosanku. Ahh sakit sekali lutut dan sikuku tergores aspal, darah yang mengalir keluar cukup banyak. Aku menatap arah sekitar, sejak kapan jalan ini menjadi sepi, kemana semua orang padahal ini masih sore, dan darimana sepeda motor itu datang , ahh sial aku berusaha berdiri dan berjalan perlahan ke kosanku.
Akhirnya aku bisa sampai kerumah , capek sekali aku istirahat sebentar duduk di lantai samping tempat tidurku, mengatur nafas untuk mengumpulkan semua energiku. Tapi entah sejak kapan aku sudah tertidur tidak sadarkan diri.
Ketika aku sadar, jam sudah menunjuk pukul 8 malam, kepalaku sedikit mendingan sekarang aku melihat hpku dan ada sms disana.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja sayang, apakah kamu terluka?" pukul 04.49, inikan tadi ketika aku baru sampai dirumah.
"Kamu terluka parah? Kenapa kamu tidak membaca smsku, aku datang ke kosanmu ya!" pukul 07.40 .
Deg! Jantungku terasa mau melompat karena kaget, tubuhku tiba-tiba terasa lemas, kepalaku sakit , siapa dia ? apa salahku? apakah dia sengaja ingin mencelakaiku? Terdiam dalam semua pertanyaanku sendiri.
Tok, tok, tok ! Terdengar suara ketuk pintu hingga 3 kali aku tetap diam. Aku takut aku tidak memiliki keberanian untuk bertemu dengannya. Hingga suara ketukan ke empat aku bisa mendengar suara seseorang dari luar.
"Nia kamu ada didalam! bukakan pintunya!" Farhan? Aku yakin itu adalah suara Farhan, aku menatap hp yang sedari tadi ada di gengamanku.
Apakah dia Farhan?
Apakah dia kesini untuk membunuhku? Rencana gila apa yang ia miliki?
Apa kebencianya padaku sebesar itu?
Apa yang harus kulakukan, haruskah aku memohon padanya untuk meminta pengampunan?
Aku menarik nafas panjang pasrah.
Baiklah mari kita lihat, apapun yang kamu inginkan aku akan melakukannya, bahkan jika aku harus mati ditanganmu. Ya Allah aku rindu padamu aku capek jika memang ini takdirku tolong terimalah aku disisimu.
Aku berusaha berdiri, menghapus air mataku, dan berusaha untuk terlihat kuat. Aku membuka pintu kamar dan terlihat Farhan berdiri disana sambil tersenyum kearahku. "Hay apa kabar?" sapanya.
Aku menatapnya berusaha tersenyum tapi tidak mampu, dengan ekspresi dingin aku bertanya padanya. "Apa yang ingin kamu lakukan disini?"
Ia tersenyum dan berjalan maju, akupun perlahan mundur karena jarak kami terlalu dekat, Farhan meraih daguku dengan tangannya hingga wajahku terangkat keatas, sekarang aku bisa melihat wajahnya yang tersenyum puas. "Untuk apa lagi? Tentu saja untuk melihat seberapa menderitanya dirimu tanpaku!".
__ADS_1
Aku segera mslepaskan tangannya yang memegang daguku dan berjalan mundur. Rasanya hatiku tersayat, terbelah tanpa mengeluarkan darah, ucapanya terdengar seperti petir yang datang tanpa hujan. Menghancurkan pendengaranku, mengaburkan pandanganku, meremukkan kakiku bahkan rasanya aku sudah tak mampu berdiri lagi. Dengan bertumpu pada meja yang berada disisi tempat tidur aku berusaha untuk tetap berdiri kokoh, menatapnya sambil tersenyum mengancam, meraih sebuah gunting yang entah sejak kapan sudah berada disana, mengarahkannya pada Wajah Farhan meskipun masih ada jarak sekitar dua meter diantara kami. Aku berteriak meskipun mungkin itu terdengar seperti teriakan putus asa yang tidak dapat di dengar oleh orang lain selain kita berdua "Jangan mendekat kumohon, Aku tidak ingin mati ditanganmu, Aku tidak ingin kamu menyesal seumur hidup karena telah membunuhku!" ancamku tidak berdaya.
Farhan what are you doing? Are you really want to see her going mad ? Hehe.