
Dear Mom
If I had one single flower whenever i thinking about you, than I need to walk everyday in my garden !
Matahari mulai meninggi, setelah 3 jam perjalanan ke tempat kelahiran Nia , akhirnya Farhan dan Nia sampai juga. Mereka membersihkan rumput yang mulai tumbuh dimakam itu, menaburkan bunga segar, kemudian berdoa bersama.
'Ibu apa kabar ? Aku merindukan ibu, beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan ayah, ayah terlihat baik, ia sudah memiliki keluarga baru dan mereka hidup dengan bahagia. Ibu aku merasa iri pada mereka, aku benci pada ayah apakah ibu akan marah padaku ?' Nia memejamkan matanya mengangkat tangan seperti sedang berdoa, lalu berbicara dalam hati, tanpa sadar air matanya terus menetes walaupun ia tidak pernah bertemu dengan ibunya tapi ikatan atara seorang ibu dan anak pasti masih ada.
Farhan merangkul pundak istrinya, menepuknya perlahan berharap agar bisa mengurangi kesedihannya.
Nia sadar dan tersenyum, ia mengelap air matanya. "Ibu aku sudah menikah kenalkan ini suamiku Farhan !" Nia menoleh pada suaminya.
"Halo ibu mertua, aku Farhan menantu ibu, aku akan berusaha menjaga Nia dengan baik jadi ibu tidak perlu khawatir lagi" ucap Farhan sopan seakan sedang berbicara pada ibu mertuanya.
Nia tersenyum lagi "Ibu sekarang aku tidak datang sendirian lagi, aku sudah hidup bahagia sekarang, lihatkan dia laki-laki yang baik dan juga tampan pasti ibu akan bangga punya menantu seperti dia, sekarang ibu harus tidur yang tenang aku berjanji akan hidup dengan bahagia jadi ibu juga harus hidup dengan bahagia" ucap Nia air matanya mulai turun lagi.
Farhan menatap wajah istrinya, mengusap air matanya perlahan.
"Aku baik-baik saja aku hanya menangis karena bahagia" ucap Nia menangkan Farhan.
Setelah dari makam orang tua Nia, mereka pergi ke makam kakek dan nenek Nia juga. melakukan hal yang sama membersihkan makam itu, memberi bunga dan berdoa.
°°°°°
Di atap kampus terasa sangat sepi, udara yang biasanya terasa sejuk kini menjadi panas. Setidaknya itulah yang dirasakan Mariam, setelah mendapat SMS dari Nia yang minta cuti hari ini, ia menjadi murung sepanjang hari, gak ada teman untuk diajak bicara. Setelah makan siang selesai ia kembali menyibukkan diri dengan bukunya berusaha menghilangkan rasa bosan.
Suara langkah kaki seseorang terdengar, Mariam cemas dan bersembunyi, di samping gudang ia tidak berani masuk ke gudang lagi 'Aduh, siapa sih ? kenapa ketika ia sendirian pasti ada aja yang datang !' Mariam menggerutu dalam hati.
Ia terkejut karena melihat sosok laki-laki tampan berdiri dihadapannya. "Mas Ardan !" ucapnya tanpa sadar.
Ardan tersenyum "Apa yang kamu lakukan disini sembunyi lagi ?" ucapnya kemudian.
"Hehe iya !" ucap Mariam lalu berdiri.
"Kamu sudah makan siang ?" ucap Ardan yang khawatir karena melihat Mariam dari pagi sendirian, ia tahu kalau Nia sedang cuti hari ini mungkin karena peringatan hari kematian ibunya. (Haha diam-diam jadi stalker nih^^)
"Sudah kok tadi" ucap Mariam sambil menundukkan kepala bagaimana pun juga ia merasa malu dan tidak nyaman karena berduaan dengan laki-laki.
"Oh baguslah, kamu sedirian kemana Nia ?" tanya Ardan pura-pura tidak tahu.
"Oh Mas Ardan cari Mbak Nia ya ? dia cuti hari ini" ucapnya ada sedikit kekecewaan didalamnya.
