KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Istri Farhan


__ADS_3

Nia's


Good mood, haha mungkin itu yang biasa orang katakan untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Perasaan bahagia karena telah memiliki keluarga, perasaan aman karena merasa dilindungi, perasaan semangat untuk menjalani hari dengan baik dan segera pulang karena ada seseorang yang mungkin saja sedang menunggu dirumah. Kini aku tinggal dirumah yang besar dan hangat yang penuh dengan tawa, meninggalkan tempat kosku yang sunyi dan dingin.


Ahhh semuanya terlihat indah Aku membeli makan dikantin dan membawanya ketaman, ingin merasaakan udara segar, menatap pohon-pohon yang menari, dan suara anak-anak yang sedang bercanda atau berlarian. Duduk dikursi favoritku, aku melihat Ardan berjalan bersama temannya, aku yakin ia menatapku, pandangan kami bertemu sekilas, aku tersenyum padanya tapi Ardan berlalu begitu saja. Ahh perasaan bersalah apa ini, bagaimanapun juga dia adalah cowok yang baik.


Pandanganku beralih pada sosok perempuan bercadar, siapa dia aku tidak pernah melihatnya, apakah dia mahasiswa baru? kenapa ia sendirian ? Aku mengamatinya, sudah 20 menit ia masih duduk sendirian membaca sebuah buku. Sepertinya ia tidak memiliki teman, kesempatan bagus untuk menjadikannya teman pikirku, dari pada setiap hari diam sendirian. Aku segera mengemasi bungkus makananku, lalu mengambil tas ku dan menghampirinya.


"Hay !" sapaku, ia menatapku lalu mengangguk aku tidak tahu seperti apa ekspresinya apakah ia sedang tersenyum atau malah merasa tidak suka. "Kamu sendirian boleh aku duduk disini ?" tanyaku lagi.


"Iya tentu saja, silahkan duduk" jawabnya ramah, suaranya lembut dan sopan. akupun segera duduk, ternyata buku yang dibawanya adalah Al-qur'an .


"Kamu anak baru ya aku tidak pernah melihatmu, perkenalkan namaku Nia, jurusan Bahasa Indonesia semester dua". ucapku sambil memberikan tanganku untuk berjabat tangan.


Ia meraih tanganku dan kami berjabat tangan, "Nama saya Mariam, saya jurusan kedokteran semester satu, hehe kita nggak pernah ketemu ya karena saya selalu berada dalam kelas, saya kenal kakak kok saya fans kakak loh" jawabnya membuatku kaget.


"Ehh, kok bisa kamu nggak salah orang kan ?" tanyaku lagi.


"Enggak kak, meskipun kita nggak pernah ketemu secara langsung aku sering melihat kakak duduk disana, biasanya aku melihat kakak bersama dengan Kak Ardan"


"Kamu kenal Ardan?" membuatku lebih penasaran.


"Iya kak Ardan dulu menjadi pembimbing Ospek, dia sempat membelaku saat aku dibuli teman-temanku karena aku memakai cadar"


Aku tersenyum mendengarnya membayangkan Ardan membela gadis ini, apakah gadis ini menyukai Ardan aku semakin penasaran dibuatnya. "Benarkah Ardan memang baik, dan juga pintar ia bagus dalam bahasa inggris"


"Benarkah, sepertinya Kak Nia dan Kak Ardan dekat, apakah kalian berdua pacaran ?" ahh aku tidak bisa menggambarkan ekspresi wajahnya.


"Enggak kok dia cuma temen, lagi pula aku sudah menikah " Jawabku bangga, sekaligus ingin memberi peluang untuk gadis ini agar bisa mendekati Ardan.


"Benarkah, kapan ? Wah selamat ya, aku nggak nyangka kak Nia menikah semuda ini" ucapnya bersemangat, haha sepertinya benar dugaanku.


"Apakah kamu menyukainya ?" tanyaku penasaran.


Ia menundukkan kepala, "Saya tidak tahu, saya juga tidak berani untuk menyukainya"


"Kenapa tidak boleh ? siapa yang melarang kamu kan punya hak untuk menyukai seseorang, dan satu lagi nggak perlu ngomong bahasa formal cukup aku dan kamu gak papa kok"


"Haha ternyata kak Nia lucu ya, makanya Kak Ardan suka sama kakak, tapi sepertinya dugaanku salah kak Nia kan udah menikah"


"Haha benar sekali, aku bukan lagi Nia aku adalah Istri Farhan sekarang" ucapku bangga.

