KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Galau


__ADS_3

Allah has created them perfect to one another


Senja mulai terlihat tapi Nia masih belum bosan membaca buku, sepertinya ia sudah masuk kedalam kehidupan dalam cerita sehingga enggan untuk berpaling, memang mudah untuk membaca tulisan bagus tapi menulisnya ? Memang sesuatu yang berbeda, tapi Nia masih berharap semoga kelak ia juga bisa menulis setidaknya sebuah buku.


BRUAKK !


Nia terkejut karena mendengar seseorang membuka pintu dengan keras ia pun berpaling ke arah pintu.


Tapi belum sempat ia menoleh Farhan sudah memeluknya dengan erat, Nia tersenyum melihat sikap suaminya yang manja.


Apakah kamu sangat merindukanku !


Nia mengelus punggung suaminya, ehh kenapa tubuhnya bergetar ? Apakah dia sedang menangis ? "Kamu kenapa ?" tanya Nia penasaran.


Farhan tidak menjawab, kini mulai terdengar isak tangisnya.


Nia berusaha mendorong suaminya, ia ingin melihat wajah suaminya , "Apa yang terjadi kenapa kamu menangis ?" ucap Nia lembut agar Farhan mau menjawab pertanyaannya.


Farhan berpaling dan kembali memeluk istrinya itu ingin mengeluarkan seluruh air matanya yang ia tahan sejak tadi siang.


Akhirnya Nia mengalah, ia akan menunggu hingga suaminya mau cerita.


10 menit telah berlalu tapi tidak ada tanda-tanda bahwa Farhan akan mengakhiri tangisannya, sedangkan punggung Nia sudah terasa sakit.


"Mas kamu pasti capek, kita berbaring di ranjang saja !" ucap Nia sambil menarik suaminya untuk naik ke atas ranjang.


Mereka tidur saling berhadapan sekarang , Nia membatu suaminya untuk mengelap air mata itu. Nia tersenyum lembut "Kenapa ?" tanya Nia kemudian.


"Istrinya Anton melahirkan !" ucap Farhan singkat.


Nia terkejut mendengarnya "Lalu bagaimana apakah bayinya selamat ? bagaimana dengan ibunya ?" tanya Nia khawatir kenapa suaminya sampai menangis seperti ini.


"Semuanya selamat" Jawab Farhan yang membuat Nia bisa kembali bernafas lega.


"Syukurlah, lalu kenapa kamu menangis ?" Tanya Nia lagi masih penasaran.


Farhan mulai menangis lagi, yang membuat Nia semakin bingung.


Aduh kenapa sih anak ini ?

__ADS_1


"Aku melihatnya, Istri Anton kesakitan dan Anton terus menangis mereka butuh 3 jam untuk mengeluarkan bayinya" ucap Farhan sambil tersengal karena tangisannya.


Nia mengerti ia menepuk-nepuk pundak suaminya agar tenang "Kasian Anton dan istrinya , tapi syukurlah semuanya selamat" ucap Nia menghibur Farhan.


Farhan menatap istrinya dengan mata yang berkaca-kaca "Bagaimana denganmu ? bagaima kalau kamu kesakitan seperti itu ?" ucap Farhan cemas.


Nia tersenyum, jadi ini yang suaminya takut kan, manisnya . "Tidak semua orang prosesnya sesulit itu, jika tidak bisa menahan rasa sakit bisa juga dengan operasi caesar. Mungkin istri Anton ingin lahiran normal karena setiap wanita menginginkannya, entah seberapa beratnya itu tapi memang itu lah keinginannya, makanya wanita itu ajaibkan !" Nia tersenyum sambil menunjukkan giginya yang rapi agar suaminya bisa berfikir jernih "Kamu lihat tadi bayi Anton ?"


Farhan mengangguk.


"Kamu menggendongnya ?"


Farhan mengaguk lagi.


Nia tersenyum "Bagaimana rasanya ?"


Farhan mengingat kejadian tadi ia terlalu cemas hingga tidak memperhatikannya.


Nia mencium kening suaminya. "Besok kita kesana untuk melihatnya lagi kamu ingin menggendongnya lagi kan ? Bayi itu seperti halnya mukzizat manusia kecil yang bernafas, hangat, lembut, dan sangat rapuh, tapi mampu memberi kekuatan untuk orang tuanya . Aku yakin ketika bayi itu lahir wajah Anton dan istrinya pasti cerah sekali, karena hadiah yang mereka tunggu-tunggu telah hadir kedunia, mereka akan melupakan perjuangan selama 3 jam itu dan juga masa-masa kehamilan yang sulit semua sudah dibayar lunas dengan hadirnya buah hati mereka, ahh aku membayangkannya sudah senang, luar biasa bukan ?" ucap Nia bersemangat.


Farhan menatap istrinya tidak percaya sekaligus takjub "Kamu tidak takut sama sekali ?" tanya Farhan masih khawatir.


"Untuk apa takut , setiap wanita menginginkannya" ucap Nia meyakinkan


"Kalau begitu tidak usah dilihat" jawab Nia santai.


"Aku juga tidak mau meninggalkanmu kesakitan sendirian" jawab Farhan marah.


