KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Babys Name


__ADS_3

It's been ugly days !


She said tell me something beautiful ?


And His said Her name !


Was something more than beautiful.


Malam kembali hadir, namun dingin dan gelapnya tidak mampu menembus kamar sepasang kekasih yang sedang memadu kasih. Glegar tawa terdengar disetiap sudut ruangan.


Farhan sibuk memijat kaki istrinya, karena Nia terus saja mengeluh karena capek.


Sedangkan Nia bermain dengan ponselnya, sambil tertawa menahan geli. Dia berhasil membuat suaminya tuduk di kakinya.


"Apakah kamu menikmatinya ?" tanya Farhan yang melihat istrinya terus saja tertawa. Entah apa yang ditertawakan istrinya apakah itu karena geli ? Atau karena ada sesuatu yang lucu didalam ponselnya ? Mungkinkah ia tertawa karena senang suaminya mau memijat kakinya.


"Iya ke kanan sedikit sayang !" ucap Nia sambil menunjuk kakinya.


"Disini ?" ucap Farhan mengikuti arahan istrinya.


"Iya di situ, wah enak banget, suamiku yang terbaik hehe." Nia tersenyum yang diikuti oleh senyuman suaminya.


Pangilan Video call dari Ria, Nia pun segera mengangkatnya.


"Hallo, assalamualaikum !" ucap Ria menyapa.


"Hay waalaikum salam!" ucap Nia menjawab. "Apa kabar kamu, lama gak nelfon sibuk kuliah ya ?"


"Haha iya nih, ibu muda apa kabar, keponakanku sehat-sehat saja kan ?" ucap Ria sambil tersenyum.


"Iya, sehat-sehat saja kok. Kamu kapan pulang ke sini, udah satu tahun kan kamu disana gak kangen sama aku ?" tanya Nia.


"Haha sebenarnya aku ingin pulang sih, aku tidak suka disini cuacanya dingin sekali apalagi bahasanya, aku masih belum terbiasa !" ucap Ria mulai curhat.


"Tumben mengeluh biasanya happy-happy aja" Nia mulai penasaran mungkin saja ada masalah pada sahabatnya itu.


"Aku ingin pulang tapi mama tidak mengizinkan, huh aku sudah malas buat kuliah, aku ingin kayak kamu cuti aja, bekerja, dan menikah" ucap Ria cemberut.


"Haha cepat cari pacar sana !"


"Kalau aku ada disini mana mungkin cari pacar, agama dan bahasanya aja berbeda, kemana kakak ipar ?" tanya Ria.


"Itu jadi tukang pijit" Nia membalikkan ponselnya agar Ria dan Farhan bisa ngobrol.


Ria menatap Farhan tidak percaya "Wah kak Farhan kamu kok mau sih jadi tukang pijit ! Jangan-jangan kamu berubah jadi suami yang takut istri ya ?" ejek Ria.


Farhan tertawa mendengar candaan garing Ria. "Mau gimana lagi dia mengandung anakku haha."


"Ok lah, semua cowok jadi bodoh kalau jatuh cinta !" ucap Ria tidak mau berhenti mengejek.


"Bukan bodoh tapi menjadi lembut hehe" Farhan terus memijat kaki istrinya dengan bangga. "Kamu cemburukan, cepat cari suami sana !" ucap Farhan lagi.


"Huh kamu jadi mirip sama Nia sekarang. Oh iya Kak aku mau minta bantuan boleh gak ?" tanya Ria akhirnya ia berani mengungkapkan maksudnya menelfon.

__ADS_1


"Bantuan apa, asalkan jangan bantuin cari jodoh aja haha !" Farhan malah gantian menggoda sahabat istrinya itu.


"Begini bisa kasih aku kerjaan gak, aku mau pulang ke Indo lalu cuti kuliah, aku udah malas buat belajar, lagipula aku sudah punya ijazah D2 boleh ya !" ucap Ria lagi.


Farhan menatap istrinya meminta pendapat. "Tanya Bu Bos saja sana hehe !" Farhan malah meminta istrinya untuk menjawab.


Nia tersenyum lalu mengarahkan layar pada dirinya lagi. "Kamu ngapain sih mau kerja, memangnya diizinin sama mama kamu ?"


"Huh aku cuma ingin bebas dan hidup mandiri seperti dulu. Boleh ya, Nia kamu sahabat terbaikku kan kasih aku kerjaan ya ya !" Ria mulai merengek seperti bayi.


"Kalau kamu udah punya kerjaan lalu kamu mau tinggal dimana ?" tanya Nia lagi.


"Bukannya dikantornya Kak Farhan ada messnya aku akan tidur disana ya, terserah deh mau dibagian manapun dan digaji berapapun, yang penting aku punya tujuan untuk pulang !" ucap Ria memberi penjelasan.


"Baiklah, kapan kamu mau pulang ?"


"Minggu depan ya, aku harus menyelesaikan urusanku disini dan pulang, makasih banyak ya !" ucap Ria senang.


Nia tersenyum "Baiklah hati-hati, welcome back Ria !" Nia ikut senang karena bisa berkumpul dengan sahabatnya lagi. Sebenarnya ia ingin mengajak Ria tinggal dirumah ini tapi ia tidak enak sama suami dan mertuanya.


"Thank you Nia, Thank you kak Farhan !" Ucap Ria keras sekali karena terlalu senang.


"Sama-sama !" ucap Nia, Farhan hanya tersenyum ia juga dekat dengan Ria, Ia juga senang bisa membantu bagaimanapun juga Ria adalah teman istrinya sejak kecil. Orang yang selalu menemani istrinya hingga tumbuh menjadi dewasa.


"Sudah berapa bulan usia kandunganmu ?" tanya Ria.


