
A great marriage is not when the PERFECT COUPLE comes together. It is when an IMPERFECT COUPLE learn to enjoy their differenees.
Morning is coming, new day come up with greatest sun. Yup Zain dan Mariam siap untuk pergi ke rumah baru mereka, tidak sabar untuk menata barang-barang yang sebentar lagi akan datang.
Zain dan Mariam menunggu di kursi taman kecil dibelakang rumah. Entah kenapa Mariam merasa berdebar, untung saja ia sedang memakai cadar sekarang kalau tidak pasti sangat terliat rona merah diwajahnya.
"Bagaimana dengan kuliahmu ?" tanya Zain memulai percakapan.
"Baik, tinggal menunggu 4 semester lagi aku bisa lulus" ucap Mariam menjelaskan.
"Kamu mengambil jurusan apa, maksudnya spesialis apa ?" tanya Zain lagi hanya sekedar untuk membunuh waktu agar cepat berlalu, ia juga masih merasa belum nyaman jika hanya berduaan dengan istrinya.
"Kesehatan gigi dan mulut" Ucap Mariam singkat.
Zain sedikit berfikir ia tidak mengerti "Kenapa ? bukankah lebih baik menjadi dokter ahli syaraf atau penyakit dalam, kamu bisa menolong banyak orang" ucap Zain lagi mengeluarkan pendapatnya.
"Emmz benar juga ya , sebenarnya aku masih belum terlalu memikirkannya, dosen masih mengajarkan dasar-dasar pertolongan pertama, dan juga penyakit ringan, mungkin semester depan akan dimulai dengan kelompok masing-masing, aku hanya berfikir kalau menjadi dokter kesehatan gigi dan mulut bayarannya banyak, emmz jadi begini kamu tahu kan berapa harga sekali cabut gigi, atau tambal gigi bisa ratusan ribu dan sepertinya prosesnya mudah apalagi kalau mau memasang gigi palsu bayarannya bisa jutaan. Seandainya kita tinggal di korea mungkin aku ingin menjadi dokter bedah plastik haha pasti bayarannya banyak" Mariam sangat bersemangat membicarakan tentang pekerjaannya.
Zain juga ikut tertawa mendengar penjelasan istrinya, kenapa alasannya simple sekali kalau menjadi dokter maka ia akan menjadi kaya, seperti itu lah intinya. "Haha kamu lucu sekali, kamu ingin menjadi dokter bukan untuk menyelamatkan nyawa pasien tapi demi uang ?" ia ingin menggoda istrinya.
"Yah tidak seluruhnya benar sih, coba bayangkan seandainya kamu sakit gigi dan tidak ada dokter gigi lalu bagaimana ? Ini bukan keuntungan sebelah pihak, tapi dua belah pihak. Kamu pernah mendengar pepatah membunuh dua burung dengan satu batu, ya seperti itu lah" ucap Mariam bangga dengan kepandainya.
Zain tidak bisa berhenti tertawa dengan kopolosan istrinya "Salah tuh bukan kill two bird with one stone tapi sekali mendayung dua tiga pulau terlampau i " ucap Zain menjelaskan kesalahan pribahasa yang di ucapkan istrinya.
"Eh benar juga ya hehe" Mariam tersenyum karena malu.
"Kamu tahu berapa biaya operasi jantung ? atau biaya operasi organ tubuh ?" ucap Zain serius.
Mariam menggeleng kepala karena tidak tahu.
"Kamu bisa mendapatkan puluhan juta untuk sekali operasi !" ucapnya serius.
"Benarkah ? apakah aku harus mengikuti kelas ahli bedah ?" ucap mariam serius.
__ADS_1
"Iya mungkin 10 kali operasi kamu bisa membeli rumah dengan uang itu" ucap Zain tampak serius tapi sebenarnya ia hanya ingin menggoda istrinya, mana mungkin, iya kalau rumah sakit itu miliknya sendiri, dan organ yang didonorkan adalah organnya sendiri.
"Kalau begitu aku harus masuk ahli bedah" Ucap Mariam bersemangat.
"Haha " Zain tertawa lalu menyentil dahi istrinya.
"Ah, kenapa kamu memukulku ?" ucap Mariam sambil menggosok dahinya yang memerah.
"Berhenti memikirkan uang, aku hanya berbohong padamu. Pikirkan baik-baik pekerjaan apa yang kamu inginkan mengerti" ucap Zain kini ia benar-benar serius.
"Bukankah yang paling banyak uangnya adalah yang terbaik ?" ucap mariam polos karena itu lah yang ia ketahui ia akan bahagia kalau memiliki uang.
"Dasar bocah memangnya kalau kamu punya banyak uang mau kamu apakan ?" tanya Zain masih tertawa.
