KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Permulaan


__ADS_3

Farhan's


Kamis yang cerah, semenjak Nia datang kerumah untuk masak, bukan, mungkin semenjak pertama kali kita bertemu, aku terus saja memikirkannya.


Ibu juga bilang ingin menjodohkanku dengannya, tapi kenapa aku tidak merasa senang ? Seperti ada sesuatu yang masih hilang dalam diriku.


Nanti sore aku akan ketemuan lagi dengannya, hhhh jantungku terus berdetak kencang , apakah aku sedang ketakutan? Aku merasa gugup sekali .


Pukul 4 sore kamipun bertemu kembali di kantin kampus Universitas Pratiwi.


Nia datang bersama temannya, aku menarik nafas panjang untung mengurangi rasa gugup ini, rasa nya lebih menegangkan dari pada harus meeting dengan client penting.


Aku menghampiri mereka, tersenyum sopan dan menjabat tangan mereka , menanyakanan kabar pada nia dan berkenalan dengan temannya, kemudian aku duduk disamping Nia karena mereka duduk berhadapan, masak iya aku harus duduk disamping temannya malah lebih nggak sopan lagi kan .


"Wah ini yang namanya Kak Farhan , ganteng ya, kamu gk salah pilih, mau sama cewek ini?" Ria bertanya seperti itu, membuatku tidak bisa menahan tawa.


"Memangnya kenapa? Apakah dia sejenis monster yang tidak boleh dinikahi?" Jawabku menggoda.


"Lebih parah dari itu, dia itu sejenis makhluk misterius yang tidak dapat disentuh, dia sangat menakutkan. Aku sudah hidup dengannya selama 2 tahun jadi aku tahu persis kebiasaannya dia selalu mengomel setiap hari."Ucap Ria menakuti


Aku pura-pura kaget "Serius? terus apa yang harus kulakukan ?"


"Sudah-sudah kalian ternyata cocok ya udah kayak ibu-ibu gosip aja , yang dibicarain ada disini nih, punya perasaan dikit napa gue bisa denger loh" Nia memanyunkan bibirnya , kenapa terlihat begitu imut, ahh gue mikir apa sih .


"Haha yang dibicarain marah nih, Oh ya mas boleh minta nomernya gak? kita lanjutin ngobrol lewat wa aja " Ucap Ria sambil memberikan hp nya.


Akupun menerima hp ria dan mengetikkan nomerku.


Riapun menerimanya dengan senang hati, dan berterimakasih , kamipun memesan makanan. Nia tidak banyak bicara hari ini apa ia merasa gugup seperti aku . Mengetahui hal ini aku merasa sedikit lega kekhawatiranku sedikit memudar.


Kamipun makan bersama sambil ngobrol. Jam setengah enam aku pun pulang , sedangkan mereka masih harus bekerja.


Dirumah aku segera mandi, mama masuk kedalam kamarku padahal aku belum ganti baju akupun mengusirnya. Aku memintanya untuk menunggu dibawah.


Mama benar-benar menunggu dibawah duduk manis sambil tersenyum kearahku. Tentu saja dia terus menerus menanyakan tentang Nia.


Tapi aku tidak terlalu meladeninya aku hanya menjawab dengan jawaban biasa dan nada biasa seperti tidak tertarik. Meskipun sejujurnya aku senang karena mama menjodohkanku dengan Nia, tapi tetap saja harga diriku terlalu tinggi , aku tidak ingin memperlihatkan pada mama, perasaanku yang sebenarnya.


Setiap malam Ria mengirim pesan padaku, tentu saja ia membicarakan tentang Nia, ia memintaku untuk menjaga temannya itu, karena sebentar lagi ia akan pergi ke Hongkong untuk tinggal bersama orang tuanya .

__ADS_1


Sebenarnya aku juga ikut sedih dan khawatir mungkin Nia akan merasa kesepian atau mungkin takut karena harus tinggal sendirian. Tapi aku tahu Nia adalah wanita yang kuat dia bisa menjaga dirinya sendiri.


Minggu pagi Ria berangkat ke bandara , Aku dan Nia ikut mengantarkannya menggunakan mobilku . Ria terus berbicara tentang keseharian mereka , tapi Nia diam saja aku merasa ia sedang menahan tangisnya.


Setelah memasukkan semua koper kebagasi pesawat, Riapun berpamitan ia memeluk Nia dengan erat mereka menangis. Adegan yang sangat mengharukan bahkan aku juga ingin ikut menangis tapi tidak ada air mata yang keluar dari mataku.