"Sudah lima bulan, kamu tahu Little Farhan punya kaki yang panjang, dengan tubuh yang mungil, tangannya terlihat menggengam erat dan matanya pasti sangat bersinar. Detak jantungnya membuat setiap orang jatuh cinta, aku tidak sabar melihatnya lahir didunia !" Ucap Nia panjang lebar.


"Hey aku hanya tanya usianya kenapa kamu bercerita banyak sekali. Haha aku tahu kalian pasti sangat bahagia sekali." ucap Ria ikut senang.


"Hehe tenang saja, eh tadi kamu bilang little Farhan, anak kalian laki-laki ya ?" Ria ikut bersemangat membicarakan tentang bayi.


"Hehe iya laki-laki yang hebat tentunya !" Nia tersenyum malu-malu.


"Wah keren, kalian sudah memberinya nama ?" ucap Ria masih penasaran.


"Ah belum, apakah harus secepat itu !" tanya Nia bingung.


"Haha bukankah menyenangkan mencari nama untuk bayi, sepertinya kalian juga harus mulai berbelanja keperluan bayi, lalu ikut pelatihan dasar jadi orang tua, wah aku jadi iri sama kalian !" ucap Ria.


"Kok kamu malah lebih berpengalaman dari kami sih, ya udah Ria aku sibuk mau cari nama untuk bayi aku tutup ya telfonnya." Nia sangat bersemangat ingin segera mencari nama untuk bayinya.


Farhan ikut tersenyum karena malu, ia belum memikirkan sampai sejauh itu.


"Elahh, baik lah, selamat menikmati ...."


Belum selesai Ria berbicara Nia sudah mematikan telfonnya.


Habis manis sepah dibuang !


Ria sedih karena sahabatnya itu mematikan telfon begitu saja.


"Bagaimana ini, kamu sudah punya nama untuk anak kita ?" Tanya Nia ia menatap suaminya dengan serius.

__ADS_1


"Emmz bagaimana kalau Fatan atau Fadil ?" Ucap Farhan mulai memikirkannya juga.


Nia cemberut "Kamu suka nama dengan huruf depan F ya, seperti Farhan, Farida, Fajar, nanti pembaca pada bingung tahu, namanya mirip semua." Nia menolak.


Farhan berfikir ulang "Bagaimana kalau Sherhan ?"


Nia menggeleng kepala. "Ah payah udah banyak yang huruf akhir an, coba ingat Farhan, Ardan yang lainnya dong !"


Farhan mulai kesal "Terserahlah, cari nama sendiri sana !"


"Kamu kok gitu sih !" ucap Nia kesal.


Huh, Farhan kembali menarik nafas panjang agar bisa tenang "Baiklah ayo kita pikirkan bersama !"


"Bagaimana kalau kita beri nama Yusuf ?" tanya Nia.


"Jangan, mencari nama itu harus sekitar huruf depan F - S !" ucap Farhan menolak.


"Apa alasannya coba ?"


"Kalau huruf terlalu awal nanti ia akan sulit kalau ditanyai oleh guru, lalu kalau ujian harus duduk dikursi yang paling depan, sedangkan nama dengan huruf paling akhir pasti pulangnya akan berada di urutan akhir terus jadi ya pokoknya gak boleh" ucap Farhan menolak.


Nia mengerucutkan bibirnya tidak sependapat apa hubungannya coba, memangnya kenapa kalau harus duduk dikursi paling depan ataupun harus pulang dengan urutan yang paling akhir dasar aneh. "Kamu tahu kan cerita Nabi Yusuf, laki-laki tertampan dan terkeren dizamannya. Kalau anak kita nanti lahir mungkin saja dia akan lebih hebat darimu !" ucap Nia masih tidak mau mengalah.


"Lebih keren cerita Nabi Muhamad, Manusia paling keren dan sempurna akhlaknya di dunia ini!" ucap Farhan juga tidak mau kalah.


"Huh kenapa cari nama susah sekali sih, jadi mau kasih nama siapa ? Yusuf atau Muhamad ?" ucap Nia mengalah.


Farhan tersenyum karena memiliki ide "Kenapa tidak kita beri nama Muhamad Yusuf saja ?"


Nia tersenyum setuju "Benar, Muhamad Yusuf nama yang sangat keren kan !" Nia tersenyum dan memeluk suaminya.


Farhan mengelus perut istrinya "Sehat terus ya nak. Mulai sekarang nama kamu Muhamad Yusuf kami akan memanggilmu Yusuf !" Farhan mencium perut istrinya lagi.


Disaat yang bersamaan Yusuf kecil menendang perut ibunya. Merekapun tertawa bersamaan.


"Sepertinya Yusuf kita menyukai namanya !" ucap Nia senang.


Farhan tersenyum lalu mencium kening istrinya "Terima kasih sayang, sudah memberiku kebahagiaan seindah ini." ucap Farhan.


Nia tersenyum "Kalau gitu, bisa belikan aku durian lagi, aku ingin makan durian !" ucap Nia sambil tersenyum.


"Lagi, hah kamu tahu kan aku benci durian ?" ucap Farhan mengeluh.


"Ayolah sayang !" ucap Nia sambil mengelus dada suaminya.


"Sudah malam besok saja !" ucap Farhan menolak.


"Ini keinginan Yusuf kita loh !" ucap Nia sambil menatap suaminya dengan tatapan memelas seperti kucing.


Farhan tersenyum, ia tahu bahwa ia tidak akan menang dari istrinya. "Sini berikan kecupan buat ayah !" ucap farhan sambil memajukan wajahnya.


Nia mencium suaminya. Farhan tersenyum dan berlalu pergi untuk membeli durian.

__ADS_1


How ? Cute or not ? Don't forget to like, comen + vote !! Thank you^^


__ADS_2