KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Love me like you do !


__ADS_3

*You're the light, you're the night


You're the colour of my blood


You're the cure, you're the pain


You're the only thing i wanna to touch


So love me like you do ^^


Just thats song but Grey was not here ahaha only Farhan or Zain !!! (Author lagi halu*^^)


Malam semakin larut akhirnya Ardan meminta izin untuk pulang, ia memikirkan berbagai rencana apa yang harus ia katakan besok pada Mariam, bagaimana jika Mariam benar mau lari dari pernikahanya dan kabur bersamanya, dan jika Mariam menerima pernikahan itu dan tidak mau pergi, apakah ia akan baik-baik saja ? Mengucapkan selamat dan berlalu pergi begitu saja , apakah ia akan bisa melakukannya ?


Kembali pada Nia dan Farhan yang bersiap untuk tidur di kamar mereka. Nia menatap wajah suaminya yang berbaring disampingnya.


"Mas sepertinya, aku pernah melihat adegan yang seperti tadi ?" ucap Nia penasaran.


"Apa ?" ucap Farhan.


"Waktu kamu menenangkan Ardan, aku pernah melihat adegan itu sebelumnya , apakah kita pernah bertemu sebelumnya, di hotel aku bekerja mungkin ?" ucap Nia berusaha mengingat.


Farhan memeluk istrinya ia tahu apa yang ingin istrinya dengar "Gak pernah tuh, mungkin kamu capek ayo kita tidur sudah malam" Farhan tidak mau berkata jujur tentu saja ia akan sangat malu kalau istrinya sampai ingat kejadian waktu di hotel, ia bersyukur bahwa istrinya tidak pandai mengingingat wajah laki-laki.


"Emmz, apakah kamu akan benar-benar membantu Ardan jika memang Mariam mau becerai dengan suaminya ?" ucap Nia sudah tidak memikirkan masa lalunya.


"Ya, aku akan membantunya !" ucap Farhan percaya diri.


"Bagaimana cara kamu membantunya ?" ucap Nia masih penasaran.


"Kamu tidak percaya pada suamimu ini ? kamu menikah dengan laki-laki hebat, nanti kamu akan tahu sendiri caranya !" ucap Farhan sambil menatap istrinya.

__ADS_1


Nia diam dengan ekspresi mengejek, suaminya memang jadi sombong sekarang.


"Apa-apa wajahmu itu, kamu tidak percaya padaku ?" ucap Farhan sambil mencubit pipi istrinya.


"Lepaskan sakit tahu !" ucap Nia memukul tangan suaminya agar berhenti.


Farhan tertawa "Kenapa ? mana yang sakit ?" ucapnya sambil mengelus pipi istrinya. "Jangan khawatir, mungkin memang tidak mudah karena ini masalah keluarga, tapi ini juga menyangkut kebahagiaan teman dan adikmu kan, percaya padaku aku pasti bisa membantu mereka !" ucap Farhan lalu mencium istrinya.


"Ucapanmu udah kayak bapak-bapak, gimana kalau aku masih gak mau percaya ?" ucap Nia sambil mengejek.


"Mau ku cubit lagi ?" ucap Farhan berbisik di telinga istrinya.


Nia pun tertawa karena geli "Haha hentikan, aku percaya padamu sayang !" ucap Nia sambil memeluk suaminya.


Farhan tersenyum dan ikut memeluk istrinya "Terimakasih sudah percaya padaku !" ucapnya lirih.


"Kenapa harus berterima kasih segala ?" ucap Nia sambil mendongkakan wajahnya agar bisa menatap suaminya.


"Haha kedengaranya aneh !" Nia kembali menenggelamkan wajahnya kedada suaminya. "Aku akan selalu percaya padamu karena aku mencintaimu, tidak peduli apa yang orang lain katakan aku akan tetap mencintaimu !" ucap Nia sambil memejamkan matanya, ia merasa damai berada di pelukan semuaminya.


"Kerja bagus, hanya itu yang aku perlukan" Farhan juga memejamkan matanya. Merekapun terlelap dalam keheningan malam.


°°°°°


Keesokan paginya Mariam terbangun karena mendengar Azan subuh, ya mereka tidak memerlukan alarm untuk bangun pagi karena sudah menjadi kebiasaan, apalagi sekarang rumah mereka dekat dengan Masjid jadi suara Azan adalah suara alarm yang paling merdu sedunia.


Mariam segera kekamar mandi, ia mengguyur badannya dengan air hangat kenangan kemarin malam masih terlihat jelas, wajahnya pun menjadi memerah sekarang. Ia berusaha menetralkan pikirannya, lalu ia menyadari bahwa badannya sakit semua terutama bagian punggung dan kaki.


Selesai ia keluar dan menatap tubuhnya di depan cermin besar yang ada di kamar mandinya. Bekas merah ada dimana-mana, ia merasa malu sendiri. Ia pun segera menutup tubuhnya dengan pakaian.


