
Farhan's
Jalan raya mulai terlihat ramai oleh kendaraan. Aku tidak terlalu peduli seperti separuh nyawaku masih hilang entah kemana. Menatap jalan dengan tatapan kosong ketika lampu rambu-rambu lalu lintas berubah menjadi merah , dan suara klakson mobil dibelakang yang sudah tidak sabar untuk melanju karena lampu sudah berganti menjadi hijau, membangunkan lamunanku.
Masih belum sadar apa yang barusan terjadi, masih belum percaya apa yang aku lihat di dalam Universitas tadi. Nia sosok yang aku kagumi, dan aku percaya ternyata malah menghianatiku.
Pulang, mandi, makan malam bersama mama, semua masih terlihat seperti mimpi. Mama terlihat khawatir akan sikapku Ia bertanya tentang banyak hal tapi aku lupa dan hanya menjawab sekenannya. Lelah, tubuhku rasanya sudah kehabisan tenaga aku membaringkan tubuhku dikasur melupakan segala pekerjaanku, dan berusaha untuk melupakan apapun yang terjadi hari ini, hingga aku terlelap.
Esok harinya aku terbangun, membuka mataku yang masih terasa berat, aku mencoba mengingat-ingat apakah aku bermimpi semalam. Aku mencari kepastian dengan menatap tangan kananku yang terluka, plaster ? hal yang ku takutkan ternyata bukan mimpi. Apa yang aku lakukan kemarin cemburu sambil marah-marah, hingga membuat Nia terluka, dan menangis, setelah itu aku tetap meninggalkannya dengan keadaan marah tanpa mendengarkan sedikitpun penjelasannya.
Aku meringkuk dikamar yang hangat ini, tapi terasa dingin ditubuhku aku mencoba untuk menarik selimut untuk mengusir hawa dingin ini. Apa yang Nia lakukan sekarang apakah ia masih menangis sepertiku? Apakah lukanya sudah membaik? Jika memang Cowok itu hanyalah temannya bukan kah disaat seperti ini tidak ada orang lain yang bisa menghiburnya. Sekilas adegan kemarin, waktu mereka saling bertatap dan tertawa kembali melintas dibenakku. Kemarahanku kembali datang, Sial!! Apa yang aku khawatirkan jelas-jelas itu tatapan cinta, Nia nggak akan nangis sekarang, hanya aku disini seperti orang bodoh yang meratapi nasip hubungan ini.
Hari ini aku tidak masuk kerja karena aku tidak bisa mengendalikan emosiku, mama masuk kekamar membawakan sarapan. Mama melihatku sedang menangis seperti bayi. Aku tidak peduli, aku ingin mengatakan semuanya pada mama seperti anak kecil yang sedang mengadu pada orang tuanya, ketika barangnya diambil orang lain secara paksa.
Mama tidak banyak menanggapi, Ia tidak membela Nia sedikitpun, Ia hanya memelukku menepuk bahuku dan aku masih terus menangis dipelukannya.
Entah berapa lama akhirnya aku sadar dan aku meminta maaf karena berlaku seperti anak kecil.
Mama tersenyum sambil membantuku mengelap air mata yang tersisa dengan tangannya. "Mama sayang kamu nak, mama tidak akan membiarkan orang lain menyakiti anak mama satu-satunya, walapun Ia adalah Nia sekalipun!" . Mama membelai rambutku lembut kemudian menatap mataku "Apakah kamu mencintainya hingga kamu menangis sampai seperti ini?" .
Aku hanya mengangguk, "Tapi dia menghianatiku ma!" kembali menangis aku bahkan tidak peduli seberapa kekanakannya aku , seandainya saja Nia tahu ini pasti dia akan menertawaiku.
"Kamu ingin mama memberi pelajaran untuknya ?" ucap mama lagi.
"Jangan! Biarkan saja ia menjalani kehidupannya aku ingin tahu apakah ia bisa bahagia tanpaku " jawabku percaya diri.
"Baiklah makanlah makananmu!" ucap mama sambil melepaskan pelukannya menyondorkan dua potong roti dengan susu, "Kamu harus memiliki tenaga untuk balas dendam kan !"
Aku menerimanya dan memakan roti itu. Aku masih berfikir memangnya apa yang bisa aku lakukan untuk balas dendam dengannya? melihat air matanya kemarin sudah berhasil menyayat hatiku. Jika aku ingin melukainya itu sama saja dengan aku berusaha untuk melukai diriku sendiri.
Beberapa minggu berlalu, aku tidak pernah melihat Nia lagi, bahkan ia tidak datang untuk minta maaf , ahhh apa yang aku harapkan darinya ? Aku menelfon Anton teman terdekatku untuk mengajaknya makan malam bersama , memang kedengarannya sedikit aneh kalau laki-laki dewasa makan malam bersama.