Ria berjalan kearahku, kami berjabat tangan, Ria mengucapkan terimakasih lalu menepuk pundakku dan berkata sekali lagi "Tolong jaga Nia, mungkin dia adalah wanita yang paling berharga dan paling rapuh yang pernah kamu temui" .


"Pasti , jangan khawatir" Ucapku mantap dan tersenyum ke arahnya.


Ria pun tersenyum dan berlalu pergi mengucapkan selamat tinggal tapi ia juga berjanji akan sering-sering pulang kalau ada kesempatan.


Nia hanya berdiri menangis dan menatap kepergian sahabatnya.


Di dalam mobil Nia hanya diam ia sudah tidak menangis lagi .


"Kamu lapar ? mau makan siang dulu?" Ucapku memecah keheningan.


"Aku mau pulang aku capek" Ia menjawab tanpa tenaga.


Tanpa mendengar ucapannya aku membelokkan mobilku kesalah satu warung nasi padang. Sepertinya Nia memandangku bingung.


Aku membukakan pintu mobil untuknya "Aku lapar ayo makan dulu" ucapku kemudian.


"Kamu terlihat semakin kurus, ayo keluar atau kamu mau aku gendong" ucapku sambil menarik tangannya.


Ia menarik tangannya dan keluar , ia tidak memesan apa-apa ia hanya duduk di bangku yang kosong . Akupun memesan banyak makanan.


Aku duduk sambil menunggu makananya datang , Nia masih tetap diam . Aku tidak mau membahas tentang Ria sekarang aku ingin membuatnya tersenyum.


"Sebenarnya aku nggak pernah makan ditempat seperti ini, tapi aku pikir kamu akan menyukainya jadi aku masuk kesini" ucapku bebisik .


Sepertinya Nia kaget "Serius lalu selama ini kamu makan apa ?"


"Emmz banyak, aku makan pasta, steak, burger, pizza, sussi, teobokki, kamu pernah mencobanya?" ucapku menggoda .


"Serius, kamu orang Indonesia bukan sih?" Tanyanya kemudian.


"Ibuku orang Indonesia ayahku orang Korea, sepertinya kamu pandai memasak , ibukku nggak bisa masak yah jadi gitu lah" Jawabku masih ingin menggodanya.

__ADS_1


"Tapi aku nggak bisa masak masakan seperti itu" jawabnya sedih .


"Haha aku becanda kok Ayah dan Ibuku orang asli Indonesia aku juga makan makanan Indonesia aku suka sate, nasi goreng, bakso tapi yang seperti ini jujur aku belum pernah coba" jawabku menenangkan Nia.


"Ohh kirain beneran?"


"Apanya?"


"Kalau mas blasteran? dan cuma makan makanan yang seperti itu"


"Kenapa karena aku ganteng kayak orang korea ya?" Ucapku menggoda. Aku meminum air putih yang sudah disediakan dari tadi.


"Iya" Jawabnya malu


"Uhukkk" Aku tersedak minumanku sendiri, aku hanya ingin menggodanya dia malah mengatakan iya terang-terangan seperti itu.


Nia bingung dan memberikan tissu padaku "Pelan-pelan kalau minum" ucapnya sambil mengelap air yang yang ada diwajahku.


Aku menggengam tangannya "Jadi kamu suka tipe-tipe cowok korea kayak gitu? Kamu suka aku karena wajahku?"


Ia menunduk pipinya memerah sepertinya benar.


"Ahh aku tau aku memang benar-benar tampan, tapi lihat sekali lagi aku jauh lebih baik dari mereka"


Ia menatapku dan tersenyum "Sepertinya cowok korea lebih ganteng deh"


Aku marah sepertinya dia ingin menggodaku, aku diam tak menjawab.


"Haha sekarang marah ya? tapi sepertinya kamu lebih imut dari mereka" ucapnya tertawa .


"Imut? ahh kau benar-benar, nggak akan ada cowok yang suka dikatain imut" jawabku masih marah.


Makanan datang kamipun berhenti bertengkar dan mulai untuk makan.


Mungkin Nia tahu kalau aku sedang marah aku hanya diam dan makan , ia tertawa lagi "Masih marah? Tuh kan imut banget"


Aku tidak menjawab.


Ia tersenyum dan mulai makan "Aku suka cowok yang imut" ucapnya kemudian.

__ADS_1


Deg! Pipiku langsung merah merona, Nia melihatku dan tetap tertawa .


Aku malu tapi juga senang setidaknya Nia sudah bisa tertawa sekarang.


__ADS_2