
The littles feet make the biggest footprints in our hearts.
Welcome to the earth my little angle.
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, menanti kehadiran sang buah hati. Setelah masuk kedalam kamar persalinan seorang dokter wanita memeriksa keadaan Nia.
"Baru buka satu, mungkin nanti malam bayinya akan keluar, sekarang Bu Nia bisa beristirahat dulu disini !" ucap dokter menjelaskan.
"Apakah keadaan istri saya baik-baik saja dok ? Bukankah seharusnya bayinya keluar 2 minggu lagi ?" tanya Farhan masih khawatir.
"Kondisi Bu Nia normal, sebagian orang memang melahirkan lebih awal dari tanggal prediksi, dan ada juga yang telat, tapi tenang saja itu tidak menggangu kondisi bayi !" ucap Dokter menenangkan.
"Baiklah terimakasih dok !" ucap Farhan sudah bisa bernafas lega.
"Oh ya, sudah hampir jam makan siang lebih baik bapak dan ibu makan dulu, lalu nanti bisa berjalan-jalan sekitar area rumah sakit agar bisa mempercepat proses pembukaan !" ucap dokter memberi saran.
"Baik dok terimakasih !" Ucap Farhan dan Nia bergantian.
Dokterpun berpamitan untuk pergi memeriksa pasien yang lain.
Farhan mencium kening istrinya. "Apa yang kamu rasakan, apakah kamu kesakitan sekarang, maaf aku tidak bisa membantu !" ucap Farhan sedih.
"Aku lapar !" jawab Nia tanpa memperdulikan kekhawatiran suaminya.
Farhan tersenyum sepertinya istrinya baik-baik saja. "Kamu mau makan apa, biar aku belikan !" ucap Farhan.
"Tadi aku sudah memasak, sayangkan kalau nggak ada yang makan, minta tolong Bi Mina saja untuk membawakannya kesini !"
Farhan mengangguk "Baiklah !" Farhan segera menelfon pembantunya untuk membawakan makanan ke rumah sakit.
Kemudian Nia meminta Farhan untuk mempersilahkan Mariam dan Zain untuk masuk keruangan, mungkin mereka masih menunggu diluar.
Farhan mengerti dan keluar untuk memanggil teman-teman Nia. Karena sangat tegang hingga Farhan lupa bahwa masih ada orang lain yang mengantar istrinya untuk datang kesini.
Kini mereka berada disatu ruangan yang sama, mereka kembali mengobrol hingga Bi Mina datang membawakan makan siang untuk mereka. Setelah makan Zain dan Mariam berpamitan untuk pulang, karena hari sudah siang.
Sekitar pukul 2 siang Farida datang, ia segera memeluk menantunya sambil memberikan semangat. Tidak lupa ia membawa buah jeruk kesukaan Nia. Mereka mengobrol sambil menikmati buah jeruk.
Farida bercerita tentang masalalu bagaiman suaminya dulu memperlakukan Farida dengan sangat baik ketika mau melahirkan Farhan, bahkan suaminya pingsan setelah menggendong Farhan kecil dan mengumandangkan azan untuk pertamakalinya ditelinga Farhan.
Nia membayangkan betapa lucunya Farhan ketika masih bayi, apakah nanti anaknya akan mirip dengan Farhan ia tidak sabar untuk melihat anaknya hadir kedunia.
Dokter kembali datang dan mengecek kondisi Nia ternyata masih buka 3, lalu dokter menyarankan agar Nia jalan-jalan dulu agar mempercepat terjadinya kontraksi.
__ADS_1
Nia dan Farhan berjalan di koridor rumah sakit. Menatap beberapa kamar pasien, beberapa pasien sudah bisa menggendong bayi mereka. Nia tersenyum bahagia apalagi kini Farhan ada disampingnya. Melihat wajah Farhan yang tenang Nia malah jadi ketakutan apakah Farhan akan siap melihatnya mengeluarkan banyak darah ? Nanti kalau dia yang pingsan bagaimana ? Nia tahu dengan pasti bahwa suaminya sangat mencintainya, ia jadi cemas jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada dirinya nanti, apakah Farhan akan baik-baik saja ?
Nia merasa lelah dan duduk di kursi koridor yang menghadap taman rumah sakit. Nia menyandarkan kepalanya didada suaminya.
Farhan dengan lembut merangkul pundak istrinya dan sekali-kali mencium kepala istrinya yang tertutup dengan jilbab itu.
"Mas apakah nanti kita bisa menjadi orang tua yang baik ?" ucap Nia lirih.
"Tentu saja, aku akan memberikan apapun untuk anak kita, akan kupastikan bahwa kalian akan selalu bahagia !" ucap Farhan percaya diri.
"Terimakasih atas semuanya, Mas Farhan adalah laki-laki terbaik yang pernah aku temui, aku bersyukur karena bertemu dengan kamu mas !" ucap Nia lalu menatap wajah suaminya. "Aku mencintaimu Mas !" Satu kecupan dipipi Farhan.
Entah kenapa ucapan Nia membuatnya takut seperti halnya kata, Aku mencintaimu difilm-film ketika salah satu dari tokoh sedang sekarat dan berpamitan pada seseorang yang dicintainya.
Farhan mencium kening istrinya kini lebih lama, mencoba untuk mengungkapkan perasaannya bahwa ia sangat mencintai Nia. "Dengar akulah yang seharusnya berterimakasih padamu, terimakasih karena sudah mau menjadi istriku, terimakasih karena sudah mau mengandung anakku, terimakasih untuk segalanya, atas semua kebahagiaan yang kamu berikannya padaku. Nia Aku mencintaimu aku sangat-sangat mencintaimu !" ucap Farhan serius.