Nia tersenyum "Kalau begitu cukup jadi suami yang baik, kita akan berjuang bersama-sama " ucap Nia.


"Ucapanmu sudah seperti orang tua, memangnya kamu sudah umur berapa ?"


"Tidak jauh beda darimu haha" Nia tidak mau menjawab malah tertawa , sekarang gantian ia yang memeluk suaminya.


Akhirnya Farhan merasa sedikit lega meskipun tidak 100% keresahan itu hilang tapi istrinya yang sangat yakin itu membuatnya masih memiliki harapan, ia ingin memiliki banyak anak karena sangat sedih jika harus menjadi anak tunggal tapi ia juga tidak mau membuat istrinya terluka ahh ini sangat membuat orang lain frustasi.


"Mas terimakasih karena menghawatirkanku !" Ucap Nia yang membuyarkan lamunan Farhan


Benar keaajaibanku didunia ini adalah kamu.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Nia" Farhan ikut mempererat pelukannya.


°°°°°


Sudah seminggu keluarga Mariam masih tidak mau berbicara kecuali hal-hal yang penting saja. Mariam juga sudah memutuskan hubungan dengan Ardan, setidaknya untuk saat ini.


Sore itu tiba-tiba ibu memanggilnya, mereka duduk di meja makan sambil memakan buah yang sudah di siapkan oleh ibu. Mariam berfikir mungkin saja ibunya sudah memaafkannya.


"Umi, aku minta maaf ya sudah mengecewakan umi" ucap Mariam sedih.


Ibu mengangguk. "Kumohon jangan diulangi lagi" ucapnya lembut.


Mariam mengangguk senang.


"Mar, kamu masih ingat Zainal anaknya Abah Faruq, yang dulu kuliah di Amerika ?" ucap ibu berharap bahwa putrinya masih ingat dengan anak dari teman suaminya itu.


"Maksud umi, Abang Zain ?" tanya Mariam meminta penjelasan.


"Iya, sekarang ia sudah jadi kepala kepolisian diusianya yang masih muda, dan sekarang ia pulang ke Indonesia, ia ada tugas disini dan ..." ibu takut untuk meneruskan kalimatnya.


"Dan ...?" ucap Mariam antusias , ia masih ingat dengan sangat jelas Wajah rupawan Abang Zain waktu mereka masih muda, setiap gadis mengaguminya bukan hanya tampan tapi juga baik hati. Usia mereka berjarak 5 tahun seharusnya cocok untuk dijadikan pasangan tapi tidak ada niatan lebih hanya sekedar mengagumi karena layaknya punuk merindukan bulan hehe.


"Dia kesini untuk menikah !" ucap ibu.


"Wah menikah ? dengan siapa memang sih umur 24 sudah cukup umur untuk menikah" Jawab Mariam senang-senang saja.


"Kamu" Jawab ibu ragu.


"Apa ?" Mariam tidak percaya dengan apa yang ia dengar kok bisa, lagi pula ia sudah memiliki seseorang yang dicintai.


"Begini, tenang dulu, Abah Faruq bilang dulu ia dan Abi adalah teman dekat mereka sudah berjanji untuk menikahkan anak mereka agar bisa menjadi keluarga, dan anak Abi kamu yang gadis hanya tinggal kamu, sebagai anak yang berbakti kamu harus menerimanya iya kan ? janji adalah hutang, tolong bantulah, agar Abimu bisa tenang disana." ucap ibu memberi penjelasan.


"Tapi umi, umi kan tahu aku menyukai laki-laki lain" ucap Mariam berusaha menolak perjodohan ini.


"Sayang ingatlah, didunia ini kamu tidak bisa hidup hanya karena cinta, cinta sebelum nikah adalah sebuah kesalahan itu hanya nafsu bukan cinta. Kamu hanya boleh menyukai suami halalmu, ingatkan pesan Rasulullah menikah adalah ibadah, sepertinya umi juga tidak bisa menjagamu lagi karena kamu sudah besar, menikahlah agar suamimu yang menjagamu, dan bisa menundukkan pandanganmu" ucap ibu kembali memberi penjelasan.


Mariam hanya diam berfikir, sepertinya bukan masalah karena Abang Zain juga tampan dan baik, tapi ia sudah tidak bertemu selama lebih dari 10 tahun apakah mungkin Abang Zain masih seperti dulu ?


Ibu mengengam tangan putrinya "Serahkan pada Allah nak, siapapun yang menginginkanmu menjadi istri maka itulah jodohmu, jika ia baik maka itu adalah keberuntungan untukmu, dan jika ia tidak sesuai dengan keinginanmu maka perbaikilah dia dengan kelembutanmu, umi yakin kamu bisa Allah menyayangimu nak percayalah siapapun suamimu maka itulah pilihan terbaik dari Allah" kembali ucapan ibu mengedor hati Mariam yang galau.

__ADS_1


Benar saja setiap kata yang terucap dari bibir ibunya selalu menenangkan hati. Ia tidak pernah berani menolak, karena ia yakin apapun yang dikatakan ibunya adalah benar adanya.


Abang Zain ? Siapakah kamu kenalan dulu sama author !! Hehe ^^


__ADS_2