__ADS_1


"Wah nama suami Kak Nia namanya Farhan ya ? Sepertinya ia pria yang hebat Kak Nia sampai terlihat bahagia seperti ini"


"Tentu saja, kalau tidak mana mau aku menikah dengannya" hoho, baru pertama kali kenalan kita sudah bisa ngobrol seakrap ini, aku pikir Mariam gadis yang susah didekati ternyata tidak seperti penampilannya yang tertutup, ia sangat terbuka dan hangat, hingga aku lupa dengan rencanaku mencari tahu hubungan Mariam dengan Ardan malah kami heboh membicarakan hubunganku dengan Farhan .


Dikamar aku tertawa sendiri karena mengingat kejadian siang tadi aku terus-terusan bicara kalau aku adalah istri Farhan, kalau Farhan tahu bisa mati karena malu aku. Jam masih menunjuk pukul setengah enam, Mama(Tante Farida) dan Farhan masih belum pulang kerja aku turun kebawah melihat Bi Mina sedang memasak, akupun membantunya meskipun Bi Mina menolak. Kami ngobrol dengan akrap meskipun sedikit canggung, aku menikmatinya dari pada harus diam dikamar tanpa melakukan apapun , aku bosan belajar dan aku ingin menulis tapi tidak ada inspirasi untuk bahan menulis cerita, mungkin benar kata orang-orang, kesulitan terbesar dalam menulis adalah menentukan kalimat pertama.


Aku terlalu sibuk hingga tidak mendengar suara mobil Farhan, Farhan dan Mama masuk kerumah aku menoleh kearah pintu karena mendengar pintu terbuka.


"Assalamualaikum! Hai Nia" sapa mama .


"Waalaikumsalam !" Aku tersenyum dan menghampiri Farhan dan Mama


Mama memelukku "Kamu sedang apa ?" tanyanya.


"Ahh aku membantu Bi Mina masak"


"Kamu pasti capek , seharusnya kamu istirahat sepulang sekolah!" ucap mama lagi.


"Ahh aku nggak capek kok aku cuma bosen dikamar " jawabku malu-malu.


"Ya sudah, mama mandi dulu ya!" ucap mama lalu pergi. Aku menggaguk dan tersenyum.


"Kenapa ?" tanyaku ingin tertawa ahh dia manis sekali sih.


"Cuma mama yang dapat pelukan, pelukanku mana?" Farhan merenggangkan tangannya minta dipeluk.


"Dasar! malu ah, memangnya kamu anak kecil, sudah pergi mandi sana!" Aku tertawa sambil mendorong punggung Farhan menuju ke kamar. Sesampai didepan tangga menuju kamar, aku berbalik untuk membantu Bi Mina memasak lagi. Tapi Farhan menghentikanku, ia melingkarkan tangannya agar aku tidak pergi.


"Mau kemana?" tanyanya kemudian sambil menatapku tajam, sebelum aku menjawab ia kembali meneruskan perkataannya "Suamimu sudah pulang kamu tidak mau menemaniku hah, bukan kah kamu yang menyuruhku pulang lebih awal" ucapnya berubah jadi manja sekarang. Membuatku jadi gemas sendiri.


Aku menatapnya dan tersenyum manis "Aku mau bilang ke Bi Mina kalau aku nggak bisa membantu lagi" Akupun melepaskan tangannya dan segera berlari ke dapur dan mengatakan ke Bi Mina kalau aku tidak bisa membantu, Bi Mina tersenyum mengiyakan. Aku kembali berlari ke Farhan yang menungguku di depan tangga.


"Hey jangan berlari seperti itu? memangnya kakimu sudah tidak sakit ?" ucapnya sambil berjalan menaiki tangga.


"Kamu kan tahu sendiri kakiku sekuat apa" Aku berbicara sok dan berjalan duluan seperti biasa, sepertinya Farhan sedang geleng-geleng kepala melihat kelakuanku haha.


Setelah makan malam bersama aku kembali ke kamar bersama Farhan karena Mama juga capek mau istirahat, jadi kami tidak ngobrol seperti kemarin. Aku dan Farhan duduk diatas tempat tidur kami sudah tidak merasa canggung lagi, aku bersandar di bahu Farhan yang sedang melingkarkan tanganya dibahuku, rasanya nyaman.


"Aku sudah menangkap stalker itu, apakah kamu mau memberi hukuman padanya?" tanya Farhan membuka pembicaraan.


