
I stopped explaining myself when I realized people only understand from their level of perception .
'Kenapa wanita ini mengajak bertemu ? Apa yang ia inginkan dariku? Bagaimanapun juga dia adalah wanita hebat, auranya kuat, sangat anggun dan cantik, aku jadi malu sendiri, yah karena dulu aku pernah ngefans padanya' Nia merasa gelisah karena Destri, yang tidak lain adalah ibu tirinya itu mengajak bertemu. Ia meminum Jus buah yang telah ia pesan, bahkan segarnya minuman itu tidak mampu menghilangkan rasa haus yang kini ia rasakan. Ia berusaha bersikap setenang mungkin meskipun jantungnya terus berdetak dengan cepat.
Destri juga iku meminum jus buahnya, ia melirik Nia , Ia tersenyum untuk menghilangkan kekakuan diantara mereka. "Apa kabar ?" ucapnya memulai pembicaraan.
"Baik !" jawab Nia singkat.
Destri mengambil nafas panjang. "Aku tidak suka basa basi langsung saja ya !"
Nia bingung ia hanya menatap wanita cantik separuh baya, dengan tatapan meminta penjelasan.
Destri tersenyum ia menggengam tangan anak tirinya itu dengan lembut "Nia sayang, Aku adalah ibumu juga, panggil aku mama ya !"
Nia diam ia hanya menunduk, tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan.
"Mama mau minta maaf, Aku tahu mungkin aku juga tidak layak mendapatkan maaf darimu" ucap Destri sedih.
"Anda tidak salah apa-apa kok !" jawab Nia merasa tidak enak.
"Aku salah karena tidak pernah meminta papamu untuk mencarimu, aku takut kalau ia akan pergi padamu dan tidak akan datang padaku lagi. Tapi aku salah, aku terlalu egois sekarang papamu sangat menderita, ia selalu merasa bersalah ia terlihat sangat menyedihkan. Bagaimanapun kamu adalah putrinya coba jenguk lah dia aku tidak memintamu untuk memaafkannya setidaknya tolong jangan membencinya!" ucap Destri merasa sangat bersalah.
"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Pak Fajar " ucap Nia masih keras kepala.
"Aku tahu kamu sangat menderita selama ini, maaf kami benar-benar minta maaf. Kamu juga seorang istrikan, kamu pasti tau seperti apa rasanya ketika melihat suamimu sedih tapi tidak bisa berbuat apapun, begitu juga aku, aku merasa sangat sakit ..." Destri tidak mampu meneruskan ucapannya air matanya mulai berlinang.
Nia hanya terdiam ia mengerti seperti apa rasanya itu, tapi dalam hati kecilnya ia masih belum bisa memaafkan ayah yang telah menelantarkannya.
"Nia aku mohon, datanglah kerumah, papamu sedang sakit sekarang !" Destri terpaksa berbohong untuk membujuk Nia agar mau memaafkan suaminya.
Nia tidak menjawab ia hanya meminum minumannya.
°°°°°
Ada pepatah yang mengatakan ucapan dan hati terkadang tidak sejalan, sama halnya dengan Nia, ia bilang tidak peduli tapi pikirannya sudah kemana-mana sekarang ia khawatir kalau sampai ayahnya sakit karena ulahnya.
Farhan yang melihat sikap istrinya yang tidak ada perubahan dari hari-hari sebelumnya, ia merasa khawatir istrinya masih belum mau menyerah dengan masalah keluarga yang terus membelitnya.
Farhan duduk disamping Nia yang sedang membaca buku. "Sayang !" ucapnya mencari perhatian istrinya tersebut.
"Heem ?" Nia menoleh kearah suaminya dan tanpa sengaja hidungnya menyentuh pipi Farhan, karena wajah Farhan terlalu dekat.
Farhan tertawa senang karena berhasil membuat istrinya terkujut "Ngapain kamu cium-cium kangen ya ?" ucap Farhan masih ingin menggoda istrinya.
"Apaan sih kamu aja ngapain wajah kamu sedekat itu ?" ucap Nia cemberut karena berhasil ditipu oleh suaminya.