"Aku cari kamu kok bukan Nia" ucap Ardan mengerti kalau ucapannya tadi bisa saja menyakiti gadis ini.
Mariam terkejut dan menatap Ardan .
__ADS_1
Ardan tersenyum "Kamu sendiriankan, aku juga lagi gak ada temen boleh gak kutemani disini ?" ucap Ardan dengan kerennya.
Mariam hanya menatapnya tidak percaya .
°°°°°
Hingga sore hari kediaman Fajar Kusuma begitu tenang, semua anaknya memiliki kesibukan masing-masing tanpa tahu apa yang difikirkan oleh orang tua mereka.
Fajar hanya diam meskipun selesai makan siang ia tidak mengucapkan apapun.
Destri berusaha menghibur suaminya ia naik keatas ranjang dan memeluk suaminya yang sedang berbaring di atas ranjang.
Fajar hanya diam saja.
"Sayang, apakah kamu merindukan wanita itu ? Kamu ingin menemuinya kali ini ?" ucap Destri tanpa menatap wajah Fajar .
"Dari dulu aku tidak pernah melihatnya, jika sekarang aku melakukannya bukan kah itu terlalu telat ?" ucap Fajar pelan .
"Lebih baik telat dari pada tidak sama sekali, sebelum kamu menyesal lebih dalam lagi karena masa lalu tidak bisa dihapus begitu saja"
Fajar diam mendengar ucapan istrinya.
Destri pindah posisi duduk dan bersandar di sandaran kepala ranjang, ia membelai rambut suaminya. "Maaf aku tidak bisa mengurangi kesedihanmu, seharusnya dari awal aku mengingatkanmu untuk mengunjunginya. Waktu itu aku hanya takut, takut kalau kamu berpaling dariku. Meskipun aku cemburu melihat banyak wanita disampingmu, tapi tidak ada yang lebih membuatku cemburu dibandingkan mendiang istrimu, aku tahu kamu mencintainya sekali lagi maaf !" ucap Destri dengan tulus, hingga beberapa bulir air mata jatuh.
Destri merasa sakit melihat sisi lemah suaminya, dengan ucapan penyesalan seperti itu mampu membuat hatinya hancur. "Apakah kamu merasa menyesal menikahiku !"
"Aku sangat bersyukur bertemu denganmu, kamu, keluarga kita aku sangat menyangi kalian, sebisa mungkin aku tidak ingin menyakiti kalian, tapi pada akhirnya .." Fajar menangis tidak mampu meneruskan ucapannya.
"Kamu sudah menjadi suami yang baik, maaf aku sebagai istri tidak bisa mengetahui apa yang kamu inginkan " ucap Destri tangisnya juga semakin dalam.
"Kamu adalah wanita terbaik Destri, jangan bilang begitu" ucap Fajar pandangannya berpindah pada istrinya "sini !" ucapnya pertanda meminta istrinya untuk berbaring disisinya.
Destripun berbaring disisi suaminya, dan Fajar gantian memeluknya seperti memberi perlindungan.
"Aku mencintaimu sayang" ucap Fajar sambil mengecup dahi istrinya. "Kamu sudah berhasil mengisi segalanya sayang,sekarang aku hanya berfikir seperti apa gadis itu menjalani hidupnya, membuatku merasa sangat sakit aku bahkan tidak tahu kalau kakek dan meneknya meninggal, dia pasti sangat membenciku, tidak heran kalau sikapnya begitu. Hanya aku yang tidak tahu malu tetap mendatanginya. 20 tahun bukanlah waktu yang singkat" ucap Fajar mulai bercerita, berharap rasa sakit dihatinya mulai berkurang.
"Jangan menyerah, kejarlah dia, dia juga anakmu sebelum terlambat dan kamu akan semakin menyesal. Minta maaf lah padanya" ucap Destri menenangkan suaminya.
"Aku takut !" ucap Fajar tanpa tenaga.
"Dia pasti juga merindukanmu mas, tunjukkan ketulusanmu aku akan berusaha membantumu sebisaku" ucap Destri sambil menatap wajah suaminya.