"Biarkan polisi saja yang memberikan hukuman, aku tidak mau berurusan lagi dengannya" jawabku, Farhan hanya tersenyum mengiyakan. "Mas ..." Panggilku menunggu reaksinya.

__ADS_1


"Ya ?"


"Aku belum tahu banyak tentang kamu, gimana kalau kita membuat list hal-hal yang ingin kamu ketahui tentangku begitu juga sebaliknya, aku akan memberikan beberapa pertanyaan padamu tentang hal yang ingin aku ketahui " ucapku menjelaskan.


Ia tersenyum dan mencium pipiku "Aku tahu semua hal yang kau sukai, dan kamu ingin tahu hal yang aku sukai semua tentang kamu, apapun yang kamu sukai aku akan menyukainya" dasar itu bukan intinya bodoh membuatku geram saja.


"Kalau begitu seandainya aku menyukai cowok lain maka kamu akan menyukainya juga ya ?" ucapku mengejek.


"Kamu mau mati ya ?" jawabnya kesal , aku segera berlari melepaskan diri, dan tertawa menggodanya. "Kesini kamu, aku tidak mau main kejar-kejaran" ucapnya lagi kesal.


"Nggak mau nanti kamu akan membunuhku!" ucapku sambil tertawa mengabaikan tatapan mata Farhan yang menusuk. Aku mengambil dua lembar kertas dan dua buah bolpoin, memberikan satu kepada Farhan, mencoba merayunya lagi. "Tadi aku membaca diinternet, cara agar pasangan semakin mencintaimu salah satunya adalah kita harus tahu tentang pasangan kita masing-masing".


Farhan tersenyum mendengar ucapanku "Jadi kamu mau agar aku semakin mencintaimu ?"


"Tentu saja aku senang menjadi Istri Farhan, dan selamanya aku akan tetap menjadi Istri Farhan" Aku menatapnya mata kami bertemu "Kamu tidak akan meninggalkanku kan ?" tanyaku serius.


Farhan tersenyum lalu menciumku "Tentu saja, aku akan melakukan apapun yang kamu mau walaupun hal bodoh sekalipun" Jawabannya membuatku tertawa senang.


"Jadi suami tolong isi pertanyaanmu disini dan aku akan pergi ke meja kerjamu untuk mengisi pertanyaanku oke !" Akupun segera berlalu pergi.


"Hey kenapa harus jauhan kamu kan bisa nulis disini juga" tanyanya marah lagi.


"Inikan rahasia negara kita nggak boleh melihatnya sampai besok , kalau sudah selesai panggil aku ok" jawabku sambil sibuk dengan pertanyaanku.


Dua menit kemudian Farhan berteriak kalau dia sudah selesai. Hah cepet banget , "Tunggu sebentar" Akhirnya selesai juga , aku menyimpan kertas ini di tas kantornya dan Farhan meletakkan kertasnya di laci meja samping tempat tidur.


Aku kembali ke ranjang dan duduk bersama Farhan lagi. "Masih jam 8 kita mau ngapain?" tanyaku merasa bosan.


"Gimana kalau kita main?" Farhan mengedipkan matanya, ahh aku tahu maksudnya. Aku malah ingin menggodanya.


"Gimana kalau kita main Truth Or Dare / Jujur atau Tantangan, dipermainan ini katau kita kalah dalam swit, maka yang menang bisa memberi pertanyaan kalau tidak mau menjawab maka kita harus mau diberi tantangan" ucapku bersemangat.


Farhan cemberut tapi ia mengiyakan permintaanku kamipun mulai.


Farhan menang jadi pertanyaan darinya siapa nama orang yang aku sukai ? dan jawabanku tentu saja dirinya. Iapun tersenyum dan menciumku. Ok.


Game ke dua Farhan menang lagi, pertanyaannya adalah jika disuruh memilih aku lebih suka menciumnya atau lebih suka kalau dia menciumku ? Pertanyaan apa ini tentu saja aku marah dan Farhan malah tertawa kalau nggak bisa menjawab maka harus melakukan tantangan dan tantangannya adalah berhenti main game ganti main di ranjang .


Kyyaak kurang ajar, aku tertawa karena aku sudah berhasil dibodoh i oleh nya. Tawa kamipun kembali memenuhi ruangan.


Aku mau ikut main game juga dong !! Hehe ^^

__ADS_1


__ADS_2