Mariam menyalakan lampu kamar ingin membangunkan suaminya. Selimut yang mereka gunakan hanya menutupi sebagian tubuh suaminya. Mariam mengurungkan niatnya setelah melihat tubuh bagian atas suaminya. Bola matanya membesar, tubuhnya terasa lemas, air matanya tiba-tiba mengalir begitu saja, rasa sakit yang ia rasakan dihatinya, bibirnya terkantup karena merasa ngilu yang luar biasa.

__ADS_1


Melihat tubuh suaminya yang penuh dengan bekas goresan pisau atau pedang, mungkinkah itu cambuk ? ada bekas tembakan juga di tangan bagian kiri. Apa yang pria ini lakukan hinga memiliki banyak bekas luka seperti ini ? Seberapa berat kehidupan yang telah ia lalui ? Pasti rasanya sakit sekali ! Meskipun tidak mengalaminya sendiri hanya dengan melihat bekas luka itu pasti setiap orang akan iku merasakan rasa sakitnya.


Perlahan Zain membuka matanya karena cahaya lampu yang terang mulai mengusik tidurnya. Ia melihat istrinya yang sedang duduk dan menangis disampingnya. Zainpun bangun ia juga merasa bingung apa yang terjadi pada istrinya kenapa ia menangis.


Dengan lembut Zain menghapus air mata istrinya "Kenapa menangis ? apakah terjadi sesuatu ?"


Mariam menatap wajah suaminya "Apakah itu sakit sekali ?" ucap Mariam.


Zain terdiam bingung apa yang dimaksud istrinya.


"Luka ditubuhmu, kenapa ada banyak luka ditubuhmu, apakah itu sakit sekali ?" ucap Mariam masih dalam isak tangisnya.


"Oh ini !" Zain mengerti apa yang dimaksud oleh istrinya. "Bukankah ini keren, ini adalah bukti bahwa aku mengabdikan hidupku pada negara" Zain tersenyum "Ini tidak sakit sama sekali kamu mau menyentuhnya ?" ucap Zain sambil mengengam tangan istrinya.


Mariam menarik tangannya ia tidak mau menyentuh suaminya.


Tentu saja itu membuat Zain sedih apakah istrinya tidak menyukai tubuhnya yang seperti ini ? Zain menghirup nafas panjang berusaha untuk tidak marah.


"Bagi seorang polisi bekas luka sama halnya dengan medali, kamu tahu bekas tembakan ini aku mendapatkannya ketika sedang menangkap geng pengedar narkoba, bekas tusukan pisau ini, ini karena aku menyelamatkan gadis yang sedang di culik, goresan ini karena aku berkelahi dengan perampok dan ini karena ....." Banyak sekali yang Zain ucapkan dengan bangga dengan semua pengorbananya. Lalu ia menunjukkan punggungnya yang ada bekas luka bakar "Lihat ini aku mendapatkannya ketika menyelamatkan bayi Pak Mentri, ketika rumahnya sedang terbakar dan ia menaikkan jabatanku menjadi kepala kepolisian, bagaimana keren kan, bahkan aku bisa memiliki tatto seperti bentuk naga tanpa menggambar tubuhku " ucap Zain sambil tersenyum.


"Jangan mengucapkan semua hal mengerikan itu dengan tertawa, pasti sakit sekali bagaimana pun juga kamu harus menjaga tubuhmu, kamu selalu berada pada situasi yang berbahaya. Apa yang harus aku lakukan ketika melihatmu terluka lagi ?" ucap Mariam sambil menunduk.


Zain tersenyum "Itu bukanlah masalah besar aku sudah siap menerima semua konsekuensinya ketika aku mendaftarkan diri di sekolah militer, lagi pula kamu adalah calon dokter, kamu akan banyak melihat kejadian seperti ini, kuatkan lah hatimu, bayangkan berapa banyak orang yang bisa kamu selamatkan." Zain tersenyum menatap istrinya.


Mariam tidak tahu harus menjawab apa, ia mendekat dan memeluk suaminya. "Bagaimana aku bisa tahan melihat semuanya huwaaaa, aku mau berhenti jadi dokter" Mariam menangis semakin kencang.


Zain tersenyum dan membelai rambut istrinya "Sudah, jangan menangis !" ucap Zain menenangkan istrinya.


Pagi yang menyedihkan bagi Mariam, tapi tidak dengan Zain ia merasa senang karena istrinya begitu peduli padanya, bahkan istrinya menangis hanya karena melihat bekas luka ditubuhnya. Meskipun ia sedikit khawatir bagai mana bila di masa depan ia mendapatkan kecelakaan serupa. Huh, jangan dipikirkan, pikirkan saja hal baik saat ini Mariam sudah ada dalam pelukanmu Zain.


What should i do ??? tau ahh !! hehe^^

__ADS_1


__ADS_2