Fajar menatap istrinya ia melihat kesedihan disana "Apa kamu baik-baik saja?" ucapnya memastikan.
Destri mengangguk "Seharusnya aku melakukan ini dari dulu, karena keegoisanku semua jadi seperti ini.
__ADS_1
"Sudah kubilang itu bukan salahmu, maafkan aku karena menyakitimu lagi" ucap Fajar kembali memejamkan matanya
"Ayo besok kita kunjungi makam istrimu, kamu juga merindukannya kan ? Minta maaf lah dengan tulus dan berharap semoga Nia juga memaafkanmu" ucap Destri sambil mempererat pelukannya.
Fajar memeluk istrinya dan kembali terlelap dalam diam.
°°°°°
Udara pedesaan memang yang terbaik, udara segar tanpa polusi. Nia mengajak Farhan untuk piknik bersama di sebuah bukit tempatnya bermain dulu. Nia sudah menyiapkan bekal dari rumah.
Farhan bersandar di pohon besar yang mereka buat untuk berteduh sekarang.
Nia tiduran dan kepalanya berada dipangkuan Farhan. Mereka menatap berbagai pohon dan rumput liar yang terus tumbuh tanpa orang-orang yang merawat mereka. Nia berfikir mungkin mereka sama seperti dirinya makhluk Allah yang berusaha untuk bertahan hidup. Nia tersenyum karena memikirkannya.
Farhan menatap istrinya dan ikut tersenyum.
"Dulu disini adalah tempat bermain para anak desa, tapi sepertinya waktu sudah berubah mana ada anak-anak yang akan main ditempat seperti ini ?" ucap Nia tanpa memandang suaminya.
"Apa yang kamu mainkan dulu ? Kamu punya banyak teman ?" ucap Farhan penasaran dengan masa lalu istrinya.
"Iya aku punya banyak teman dulu, sepulang sekolah kita akan kesini main petak umpet, lompat tali atau sekedar lari-lari main polisi dan maling, kamu tahu permainan itu ?" ucap Nia .
Farhan hanya tersenyum, membuat Nia menatapnya.
"Kamu anak kota pasti tidak tahu kan ?" ucap Nia sombong hehe.
Farhan menatapnya dan membelai kepala Nia yang tertutup oleh kerudung "Ayahku meninggal saat aku masih kecil, dari kecil aku harus rajin belajar agar bisa segera ikut bertanggung jawab mengelola perusahaan, mama dulu sangat sibuk, jadi dari pada bermain dengan anak pembantu aku lebih suka sendirian main dengan bukuku " ucapnya kemudian.
Nia jadi merasa bersalah karena telah mengejek suaminya, ia tahu kalau suaminya juga hidup dengan keras seperti itu. "Maaf aku lupa kalau kamu bahkan tidak memiliki masa kecil bahagia !" ucap Nia sedih.
"Haha kamu menghawatirkan siapa sekarang ? Meskipun aku hanya bermain dengan buku aku sangat menikmatinya kok" jawab Farhan dengan antusias.
Nia pun tersenyum mendengarnya "Buku dikamarmu itu, apakah kamu sudah pernah membaca semuanya ?" tanya Nia penasaran.
Farhan tersenyum dan mengangguk, "Sebenarnya masih banyak buku lagi tapi karena sudah lama gak ada tempat dirumah, mama memintaku untuk memberikannya pada orang lain" ucap Farhan bangga.
Nia terbengong tidak percaya dengan ucapan suaminya "Wah sepintar apa kamu ? kamu bisa bahasa inggris juga ?" tanyanya lagi masih penasaran.
"Tentu saja, suamimu ini keren kan ?" ucap Farhan sangat bangga terhadap diri sendiri.
Nia mengganguk dengan antusias "Iya kamu keren sekali" ucapnya dengan keras, membuat Farhan bersemu karena malu.
Merekapun menghabiskan waktu disana, hingga matahari mulai tenggelam akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
Happy is whatever yo do with you beloved love !! Hehe ^^
__ADS_1