KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Cemburu


__ADS_3

Farhan's


Sudah seminggu lebih aku tidak pernah bertemu Nia, karena pekerjaanku yang banyak, dan juga kesibukan Nia yang padat. Kami berusaha untuk saling mengerti hanya sekedar Sms dan telfon sudah cukup untuk mengisi kerinduan . Hehe tapi bohong, aku masih sangat merindukannya, hari ini aku berusaha menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat aku ingin segera menemui Nia, karena aku tahu dia tidak memiliki kegiatan sepulang dari kampus , aku ingin mengajaknya makan, tapi ini rahasia ya aku ingin membuat kejutan untuknya.


Jam menunjuk pukul 4 sore pasti Nia sedang bersantai ditaman sambil belajar pikirku. Aku segera menuju ketaman tempat biasa Nia nongkrong tapi ia tidak ada, atau mungkin ke kantin ya? Akhirnya aku mencoba mencari kekantin tapi tetap tidak menemukannya. Aku coba masuk ke dalam kampus ahh, jam segini pasti sepi mungkin saja Nia sedang ketiduran didalam kelas.


Aku berjalan masuk kedalam koridor mencari dimana gedung untuk mahasiswa semester dua. Akhirnya aku menemukanya, Aku berusaha untuk menemukan sosok yang aku rindukan, aku berjalan masuk ke dalan koridor, aku berusaha untuk mengintip satu persatu kelas dari luar jendela , aku menemui beberapa mahasiswa yang mungkin masih mengerjakan tugasnya. Aku mulai frustasi karena tidak dapat menemukannya, ini kelas terakhir yang berada di pojok gedung, aku berharap Nia ada disana. Ruang praktek seni, itulah yang terpampang di papan kayu yang berada di atas samping pintu. Aku tersenyum melihatnya pasti Nia berada disini, ia kan mahasiswa jurusan seni.


"BRUAKK!!" Suara keras dari dalam mengejutkanku, aku segera berlari mendekat takut terjadi sesuatu pada Nia, aku segera memegang ganggang pintu bersiap untuk membukanya. Tapi tangan dan kakiku terhenti, seperti membeku, ketika pandanganku tertuju pada sosok yang sedang kucari, tengkurap diatas laki-laki aku melihatnya pandangan mata mereka saling bertemu mereka terdiam sesaat kemudian Nia dengan tawanya yang terdengar nyaring dan bersemangat sedang main-main dengan laki-laki lain.


Aku berdiri tegak sekarang melepaskan tanganku dari ganggang pintu, mengepalnya seperti ingin memukul sesuatu, menghajar seseorang yang berani mengambil milikku. Hatiku rasanya terbelah, wajahku mulai memanas sekarang, mereka masih belum berhenti bermain-main dengan cat, dan lebih parahnya Nia terlihat senang bersama laki-laki itu. Apakah Nia sedang selingkuh sekarang? ataukah dia memang pacarnya sedangkan aku adalah selingkuhanya ? mengingat kembali Nia tidak pernah mengucapkan sekalipun bahwa ia juga mencintaiku. Aku yang terus menerus tanpa malu mengucapkan bahwa aku mencintainya dan ingin menikah dengannya, bodoh aku merasa benar-benar bodoh, aku ingin memukul diriku sendiri sekarang, menghancurkan apapun yang kulihat.


Akhirnya mata kami bertemu, Nia terlihat terkejut, dan aku reflek berjalan menjauh. Lihat betapa menyedihkannya aku, kenangan bersama Dina (lihat episode 4) kembali melintas, kenangan yang selama ini ingin aku lupakan, dan aku baru bisa melupakannya setelah bertemu Nia, mencoba membuka diri untuk menjalin hubungan baru, ternyata inilah balasan yang aku dapat, dia menghancurkan semua harapanku.


Aku mencoba menoleh kebelakang, berharap semua hanya salah paham dan Nia berlari mengejarku sekarang, tapi semua hanyalah hayalanku, Nia tidak ada, ia tidak mengejarku, mungkin ia juga tidak peduli denganku.