Aku mengajaknya untuk makan malam dihotel tempat Nia bekerja, entah apa yang aku fikirkan, mungkin aku hanya ingin memastikan keadaanya saja, terlintas lagi kejadian masa lalu tentang Aku yang marah-marah tidak jelas padanya, mungkin aku bisa mengerjainya lagi sekarang.
Anton terus saja berbicara tentang istrinya, yang sekarang udah jarang sekali bertengkar, dan dia dengan bangga pamer bahwa sebentar lagi ia akan menjadi ayah. Benar saja itu membutku cemburu, aku mengucapkan selamat, tapi tubuhku masih tidak tenang, mataku masih terus mencari-cari sosok yang aku rindukan.
"Ehh kamu lagi ngapain sih ?" tanya Anton mengagetkanku. Aku tidak menjawab. "Kamu sedang mencari pelayan itu ya siapa Nia kan, kalian masih bertengkar ? dalam hubungan pertengkaran itu sudah biasa, kamu kan cowok minta maaf lah selesaikan masalahmu emangnya kamu mau jadi jomblo seumur hidup" Ejeknya sambil tertawa cekikikan.
"Ehh sadar gue bos lo tau" Jawabku sadis.
"Haha oke maaf bos, jadi kamu kesini mau ngapain?"
"Aku ingin memberinya pelajaran".
__ADS_1
Anton tertawa "Ayolah kamu itu laki-laki dewasa nggak malu apa mau ngerjain cewek".
"Sialan lo, bisa diem nggak" ucapku masih sibuk mencari keberadaan Nia.
"Udah berhenti ajalah, aku punya banyak kenalan cewek mau aku kenalin, lagi pula lo kan punya banyak karyawan cewek cantik-cantik lagi mereka pasti dengan senang hati memberikan diri mereka".
"Cantik apa an jelek semua gitu!" jawabku dingin.
Anton tertawa "Jadi menurutmu hanya Nia yang cantik begitu, atau artis kamu bahkan bisa memilih mereka , artis jaman sekarang cantik-cantik loh, sexy-sexy pula".
Aku tidak menjawab hanya menatapnya dengan tatapan membunuh. Berhasil membuat Anton diam.
Tapi tidak lama selang beberapa saat ia kembali mengomel "Tuan muda, anda itu tampan sekali, kaya raya, pintar, dan juga sangat mempesona, untuk apa anda mengejar pelayan seperti itu ?" aku tidak menjawab, kemudian ia kembali meledekku "Jangan-jangan tipe kesukaanmu memang seorang pelayan sexy begitu" bisiknya, membuatku geli.
"Udah kubilang diam, mau kamu aku pecat!"
"Jangan tuan muda, istriku pasti akan membunuhku jika aku tidak memiliki pekerjaan, apalagi sebentar lagi aku juga memiliki anak pasti kebutuhan kami akan bertambah!".
Aku hanya tersenyum , berfikir seperti inikah kehidupan rumah tangga, bahkan Anton telah berubah karena cinta bahkan ia mau memohon padaku.
Anton memanggil salah satu pelayan wanita untuk mendekat, tentu saja membuatku terkejut aku tidak tau apa yang ia inginkan, pelayan itu berjalan mendekat dan berdiri dihadapan kami. Anton berbisik padaku "Lihatlah bodynya aduhai, dia juga lebih cantik dari pada Nia, mau coba kenalan?".
Aku melotot marah padanya "Kamu mau mati ya! ".
Anton malah tertawa dan meminta cewek itu duduk di samping Anton.
Pelayan itu mengangguk "Iya tuan, dia sudah berhenti dua minggu yang lalu" jawabnya.
"Kenapa ?" tanyaku penasaran, yang membuat Anton menertawaiku.
"Dia bilang mau fokus kuliah, jadi tidak bisa bekerja lagi" jawabnya.
"Apakah kamu dekat dengannya?" tanyaku lagi.
"Saya hanya mengenalnya tuan, sepertinya dia pendiam dia tidak memiliki teman dekat disini "
"Kenapa? apakah kalian memusuhinya?" Tanyaku masih penasaran.
"Tidak tuan, dia sendiri yang membatasi dirinya ia hanya datang tepat waktu lalu pulang ketika waktu pulang kerja sudah selesai, ia tidak pernah menghadiri pesta bahkan ia tidak ikut dalam grup kami" Jawabnya takut-takut. "Kenapa tuan apakah dia punya masalah dengan anda?"
"Iya dia berani berselingkuh dari temanku" ucap anton membuatku kaget.
Pelayan itu sedikit berfikir ekspresinya seperti tidak percaya "Maaf tuan sepertinya anda salah paham, sepertinya dia bukan gadis yang seperti itu!"
__ADS_1
"Apa maksudmu?" berhasil membuatku penasaran.