"Tentu saja karena ingin kamu cium hehe" Farhan dengan entengnya menjawab seperti itu yang tentu saja otomatis membuat istrinya tersipu malu. "Sini cium lagi !" Ucap Farhan sambil mengarahkan jari telunjuknya dipipinya sendiri berharap agar Nia mau menciumnya lagi.
"Gak mau !" ucap Nia geram karena malu iapun menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Sayang ayolah satu kali saja !" renggek Farhan.
__ADS_1
"Gak mau pokoknya gak mau !" Nia berusaha menjauh dari suaminya.
Farhanpun tertawa karena sikap istrinya yang imut sekali Farhanpun mencium punggung tangan istrinya yang tengah menutupi wajahnya itu.
Nia terkejut ia membuka tangannya, dan menatap suaminya.
Farhan tersenyum "Kalau kamu tidak mau menciumku, biarkan aku yang menciumu !" Tanpa menunggu jawaban dari istrinya. Farhan menarik bahu Nia agar mendekat dan mereka berciuman.
°°°°°
Untuk memberi semangat pada istrinya Farhan mengajak Nia untuk berkencan. Malam ini mereka memutuskan untuk makan malam bersama, kemudian nonton bioskop, lalu jalan-jalan di MOL sebelum pulang.
Farhan dan Nia memakan ice cream cone sambil berjalan, meskipun hari telah malam tapi MOL ini masih terlihat ramai didatangi pengunjung. Setelah puas jalan-jalan merekapun pulang kerumah. Nia terlihat lebih cerah ketika pulang kerumah, dan itu membuat Farhan merasa sedikit lega, setidaknya untuk sesaat Nia bisa melupakan masalahnya.
Diperjalanan pulang Nia tertidur dimobil karena kecapek an, Farhan hanya tersenyum sambil terus menyetir, menerobos jalanan yang sudah sepi, dan lampu-lampu malam yang berjajar, meninggalkan gedung-gedung dan pohon yang berada dipinggir jalan.
Dalam tidurnya Nia bermimpi.
Farhan berjalan dipinggir jalan dengan langkah yang gontai tanpa tenaga, wajahnya terlihat lesu, pakaiannya terlihat berantakan ia juga terlihat lebih kurus. Entah apa yang ia pikirkan.
Disebrang jalan Nia hanya memandanginya, merasa aneh tapi tidak bisa berbuat apapun, memandangi ayahnya yang tidak pernah ia ingin temui itu. Ia ingin pergi tapi kakinya tidak mau bergerak.
Fajar tersadar dari lamunanya ketika melihat putrinya sedang berdiri di sebrang jalan menatapnya. Fajar tersenyum wajahnya terlihat lebih cerah karena senang. Tanpa menunggu lama Fajar menyeberang jalan tanpa peduli dengan mobil yang berlalu lalang, matanya hanya terkunci pada satu sosok yang ia rindukan.
Nia menatap ayahnya yang tiba-tiba berjalan maju karena ingin mengahapirinya tersebut. Nia merasa takut, takut kalau ayahnya akan tertabrak mobil. "JANGAN !" teriak Nia, tapi sepertinya Fajar tidak mendengarnya. Nia menoleh kekanan dan kekiri berusaha untuk lari menghentikan ayahnya "Berhenti disitu !" teriak Nia lagi.
BRUAAK !
Seketika jalan itu menjadi kosong, hanya ada Fajar seorang terbaring di tengah jalan, dengan penuh darah disekelilingnya.
Nia berlari menghampiri ayahnya, ia tidak bisa berbuat apapun ia hanya menangis, ia ingin minta tolong , tapi kemana perginya orang sekitar, tidak ada satu orangpun yang bisa menolong.
Fajar menatap putrinya yang menangis karena melihat kondisinya "Nia !" ucapnya pelan.
Nia pun menatap ayahnya, yang berusaha berbicara padanya itu "Ayah, maaf, hiks hiks huwaaa !" Nia menangis keras sekali.
Fajar tersenyum "Kamu memanggilku ayah ?" Nia tidak menjawab hanya terus menangis "Maafkan ayah ya, hiduplah dengan baik mulai sekarang, jangan memikirkan hal-hal yang membuatmu sedih" Fajar mengulurkan tangannya yang penuh darah itu, berusaha untuk menyentuh pipi putrinya.