Aku terus berjalan hingga hampir keluar dari gedung Universitas ini. Pikiranku penuh dengan emosi hingga aku tidak mendengar bahwa Nia berteriak memanggilku beberapa kali, hingga aku terhenti ketika Nia mengenggam lenganku, akupun menatapnya.


"Mas, tunggu sebentar, maaf semuanya hanya salah paham dia cuma temenku serius" Nia dengan nafasnya yang tersenggal-senggal mencoba untuk menjelaskan kesalah pahaman ini.


"Lalu ...?" ucapku cuek, aku masih tidak percaya karena ia lama sekali untuk mengejarku, mungkin saja ia sudah berbicara dengan kekasihnya. Atau tunggu, jangan-jangan ia mendekatiku hanya karena hartaku? pikiran gilaku pun muncul.


"Tadi aku panggil berkali-kali kamu tidak mau berhenti". Ia masih berusaha mengatur nafasnya, ia meraih tanganku berusaha untuk menggengamnya "Kamu percaya padaku kan ?" Ia menatapku sekarang mencari kepastian.


"Aku tidak bisa , minggir !" ucapku dingin sambil menarik tanganku ingin berjalan menjauh.

__ADS_1


Nia kembali menarik tanganku, "Mas, jangan seperti ini, marahlah jika kamu ingin marah , tapi setelah itu kamu harus mendengarkan ucapanku" ucapnya sambil memelas.


Aku tersenyum aku mendekat kearahnya dengan tatapan dingin, ia sepertinya ketakutan, ia berjalan mundur hingga punggungnya melekat ke dinding, tapi tatapan matanya masih terus menatap mataku tanpa takut. Tanganku mulai membelai rambutnya, kemudian pindah ke pipinya yang berubah menjadi merah, aku meraih dagunya, mendekatkan wajahku tepat didepan wajahnya. "Kamu ingin aku marah, lalu memaafkan?" ucapku sedikit berbisik.


Nia hanya menganguk, aku mendengarnya menelan ludah, membuatku ingin tertawa.


"Jika aku memaafkanmu apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu mau menciumku" ucapku lagi sambil tersenyum, mataku masih mengunci matanya.


Ia tidak menjawab hanya mimik wajahnya berubah menjadi ketakutan , aku tidak tega lagi lalu melepaskanya. Mengalihkan pandanganku darinya, aku berusaha untuk menenangkan amaraku menarik nafas panjang dan menghembuskanya dengan kasar.


"Berhentilah bersandiwara, aku tahu aku yang bodoh, mengakulah dan aku akan memaafkanmu" Ucapku tanpa memandangnya.


"Mas, aku mencintaimu!" ucapnya lirih.


Ia menutup matanya, kemudian membukanya perlahan "Aku bisa jelaskan semuannya!" Ia mengalihkan pandanganya menuju tanganku yang sudah berdarah.


Aku tertawa "Apa kau bilang kau mencintaiku sekarang? berapa kali aku mengatakan bahwa aku mencintaimu ? kamu tidak pernah menjawabnya, kamu hanya tersenyum, membuatku menjadi orang bodoh karena harus mengartikan arti dari senyummu".


Ia tindak mendengarkanku, ia meraih tanganku melihat seberapa parah lukaku. "Apakah kamu sangat marah sekarang? Apakah kamu ingin memukulku?" Ia menghentikan ucapanya yang membuatku bingung, ia menatapku kemudian "Maaf, aku yang salah, pukulah aku, pukul aku hingga amaramu reda tapi jangan sakiti dirimu sendiri" sepertinya ia serius dengan ucapannya, tapi aku tidak akan mudah tertipu apalagi untuk yang kedua kalinya.


Aku tersenyum mengejek, lalu menarik tanganku dari genggamanya "Lihat kamu mengalihkan pembicaraan lagi, kamu tidak benar-benar mencintaiku kan bahkan kamu tidak mengizinkanku untuk menciummu" ucapku kemudian.