"Tentu saja membelikan barang mewah untukmu, hehe " ucap Mariam semangat.
"Eh kenapa aku ? buat apa ?" tanya Zain bingung.
Zain terharu untuk pertama kalinya ada seorang wanita yang memikirkan keinginannya. "Wow istri kaya raya, terdengar bagus haha" ucapnya sangat senang.
"I told you haha" Mariam tertawa ia masih tidak sadar dengan apa yang baru saja ia katakan, ia hanya merasa senang karena bisa mengobrol sebanyak ini dengan suaminya.
Ting Tong !
Suara bel pintu mengagetkan mereka, Zain segera keluar untuk membukakan pintu.
Perabot mereka sudah datang, dua orang yang mengantar barang ikut membantu memasukkan barang kedalam rumah. Mariam ikut membantu memberitahu dimana barang itu harus diletakkan. Setelah semua barang masuk kedalam rumah dua orang tersebut pamit untuk pulang, Mariam menyondorkan dua minuman dingin yang ia beli dari supermarket tadi, sambil mengucapkan terimakasih.
Kini gantian tugas Zain dan Mariam mengelap semua perabot baru, Nanti ia harus pulang lagi kerumah untuk mengambil baju mereka.
Mariam tidak pernah menyangka bahwa mendekorasi rumah sendiri sangatlah menyenangkan apalagi ia melakukannya bersama dengan suami.
Pukul 12 siang mereka telah selesai, mereka pergi ke Masjid terdekat untuk sholat, lalu pergi keluar untuk membeli makan siang. Sekalian Zain mengajak istrinya berbelanja bahan makanan karena mulai hari ini mereka akan tinggal dirumah baru.
__ADS_1
Zain mendorong troli besar, sedangkan Mariam memilih bahan makanan yang harus ia beli. Mariam tersenyum dibalik cadarnya.
Bukankah kita seperti pasangan pengantin baru yang ada di tv-tv, pergi berbelanja berdua bersama suami, aku tidak tahu bahwa rasanya mendebarkan seperti ini.
Setiap mata sepertinya tertuju pada mereka, itulah yang dirasakan Mariam, kenapa apakah karena pakaiannya yang terlihat aneh ? atau karena suaminya yang terlalu tampan ? mungkin karena mereka cemburu dengan kemesraan kami ? hihi Mariam benar-benar bahagia hari ini. Tidak pernah ia sangka bahwa sesuatu yang selalu ia bayangkan sejak dulu kini telah menjadi nyata, lebih cepat dari yang pernah ia bayangkan.
"Mas suka makanan apa ?" tanya Mariam.
"Emmz memangnya kamu bisa masak ?" tanya Zain ingin memastikan.
"Hehe sebenarnya aku tidak tahu, tapi aku sering membantu umi masak kok !" ucap Mariam tidak percaya diri.
"Benarkah, masak apapun aku pasti akan suka kok" ucap Zain sambil tersenyum.
"Baiklah !" Mariam mengambil beberapa sayuran dan juga daging, ayam, dan ikan, tidak lupa ia juga membeli beras, gula, kopi, dll seperti halnya ketika berbelanja dengan ibunya.
Akhirnya mereka selesai berbelanja, waktunya pulang kerumah. Zain ikut membantu istrinya menata bahan makanan kering kedalam lemari. Sedangkan Mariam sibuk menyimpan bahan makanan segar kedalam kulkas.
Selesai merekapun berbaring di kamar baru mereka, rasanya lelah sekali tapi menyenangkan.
Zain menatap istrinya yang memejamkan mata ia melihat sepertinya istrinya kepanasan karena terlihat ada keringat di pelipis istrinya.
"Kamu tidak gerah, lepas dulu jilbabmu" ucap Zain sambil menyalakan kipas angin.
Mariam menatap suaminya bingung dan juga cemas. Apa yang ingin ia lakukan ? pikiran aneh mulai muncul di kepala Mariam, ia tidak ingin membuka jilbabnya.
Zain menggeleng dan tersenyum ia tahu apa yang di pikirkan istrinya. "Masih jam setengah dua, kita tidur siang disini dulu nanti sore kita pulang untuk mengambil baju" ucap Zain menenangkan istrinya.
Mariam tidak menjawab ia hanya menatap suaminya yang sedang berbaring dan memejamkan matanya.
Mariampun melepas jilbabnya karena memang panas sekali, rambutnya saja sampai basah. Huh akhirnya bisa istirahat, tidak lama ia memejamkan mata dan terlelap dalam mimpi indahnya.
Ahaha can not take it ! you all to cute !! Hehe^^
__ADS_1