"Yang saya tau Nia adalah gadis yang baik, ia bahkan tidak pernah berbicara dengan para pelayan cowok disini. Sebenarnya dulu saya berusaha untuk mendekatinya, karena dia pernah membantu saya menghajar pacar saya yang juga pelayan disini , pacar saya berusaha untuk meniduri saya, tapi saya sangat beruntung karena ada Nia waktu itu yang bisa menyelamatkan saya. Itulah awal mula saya ingin menjadi dekat dengannya. Saya terus mengikutinya dan bertanya banyak hal, dan yang saya tau pasti dia adalah gadis baik ia pernah bercerita pada saya bahwa ia tidak bisa mengenali wajah laki-laki".
"Apa ?" membuatku terlonjak kaget, itukah alasannya, ia juga tidak mengenaliku waktu kami bertemu di taman kampus. "Lanjutkan !".
Sepertinya dia terkejut tapi meneruskan ucapannya "Saya merasa dia adalah satu-satunya orang yang sulit untuk didekati, saya pernah bertanya padanya apakah ia memiliki pacar atau tidak, dia dengan malu-malu menjawab iya, dan dia bercerita banyak tentang pacarnya, dan saya mendengar dengan jelas kalau dia mengatakan bahwa ini baru pertama kalinya ia pacaran!"
"Siapa namanya ? pacar Nia "
"Sepertinya Farhan" ucapnya kemudian.
Berhasil membuatku tersenyum.
"Kamu tahu alasan kenapa ia tidak bisa mengenali wajah laki-laki?" tanyaku masih penasaran, bahkan Ria tidak pernah menceritakan hal ini.
"Dia bilang dia benci pada laki-laki apalagi laki-laki brengsek, terlalu banyak laki-laki yang sering menggodanya, bahkan banyak pelayan disini juga mengincarnya tapi mereka tidak berani mendekat karena Nia pandai sekali bela diri, mereka sudah takut sebelum mencoba".
"Apakah kamu satu-satunya temannya?".
"Saya bukan temannya tuan, pelayan wanita disini juga tidak suka dengannya, karena mereka bilang kalau Nia itu terlalu cuek dan sombong jadi mereka tidak ingin berteman dengannya, hanya saya saja sekali-kali mengkutinya ketika yang lain sedang sibuk".
"Baiklah aku mengerti" ucapku.
"Apakah tuan pacarnya?" tanyanya membuatku terkejut.
"Ya !" jawabku.
"Apakah kalian sedang bertengkar?" aku tidak menjawab. Ia menundukkan wajahnya "Sebenarnya saya takut kalau banyak orang diluar sana yang bakalan menggangu Nia saya berharap tuan bisa segera baikan dengannya! ".
"Baiklah aku akan memikirkannya" aku mengangguk sambil mengambil dompetku mengambil beberapa lebar uang dan memberikannya pada gadis pelayan itu.
"Tidak tuan, terimakasih, saya sudah senang kalau tuan mau percaya dengan ucapan saya dan bisa kembali berbaikan dengan Nia" ucapnya menolak.
"Ambil lah dia punya banyak uang jadi jangan sungkan" Anton mengambil uang yang ada ditanganku dan memberikannya pada pelayan itu dengan paksa. "Rejeki tidak boleh ditolak, sekarang kamu bisa pergi" ucap anton lagi.
Pelayan itu mengucapkan terimakasih lalu pergi. Akhirnya beban didadaku yang selama ini menumpuk mulai menguap. Aku merindukan Nia, aku ingin menemuinya sekarang memeluknya erat meminta maaf tanpa rasa malu lagi. Aku segera mengambil ponselku dan berdiri "Aku pergi dulu, aku harus menyelesaikan kesalah pahaman ini" ucapku pada anton.
Anton hanya tersenyum mengerti "Sukses bro, ehh jangan lupa bayar makanannya".
Aku tersenyum dan memukul kepalanya pelan "Makan yang banyak jarang-jarangkan dapat makanan gratis".
Tanpa menunggu jawaban darinya aku segera berlari pergi, menuju tempat yang selalu ingin aku datangi, melupakan semua masa lalu dan berusaha untuk mendapatkan cintanya kembali.
__ADS_1
Sekarang disini lah aku dibawah gedung kosan berlantai dua. Menatap dari bawah gedung melihat lampu kamar Nia menyala. Dia sedang ada dikamar, apa yang harus aku lakukan nanti, apakah ia akan menerimaku dengan suka cita? Jika dia marah dan menolakku bagaimana , apakah aku harus menangis dan memohon seperti yang ia lakukan padaku dulu ? Banyak pertanyaan yang memenuhiku, tapi tidak mampu mengurangi semangatku untuk maju, inilah saatnya aku memperjuangkan cintaku, meninggalkan egoku dan berusaha untuk mendengar kata hatiku !.
Farhan I love you !! Hehe .