Ucapan Farhan membuat Nia ingin menggodanya suaminya terlihat sangat manis saat ini. "Kamu mencintaiku ?" pertanyaan yang tidak pernah bosan ia tanyakan.
Farhan tersenyum dan mengaguk, istrinya mulai lagi. "Iya aku mencintaimu !"
"Benarkah ?" Ucap Nia masih belum puas.
"Benar, aku sangat mencintaimu Nia !" Ucap Farhan sambil memeluk istrinya.
Farhan tersenyum "Tentu saja rasa cintaku lebih besar darimu, lebih, lebih, lebih besar, kamu tahu itu !" ucap Farhan, yang bersedia menjawab pertanyaan istrinya yang konyol itu.
"Huh aku tidak percaya !" ucap Nia pura-pura cemberut.
Farhan mendekat lalu berbisik tepat ditelinga Nia. "Jangan menggodaku disaat seperti ini, kamu sedang menyiksaku tahu !"
Wajah Nia langsung berubah menjadi merah ia tahu apa yang suaminya maksud. Nia melepaskan pelukan Farhan dan bergeser agar bisa memberikan jarak untuk mereka.
Farhan menatapnya bingung. "Apa yang kamu lakukan ?"
Dengan suara yang manja Nia menjelaskan alasannya menjauh. "Aku tidak mau menyiksamu, maaf !"
Farhan tertawa "Bagus duduklah disana hingga aku tenang !"
Nia mengerti lalu mereka tertawa bersama.
Pukul 7 malam, Nia kembali mengeluh karena lapar ia meminta suaminya untuk membelikannya makanan.
Farida berniat untuk menolong agar Farhan tetap disini menjaga istrinya.
__ADS_1
Tapi Nia menolak ia ingin Farhan yang membelikannya makanan, sekaligus agar bisa sholat isyak dulu.
Farhan mengalah dan berpamitan untuk pergi meskipun sebenarnya ia enggan.
Setelah Farhan keluar dari ruangan, Nia bisa bernafas dengan lega. Ia menatap ibu mertuanya. "Ma sepertinya aku akan melahirkan sekarang !" ucap Nia sambil meringis.
"Apa, bagaimana ini Farhan baru saja pergi, tunggu sebentar mama telfon ya !" ucap Farida panik dan meraih ponselnya didalam tas.
"Ma jangan, aku sengaja meminta Mas Farhan untuk pergi, aku tidak ingin dia melihatku kesakitan, aku tidak tahu apakah ia akan bisa kuat melihat begitu banyak darah !" ucap Nia memberi penjelasan.
"Tapi Farhan kan suamimu lebih baik kalau dia disini dan menemanimu agar rasa sakitnya berkurang !" ucap Farida menolak.
"Ma tolong, jangan panggil mas Farhan !" ucap Nia lemah.
Farida mengerti apa yang dikhawatirkan Nia, ia sangat bersyukur memiliki menantu yang sangat kuat dan pengertian.
Dokter datang dan mengecek kondisi Nia, ternyata benar ini saatnya proses melahirkan untuk Nia. Dokter yang ditemani oleh satu orang perawat menyiapkan peralatan untuk bersalin.
Nia yang ditemani oleh ibu mertuanya, berusaha dengan sekuat tenaga untuk melahirkan anak pertamanya tanpa ditemani Farhan disisinya. Keringan dingin terus menetes, Nia mengigit bibirnya kuat agar tidak mengeluarkan banyak suara, kesakitan yang luar biasa ia rasakan. Tanpa ia sadari air mata menetes dari pelupuk matanya. Ia mulai membayangkan bagaimana penderitaan ibunya saat melahirkannya dulu. Sekarang ia bisa percaya bahwa melahirkan adalah satu hal yang sangat berat yang harus dilakukan setiap ibu, mempertaruhkan nyawanya untuk bisa bertemu dengan buah hatinya.
Entah berapa lama ia merasa kesakitan, ketika mendengar suara bayi yang menangis, Nia mulai tersadar bahwa perjuangannya telah berhasil.
"Selamat ya Bu, bayinya laki-laki" ucap Dokter lalu meletakkan bayi yang penuh darah itu dipelukan Nia.
Farida tersenyum bahagia. "Kerja bagus Nia, selamat ya !" ucapan tulus seorang ibu.
Nia menatap ibu mertuanya dengan mata yang berbinar, ia mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Nia kembali menatap bayi yang sedang menagis didekapannya. "Tenang sayang bunda disini !" ucap Nia lembut.
Perjalan berat selama sembilan bulan saat mengandung telah ia lalui, hingga rasa sakit saat proses melahirkan, kini semua terbayar dengan lunas setelah menatap buah hatinya.
Anak adalah satu hadiah terindah yang diberikan Allah pada makhluknya, sebuah keajaiban besar dengan bentuk semungil ini.
Nia sangat bersyukur, ia merasa lelah dan memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian Farhan datang, ia merasakan perasaan tidak enak dari tadi, seperti ada sesuatu yang salah. Farhan membuka pintu dengan kasar ia melihat istrinya berbaring diranjang sendirian. Ibunya tidak ada disana.
Tanpa disadari ia menjatuhkan makanan yang baru ia beli, dengan langkah berat ia mendekat kearah istrinya.
Wajah Nia sangat pucat, kenapa istrinya tidur disaat seperti ini, kemana mama, apakah ada yang salah ? Hati Farhan hancur air mata terus menetes dari pelupuk matanya. Tangannya berusaha untuk menyentuh wajah istrinya, tapi ia takut, ketakutan akan sesuatu yang selama ini ia takutkan.
Farhan terduduk dilantai menangis sambil meremas seprai yang ada disamping istrinya.
Why what happen ? Why are you crying ? Hehe^^
__ADS_1