Nia meraih tangan ayahnya meletakkanya dipipinya, "Ayah jangan pergi !" ucap Nia sambil sesengukan.
Fajar tersenyum dan memejamkan matanya.
Mimpi selesai.
"Ayah !" Nia terbangun dari tidurnya dan langsung duduk diranjang, keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya.
'Hah hanya mimpi ? bukanya tadi aku ada di mobil ?' Nia berusaha mengatur nafasnya, hatinya terasa sesak air matanya juga tidak mau berhenti.
Farhan keluar dari kamar mandi, ia terkejut melihat istrinya sedang menangis. Ia pun segera menghampiri istrinya "Kenapa ?" ucapnya lembut sambil membelai rambut istrinya.
"Mas, hiks hiks" Nia menangis dan segera memeluk suaminya dengan erat.
__ADS_1
Farhan mengerti kalau istrinya sudah mengalami mimpi buruk "Tenang, aku disini" Farhan menepuk-nepuk punggung istrinya berusaha menenangkanny.
"Ayahku hiks, aku mau ketemu ayah !"
Farhan terkejut mendengar ucapan istrinya, apakah istrinya mimpi tentang ayahnya ? "Kamu ingin kesana sekarang tapi sekarang sudah jam 11, besok saja ya !"
"Hiks, kalau terjadi apa-apa pada ayah gimana ? aku takut hiks" Nia masih bicara ditengah tangisannya yang tidak bisa terbendung, entah kenapa hatinya terasa remuk, seakan mimpi itu sangat nyata, bagaimana jika ayahnya mati karena dirinya dan tidak ada orang lain yang dapat menolong, mengingatnya saja membuat Nia kehilangan tenaga.
"Aku punya nomernya, mau aku telfon ?" tanya Farhan memberikan solusi.
"Aku malu" ucap Nia
"Dia kan ayahmu, kenapa harus malu ?" ucap Farhan menenangkan istrinya.
"Besok saja kita kesana, aku juga tidak bisa bertemu dengan kondisi seperti ini !" Ucap Nia setelah sada kalau jika ia pergi kesana sekarang, atau telfon ditengah malam pasti terlihat aneh sekali.
"Baiklah, ayo tidur lagi !" Ucap Farhan sambil membantu istrinya untuk berbaring. Setelah mereka berdua berbaring Nia tidak mau melepaskan pelukannya , Farhan membelai rambut istrinya dengan lembut.
"Apakah kamu mimpi buruk ?" Tanya Farhan ingin memastikan.
Nia hanya mengangguk
"Tentang ayahmu ?" tanya Farhan lagi.
"Iya" Nia menangis dengan keras lagi.
Farhan kebingungan ia memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut , ia ikut memeluk istrinya agar Nia bisa tenang dan tidur kembali. "Baiklah mimpi buruk sudah berlalu, sekarang waktunya tidur lagi, besok malam kita kerumah ayahmu ok, aku akan buat janji dengan Pak Fajar"
Nia hanya mengangguk mengerti, mereka pun hanya diam hingga malam semakin larut dan kembali tenggelam dalam mimpi.
Extra :
Farhan sudah sampai digarasi, dan melihat istrinya masih tertidur. Ia tidak tega untuk membangunkan istrinya, akhirnya ia menggendongnya sampai masuk ke dalam rumah.
Aww So Sweet 😍
Dikamar mandi Farhan baru melepaskan pakaiannya, ia bersiap untuk mandi. Tapi karena ia mendengar teriakan istrinya, ia tidak jadi mandi dan langsung memakai baju tidur.
Iuw So Stinky 😖
**Bagi pembaca sekalian maaf eps selanjutnya mungkin baru bisa di update 2 atau 3 hari lagi, dikarenakan author sedang sibuk merayakan Hari Raya Idul Fitri, yah meskipun gak bisa mudik tapi harus bisa menghabiskan waktu lebih untuk keluarga. Just enjoy it hehe ^^
Selamat Hari Raya Idul Fitri 2020
Stay At Home
Stay Healty
Hehe salam manis dari author*
Little Star*^^
__ADS_1