"Apakah cara pembuktian cinta hanya dengan ciuman? setelah itu apa kamu ingin tidur denganku? apakah aku salah jika aku membatasi pergaulanku dengan laki-laki?"


Aku semakin tertawa mendengar ucapnya "Apa kau bilang membatasi pergaulan dengan laki-laki? lalu apa yang aku lihat tadi, kamu bahkan memeluknya sambil tiduran seperti itu"

__ADS_1


"Itu hanya kecelakan!" Ia menarik nafas panjang lalu melanjutkan ucapannya "Aku yang salah, tidak seharusnya kau melakukannya, dia hanyalah temanku memang tingkahnya seperti anak-anak tapi dia baik kok, aku hanya menggapnya sebagai teman tidak lebih, dia juga sudah punya pacar tanyakan sendiri padanya" ucapnya menjelaskan.


"Dia juga sudah punya pacar, lalu kamu juga sudah punya pacar, jadi kalian sama-sama berselingkuh?" Aku tertawa karena merasa dihianati "Baik katamu? tidak ada laki-laki baik didunia ini lagi pula kalian sudah dewasa dan perlakuan tadi tidak bisa hanya disebut dengan main-main"


Nia mulai menundukan kepalanya apakah dia baru sadar dengan kesalahannya. "Maaf, apa yang harus aku lakukan selain meminta maaf, agar kamu bisa memaafkanku? Apakah aku harus mati dulu seperti cerita Legenda Banyu Wangi, setelah itu kamu bisa melihat jika darahku wangi itu artinya aku tidak berselingkuh, dan jika darahku busuk itu artinya aku berselingkuh" ucapnya lagi.


"Haha" sepertinya ia sedang membuat lelucon agar amaraku hilang sorry aja ya, "Lakukan saja jika kamu mau!" ucapku menantang.


"Apa?" Ia sepertinya terkejut akan jawabanku, aku hanya menatapnya sambil tersenyum. Ia terlihat bingung seperti mencari-cari benda disekitar, tapi sepertinya ia tidak menemukan apapun, ia berbalik menghadap tembok. Haha sepertinya ia frustasi, apakah aku keterlaluan.


Nia yang frustasi membenturkan kepalanya ditembok berkali-kali yang membuatku kaget. Akupun segera menarik lengannya untuk menjauh dari tembok, menatapnya tajam melihat darah yang mulai mengalir dari pelipisnya, ia menatapku tidak berdaya. Tanganku mulai menyentuh pipinya membelanya lembut. "Apa kau sudah gila? kamu tidak akan mati hanya dengan membeturkan kepalamu seperti itu" ucapku masih tidak percaya akan ketulusannya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? kamu ingin membunuhku? bunuhlah aku jika kamu menginginkanya" ucapnya sambil menatap wajahku.


"Dimana ruang kesehatan ?" ucapku kemudian, ia tersenyum mendengar ucapanku "Disana pasti ada pisau kan? atau setidaknya gunting untuk bisa mengulitimu sampai mati" ucapku membuyarkan senyumnya.


"Apa?" Ia berdiri menjauh menatapku marah kemudian menendang kakiku.


"Ahh apa yang kau lakukan?" sakit sekali aku memegangi kakiku yang terasa mau patah.


"Keterlaluan! Lakukan apapun yang kamu mau jika kamu bisa berjalan mengikutiku" Nia pun berjalan menjauh.


Aku tersenyum melihat tingkahnya, tapi bukan berarti aku sudah memaafkannya. Hatiku masih sakit , amaraku masih belum reda, kepalaku rasanya hampir meledak karena terus memikirkannya diantara percaya dan tidak percaya. Tapi yang pasti kesalahannya kali ini bukanlah masalah kecil untukku, melihat wanita yang aku sukai tertawa riang bahkan saling mencolek dengan pria lain, egoku tidak mau menerimanya.


Farhan kamu pendendam banget sih, maafin dong !! Hehe .

__ADS_1


__ADS_2